Wening mengalihkan tatapan dari layar televisi saat suara pintu kamarnya yang terbuka terdengar. Tampak Mbok Sri yang melangkah masuk dengan nampan berisi banyak makanan.
"Kenapa nggak tiduran di kasur?" Tanya Mbok Sri setelah meletakkan nampan dan mulai menata makanan yang dibawanya pada meja di hadapan Wening.
"Bosan Mbok, kalo harus tiduran terus," jawab Wening, menepuk sisi sofa yang di tempatinya, meminta Mbok Sri untuk tak terus berdiri setelah menata makanan, lebih baik mengobrol degannya sembari mendudukkan diri di sampingnya. Ia tak tega melihat wanita tua itu berbicara dengannya sambil berdiri.
Mbok Sri menyetujui, ia mendudukkan diri di samping Wening, "ayo makan, terus minum obat, biar cepat sembuh," ucapnya sembari mengelus lembut bahu gadis di sampingnya.
Wening menurut, ia mengangkat piring berisi nasi dan lauk pauk, kemudian mulai menyantapnya secara perlahan.
"Mbok minta maaf ya," lirihnya sendu.
Wening yang hendak menyuap kembali makanannya pun urung. Sendok yang sudah ia dekatkan dimulut, ia kembali letakan ke atas piring, "Mbok ... Udah berapa kali aku bilang. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Mbok nggak salah apa pun. Aku yang salah, ceroboh, dan kurang hati-hati," ujar Wening, tak mau lagi melihat raut sesal yang selalu terpatri di wajah tua Mbok Sri. Entah sudah berapa kali kata maaf di ucapkan padanya. Padahal, sudah jelas, semua yang terjadi adalah kesalahannya, "justru seharusnya aku yang minta maaf, tidak mau mendengarkan saran Mbok waktu itu untuk diantar Pak Jaja," jelasnya, mengingat kembali Mbok Sri yang menawarkan Wening agar tak berpergian sendiri. Tapi di temani Pak Jaja, supir keluarga Pradipto. Sayangnya, saat itu ia bersikeras ingin pergi sendirian.
"Mbok hanya merasa bertanggung jawab atas kamu, apalagi Tuan kalut sekali saat kamu belum juga pulang, di saat hari sudah mulai malam," Mbok Sri mengela napas, mengingat kembali hari buruk itu, "di saat bersamaan, justru ada musibah lain yang menimpa keluarga ini." Ucapnya pelan, namun tetap terdengar Wening dan membuatnya penasaran.
"Musibah? Musibah apa Mbok?"
Mbok Sri ragu membicarakan masalah ini. Takut Wening jadi kepikiran. Salahnya yang tak bisa menjaga ucapan.
"Mbok?" Tuntut Wening yang sudah dilanda rasa penasaran.
Tak punya pilihan, Mbok Sri pun akhirnya memilih untuk buka suara, "Den Bastian," mulainya.
"Bastian?" Wening mengerutkan kening, kenapa dengan pria itu? Yang ia lihat, tak ada hal aneh padanya, "Bastian kenapa, Mbok? Kayaknya dia baik-baik saja," ucap Wening menyuarakan pendapatnya.
"Pas kamu hilang tanpa kabar, Tati dapat telpon dari Den Bastian, katanya sedang di rumah sakit karena terlibat kecelakaan." Jawab Mbok Sri.
Mendengar apa yang dituturkan Mbok Sri, membuat Wening membelalakkan mata, "kecelakaan? Masa sih Mbok? Tapi, aku lihat dia baik-baik saja."
"Iya, karena yang terluka bukan Den Bastian, tapi Mang Dadang."
"Mang Dadang? Siapa itu Mbok?" Wening jadi pening, tak paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Mang Dadang itu, salah satu pekerja juga di rumah ini. Biasanya mengurusi pekarangan, kebun, dan taman. Tapi memang sempat izin tidak masuk dua hari karena anaknya dirawat di rumah sakit, terkena demam berdarah." Jelas Mbok Sri dengan rinci.
"Kok bisa ya Mbok, Bastian terlibat kecelakaan dengan pekerja di rumahnya sendiri?"
"Yang namanya musibah, tidak ada yang tau." Ucap Mbok Sri yang di tanggapi anggukkan kepala oleh Wening. Setuju dengan apa yang baru saja Mbok Sri ucapakan.
