(Un) Perfect Wife - 7

3057 Kata
Hasta nyaris terlelap karena kantuk yang sulit ia abaikan, tapi kemudian urung, saat netra menangkap pergerakan seseorang yang semalaman ia tunggui hingga pagi.   Segera beranjak dari tempat duduk dan mendekat keranjang perawatan, pria itu tersenyum lega saat melihat kelopak mata perempuan di depannya membuka, "Hei? Sudah sadar?" tanyanya, meski tatapan terpaku pada netra hitam yang tampak menawan.   Tak ada jawaban, hanya terdengar erangan lirih dari perempuan yang tak ia ketahui namanya.   Hasta bergerak untuk menekan tombol pemberitahuan kepada tim medis untuk datang ke ruangan.   "Tunggu, sebentar lagi Dokter datang. Butuh sesuatu?"   "Us...."   Hasta mengernyitkan kening, tak mengerti apa yang baru saja meluncur dari bibir pucat dan kering itu, "apa? Bisa ulangi?" Tanyanya sembari mendekatkan telinga pada bibir perempuan itu yang hanya mampu mengucapkan kata-kata lirih, sulit terdengar  bahkan seolah setiap kata yang terucap tak tertangkap pendengarannya karena sudah lebih dulu tersapu angin. Membuatnya sulit mengerti.   "Hus ... Ha ... Hus ...." Ulang perempuan itu tersendat-sendat, dan masih belum begitu jelas.   "Haus?" Tanya Hasta memastikan, dan mendapat jawaban dengan beberapa kali kedipan mata seolah sebagai balasan untuk mengatakan 'Ya'. Pria itu akhirnya paham.   Hasta baru saja beranjak, berniat untuk mengambilkan air minum ketika pintu ruang perawatan terbuka. Menampilkan seorang Dokter wanita dan Perawat di belakangnya. "Selamat pagi," sapa sang Dokter, kemudian di ikuti oleh perawat yang juga menyapa.   "Selamat pagi, Dok, Sus," balas Hasta, kembali mendekatkan diri ke arah brankar perawatan.   Pria itu menjelaskan jika pasien baru saja siuman. Dokter kemudian memeriksa keadaannya. Sebelum kemudian menjelaskan jika keadaan pasien sudah kondusif. Akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui apakah terdapat luka dalam, selain luka-luka luar yang di derita pasien saat ini.   Setelah berbincang beberapa saat, sang Dokter dan Perawat kemudian undur diri. Meminta untuk segera mengabari jika ada sesuatu yang terjadi.   Selepas kepergian Dokter dan Perawat, Hasta mengembalikan atensi pada perempuan asing yang kini sudah mampu membalas tatapan matanya. Meski masih tampak lemah.   "Haus ...."lirih perempuan itu yang kini terdengar lebih jelas.   Seolah baru mengingat sesuatu, Hasta segera berjalan mendekati dispenser yang tersedia, beserta gelas yang segera ia isi.   Sayangnya, ia tak menemukan sedotan. Meletakan gelas di samping nakas ranjang perawatan, Hasta mengatur ketinggian ranjang agar perempuan itu tak perlu bersusah-susah bangun. Yang mungkin saja sulit karena masih tampak lemas.   Setelah posisi sudah dirasa ideal, Hasta memegangi gelas dan membantu perempuan itu minum. Yang dengan segera meneguk rakus air minum dalam gelas yang ia sodorkan. "Lagi?" tanyanya saat isi dalam gelas sudah kosong.   Dengan gerakan pelan dan seperti ... Malu-malu? Perempuan itu menganggukkan kepala.   Hasta hanya bisa mengulum senyum dan berjalan kembali ke arah dispenser untuk mengisi air. Bertepatan dengan ruang perawatan yang terbuka. Menampilkan seorang wanita dengan dress hijau di atas lutut, membuatnya tampak lebih segar dari keadannya yang kemarin.   "Dia sudah sadar?" Laras mengejap saat menemukan sosok yang kemarin masih tak sadarkan diri kini sudah membuka mata dengan tubuh setengah duduk di atas ranjang, melihat ke arahnya, "sorry Has, gue niatnya cuma mau istirahat bentar di apartemen dan balik lagi ke sini nemenin lo. Tapi gue tidur kaya orang mati suri. Secapek itu ternyata tubuh gue," ungkapnya tak enak hati karena harus membiarkan Hasta berjaga seorang diri.   Hasta yang sudah selesai mengisi air dalam gelas hanya berucap santai, "kan memang gue yang suruh lo pulang buat tidur. Ada gue yang jaga di sini. Jadi, nggak ada yang perlu di takutkan dan khawatirkan. Andai kemarin lo balik lagi ke sini pun pasti gue usir, suruh pulang lagi.”   "Ya tapi, ini kan tanggung jawab gue," ucap Laras sembari berjalan beriringan dengan Hasta. Menuju perempuan asing yang hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.   "Ini, minum lagi," Hasta kembali membantu perempuan itu minum di tengah sorot penasaran Laras, "lagi?" Tanyanya saat kembali mendapati gelas kosong. Kasian sekali, sepertinya dia benar-benar kehausan. Membuat Hasta menjadi tak tega. Tapi kali ini perempuan itu menggelengkan kepala. Hasta mengerti, ia meletakkan gelas kosong di atas nakas, sebelum kembali mengatur posisi ranjang seperti semula agar bisa berbaring dan beristirahat lebih nyaman, "sebaiknya istirahat lagi, kamu masih lemas."   Tanpa kata, perempuan itu hanya menganggukkan kepala dan kembali memejamkan mata. Sebenarnya ia tak mau, tapi rasa lemas dan kantuk yang tiba-tiba menyerang membuatnya menyerah. Dan sekali lagi harus berpetualang dalam kegelapan. Namun kali ini dengan perasaan yang lebih lega. Entahlah, di ruangan ini, dirinya bersama dua sosok asing yang tak ia kenal. Tapi anehnya, tak ada rasa takut dan cemas yang merongrong. Dia percaya mereka adalah orang-orang baik. Hingga membuatnya bisa meletakan kepercayaan begitu saja. Ya, sebut saja ia naif.   Hasta kembali mendudukkan diri di sofa, di ikuti Laras yang segera meletakkan kotak bekal tiga tingkat yang tadi di bawanya.   "Gue bawain lo sarapan," ucapnya sembari membuka kotak-kotak itu. Ada sandwich, nasi goreng, dan buah-buahan segar yang sudah di potong-potong. Ia juga membuka kantung berlogo Cafe yang sangat Hasta kenal. Tentu saja, karena itu adalah logo Cafenya sendiri, "lo kan paling suka sama kopi dari Cafe lo sendiri. Jadi gue sengaja mampir ke sana. Untuk makanan, gue bikin sendiri," jelas Laras sembari menyerahkan kopi yang masih terasa panas kepada Hasta.   "Lo nggak seharusnya repot-repot, di rumah sakit ini juga ada kantin. Gue tinggal ke sana."   "Anggap aja ucapan terima kasih dari sepupu tersayang lo ini," balas Laras sembari menusuk kiwi dengan garpu kecil, "gimana keadaannya?" Matanya beralih ke atas ranjang perawatan, di mana ada sosok yang tampak terlelap dengan tenang.   "Menurut Dokter kondisinya sudah stabil. Tapi nanti dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, buat tau apa ada luka lain selain luka-luka di luar tubuhnya itu."   Laras menganggukkan kepala, perempuan itu meletakkan garpu saat mendengar suara ponselnya berdering. Ia bergegas mengangkat agar tak mengganggu istirahat wanita yang tertidur di sana.   "Halo?"   "Sayang? Makasih mau ang---"   Laras segera mematikan sambungan. Ia nyaris melontarkan u*****n karena kesal. Salahnya, yang tak lebih dulu memeriksa siapa nama penelpon. Ingatkan dia untuk segera memblokir nomor pengkhianat itu.   "Siapa? Debt Collector?" Tanya Hasta asal, ketika melihat raut wajah sepupunya yang tiba-tiba berubah kesal dan gugup.   Laras berdecak, "gue nggak pernah dan nggak berminat berurusan dengan begituan," menyandarkan tubuh pada sofa, ia sibuk mengutak-atik telpon genggamnya. Sebelum kembali lupa, harus bergegas memblokir nomor dan semua akses yang bisa saja membuat orang itu bisa menghubunginya.   "Ya lo kaya dikejar hutang."   "Lebih tepatnya, dikejar manatan s****n!" Gerutu Laras yang berhasil menghentikan pergerakan Hasta yang hendak menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.   "Lo putus?" Tanyanya tak yakin, "bukannya mau tunangan?"   "Nggak jadi, males banget tunangan sama bekicot yang doyan merayap di tubuh perempuan lain."   "Dia selingkuh?"   "Nggak, cuma ketahuan gulat di ranjang sama perempuan."   Ck, Hasta memilih diam dan melanjutkan makan. Sepupunya dalam mode senggol bacok. Dan ia tak berminat menjadi tempat pelampiasan membuang emosi. Semalaman dirinya tak tidur, tubuhnya mulai mengeluh. Jangan sampai, setelah ini dirinya juga ikut-ikutan di rawat di rumah sakit.   ***   Bastian sibuk dengan nasi goreng yang tersuguh di depannya, sang Papa fokus pada ponsel di tangannya. Hal yang cukup ganjil mengingat pria paruh baya itu biasanya lebih suka membaca koran. Sang Mama, sedari melihat Calya bergabung tak berhenti mengomel. Sepertinya, kemarin belum cukup untuk mengomeli Calya yang entah bagaimana bisa bertengkar bahkan bergulat dengan gadis muda seusianya.   Karena keributan itu, Calya dan gadis yang bertengkar dengannya di amankan. Laksmi jelas murka, dia malu karena Calya bertindak bar-bar semacam itu. Sementara putrinya hanya bisa menundukkan kepala dengan penampilan menyedihkan. Rambutnya seperti sarang burung yang di terjang angin kencang, ada beberapa luka cakaran di pipi, dagu, juga lengan. Maskaranya luntur karena air mata, hidung kirinya mengeluarkan darah.   Yang menjadi lawannya tak kalah menyedihkan. Penampilannya nyaris sama seperti Calya. Hanya ditambah dengan mata kiri yang tampak lebam, sepertinya hasil bogem mentah Calya padanya. Orangtua gadis itu yang ternyata berada di rumah sakit juga ikut di minta datang.   Lakmsi kian murka, rasanya ingin sekali bersembunyi menghindari rasa malu, Saat tahu jika Ibu dari gadis yang berkelahi dengan Calya adalah pelanggan nomor satu di Butiknya.   Meski mendapat omelan hingga telinga pengang. Calya tak menyesal sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghajar gadis menyebalkan yang sudah mengatainya sembarangan.   Astaga, jadi gadis itu dendam padanya karena kekasihnya diam-diam menyukai Calya?   Oh, ayolah, memangnya salahnya jika ia terlahir secantik ini?   Menyedihkan sekali, melempar kesalahan pada orang lain.   Dia bahkan tak tau jika si gadis menyebalkan dan pacarnya itu satu sekolah dengannya.   