bc

Terjerat Gairah Sahabat Suamiku

book_age18+
98
IKUTI
1.0K
BACA
billionaire
dark
family
HE
fated
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
city
office/work place
childhood crush
affair
like
intro-logo
Uraian

WARNING! (MENGANDUNG BACAAN DEWASA) 21+

“Please, pelan-pelan Michael!”

“Tapi nikmat, dan kau menyukainya, kan?”

Karena tidak pernah lagi mendapatkan kepuasan dari sang suami, Arabella Beatrice, atau yang sering dipanggil Bella, kini harus terlibat hubungan terlarang bersama dengan seorang duda—Michael Alexander, yang tak lain adalah sahabat dari suaminya sendiri—Julian Christopher.

Michael datang menawarkan diri untuk memberi apa yang tidak bisa Julian berikan. Dan tentu bukan tanpa alasan Michael nekat melewati batas. Apakah alasannya? Dan apakah Bella akan semakin tenggelam dengan nikmatnya hubungan terlarang tersebut? Ataukah ia akan kembali dan merasa bersalah pada suaminya? Mari ikuti kisahnya bersama sampai selesai!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 41
Bella menghabiskan makanannya dalam diam. Tidak terburu-buru. Tapi juga tidak benar-benar santai. Pikirannya jelas sedang berjalan ke banyak arah. Sesekali ia melirik Michael. Pria itu masih berdiri di sana. Tenang. Terlalu tenang. Seolah apa pun yang terjadi… tidak benar-benar menyentuhnya. Dan justru itu yang membuat Bella sedikit gelisah. “Aku akan keluar sebentar nanti,” katanya akhirnya, memecah keheningan. Michael tidak langsung menoleh. “Hm.” “Aku mau lihat satu tempat yang tadi aku temukan,” lanjut Bella. “Silakan.” Jawabannya singkat. Datar. Tidak ada usaha untuk menahan. Tidak juga ada tanda bahwa ia benar-benar peduli. Dan itu… entah kenapa terasa mengganggu. Bella mengernyit sedikit. “Kau tidak akan bertanya apa-apa?” Kali ini Michael menoleh. Tatapannya langsung ke arah Bella. “Apa yang harus aku tanyakan?” Nada suaranya tenang. Tapi tajam. Bella terdiam sejenak. “Entahlah,” jawabnya akhirnya. “Mungkin… tentang tempat itu. Atau… apa aku yakin dengan keputusanku.” Michael menatapnya beberapa detik. Lalu ia terkekeh pelan. “Kau ingin aku menahanmu?” Bella langsung menggeleng. “Bukan begitu.” “Lalu?” Bella tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit. Seolah kesulitan merangkai kata. “Aku hanya…” ia berhenti, lalu menghela napas pelan, “tidak tahu kenapa rasanya aneh saja.” Michael menyipitkan mata sedikit. “Aneh bagaimana?” Bella mengangkat wajah. “Seolah kau tidak peduli sama sekali.” Hening. Kalimat itu menggantung di udara. Michael menatapnya. Lama. Lalu ia menghela napas pelan. “Aku tidak melihat alasan untuk ikut campur,” katanya akhirnya. Jawaban itu… dingin. Masuk akal. Dan cukup untuk membuat d**a Bella terasa sedikit sesak. “Oh,” gumamnya pelan. Ia menunduk lagi. Jari-jarinya tanpa sadar memainkan ujung sendok. Michael memperhatikan itu. Sekilas. Lalu mengalihkan pandangan. Beberapa detik berlalu. Dan tanpa ia sadari… ia sudah merasa lebih kesal dari sebelumnya. Bukan karena pertanyaan Bella. Tapi karena reaksi wanita itu setelah mendengar jawabannya. “Kalau aku melarangmu,” kata Michael tiba-tiba, “apa kau akan tetap pergi?” Bella mengangkat wajah. Terkejut dengan pertanyaan itu. “Aku…” Ia terdiam. Tidak langsung menjawab. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Michael terkekeh pelan. Pendek. “Lihat?” Bella mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” “Kau tetap akan pergi,” jawab Michael. “Jadi tidak ada gunanya aku bertanya atau mengatakan apa pun.” Bella menatapnya. Kali ini lebih dalam. Seolah mencoba menembus sikap tenang pria itu. “Atau…” lanjut Michael pelan, “kau hanya ingin merasa ditahan.” Kalimat itu membuat Bella membeku sejenak. “Aku tidak seperti itu,” bantahnya cepat. Michael mengangkat alis tipis. “Benarkah?” Nada suaranya tidak mengejek. Tapi cukup untuk membuat Bella merasa disudutkan. “Aku