Ya, yang namanya musibah, tak ada yang tau. Seperti yang menimpa dirinya. Berniat ingin bersantai sejenak di luar, ia justru nyaris dicelakai oleh orang asing yang berniat jahat padanya. Meski ia tetap celaka karena tertabrak mobil, tapi setidaknya bisa mendapat pertanggung jawaban dari orang tersebut. Walau sebenarnya, ia pun ikut andil, tak sepenuhnya salah Laras. Wanita cantik dan baik, yang sudah bertanggung jawab padanya.
***
Dentuman musik memekakkan telinga, tak ada yang terusik, justru semua orang kian memekik girang. Berjejal di lantai dansa. Menggoyangkan tubuh di iringi gelak tawa lepas. Melepas penat yang merongrong seusai rutinitas yang mencekik.
Di sudut lain, ketiga pria lebih memilih mendudukkan diri sembari menikmati minuman di selingi obrolan santai. Oh, ralat, hanya dua orang yang menikmati minuman dengan obrolan santai. Sementara satu lagi tampak sibuk dengan dua wanita seksi yang mengapit sisi kiri dan kanan tubuhnya. Duduk berdempetan dengan tangan-tangan yang saling meraba atau bahkan meremas. Membuat jengah dua temannya yang hanya memperhatikan. Tak berminat ikut mencari teman wanita untuk menemaninya. Karena sedari tadi pun, sudah tak terhitung para wanita yang hilir mudik menawarkan diri namun mereka tolak dengan halus.
"Gue kira si k*****t mau tobat pas curhat di tempat lo, Has. Kumat lagi ternyata. Tobatnya cuma beberapa jam doang," Bastian mendengkus melihat kelakukan Arya yang tengah tertawa-tawa dengan dua wanita yang sedari tadi menemaninya.
"Butuh ratusan purnama lagi mungkin," sahut Hasta sembari mengedikkan bahu tak acuh.
"Lo berdua gosipin gue?" Todong Arya ketika melihat dua sahabatnya itu sibuk mengobrol berdua, "kayak emak-emak arisan lo berdua," celotehnya sembari mengecup pipi wanita di sebelah kanan yang membuat wanita di sebelah kiri merajuk. Arya terkekeh sebelum ikut mengecup wanita di sebelah kirinya.
"Kebrengsekkan lo kayaknya udah stadium empat, jadi susah buat diobati," ujar Bastian yang justru mendapat seringai menyebalkan dari Arya.
"Gue cuma menikmati hidup dengan makhluk cantik yang berada di Bumi ini," Elak Arya, "lo juga harus coba sesekali, Bas, apa enaknya cuma berkutat dengan satu orang," oloknya dengan sangat menyebalkan, "lo juga Has, terakhir gue liat lo gandeng cewek pas kita kelas dua SMA. Astaga! Lo yakin punya lo nggak jamuran?" Gelaknya kian tak terkendali.
"Sinting!" Desis Hasta, menatap malas ke arah Arya.
"Lo baru tau?" Tanya Bastian sambil lalu, "udah dari dulu kita temenan sama orang sinting di depan kita ini." Lanjutnya sebelum menenggak minuman.
Arya nyaris kembali melayangkan protes saat atensinya teralihkan pada kerumunan di lantai dansa. Memang, di sana selalu ada banyak kerumunan. Tapi biasanya di isi oleh orang-orang yang sibuk menggoyangkan tubuh untuk menikmati dentuman musik yang dimainkan DJ, bukan bergerombol dengan suara gaduh dan teriakan.
"Itu ada apaan? Kepo gue," Arya menyeletuk, yang berhasil membuat Bastian atau pun Hasta ikut mengarahkan pandangannya pada apa yang tengah Arya lihat. Posisi mereka yang duduk membelakangi area lantai dansa membuat keduanya luput dari kehebohan yang tiba-tiba terjadi.
"Paling juga ada yang mabuk terus nyari ribut," sahut Bastian sembari berdiri dari tempat duduknya, "ke toilet dulu gue," ucapnya sebelum kemudian melenggang pergi.
Bastian terus melangkah di tengah padatnya orang-orang yang menghalangi jalannya. Pria itu tak peduli, meski kadang kesal karena tubuhnya terhuyung beberapa kali, terdorong atau pun tersenggol, tapi yang membuat kesal, ketika ada tangan-tangan nakal yang sengaja merabanya di kala situasinya terdesak.