Jadi bagaimana mungkin ia bisa menjadi penggoda, apalagi pepacor? s****n sekali, bukan?   "Kamu dengar Mama nggak sih, Cal?" Laksmi geram karena semua ucapan yang sudah ia lontarkan seolah menjadi angin lalu untuk putrinya yang tampak santai mengaduk sereal.   "Dengar Mama ...." Calya menjawab meski dengan ogah-ogahan.   "Awas ya begitu lagi, bikin malu."   Menganggukkan kepala sebagai jawaban. Calya berharap sang Mama berhenti mengomel. Dia ingin menikmati sarapannya dengan tenang. Lagipula, apa tidak lelah mengomel sedari kemarin. Ketika di rumah sakit, di perjalanan pulang, sebelum ia masuk kamar, baru muncul dan bergabung di meja makan untuk sarapan, bahkan hingga sekarang. Stok omelan sang Mama seakan tak ada habisnya.   Ya, mereka semua akhirnya pulang ke rumah. Termasuk sang Kakak. Papanya sudah membereskan semuanya. Mang Dadang akan mendapat penanganan hingga pulih. Pria itu juga sudah sadar dan di temani keluarganya.   "Tuan ...." Mbok Sri tampak tergopoh-gopoh mendatangi majikannya.   Melihat kedatangan Mbok Sri yang tiba-tiba dengan wajah kalut, membuat semua orang mengalihkan atensi padanya. Terutama Halim karena dirinya yang di panggil.   "Kenapa Mbok?"   "Tuan, Non Wening, Tuan ...." Mata tua itu tampak berkaca-kaca. Ada raut kelegaan yang membayang di wajahnya yang sedari kemarin muram.   "Saya masih berusaha mencari Wening, Mbok," Halim merasa tak berguna. Ia sudah berusaha mengerahkan orang-orang terpercayanya untuk mencari Wening. Tapi hingga kini belum juga ada kabar memuaskan.   Mbok Sri menggeleng-gelengkan kepalanya, "tidak perlu Tuan, Non Wening ada di depan," ucapnya penuh haru.   Mendengar hal itu, sontak membuat Halim segera beranjak dari tempat duduknya, "yang benar, Mbok?" Tanyanya tak percaya. Bagaimana bisa?   "Iya Tuan, Non Wening pulang, diantar perempuan cantik sama Den Hasta,"  lanjut Mbok Sri memberi informasi.   "Hasta?!"   "Kak Hasta?!"   Bastian dan Calya menyerukan nama orang yang sama nyaris bersamaan. Mereka bahkan berbarengan berdiri dari tempat duduk masing-masing.   Bastian kebingungan, bagaimana bisa sahabatnya itu bersama perempuan udik yang menurut penuturan adiknya menghilang sejak kemarin?   Sementara Calya, juga sama bingungnya. Kenapa Wening yang ia harapkan tak lagi menginjakkan kaki di rumah ini justru kembali. Sialnya, justru bersama seseorang yang sama sekali tak terduga. Hasta, salah satu sahabat terdekat Kakaknya. Halim segera beranjak pergi, di ekori Mbok Sri, tak lama diikuti Bastian dan Calya yang ikut menyusul. Hanya tersisa Laksmi yang masih tenang di tempat duduknya. Meski, sebenarnya berbanding terbalik dengan hatinya yang bergemuruh.   Kenapa gadis itu harus kembali?   Kedamaian yang ia damba seketika pupus.   Lakmsi menggigit sandwich miliknya dengan perasaan berkecamuk.   Keadaan berbeda justru terjadi di ruang tamu. Tangis haru Mbok Sri kembali pecah saat meraih Wening dalam pelukan. Gadis itu juga menyambut dengan hangat. Tak kuasa ikut meluruhkan air mata. Ia bersyukur bisa selamat dari musibah yang menimpanya.   Setelah mengurai pelukan dengan Mbok Sri, Wening mulai bercerita tentang peristiwa yang telah terjadi padanya ketika Om Halim menanyakan ke mana saja dirinya pergi? Dan bagaimana bisa itu terjadi?   