hanya ingin…” Bella berhenti lagi. Lalu akhirnya menghela napas. “Tidak apa-apa.” Ia menggeleng kecil. Seolah menyerah untuk menjelaskan. Michael menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Kalau kau ingin seseorang mengatakan ‘jangan pergi’, kau datang ke orang yang salah.” Sunyi. Kali ini lebih berat dari sebelumnya. Bella tidak langsung merespons. Ia hanya menatap meja di depannya. Perlahan. Sangat pelan. Ia meletakkan sendoknya. “Aku sudah selesai,” katanya. Nada suaranya lebih datar sekarang. Lebih tertutup. Ia berdiri dari kursinya, membawa kotak makanan itu ke dapur. Gerakannya rapi. Teratur. Tapi jelas… menjaga jarak. Michael memperhatikannya. Diam. Tatapannya mengikuti setiap langkah Bella. Sampai wanita itu berdiri di depan wastafel, membuang sisa makanan, lalu mencuci tangan. Tanpa berkata apa-apa lagi. Dan entah kenapa… itu justru terasa lebih mengganggu daripada kalau Bella berdebat dengannya. Michael mengembuskan napas pelan. “Bella.” Wanita itu berhenti. Tapi tidak langsung menoleh. “Ya?” Michael terdiam sejenak. Seolah menimbang sesuatu. Lalu akhirnya berkata, “Kau tidak harus terburu-buru.” Bella menoleh perlahan. Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini… berbeda. Tidak setegang tadi. Tapi juga tidak sepenuhnya lembut. “Aku tidak terburu-buru,” jawab Bella pelan. “Aku hanya… tidak ingin berada di tempat yang bukan milikku terlalu lama.” Michael menatapnya. Lebih lama dari sebelumnya. “Tempat ini tidak masalah,” katanya. Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa banyak pikir. Dan begitu ia mengucapkannya… ia langsung menyadarinya. Bella juga. Matanya sedikit melebar. “Kau yakin?” tanyanya pelan. Michael mengalihkan pandangan sejenak. Seolah sedikit menyesali kata-katanya sendiri. Namun ia tidak menariknya kembali. “Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak aku maksud,” jawabnya akhirnya. Hening lagi. Tapi kali ini… tidak terasa setegang sebelumnya. Bella menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan mengangguk. “Baik.” Satu kata. Tapi cukup untuk mengubah sesuatu di antara mereka. Kecil. Hampir tidak terlihat. Namun nyata. Michael menyandarkan tubuhnya kembali. Rahangnya tidak lagi sekaku tadi. Sementara Bella… untuk pertama kalinya sejak pagi itu— tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang bersiap pergi. Dan mungkin… untuk saat ini… itu sudah cukup. +++ Bella mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Michael. Ia tidak langsung bicara. Hanya berdiri di sana. Menatap pria itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Michael menangkap itu. Tatapannya tetap tenang, tapi kini lebih fokus. “Kenapa?” tanyanya singkat. Bella menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.” Jawaban yang terlalu cepat. Dan terlalu familiar. Michael mengangkat alis tipis. “Kalau tidak apa-apa, kau tidak akan diam seperti itu.” Bella menghela napas pelan. Ia berjalan kembali ke meja, tapi kali ini tidak duduk. Hanya berdiri di samping kursi. “Aku hanya berpikir…” katanya pelan. Michael menunggu. “Kalau aku tetap di sini… itu tidak akan membuat semuanya jadi lebih rumit, kan?” Pertanyaan itu sederhana. Tapi maknanya tidak. Michael menyipitkan mata sedikit. “Rumit untuk siapa?” Bella terdiam. Beberapa detik. “Untuk kita,” jawabnya akhirnya. Hening. Michael tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Bella lebih lama. Cara wanita itu berdiri. Cara bahunya sedikit menegang. Cara matanya tidak benar-benar stabil saat menatapnya. “Menurutmu?” balasnya akhirnya. Bella mengerutkan kening kecil. “Aku yang bertanya.” Michael mengangguk tipis. “Dan aku ingin tahu dulu, apa yang ada di kepalamu.” Bella menarik napas pelan. Ia tidak terbiasa dengan ini. Dengan cara Michael membalik pertanyaan. Memaksanya jujur bahkan sebelum ia siap. “Aku tidak ingin…” ia berhenti