Bastian nyaris menuju pintu keluar saat tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing, tengah bergulat di antara kerumunan orang-orang. Ia tak akan peduli dan memilih melanjutkan langkah jika saja perempuan yang tengah saling berteriak dan menjambak rambut bukanlah sosok penting untuk kedua sahabatnya.
Menelan u*****n, Bastian bergegas berbalik arah. Sialnya, ia harus kembali berjuang di tengah padatnya para manusia yang saling berjubel.
"Kenapa lo balik lagi?" Tanya Hasta melihat kehadiran Bastian yang seingatnya pamit pergi ke toilet, tapi tak lama sudah kembali dengan rentang waktu yang menurutnya terlalu cepat.
"Lo nggak pipis pas di perjalanan ke toilet kan? Gue nggak bawa celana dalam tambahan," tambah Arya yang membuat Bastian mendengkus kesal, "ngapain berdiri terus? Takut tembus itu air pipis lo ke sofa? Pake jaket lo aja buat alas di atasnya," celoteh Arya yang seakan tak ada habisnya.
"Astaga ... Stok bacot lo nggak habis-habis ya, Ar? Gue mau ngomongin info penting sampai nggak jadi-jadi." Kesal Bastian.
"Ya lagian lo berdiri pasang muka linglung, kaya abis kesambet tau nggak?" Cerosos Arya tak ada hentinya.
"Gue liat Laras berantem," ucap Bastian cepat, ingin menghentikan segala omong kosong yang tak akan berhenti Arya lontarkan jika tak segera ia sumpal dengan berita yang dibawanya. Dan benar saja, pria itu langsung bungkam. Hanya kedua matanya yang tampak membelalak tak percaya.
"Lo sal ... Salah liat, mungkin, Bas?" Tanya Arya tak percaya.
"Di mana?" Berbeda dengan reaksi Arya yang masih setengah tak percaya, Hasta justru segera beranjak dari duduknya dan meletakkan atensi pada Bastian.
"Di lantai dansa," Bastian menjawab serius.
"Kita ke sana," putus Hasta cepat dan segera mengayunkan langkah ke lantai dansa yang tak lagi di penuhi kerumunan orang-orang yang sibuk menggoyangkan badan. Namun tampak tengah mengerumuni sesuatu.
"Hei, tungguin gue!" Arya berteriak memanggil Hasta dan Bastian yang sudah lebih dulu berlalu, pria itu ingin ikut beranjak, namun kedua tangannya yang sedari tadi ia sampirkan dibahu kanan dan kiri dua wanita yang menemaninya malam ini tertahan, "lepas, gue mau pergi," kesal Arya yang tertinggal dari dua sahabatnya yang sudah tak terlihat.
"Mau ke mana tampan?" Ucap wanita di sisi kirinya yang justru merebahkan kepalanya di bahu Arya.
"Iya, tidak perlu pergi, buat apa menonton keributan? Lebih baik bersenang-senang di sini bersama kita, bukan?" Sahut wanita di sisi kanannya sembari mengelus d**a bidang Arya dengan gerakan s*****l.
Arya menyentak kasar kedua tangannya dengan tiba-tiba, membuat para wanita yang mengerubunginya terkejut. Tak memedulikan, pria itu segera berdiri, "ada hal yang jauh lebih penting dari kalian," ucapnya, sebelum kemudian berlalu pergi.
Banyaknya orang yang berlalu lalang membuat Arya cukup kesulitan. Sesampainya di lantai dansa, ia tak menemukan keributan yang tadi Bastian katakan. Semua tampak biasa, hanya beberapa orang yang tengah asyik bergoyang menikmati irama musik menghentak yang di mainkan seorang DJ.
"Ke mana mereka?" Tanyanya pada diri sendiri. Memilih keluar untuk mencari keberadaan Hasta dan Bastian yang tak berhasil ia temukan jejak kepergiannya.
Sementara di parkiran mobil, Hasta tengah berlutut di sisi penumpang dengan pintu mobil yang terbuka.
"Aduh, sakit, Has!" Seru wanita yang duduk di kursi penumpang.
Hasta menaikan pandangan dari kaki yang tengah ia pegang dan tampak sedikit memar, "kaki lo keseleo kayaknya," ucap pria itu sembari melepaskan high heels di kaki satunya yang masih terpasang, "kita ke rumah sakit, periksain. Daripada nanti tambah parah."