Wening menceritakan sedari dirinya yang hanya ingin sekadar menikmati angin sore di taman sehabis membeli beberapa makanan dan minuman ringan di minimarket. Tapi sayangnya, ada seseorang yang justru berniat jahat padanya. Ia yang panik segera melarikan diri dengan susah payah. Tapi justru lengah hingga bisa terlibat kecelakaan dengan Laras. Laras sendiri ikut membantu Wening menjelaskan apa yang terjadi. Dia meminta maaf karena membuat Wening dalam kondisi seperti saat ini. Tapi ia memastikan jika tak ada luka serius. Wanita cantik itu juga menawarkan agar Wening melakukan kontrol ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya benar-benar sudah pulih.   Wening yang merasa tak enak hati. Menolaknya dengan halus. Sudah cukup, ia tak ingin menyusahkan lagi. Karena ia juga memiliki andil dalam peristiwa kecelakaan ini. Rasa panik membuat dirinya tak sadar sudah berlari ke tengah jalan dan tak sempat menghindar saat mobil yang dikendarai Laras melintas.   Hasta hanya mengulum senyum saat Bastian sedari tadi memelototinya, kode agar ia harus menjelaskan padanya secara langsung nanti.   Sementara Calya, gadis yang duduk tepat di samping Bastian itu hanya diam. Namun matanya tak lepas dari Hasta dan Laras.   ***   Bastian seolah tak ingin membuang waktu untuk menginterogasi Hasta.   Saat sahabatnya hendak pamit pulang bersama Laras. Dia justru mengekor ikut. Satu mobil bersama Hasta, juga Laras. Mobilnya rusak parah. Entah masih bisa diperbaiki atau akan berakhir teronggok sebagai barang rongsokan.   Bastian bisa saja mengendarai mobil lain milik Papanya, Mamanya, atau juga Calya, meski kemungkinan kecil adiknya itu membiarkan ia membawa mobil kesayangannya. Dia juga ogah membawa mobil pink yang isinya serba karakter kelinci. Tapi selain itu semua, masih ada rasa trauma ketika harus mengendarai mobil sendiri.   Setelah mengantar Laras yang akan melakukan sesi foto untuk salah satu brand ternama. Hasta melajukan mobil ke Cafe miliknya. Keduanya segera beranjak menuju lantai dua, tempat biasa mereka berkumpul.   Namun saat akan menaiki undakan tangga, Arya tiba-tiba muncul. Penampilan rapinya tak terlihat, pria itu lebih kusut dan ada lebam di rahang kirinya.   Baiklah, sepertinya hari ini akan ada banyak cerita yang perlu ketiganya bagi pada satu sama lain.   "Jadi, di mulai dari siapa?" Tanya Hasta setelah mereka sampai di lantai dua, tempat biasa bersantai.   "Lo aja, gue penasaran, gimana sampai bisa sama si udik itu?"   "Udik?" Hasta menaikan satu alisnya tak mengerti, "siapa maksud lo?"   Bastian mendengkus, sebelum kemudian merebahkan diri pada sofa yang ia duduki, "cewek yang lo bawa pulang ke rumah gue tadi pagi." Jelasnya, ia yakin Hasta akan tetap paham siapa yang ia maksud.   "Wening maksudnya?"   Bastian menganggukkan kepala dengan malas. Kenapa juga harus di perjelas. Dia sendiri bahkan lupa nama perempuan itu.   "Wening, Siapa tuh? Wah, ada berita apa yang gue lewatkan di sini?" Arya menuntut jawaban pada dua temannya yang justru mengabaikan.   "Bukan gue," jawab Hasta mulai menjelaskan, "Laras nggak sengaja terlibat kecelakaan sama Wening. Kemarin, dia panik habis nabrak orang, atau mungkin mobilnya ditabrak seseorang. Yang jelas dia nangis-nangis telpon gue buat ke rumah sakit."   "Laras kecelakaan? Dia nggak kenapa-kenapa kan, Has?" Arya berujar panik.   Sementara Hasta hanya menaikkan satu alisnya, "kenapa jadi lo yang ribut?"   "Ck, gue tanya, gimana keadaan Laras? Dia luka? Apa gimana?" Arya tak memedulikan apa pun, ia hanya ingin tau keadaan Laras.   "Dia baik, nggak ada lecet sedikit pun. Shock aja," Hasta akhirnya memberi penjelasan lebih. Membuat Arya bisa bernapas lega.   "Kejadiannya kemarin?" Bastian kembali melempar tanya, dan Hasta hanya memberikannya jawaban dengan anggukan kepala, "berarti kejadiannya sama kaya gue,"   "Kejadian apa?" Hasta dan Arya berbarengan melempar tanya pada Bastian.   "Gue juga kemarin kecelakaan?"   "Seriusan lo?" Arya tampak tak percaya. Pria itu segera memegang kedua bahu Bastian, menggoyangkan tubuhnya ke samping kiri dana kanan. Mencari luka atau hal yang tampak ganjil lainnya.   "Ck, lo ngapain? Pusing kepala gue badan diputar kanan kiri begini," Protes Bastian, sembari melepaskan genggaman tangan Arya pada bahunya.   "Kan, lo yang bilang tadi kemarin kecelakaan. Jadi gue mau cek badan lo sekarang." Arya mencoba membela diri.   "Gue nggak kenapa-kenapa, tapi tukang kebun di rumah gue yang di rawat."   "Kenapa jadi malah tukang kebun lo?" Hasta tampak kebingungan. Apa hubungannya kecelakaan yang dialami Bastian dengan tukang kebun rumahnya yang tengah di rawat?   "Tau, kenapa jadi bawa-bawa tukang kebun lo?" Arya ikut menimpali.   "Ya, karena dia yang terlibat kecelakaan sama gue," jelas Bastian sembari meneguk Iced Capuccino yang tersuguh di hadapannya.                                    "Kok bisa?" Tanya Arya yang rasa penasarannya belum terpuaskan.   "Ya bisa aja, namanya musibah, siapa yang tau?" Mengedikkan bahu, Bastian kembali menjawab.   "Iya juga sih," Arya menyengir sembari menggaruk pipi namun tiba-tiba mengaduh ketika terkena luka lebam di sudut bibirnya yang sudah tadi ia obati. Meminjam kotak P3K milik Hasta.   "Kayaknya persoalan gue sama Hasta sudah terjawab," Bastian melihat Hasta yang menganggukkan kepala, sebelum kemudian kembali meletakkan atensi pada Arya, "sekarang giliran lo. Itu kenapa muka yang selalu lo agung-agungkan sebagai aset dan modal menggaet perempuan, tiba-tiba bonyok begitu?"   "Iya, tumben lo nongol tapi muka kaya adonan gagal." Celetuk Hasta tanpa dosa, mengabaikan dengkusan sebal Arya. Sementara Bastian sudah tergelak puas di tempat duduknya.   "Mending lo jadi irit bicara aja Has, bikin pedes kuping orang kalo lo banyak ngomong." Keluh Arya yang hanya ditanggapi Hasta dengan mengedikkan bahu.   "Jadi?" Tanya Bastian dengan satu alis terangkat, menuntut cerita dari Arya atas penampilan kusut dan tanda bogeman di wajahnya.   Mengela napas, Arya menyugar rambutnya yang kian kusut masai, "lagi s**l aja kali gue," ucapnya yang sama sekali tak memuaskan dahaga informasi kedua sahabatnya, "ck, gue kencan sama istri orang."   "Uhuk! Uhuk!" Bastian tersedak mendengar pengakuan mengejutkan Arya, "What?!" Tanyanya tak percaya, pria itu bahkan nyaris menyemburkan minuman yang tengah di teguknya.   Sementara Hasta, meski sama terkejutnya dengan Bastian hanya tetap memaku pandangan pada Arya. Menginginkan informasi yang lebih jelas.   "Tadi pagi, tiba-tiba di kantor ada orang asing yang menerobos masuk ruang kerja gue," Arya mulai menceritakan peristiwa yang membuatnya kesal sekaligus malu, "tanpa bicara apa-apa, dia langsung datangin gue yang lagi sibuk sama tumpukkan berkas, terus tiba-tiba narik kerah baju gue dan ngasih tonjokan." Adunya sembari menunjuk luka lebam di sudut bibirnya.   Kekacauan tadi pagi terputar kembali di ingatan Arya. Pria asing itu mengamuk. Menacacinya dan terus berusaha menrjang Arya yang sudah terjungkal di bawah kursi kerjanya.   Untung saja, sekretarisnya dengan cepat memanggil dua security kantor. Membuat wajah tampannya terselamatkan. Jika tidak, dia mungkin sudah berakhir di rumah sakit.   Baiklah, tolong ingatkan Arya untuk menambah bonus untuk sekretarisnya nanti.   "Gue tau lo itu playboy cap k*****t. Tapi masa istri orang lo embat juga?" Bastian menggelengkan kepala, tak paham dengan sahabatnya satu itu yang kadar brengseknya kian bertambah.   "Gue nggak tau," bela Arya, "gue sadar diri, gue itu b******k, b******n, tukang php perempuan, tapi gue nggak akan pernah mau berurusan sama istri orang." Ya, jika Arya tau, perempuan yang menjadi teman kencannya kemarin malam adalah istri orang, mana mungkin ia dekati.   "Mungkin mereka lagi ada masalah," ungkap Hasta menuturkan pemikirannya.   "Ya tapi tetap aja judulnya selingkuh sama si k*****t satu ini," sela Bastian sembari menendang sofa single yang Arya duduki, "gue juga kalo jadi lakinya bakal ngamuk-ngamuk. Gue giling sekalian nih k*****t!"   Arya yang sebal, balas menendang sofa panjang yang Bastian duduki bersama Hasta, "kan udah gue bilang, gue-nggak-tau!" bela Arya sekali lagi.   "Ya makanya, kalo kencan sama perempuan, pastiin aman, nggak terikat sama siapa pun. Jangan liat yang bening bawaan lo pengen giring ke kamar." Ucap Bastian yang membuat wajah Arya kian masam.   "Terus gimana? Udah beres masalah lo?" Hasta kembali melempar tanya.   "Boro-boro beres, yang ada makin runyam," keluh Arya sembari mengacak rambutnya dengan raut frustasi, "itu cewek neror gue terus, sampai harus gue blokir nomornya."   "Neror gimana?" Tanya Hasta penasaran.   "Dia bilang, mau cerai sama suaminya yang kasar itu, terus ngaku jatuh cinta sama gue, dan mau menjalin hubungan serius setelah nanti urusan perceraiannya selesai." Ungkap Arya, pria itu memijit pelipisnya karena kepalanya terasa berdenyut setiap kali memikirkan apa yang dikatakan perempuan itu.   "Mampus!" Bastian tergelak, begitu puas melihat raut nelangsa Arya.   "Sahabat durhaka emang ya lo, Bas!" Umpat Arya kesal melihat Bastian justru tergelak sambil bertepuk tangan. Begitu puas dan bahagia. s****n.   "Mungkin ini cara takdir biar lo tobat, Ar, nggak lagi mainin perempuan," Bastian menepuk-nepuk pundak Arya bak tengah menguatkan sahabatnya yang tengah kalut, "tinggal nikahin, apa susahnya?" Tanyanya enteng, yang mendapat lemparan bantal sofa dari Arya tepat ke wajahnya.   "Lo kira nikah itu segampang jajan es teh?" Kesal Arya, bukannya membantu mencarikan solusi, Bastian justru membuat kepalanya kian berdenyut nyeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN