"Kalau sayang, bilang. Menjadi tidak jelas dan susah untuk dimengerti itu urusan perempuan, bukan lelaki."
-selamat membaca-
Tiga puluh menit kemudian, Luna sampai di rumah Rachel dengan dua orang lelaki di belakangnya. Rachel menatap sahabatnya itu dengan heran, dan yang lebih mencengangkan, ternyata Luna membawa tukang reparasi kunci untuk membuka pintu rumahnya yang dikunci oleh Lena.
Mulut Rachel tidak dapat tertutup, karena heran dengan keajaiban sahabatnya itu. Setelah pintu rumahnya berhasil terbuka, Luna membayar tukang reparasi kunci itu dan ia segera pergi. Luna menarik Mika yang entah membawa apa di kantong pelastik di genggamannya.
"Woy, Syel. Ngapain mendem di sana?" tanya Luna membuat Rachel tersadar dari lamunannya.
Tadinya, Rachel duduk di belakang jendela tanpa bergeming karena memerhatikan Luna yang membawa tukang reparasi kunci. Sampai ia tidak sadar bahwa pintu rumahnya berhasil dibuka dan sahabatnya itu sudah masuk ke dalam rumahnya.
"G-gue a-anu, i-itu," Rachel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"
Apaan sih, Syel?" Luna menggelengkan kepalanya heran, "mending lo ke sini, makan."
Rachel mengangguk, gadis itu berjalan mendekati Luna yang sudah duduk anteng seraya membuka satu persatu bungkus makanan yang ia bawa dengan Mika yang duduk di sampingnya.
Ada sebungkus sate ayam, dua puluh tusuk. Satu box Ayam crispy, dua box pizza, tiga mocca float, beberapa cemilan ringan, martabak manis rasa coklat, sampai satu dus s**u terlabil di dunia pun ada.
"Luna, ini banyak banget," Rachel ternganga menatap seluruh makanan yang ada di hadapannya, "kita cuman bertiga, loh?"
"Kata siapa ini buat kita bertiga?" tanya Luna, "ini semua buat lo doang, Syel."
"B-buat gue? Sebanyak ini?"
"Jelas, lah. Ini satu dus s**u buat stok kalo lo lagi ga dikasih makan kayak sekarang, pokoknya cemilan ini jangan dimakan sekarang. Ini buat stok," Luna memisahkan cemilan ringan dan s**u dari kelompok makanan berat, "nah, ini sate, ayam, pizza, lo makan buruan. Keburu dingin, nggak enak. Cukup sikap Darren ke elo aja yang dingin."
"Ekhem," Mika berdehem, sengaja.
"Kamu mau minum?" Luna menoleh ke arah Mika.
Mika menggelengkan kepalanya, "enggak."
"Terus, ngapain ehem ehem?"
"Serek," sahut Mika bohong, sudah jelas ia tersinggung karena Luna mengatai Darren sahabatnya.
"Yaudah, kalo serek tu minum," Luna memutar bola matanya malas.
"Udah, Lun. Jangan berantem mulu," Rachel terkekeh.
"Gue telepon Darren deh, ya? Biar dia ke sini?" celetuk Mika.
"Eh, jangan," cegat Rachel. Membuat Mika menoleh dan menatapnya dengan alis terangkat satu.
"Kenapa? Dia harus tau kondisi ceweknya," tanpa Mika sadari, hati Rachel terasa tersayat saat Mika mengatakan kata 'ceweknya'.
"Aku udah putus, Kak. Nggak usah hubungin dia, nggak bakalan peduli juga," Rachel menunduk dan lebih mulai memakan asal apa yang ada di hadapannya.
"Hah, putus?" kaget Mika dan Luna berbarengan.
"Kompak banget," sindir Rachel seraya terkekeh.
"Sumpah, Syel? Putus? Kok lo nggak bilang ke gue?" tanya Luna.
"Gue belom sempet cerita, Na. Baru tadi pas pulang sekolah," jawab Rachel singkat.
"Darren juga nggak cerita apa-apa," celetuk Mika.
"Gue kan nggak penting buat dia, kak. Jelas, cerita ginian cuman buang waktu menurutnya," Rachel terkekeh, "udah ah, nggak usah ngomongin dia," Rachel kembali memakan makanannya, walaupun kini raut wajahnya terlihat sekali memaksakan menutupi sesuatu.
Luna dan Mika saling pandang, seperti berbicara lewat telepati. Entah apa yang dibicarakan dua pasangan yang sedang berada di unjung tanduk ini.
Dari jauh, mata tajam Darren menatap tepat ke arah rumah Rachel yang pintunya terbuka lebar. Ia baru saja tiba, hanya untuk memastikan ... entahlah, ia bahkan tidak tahu memastikan apa.
"Ck," Darren berbalik, menaikki ninjanya dan berkendara menjauh.
To be continued
Minta komennya yang banyak, hehe.