"Kenapa sih, gue harus berurusan sama rumah sakit terus akhir-akhir ini. Dan semua ini lagi-lagi karena si b******k itu!" Seru Laras, sosok wanita yang sedari tadi Hasta periksa kakinya.
"Siapa yang b******k?"
Suara lantang seseorang mengalihkan atensi semua mata. Tampak Arya yang datang tergesa dengan raut wajah mengeras.
"Kenapa kaki kamu?" Tanyanya sembari menggeser posisi Hasta secara mendadak. Tanpa bicara, Hasta memilih menyingkir dan berdiri di sisi Bastian yang sedari tadi hanya diam sembari bersedekap tangan.
"Bukan urusan lo!" Ketus Laras penuh dengan aura permusuhan.
Arya tak memedulikan sikap tak bersahabat Laras padanya. Matanya justru fokus pada kaki kanan Laras yang terdapat memar.
"Biar gue yang antar ke rumah sakit."
"Nggak! Lebih baik gue pulang!" Seru Laras keras. Menolak mentah-mentah tawaran Arya.
"Kita-ke rumah-sakit-sekarang!" Tekan Arya di setiap kata.
"Gue bilang, gue nggak mau! Lo b***k?!"
"Kamu itu kenapa sih keras kepala banget?"
"Lo yang bebal!"
"Udah, cukup!" Seru Hasta menengahi, "sampai matahari nyengir pun, kalian nggak akan berhenti bertengkar. Ar, biar gue yang antar Laras," putusnya kemudian.
"Tapi," Arya nyaris membantah tak terima keputusan Hasta, tapi urung saat Bastian tiba-tiba menariknya hingga berdiri dari posisinya yang berjongkok di depan Laras.
"Udah, nurut aja. Kasian Laras, dia harus segera di periksa," ucapnya mencoba memberi pengertian pada Arya yang tampak masih keras kepala, "lo antar gue aja. Nggak kasian apa? Gue kan ke sini nebeng sama Hasta."
"Lo laki, bisa pulang sendiri." Ketus Arya sebal. Sialnya, hal itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi Bastian yang tergelak puas.
Arya dan Bastian melihat kepergian mobil Hasta yang membawa Laras di dalamnya. Sebelum kemudian ikut beranjak ke mobil Arya, berniat pulang.
"Lo nggak jadi 'Olahraga Malam' sama dua cewek tadi?" Tanya Bastian mengoyak senyap di dalam mobil Arya. Yang sedari tadi terasa terlalu hening. Hanya deru kendaraan yang tertangkap pendengaran.
"Nggak mood gue," jawab Arya sekenanya.
Bastian jelas tau, siapa yang membuat seorang Arya bisa melepas kesenangannya dan galau seperti sekarang.
"Dia kenapa?"
Oh, dan 'Dia' yang dimaksud Arya, tentunya wanita yang baru saja membuat kehebohan di Clubbing tempat mereka tadi berniat menghabiskan malam.
"Gue rasa nggak etis kalo buka suara. Mending lo tanya langsung sama orangnya." Jawab Bastian sembari menyamankan duduk di kursi penumpang.
Arya melirik sahabatnya itu seolah Bastian baru saja memberitahu jika ada gajah yang bisa bertelur.
"Lo tau, sampai ratusan purnama pun, dia jelas nggak akan sudi cerita ke gue," keluhnya dengan raut nelangsa.
Tak tega dengan keadaan Arya, Bastian mengela napas sebelum kemudian membuka suara, "gue cuma tau, tadi Laras ribut sama perempuan asing. Dan ...," Bastian melihat Arya ragu-ragu, ada perasaan gamang yang merambatinya ketika akan melanjutkan pembicaraan.
"Dan?" Tanya Arya penasaran dengan ucapan Bastian yang menggantung, "dan apa? Lo jangan bikin gue tambah emosi, Bas. Cerita setengah-setengah, bikin sensi tau!" Kesalnya.
"Dan, gue liat tunangannya Laras di sana. Tapi itu cowok justru sibuk narik lengan cewek asing yang ribut sama Laras. Pas Hasta ikut pisahin, dengan narik Laras kepelukannya. Tunangannya Laras justru melakukan hal yang sama untuk wanita asing itu. Dia meluk dan nenangin wanita itu yang keadaannya sudah kacau balau. Ya ... Lo tau sendiri kan, gimana buasnya Laras kalo ngamuk."