sejenak, “membuat batas jadi kabur.” Michael menatapnya tanpa berkedip. “Batas apa?” Bella langsung mengalihkan pandangan. “Antara kita.” Kalimat itu menggantung. Lebih lama dari seharusnya. Michael mengembuskan napas pelan. “Tidak ada ‘antara kita’,” katanya tenang. Jawaban itu cepat. Terlalu cepat. Bella menatapnya lagi. Kali ini lebih tajam. “Benarkah?” Michael tidak langsung menjawab. Dan itu… cukup. Bella tertawa kecil. Pelan. Tapi bukan karena lucu. “Kalau memang tidak ada,” lanjutnya, “kenapa semuanya terasa seperti ada sesuatu?” Michael mengeraskan rahangnya sedikit. Ia tidak suka arah pembicaraan ini. Terlalu… dekat ke sesuatu yang tidak ingin ia definisikan. “Kau yang membuatnya terasa seperti itu,” jawabnya akhirnya. Nada suaranya tetap datar. Tapi lebih tegas. Bella terdiam. Beberapa detik. Matanya menatap Michael seolah mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar serius. “Atau mungkin,” lanjut Michael, “kau hanya sedang berada di situasi yang salah, di waktu yang salah, dengan orang yang salah.” Kalimat itu… lebih tajam dari yang ia sadari. Bella langsung membeku. Sedikit. Tapi cukup terlihat. “Oh,” gumamnya pelan. Ia mengangguk kecil. Satu kali. Seolah menerima. Namun ada sesuatu di matanya yang berubah. Sedikit lebih dingin. Sedikit lebih jauh. Michael melihat itu. Dan untuk sepersekian detik… ia merasa sesuatu yang tidak ia sukai. Kesalahan. Namun tentu saja… ia tidak menunjukkannya. Bella menarik kursinya perlahan. Duduk. Tangannya saling menggenggam di atas meja. “Baiklah,” katanya. Nada suaranya lebih stabil sekarang. Lebih… terkontrol. “Kau benar.” Michael tidak menjawab. Bella melanjutkan, “Aku memang sedang di situasi yang salah.” Ia berhenti sebentar. Lalu menambahkan pelan, “Dan aku tidak ingin membuatnya lebih salah lagi.” Sunyi. Kali ini… terasa berbeda. Bukan karena emosi. Tapi karena jarak yang tiba-tiba muncul. Michael menyandarkan tubuhnya. Tatapannya masih ke arah Bella. Tapi pikirannya… tidak sepenuhnya di sana. Ia tahu. Ia baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia katakan. Tapi sudah terlambat untuk menariknya kembali. Bella berdiri lagi. Lebih cepat dari sebelumnya. “Aku akan keluar sekarang,” katanya. Tidak ada nada ragu. Tidak ada lagi jeda panjang. Seolah keputusan itu sudah bulat. Michael menatapnya. “Sekarang?” “Ya.” Bella meraih tasnya yang ada di atas kursi. Gerakannya cepat. Efisien. Seperti seseorang yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu lagi. Michael mengembuskan napas pelan. “Seperti yang kau mau.” Nada suaranya kembali datar. Namun kali ini… tidak sepenuhnya kosong. Bella berjalan menuju pintu. Tangannya sudah hampir menyentuh gagang pintu… ketika ia berhenti. Beberapa detik. Ia tidak menoleh. Hanya berdiri diam. Lalu akhirnya berkata pelan, “Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, Michael.” Pria itu tidak menjawab. Bella melanjutkan, “Tapi aku tahu satu hal.” Ia menarik napas kecil. “Semalam… dan pagi ini… tidak terasa seperti ‘orang yang salah’.” Kalimat itu pelan. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah. Michael tidak bergerak. Tidak juga menjawab. Dan itu… cukup menjadi jawaban. Bella tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. “Terima kasih untuk semuanya.” Klik. Pintu terbuka. Dan beberapa detik kemudian— tertutup kembali. Sunyi. Michael masih berdiri di tempatnya. Tidak bergerak. Tatapannya tertuju pada pintu itu. Rahangnya kembali mengeras. Tangannya mengepal sedikit. Kesal. Bukan pada Bella. Tapi pada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang. Lalu mengusap wajahnya kasar. “Hebat,” gumamnya pelan. Nada suaranya rendah. Penuh ironi. Untuk pertama kalinya… ia sadar— ia mungkin baru saja membuat kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki dengan mudah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook