Dengung suara obrolan tertangkap pendengarannya. Sayang, hanya gelap yang kini terlihat. Meski ingin sekali membuka mata yang entah kenapa begitu erat menutup. Tubuhnya begitu sulit di gerakan.
Sementara sosok yang terbaring di atas tempat tidur tengah berjuang memulihkan kesadaran. Dua orang lainnya yang berada dalam ruangan justru terlibat obrolan serius.
"Berapa kali gue bilang? Dia yang menyeruduk mobil gue!" Wanita muda itu kesal karena lawan bicaranya tak juga percaya dengan semua cerita yang ia jabarkan.
"Kecilin suara lo, nanti bisa ganggu dia," ucap seorang pria sembari mengedikkan dagu, menunjuk pada sosok yang masih bergeming di atas brankar.
Mencebik kesal, wanita itu melengos pergi, memilih untuk mendudukkan diri pada sofa yang tersedia di dalam ruang perawatan. Mengingat, dirinya memang meminta ruang VIP. Bukan hanya untuk kenyamanan pasien, tapi juga dirinya sendiri.
Saat tubuh lelahnya bersentuhan dengan nyamannya sofa yang terasa begitu empuk, wanita itu mendesis nikmat. Entah sudah berapa jam ia lewatkan tanpa beristirahat. Padahal matanya sudah perih, kepalanya juga mulai berdenyut, belum lagi sekujur tubuhnya yang pegal-pegal. Tapi rasa kalut yang menerjangnya beberapa jam lalu mematikan semua rasa itu. Hanya rasa cemas, takut, bingung dan panik yang mendominasi isi kepalanya.
Oh, ayolah, siapa yang tidak diserbu rasa takut ketika baru saja menangis tersedu-sedu karena putus dari kekasihmu, mengendarai mobil seorang diri di tengah derasnya hujan dan tiba-tiba dari arah berlawanan seseorang menerjang mobil yang tengah kamu kendarai?
Apa yang bisa dipikirkan?
Tidak ada.
Itu yang Laras rasakan. Bagaimana bisa nasib s**l mendatanginya secara beruntun hari ini?
Ingin memberi kejutan pada kekasihnya, tapi justru dirinya yang dikejutkan oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh ke--ekhm! Maksudnya mantannya itu. Ya, dia sudah resmi menyematkan status baru itu setelah memberi tamparan pada pria b******k yang sialnya ia cintai. Tak sekadar tamparan, ia juga memberi tendangan pada 'Masa Depan' yang hanya terbungkus celana dalam. Itu pun pria itu kenakan dengan tergesa karena sebelumnya tak ada satu lapis pakaian pun yang melekat ditubuh yang sialnya selalu dikaguminya--dulu.
Selingkuhan mantannya pun tak luput dari amukan. Ketika pria b******k itu sibuk mengumpat sembari memegang 'Masa Depannya' yang mungkin tengah terancam, dengan wajah bengis, Laras mendekati wanita yang sudah merusak hubungan yang sudah di jalaninya selama empat tahun. Dan hanya beberapa menit berubah menjadi omong kosong.
Wanita yang masih terduduk di atas tempat tidur dengan belitan selimut itu tampak ketakutan, pemandangan yang justru Laras nikmati.
Dengan satu sentakan, Laras menjambak rambut merah wanita itu hingga melolong kesakitan. Sayangnya, Laras memilih menulikan pendengaran. Dia tak peduli, bahkan jika kepalanya ikut tercabut sekali pun.
Tak puas hanya menjambak hingga beberapa helai rambut tertinggal di telapak tangannya, Laras menampar berkali-kali hingga sudut bibir wanita asing itu berdarah. Dan sekali lagi, dia-tidak-peduli. Mereka harus babak belur, seperti keadaan hatinya saat ini.
Sementara mantan kekasihnya yang sebenarnya hanya dalam waktu seminggu lagi akan menjadi calon tunangannya itu hanya bisa terbelalak, tak percaya jika wanita anggun dan lembut yang sudah di pacarinya selama empat tahun itu berubah menjadi begitu buas.
Meski 'Masa Depannya' masih berdenyut sakit karena tendangan maut Laras. Pria itu menyeret langkah, mendekati Laras yang sudah berada di atas tempat tidur, menduduki perut teman kencannya dan tanpa ampun memberi tamparan berulang-ulang.
"Sayang, sudah, hentikan, kamu salah paham," dengan susah payah, pria itu menarik Laras dari atas tubuh teman kencannya.
Laras segera memberontak. Wanita itu segera turun dan menjauhkan diri dari pria yang kini di matanya tampak menjijikkan, "jangan pernah sentuh gue, b******k!" Makinya dengan mata nyalang.
"Sayang, dengar dulu, semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan, kamu salah paham," rayu pria itu sembari meraih tangan Laras yang segera ditepis kasar.
"Salah paham? Lo mau bodohin siapa di sini, hah?! Berdua di atas kasur tanpa pakaian, apa lagi memangnya yang bisa kalian lakukan? Selain uh-ah-uh-ah! Yakali main congklak!"
Telak, pria di depannya hanya bisa bungkam.
Astaga, bisa-bisanya masih mencoba melempari Laras dengan rayuan murahan. Dia memangnya sebodoh itu bisa ditipu lagi. Hah, tidak akan!
Cukup sekali dia menjadi bodoh karena cinta.
Mengayunkan langkah menuju mantan kekasihnya, Laras memberikan tonjokan dengan kekuatan penuh ke rahang yang biasanya ia usap-usap dengan sayang, "itu hadiah terakhir dari gue. Karena mulai sekarang, jangan pernah lo muncul kalo nggak mau gue kirim ke UGD. Kita putus! Bye, b******k!" Ucapnya sebelum pergi, meninggalkan dua orang yang sudah babak belur.
Sekuat apa pun yang coba Laras tampilkan, dia tetaplah wanita yang tengah patah hati. Meski hanya ada benci yang kini tersisa untuk sang mantan. Ia tetap tak bisa memungkiri, jika pria itu pernah menjadi sosok yang sangat ia cintai. Bahkan, hingga saat ini. Karena tak mungkin melenyapkan semua perasaan cintanya yang sudah tertanam selama empat tahun hanya dalam hitungan menit.
Jadi, ketika mendudukkan diri di dalam mobil. Laras tak bisa lagi membendung tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu bahkan meraung, menyuarakan rasa sakitnya. Tak peduli jika ada orang yang tengah berada di sana terusik, atau mungkin menggedor kaca jendela mobilnya agar memastikan ia tidak dalam keadaan kesurupan. Karena meraung-raung seorang diri di dalam mobil.
Tak ingin berlama-lama di tempat mantannya itu. Laras melajukan mobilnya, yang ketika keluar dari basement parking apartemen tiba-tiba disambut derasnya hujan.
Tubuhnya meneriakkan kata lelah, dia baru saja tiba setelah perjalanan panjang dari Paris. Melakukan pemotretan di sana. Dan saat sebagian teman-temannya memilih menetap lebih lama untuk liburan. Laras justru pulang karena ingin bertemu kekasih yang sudah sangat ia rindukan, karena tak bertemu selama dua minggu.
Khayalannya memberi kejutan dan segera melemparkan diri dalam pelukan hangat sang kekasih saat bertemu nanti sirna. Karena ketika membuka pintu apartemen dengan mudah karena sandinya ia hafal, kebahagiaan Laras meluruh secepat kilat. Mendapati pria yang sudah menjadi kekasihnya selama empat tahun itu tengah 'Bergulat' di atas ranjang dengan wanita lain.
Rasa lelah, sedih, dan frustasi mengingat pertunangannya sudah pasti gagal karena ia tak sudi kembali bersama pria itu membuat Laras hilang fokus. Belum lagi pandangannya cukup terbatas karena keadaan hujan yang kian deras. Jadi, wanita itu terkejut ketika ada seseorang yang berlari menerjang mobil yang tengah dikendarainya.
"Ras, lo denger gue?"
Laras terkesiap, ketika ada tangan yang mengibas-ngibas tepat di depan wajahnya. Wanita itu menolehkan kepala, dan mendapati Hasta, sepupunya yang ia hubungi di tengah rasa panik karena baru saja mobilnya menghantam seseorang. Entah sejak kapan pria itu duduk di sampingnya, mengingat Laras yang sedari tadi sibuk dalam lamunan.
Peristiwa saat di apartemen mantan kekasihnya kembali terputar dengan jelas di kepalanya.
"Lo mending istirahat, muka lo udah nggak bisa gue bedain sama zombie." Ucap Hasta yang membuat Laras memukulnya dengan clutch bag yang berada di atas pangkuan.
"Gue kayaknya lebih suka Hasta versi pendiem, ketimbang banyak ngomong yang bikin tensi orang naik."
"Udah sana pulang, istirahat, biar gue yang jaga di sini sampai perempuan itu sadar." Hasta tak menggubris ucapan Laras. Dia benar-benar tak tega melihat wajah pucat dan kuyu sepupunya itu.
"Ok, gue balik, nanti abis bersih-bersih balik ke sini," putus Laras yang mendapat keberatan dari Hasta. Pria itu tetap bersikeras meminta Laras tak hanya pulang untuk membersihkan diri, tapi juga beristirahat, "tapi dia kan tanggung jawab gue, Has, kalo sampai kenapa-kenapa. Ya, meskipun gue pasti berharapnya dia nggak kenapa-kenapa."
"Gue pasti hubungin lo kalo ada perkembangan, sekarang balik sana," untuk kesekian kalinya, Hasta berusaha 'Mengusir' sepupunya yang keras kepala itu.
Mengela napas, Laras menyerah. Gadis itu beranjak dari duduknya. Meminta Hasta untuk langsung menghubungi jika perempuan asing itu sadar atau ada hal penting lainnya. Dan setelah mendapat anggukan Hasta, Laras akhirnya berjalan menuju pintu keluar.
Laras pikir, di selingkuhi kekasihnya dan mendapat insiden kecelakaan meski bukan ia yang berbaring di ranjang perawatan sudah lebih dari cukup. Tapi sepertinya, kesialan masih enggan beranjak darinya.
Ketika dari arah berlawanan tiba-tiba seseorang menubruk Laras, dan sensasi dingin tiba-tiba menyergap tubuh bagian atasnya. Saat menundukkan kepala, ia tercekat, mendapati dress model Sabrina berwarna putih yang dikenakannya berubah menjadi kecoklatan. Ada aroma kopi yang menguar tertangkap penciuman.
"Ma--Maaf, Maaf Kak, saya--saya benar-benar tidak sengaja," cicit gadis muda yang tingginya hanya sebahu Laras.
Wajah ketakutannya berubah menjadi raut terkejut saat matanya bersirobok dengan Laras, "astaga!" Pekiknya sembari mengentak-entakan kaki kegirangan, "Kak Laras ya? Astaga! Astaga! Mimpi apa gue semalam bisa ketemu idola!" Jeritnya kegirangan. Tak mempedulikan tatapan penasaran atau pun terganggu dari orang-orang yang berlalu lalang.
Laras mengela napas, mencari-cari stok kesabaran yang mungkin saja masih tersisa. Karena semua kesabarannya sudah hangus sejak di apartment mantannya.
"Kak, boleh minta foto?" Tanya gadis itu antusias. Bahkan sebelum Laras menjawab, ia sudah melakukan inisiatif sendiri, "Kak, pegangin dulu," menyerahkan dua gelas plastik yang isinya tinggal sedikit ke tangan Laras yang hanya bisa bungkam, gadis itu sibuk mengaduk isi tas selempangnya. Senyumnya merekah saat menemukan ponsel yang sedari tadi dicari, "ayo Kak," tanpa mendengar jawaban, gadis itu merapatkan tubuhnya ke arah Laras. Mengarahkan kamera ponsel yang sudah diatur menjadi kamera depan. Bak robot, Laras hanya bisa manut.
"Cheers ...." Dengan wajah penuh binar bahagia, gadis itu tersenyum lebar di depan kamera. Mengambil beberapa kali foto dengan berbagai ekspresi, tak memedulikan Laras yang hanya bisa tersenyum kaku. Setelah puas berfoto, gadis itu memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas, "makasih ya Kak, aku berasa kaya mimpi ketemu idola," celotehnya yang hanya ditanggapi ringisan Laras, "semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu, bye-bye ...." Meraih kembali dua gelas plastik yang sedari tadi dalam genggaman Laras, gadis itu akhirnya berlalu pergi. Meninggalkan Laras yang hanya bisa membatu di tempatnya berdiri.
Seperti baru saja lepas dari kutukan, Laras akhirnya bisa mengela napas. Astaga ... Dia harus segera pulang dan mandi kembang. Suapaya tak lagi tertimpa s**l.
***
Benar kata orang, di balik musibah, pasti ada berkah. Seperti yang kini di rasakan oleh Calya. Di balik musibah yang menimpa Kakaknya, ada berkah yang ia dapat. Sedari tadi, gadis itu tak bisa menyurutkan senyuman karena berhasil foto bersama idolanya.
"Kamu lama banget belinya?" Laksmi segera melempar tanya saat putri bungsunya itu mendudukkan diri di kursi yang berada sampingnya, "mana Iced Espresso, Mama?" Menengadahkan tangan, ia menagih minuman yang tadi Calya beli.
Dengan senyuman yang masih menghiasi wajah, Calya menyerahkan gelas plastik berlogo gerai minuman ternama pada sang Mama.
"Astaga, Cal!" Laksmi memekik melihat isi gelas yang mungkin hanya cukup untuk sekali teguk, "kamu minum Iced Espresso, Mama?" Tuduhnya pada Calya.
"Ih, Mama ... Enak aja, ya nggaklah. Kan aku juga beli buat diri sendiri." Elak Calya sewot, jelas dia tak terima mendapat tuduhan seperti itu dari Mamanya.
"Terus ini ke mana isinya?" Tanya sang Mama gemas, sembari menunjukkan isi gelas pada Calya.
Dengan mata mengerjap, Calya melongok untuk melihat isi gelas sang Mama, kemudian melihat isi gelasnya sendiri yang ia baru sadari terasa begitu ringan dari sebelumnya, "loh Ma, isinya ke mana?" Tanyanya balik yang hanya ditanggapi dengan dengkusan Laksmi.
"Ya mana Mama tahu? Kan kamu yang beli," ucapnya sembari membuang gelas yang sedari tadi ia genggam ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh darinya.
Seperti ada seember es batu yang baru saja mengguyur kepalanya, Calya membelalakkan mata, "astaga!" Serunya sembari berdiri, yang kemudian di tarik sang Mama agar kembali duduk.
"Jangan berisik, ini rumah sakit, kamu bisa bikin malu Mama," omel Laksmi pada Calya yang hanya bisa mencebik.
Meletakan gelas di samping kursi yang kosong, Calya tergesa mengaduk isi tas selempangnya, meraih ponsel dan berkonsentrasi pada benda pipih di genggamnya itu, Calya mengabaikan sang Mama yang tampak penasaran di sampingnya.
"Tuh kan, benar!" Tak mengindahkan pelototan Mamanya, Calya menghentak-hentakkan kaki dengan raut frustasi, "astaga ... Bisa-bisanya gue seceroboh dan sememalukan ini," gadis itu terus merengek, nyaris menangis karena kesal pada diri sendiri. Terlalu bahagia bertemu dengan Laras, model dan selebgram yang menjadi idolanya, ia bahkan lupa jika sudah menabrak dan parahnya, menumpahkan minuman ke tubuh Laras. Bukan hanya satu, tapi dua gelas sekaligus.
Mau di taruh di mana mukanya jika takdir kembali mempertemukan Calya dengan Laras nanti?
"Ma ...." Rengeknya sembari menarik-narik lengan baju Laksmi.
"Apa sih? Dari tadi nggak jelas," tak mengindahkan kelakuan aneh anaknya, Laksmi memilih fokus pada grup chat berisi para sosialita di ponselnya.
"Aku mau operasi plastik," racau Calya yang berhasil menarik perhatian Mamanya
"Kamu jangan aneh-aneh, ngapain operasi plastik?" Daripada operasi plastik, sepertinya putri sulungnya itu butuh penanganan lain karena sikapnya yang mendadak aneh.
"Malu Ma ... Aku tadi numpahin minuman ke baju idolaku sendiri," jelas Calya nelangsa.
"Pantesan Iced Espresso Mama tinggal sedikit. Ck, ceroboh kamu tuh harus dikurangin, biar nggak merugikan diri sendiri dan orang lain," Laksmi terus menceramahi putrinya, tak peduli wajah Calya yang semakin masam.
***
"Jadi, gimana ceritanya sampai bisa seperti ini Bastian?" Halim melempar tanya pada putranya yang tampak kalut.
Mengela napas, Bastian mencoba menyingkirkan rasa gugup dan takut yang mencekiknya, "aku juga, awalnya nggak tau kalo yang terlibat kecelakaan denganku itu ... Mang Dadang, Pa."
Ya, Bastian juga amat sangat terkejut, saat tahu sosok yang tergeletak di dekat mobilnya adalah Mang Dadang, pria paruh baya yang biasa mengurus pekarangan dan berbagai tanaman di rumah keluarga Pradipto. Tapi memang meminta izin tak masuk kerja, ada salah satu anaknya yang harus di rawat ke rumah sakit karena terkena demam berdarah.
Bastian sempat takut menghadapi reaksi Papanya. Tapi bukankah ini musibah? Jika bisa, tentu ia tak mau terlibat kecelakaan dengan siapa pun itu.
"Nanti biar Papa minta Pak Jaja mengabari keluarga Mang Dadang. Mereka pasti khawatir jika tiba-tiba tidak mendapat kabar. Apalagi anaknya juga tengah di rawat," menepuk pundak sang putra, Halim mengajak untuk keluar.
Bastian hanya menganggukkan kepala dan kembali mengekori sang Papa.
"Gimana Pa? Keadaan orang itu? Nggak ada yang seriuskan?" Laksmi segera memberondong suaminya dengan pertanyaan saat melihat kemunculannya yang di ikuti Bastian.
"Mang Dadang baik, Ma," jawab Halim yang membuat istrinya mengernyitkan kening.
"Mang Dadang? Maksud Papa, Mang Dadang ...."
"Iya, Mang Dadang pekerja kita," Halim memperjelas dugaan sang istri.
Laksmi membekap mulutnya tak percaya. Bagaimana bisa putranya menabrak pekerja mereka sendiri?
Tapi kemudian wanita itu berpikir, jika yang namanya musibah tak akan ada yang tahu.
"Papa mau bicara dengan Pak Jaja dulu, meminta untuk menghubungi keluarga Mang Dadang."
"Mama ikut," Laksmi sebenarnya ingin cepat pulang, dia sudah tak betah berada di rumah sakit. Apalagi, ternyata yang terlibat kecelakaan adalah Dadang pekerja di keluarganya. Mereka bisa membicarakan hal ini dengan lebih mudah, ketimbang orang asing yang mungkin saja bisa menuntut macam-macam.
Laksmi tak bermaksud berburuk sangka. Tapi kadang ada beberapa pihak yang memanfaatkan di tengah musibah untuk keuntungan mereka sendiri.
Setelah kepergian Laksmi dan Halim, Bastian memilih untuk pergi ke kantin rumah sakit. Perutnya tiba-tiba terasa lapar, belum lagi rasa haus yang merongrong tenggorokannya. Di ikuti Calya yang memilih untuk mengekori sang Kakak. Lagipula, Mang Dadang masih beristirahat.
Keduanya menempati salah satu meja kosong. Bastian segera melahap pesanannya sementara Calya santai menyesap minumannya sembari meletakan atensi pada ponsel di tangannya.
Melihat foto-foto yang beberapa saat lalu di ambil sewaktu bertemu Laras, membuat mood Calya kembali tak keruan. Apalagi melihat noda coklat yang begitu jelas terpampang di area depan tubuh idolanya yang terbalut dress model Sabrina berwarna putih kian membuat noda besar itu tampak mencolok.
Calya cemberut, dia ingin sekali memposting foto bersama Laras yang di dapatnya ke akun i********:, agar teman-temannya tahu dan iri padanya. Tapi noda bekas Iced Espresso membuatnya urung.
Seolah kejatuhan ide brilian, wajah masam Calya berubah cerah dalam hitungan detik, dia sibuk mengutak-atik fotonya bersama Laras. Mengeditnya agar noda itu tak tampak mencolok lagi. Astaga, kenapa dia baru terpikirkan sekarang? Ayolah, ada banyak aplikasi yang bisa mengedit foto menjadi sesuai keinginan kita di zaman sekarang. Kalut sepertinya membuat kinerja otak Calya sedikit melamban.
Diam-diam, Bastian memperhatikan adiknya yang terfokus pada ponsel dengan raut berubah-ubah. Dia tak membuka suara, hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakukan absurd remaja yang duduk di depannya.
Calya terkikik, melihat hasil editannya. Moodnya kembali membaik. Jemari berkuteks pink itu bergerak lincah di layar ponsel. Setelah puas melihat fotonya sudah terposting di i********:, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempang yang kemudian ia kenakan.
"Kak, aku ke toilet dulu ya?" Calya menatap Bastian yang masih sibuk dengan isi piringnya yang sudah hampir tandas. Kasian sekali, Kakak satu-satunya itu pasti kelaparan setelah semua masalah yang menimpanya hari ini. Bastian yang kadang rewel soal makanan, kini tampak tenang dengan menu apa pun yang tersuguh di hadapannya.
"Mau Kakak anter?" Bastian balik bertanya setelah menandaskan suapan terakhir dan meneguk minuman.
Calya menggelengkan kepala. Sepertinya rumah sakit masih ramai meski sudah malam, jadi ia tak perlu takut berkeliaran di sekitar, "aku bisa sendiri" jawabnya sembari bangkit dari tempat duduk.
Bastian mengangguk dan membiarkan Calya pergi. Sepertinya ia akan duduk-duduk sebentar lagi karena perutnya terasa kenyang.
Calya bergegas ke toilet dan menuntaskan keinginannya yang sedari tadi ingin buang air kecil. Setelahnya, gadis itu sibuk di depan cermin yang cukup besar dan panjang di atas deretan wastafel. Meski sudah malam dan ia berada di rumah sakit, bukan berarti Calya abai pada penampilannya. Ia harus tetap tampil menarik di setiap kesempatan. Hal yang selalu di ajarkan sang Mama padanya. Karena siapa tahu akan bertemu dengan orang tak terduga.
Selesai mengoleskan lip tint pada bibir yang tampak kian merah muda dan segar, Calya membenahi rambut panjang yang ujungnya ikal.
Gadis itu sempat menaikan satu alis dengan wajah tanya yang terkesan ... Sedikit angkuh. Hal yang kadang sering dilakukan ibunya ketika tengah terusik. Seperti dirinya saat ini yang cukup terusik dengan tatapan gadis yang tengah mencuci tangan di sampingnya. Di lihat-lihat, mungkin seusia dengan Calya.
"Ada masalah?" Tanya Calya sembari bersedekap tangan, urung meninggalkan toilet setelah menuntaskan keperluannya.
Gadis bersurai coklat sebatas bahu itu masih bungkam. Dia justru berjalan melewati Calya namun dengan bahu yang Calya sangat yakin sengaja menabrakkannya dengan kasar. Tubuhnya bahkan sempat terdorong karena gerakan tiba-tiba itu.
"Lo beneran ada masalah sama gue?!" Calya mulai meninggikan suara. Emosinya melejit tajam mendapati gadis asing itu sepertinya mengibarkan bendera perang dengannya.
Gadis bersurai pendek itu hanya melirik Calya sambil lalu, dia sibuk dengan Hand Dryer.
"Telinga lo masih berfungsi dengan semestinya kan? Bukan cuma pajangan?" Calya tak bisa lagi mengontrol emosi. Gadis itu benar-benar meremehkannya. Dia seperti orang gila yang sedari tadi sibuk berceloteh sendiri, "heh! Mau ke mana lo? Urusan kita belum selesai!" Calya berderap cepat, tak ingin melepaskan gadis menyebalkan yang sudah menyulut emosinya.
Di luar toilet, Calya mempercepat langkahnya bahkan sudah setengah berlari. Ia segera menyentak tangan kiri gadis itu hingga berhasil menghentikan langkahnya.
"Gue nggak berminat 'beramah tamah' sama pelakor kaya lo! Ups, koreksi. Pepacor maksud gue, perebut pacar orang!" Ucap gadis itu melihat Calya dengan tatapan meremehkan.
Apa dia bilang?
Pelakor?
Pepacor?
Astaga! Bagaimana bisa hal semacam itu disematkan kepada seorang Calya Dwi Pradipto?
"Tarik omong kosong lo," desis Calya yang di abaikan gadis asing yang bahkan namanya saja ia tak tahu. Tapi tiba-tiba menuduhnya.
Bukannya menuruti perkataan Calya, gadis itu justru menjambak rambutnya dengan tiba-tiba, "dalam mimpi pun, gue nggak sudi!" Serunya keras.
Calya berteriak saat kepalanya terasa pedih. Setelah keterkejutannya pulih, dia segera membalas dengan menjambak gadis itu menggunakan dua tangan. Tak ingin kalah gadis itu juga melayangkan satu tangannya lagi untuk menjambak rambut Calya. Alhasil, keduanya sibuk menjambak rambut, sesekali saling melempar u*****n atau berteriak. Lorong toilet yang sebelumnya sepi, berubah menjadi riuh dan arena pertarungan dadakan.