Arya tak menjawab. Seperti dugaan Bastian. Sahabatnya itu pasti tengah di liputi oleh emosi yang merayapi dadanya hingga terasa panas dan ingin meledak.
***
Wening kesal, sedari tadi entah sudah berapa kali dirinya membolak-balik tubuh, entah ke sisi kiri, kanan, telentang, hingga tengkurap. Tapi tetap saja, tak ada yang dirasa nyaman untuk menjemput kantuk. Frustasi, gadis itu akhirnya memilih mendudukkan diri, dengan punggung yang disandarkan di kepala ranjang.
Sudah tengah malam. Semua penghuni rumah juga sepertinya sudah terlelap. Mungkin tinggal dirinya yang masih membuka mata.
Suara perut mengoyak kesunyian di keremangan kamar Wening yang hanya mengandalkan cahaya dari bulan yang menerobos jendela kamarnya.
Wening meringis sembari mengusap-usap perutnya yang beberapa kali bersuara.
Astaga, kenapa tiba-tiba lapar?
Padahal, ia sudah makan malam. Ya, meski porsi makannya lebih sedikit karena tak begitu berselera. Tapi sekarang, perutnya seolah meminta jatah tambahan.
Karena kantuk juga belum menyergap, Wening memutuskan turun dari tempat tidur. Kaki telanjangnya segera di sergap rasa dingin saat bersentuhan langsung dengan lantai. Dia memang lebih suka bertelanjang kaki daripada mengenakan sandal rumah.
Keadaannya sudah kian membaik. Apalagi Om Halim dan Mbok Sri begitu memperhatikan kondisinya. Membuatnya terharu karena mendapat perhatian yang begitu tulus dari mereka.
Wening berjalan keluar kamar, yang segera di sambut suasana sepi dan temaram karena sebagian lampu sudah di matikan.
Menyalakan penerangan di bagian dapur, Wening mulai mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Sayangnya, tak ada makanan yang sudah siap saji. Hanya ada bahan makanan mentah. Di kulkas, yang ia temukan pun sama. Ada kue yang meski tampak menggiurkan namun tak begitu menarik minatnya.
Ketika matanya menangkap keberadaan sayur sawi di dalam kulkas, gadis itu menemukan sebuah ide. Ia kemudian mengambilnya, tak lupa bersama sebutir telur dan beberapa cabai rawit. Setelah itu mencari-cari keberadaan mie instan yang akhirnya berhasil ia temukan.
Ya, Wening memilih untuk memasak mie instan dengan tambahan telur, potongan sayur sawi dan cabai rawit.
Hah, membayangkannya saja Wening sudah kepayahan menahan air liurnya yang nyaris menetes.
Tak ingin membuang waktu, gadis itu segera merebus air. Selagi menunggu air rebusannya mendidih, ia memotong-motong sayur sawi dan tujuh cabai rawit. Dia memang salah satu penggemar masakan pedas.
Wening memecah telur dan memasukannya ke dalam panci berisi air yang belum terlalu mendidih. Ia akan membuat telur rebus setengah matang. Selagi menunggu telur, ia membuka bungkus mie, mengambil semua bungkusan bumbu. Membukanya satu persatu dan memasukannya ke dalam mangkuk. Sebelum kemudian menceburkan mie yang masih mentah ke dalam panci, bersama telur yang sebelumnya sudah lebih dulu di rebus, dan sekarang sudah tampak terbentuk. Tak lama, potongan sayur sawi menyusul meluncur ke dalam panci.
Hah ... Aromanya saja membuat perut Wening berseru kegirangan. Dia sudah tak sabar menikmatinya.
Sesekali, gadis itu memeriksa kekenyalan mie dengan garpu. Apakah masih keras atau sudah empuk. Ia tak suka mie yang masih keras atau pun terlalu matang sampai menjadi lembek. Setelah beberapa kali memeriksa, Wening akhirnya meniriskan mie, sayur, dan telur yang di rasanya sudah matang dengan pas ke dalam mangkuk. Di beri air secukupnya, kemudian aduk merata, agar bumbu yang terendap di bawah bisa tercampur ke seluruh helaian mie. Jika biasanya di taburi bawang goreng, Wening justru menaburkan potongan cabe rawit yang sebelumnya sudah ia potong. Cabe rawitnya memang sengaja tak ikut ia rebus, agar terasa lebih pedas jika dalam keadaan mentah.
Dan ... Akhirnya, semangkuk mie rebus dengan potongan sayur sawi, satu butir telur rebus dan taburan potongan cabai rawit telah siap di santap. Tanpa membuang waktu, Wening bergegas membawa mangkuk menuju meja makan.
Sialnya, Wening yang terlalu fokus memandangi isi mangkuknya hingga tak sadar, dari arah berlawanan, ada seseorang yang tengah berjalan sembari menundukkan pandangan karena fokus pada ponsel di tangannya.
Prang!
"Astaga!" Wening memekik dan segera bergerak mundur. Ketika tubuhnya menabrak seseorang, hingga kedua tangannya yang tengah memegang mangkuk terlepas. Sayang, kuah panas mie tetap mengenai kakinya meski tak banyak, namun tetap menciprat kakinya.
Rasa terkejut membuat Wening hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Menatap nanar pecahan mangkuk dan seluruh isinya yang berserakan.
"Lo itu kenapa sih, selalu cari masalah sama gue?!"
Suara ketus itu membuat Wening yang tengah meratapi mie miliknya, beralih pada sosok yang tengah menatapnya tajam.
"Ngapain keliaran tengah malam? Kebiasaan banget ya lo, selalu bergentayangan di dapur." Bastian melempar semua rasa kesalnya pada wanita yang kini hanya diam menatapnya.
Astaga ... Kenapa setiap kali dia pulang tengah malam selalu saja s**l? Terutama, harus berurusan dengan perempuan udik itu. Yang sedari pertemuan awal mereka tercipta tragedi di tengah malam. Dan kini kembali terulang. Meski tak ada p****t panci yang melayang ke wajah tampannya.
"Lo--" Bastian menelan kembali ucapnya saat menemukan air mata yang bergulir jatuh di wajah perempuan itu. Awalnya satu tetes, lalu dua tetes, tiga, empat, lim--astaga ... Air mata itu sudah berubah menganak sungai di pipi kemerahannya. Membuat Bastian tiba-tiba menelan ludah kelu. Ada rasa bersalah yang mencubit hati.
Sial, tidak seharusnya ia merasa ... Bersalah?
Di bawah tatapan tajam Bastian, Wening berjongkok membereskan kekacauan yang baru saja dilakukannya. Ia cukup bersyukur, tak ada penghuni rumah lainnya yang terbangun seperti waktu itu hingga menciptakan kehebohan.
Setelah memungut pecahan mangkuk yang berukuran besar, Wening menegakkan tubuh kembali. Berlalu begitu saja dari hadapan Bastian yang masih bungkam di tempatnya berdiri.
Tak lama, Wening kembali. Dengan pel karet dan serokan. Kemudian membersihkan sisa kekacauan.
Sementara Bastian hanya diam memperhatikan. Hingga kemudian berlalu pergi. Membuat Wening sempat menoleh sesaat, melihat kepergian pria yang membuatnya gagal mengisi perut.
Setelah semua sudah selesai di bersihkan, Wening berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya kembali. Meski perutnya masih terasa lapar, tapi ia sudah tak lagi berminat untuk memasak ulang. Jadi sebaiknya ia tidur, mungkin saja dengan begitu tak lagi merasa lapar.
Wening mengernyitkan kening, ketika mendapati sosok asing yang tengah bersandar di daun pintu kamarnya.
"Udah selesai? Lama banget beresin begituan doang," keluh Bastian yang segera menegakkan tubuh saat Wening sudah berada di hadapannya, "pakai jaket, biar nggak kedinginan," titahnya yang membuat gadis di depannya kian kebingungan, "malah bengong, cepetan sana!"
"Buat--buat apa? Terus--kamu ngapain di sini?" Wening meringis ketika ucapannya terdengar begitu berantakan. Dia masih terkejut dengan kehadiran Bastian yang begitu tiba-tiba di depan kamarnya dan mengatakan hal-hal aneh.
"Ck, bawel banget sih. Buruan ambil jaket atau pakaian apa pun yang bikin badan lo lebih hangat. Kita keluar, cari makan." Ucapnya panjang lebar yang hanya mendapat respon berupa kejapan mata dari Wening. Menatapnya seakan ia baru saja menumbuhkan tanduk di atas kepala.