Bastian tau, tak seharusnya ia melakukan semua ini. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, alih-alih duduk di jok motor sport miliknya, ia harusnya tengah berbaring nyaman di atas kasur king size di kamarnya. Meluruhkan rasa lelah yang sudah menggerayangi tubuh.
Tapi rasa bersalah yang bercokol di kepala membuatnya melakukan hal sebaliknya.
Memangnya kenapa jika perempuan udik itu tak jadi makan?
Memangnya kenapa jika perempuan udik itu menangis?
Memangnya kenapa jika ....
Ah, s**l!
Mengacak rambut kesal, Bastian melarikan pandangan pada sosok gadis yang berdiri di samping motornya. Tampak kesulitan memakai helm yang baru saja ia sodorkan.
Memang, seharusnya ia pergi membawa mobil jika berpergian tengah malam seperti ini. Jadi tak perlu terkena angin malam yang terasa dingin. Untungnya, jaket kulit hitam yang ia kenakan, cukup menjadi tameng dari sapuan angin malam yang mulai mencubit kulit.
"Udah belum? Lama banget lo! Pakai helm kaya ngisi soal fisika," kesal, Bastian turun dari motor, berdiri menjulang di hadapan Wening yang hanya bisa diam dengan tubuh kaku. Apalagi, ketika pria itu menundukkan kepala, agar lebih sejajar dengan Wening yang tingginya hanya sebatas dagu Bastian.
Tak memedulikan Wening yang tubuhnya terasa kaku seperti batang kayu, Bastian bersikap santai. Pria itu memakaikan helm cadangan yang ia miliki, sudut bibirnya sedikit tertarik, melihat helm besarnya tampak kedodoran di kepala Wening yang lebih mungil. Setelah mengaitkan helm dan terpasang sempurna, Bastian kembali menaiki motornya lagi. Sebelum kemudian memasang helmnya sendiri.
"Lo ngapain masih berdiri di situ? Buruan naik! Gue ngantuk!" Serunya pada Wening yang membuat gadis itu tergopoh-gopoh menaiki motor Bastian yang cukup tinggi hingga sedikit kesulitan.
Kalo ngantuk ya tidur. Kenapa malah ngajak kelayapan? Gerutu Wening dalam hati. Ya, tentu saja hanya di dalam hati. Mana berani dia berkoar langsung di depan wajah Bastian?
"Lo mau terjengkang?" Omel Bastian lagi saat dari kaca spion yang terpasang di motornya, ia bisa melihat Wening yang duduk canggung dan berpegangan pada bagian belakang motornya, "pegangan pinggang gue, tapi nggak usah modus!"
Ketimbang memegang pinggang, Wening lebih ingin menyumpal mulut pedas Bastian yang terus bicara sedari tadi.
Sayangnya, keberanian Wening jelas tak sebesar itu. Yang bisa dia lakukan hanya manut. Mencengkram setiap sisi jaket yang Bastian kenakan.
Bastian nyaris kembali buka suara dari balik helmnya. Ia baru saja akan kembali melayangkan protes. Meminta Wening agar tak memegang sisi kanan dan kiri jaketnya sebagai pegangan, tapi melingkarkan tangan ke pinggangnya. Namun kemudian urung. Karena, jika di pikirkan lagi, ia terkesan melakukan modus agar dipeluk.
Hah, yang benar saja?
Apa yang tengah ia lakukan saat ini juga demi dirinya sendiri. Ia benci di bayang-bayangi raut sedih gadis yang kini berada di boncengannya. Jadi, demi kedamaian hati, ia terpaksa melakukan hal semacam ini. Di tengah malam, bersiap berkutat di jalanan untuk mencari pengganjal perut gadis yang dari pantulan kaca spion motornya, sesekali memperbaiki letak helm yang sudah dikenakan.
Tak lagi membuka suara, Bastian memilih untuk melajukan kendaraan roda dua miliknya. Menyusuri jalan di tengah malam yang udaranya kian mendingin. Bahkan untuknya yang sudah berbalut jaket.
Karena waktu yang sudah sangat larut, cukup sulit mencari restoran yang masih buka. Bahkan para pedagang kaki lima pun, belum juga tertangkap penglihatan Bastian.
Setelah cukup lama berkendara, Bastian akhirnya memberhentikan laju motornya di dekat tenda sebuah warung pecel lele. "Turun," titahnya setelah membuka helm.
Wening menurut, gadis itu segera turun dari atas motor Bastian dengan hati-hati karena cukup tinggi. Meski enggan, namun akhirnya ia terpaksa berpegangan pada kedua bahu Bastian. Memilih loncat dari atas motor yang cukup tinggi jelas bukan pilihan. Alih-alih makan dan perut kenyang, bisa-bisa ia kembali ke rumah sakit. Bukan lagi karena kecelakaan, tapi gara-gara nyungsep di jalan.
Keduanya berjalan menuju tenda yang tak hanya menjual pecel lele sebenarnya, ada juga menu ayam dan bebek.
Di dalam tenda terlihat cukup ramai oleh para pembeli. Hal yang tak di duga oleh Bastian atau pun Wening, mengingat, waktu sudah cukup larut.
"Mau makan apa?" Tanya Bastian setelah berhasil mendudukkan diri di kursi plastik yang tersedia.
"Terserah," cicit Wening ketika menempati kursi kosong di samping Bastian.
"Ck, gue paling benci kalo cewek bilang terserah. Itu udah kaya mecahin soal matematika tingkatan yang paling sulit." Gerutu Bastian yang justru membuat Wening mengulum senyum.
Jika di lihat dari jarak dekat, paras yang di miliki Bastian semakin terlihat tampan. Pria itu memiliki garis wajah yang tegas, bulu matanya sedikit panjang, alis terukir rapi cukup tebal, tulang hidung mancung seperti Om Halim, ada t**i lalat kecil di tulang pipi bagian kiri yang hanya bisa di lihat dari jarak dekat. Rambut coklatnya sedikit ikal, tak ada kumis atau pun janggut yang bersarang di wajahnya.
"Lo mau makan lele, apa makan gue?!" Pertanyaan Bastian menyentak lamunan Wening yang sedari tadi tertangkap basah mengamatinya lekat-lekat.
Wening mengejap-ngejapkan mata, sebelum kemudian menelan ludah kelu. Astaga ... Bisakah meminta kobokan pecel lele berukuran baskom? Ia perlu air untuk menyiram wajahnya agar menemukan kembali akal sehatnya. Sementara baskom bisa ia gunakan untuk menutupi wajahnya karena malu.
"Le--ekhm! Lele, aku mau lele," jawab Wening meski tersendat-sendat.
"Lele satu, ayam yang paha satu ya Bu," ucap Bastian, memesan Lele untuk Wening dan Ayam yang ia peruntukan untuk dirinya sendiri. Ia yang awalnya hanya berniat menemani, tiba-tiba berubah pikiran karena aroma lezat yang terus menyerbu indera penciumannya. Menyingkirkan ragu, karena sepanjang hidupnya, ini adalah kali pertama seorang Bastian makan di kaki lima.
Menunggu pesanan jadi, Bastian sibuk dengan ponsel di tangannya. Mengabaikan sosok di sampingnya yang hanya diam, sembari sesekali memperhatikan keadaan sekitar. Wening lupa tak membawa ponsel. Benda itu masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
Fokus Wening seketika teralihkan, saat menghidu aroma lezat dari lele yang tersuguh cantik dan menggiurkan di atas piring. Tak lupa dengan nasi hangat, sambal, dan lalapan.
Gadis itu menggumamkan terima kasih ketika Bastian menggeser piring pesanannya mendekat, sayangnya tak mendapat tanggapan apa pun dari pria itu yang bersikap tak acuh padanya.
Tak ingin mengambil hati atas sikap dingin Bastian. Wening segera mencelupkan tangan ke dalam kobokan yang sudah tersedia. Mangkuk kecil berisi air dengan potongan jeruk nipis yang mengapung di atasnya. Membuat Bastian yang duduk di sampingnya diam-diam memperhatikan sembari mengernyit bingung.
Wening mengulum senyum, apa pria itu baru pertama kali melihat seseorang yang mencuci tangan di dalam wadah yang di sediakan sebagai kobokan?
Bastian mulai melahap pesanannya berupa ayam goreng yang juga di temani sambal dan lalapan.
Berbanding terbalik dengan Wening sebagai penggila pedas. Bastian benar-benar payah dalam urusan rasa pedas. Bahkan saus kemasan sekali pun.
"Buat lo aja," Bastian menyodorkan mangkuk kecil berisi sambal miliknya ke dekat piring Wening. Gadis itu tampak fokus berkutat dengan isi piringnya, "lo makan kaya lagi di sauna ya," pria itu mengernyit bingung dengan bulir-bulir keringat yang membasahi wajah Wening. Padahal malam kian larut dan sapuan angin makin terasa dingin.
Wening yang sesekali mendesis karena mulutnya kepedasan hanya bisa diam. Rasa pedas yang menjalari justru kian menambah nafsu makannya. Ia bersyukur Bastian mau memberikan sambalnya yang masih utuh, karena mangkuk sambalnya sendiri sudah nyaris tandas.
Mencuri pandang, Wening memperhatikan Bastian yang makan dengan tenang dan elegan. Pria itu makan dengan sendok dan garpu, bukan langsung menggunakan tangan seperti dirinya. Hal yang menurut Wening kurang enak, apalagi ia tak bisa merasakan sensasi menjilati satu persatu jemarinya yang tertempel bumbu.
"Lo mau nambah?" Bastian melempar tanya ketika melihat isi piring Wening sudah licin, hanya menyisakan tulang ikan lele dan batok kepalanya.
Wening sendiri tengah bimbang, di satu sisi ia memang masih merasa lapar, tapi di sisi lain, merasa malu untuk mengaku. Menelan ludah kelu, gadis itu akhirnya menganggukkan kepala dengan gerakan kaku, menyingkirkan sejenak gengsi yang tadi sempat menggelayuti.
Berdeham untuk menekan rasa ingin menyemburkan tawa, Bastian mengangkat tangan kanannya, "Bu, satu porsi lagi ya, lele goreng sama nasinya," ucapnya pada seorang wanita paruh baya yang baru saja selesai memindahkan piring-piring kotor bekas makan para pelanggannya.
"Siap, istrinya ngidam ya, Mas? Kalo lagi isi bawaannya memang nafsu makan meningkat,"
"Uhuk! Uhuk!" Wening tersedak air teh hangat yang tengah di teguknya. Bersyukur tak menyemburkannya. Astaga, dia malu sekali. Apa kobokan pecel lele bisa digunakan untuk menyembunyikan wajahnya?
Bastian sendiri hanya bisa berdeham sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Suasana canggung itu terpecahkan saat ibu penjual memberikan pesanan Wening, gadis itu menggumamkan ucapan terima kasih, sebelum melirik ke arah Bastian.
"Ngapain lo liatin gue?" Tanyanya bingung karena bukannya segera makan, Wening justru diam, "buruan makan, abisin, abis itu kita pulang. Lo mau nongkrong di sini sampai pagi?"
Menggelengkan kepala cepat, Wening tergesa menyantap piring keduanya.
Bastian sendiri melanjutkan makan, wanita di sebelahnya tengah menghabiskan piring kedua, sementara dirinya, satu piring pun tak juga tandas sedari tadi.
Setelah selesai makan dan membayar, mereka berjalan menuju motor Bastian terparkir.
"Bisa nggak?" Tanya Bastian pada Wening yang masih saja kesulitan memasang pengait helm. Mengela napas, pria itu kembali membantu memasangkannya. Tak menyadari, jika Wening tengah berjuang menenangkan gemuruh di dadanya. Selalu saja berdebar tak terkendali setiap berinteraksi terlalu dekat dengan Bastian. Ya, maklum saja, pengalamannya bersama pria sangat minim. Membuatnya selalu kaku dan kebingungan ketika dihadapkan dengan lawan jenis. Apalagi, yang memesona seperti Bastian.
Tunggu!
Apa tadi yang pikirannya katakan?
Memesona? Bastian? Astaga ....
Bisa-bisanya dia---
"Lo ngapain hobi banget bengong? Buruan naik! Mau gue tinggal di sini? Gue sih dengan senang hati, kalo aja nggak bakal di giling sama bokap." Celoteh Bastian yang membuyarkan segala lamunan dan perdebatan Wening dengan pikirannya sendiri.
Dengan cepat, Wening menaiki motor Bastian, memegang bahu pria itu sebagai tumpuan agar bisa naik. Setelahnya, ia mencengkram sisi kiri dan kanan jaket yang Bastian kenakan. Tubuhnya sempat tersentak, ketika motor besar itu mulai melaju. Menembus jalanan yang kian lengang. Mengingat waktu yang sudah sangat larut. Dari balik helm yang menutupi wajah, senyum Wening terbit. Senyum pertamanya untuk pria yang kini tengah fokus mengendarai motor besarnya. Di balik sikap ketus dan tak bersahabat yang selalu Bastian tunjukkan padanya. Pria itu ternyata tak seburuk yang Wening kira sebelumnya. Buktinya? Mau repot-repot mengajak Wening keluar tengah malam mencari makan. Mungkin, itu cara Bastian sebagai ganti rugi, karena secara tidak langsung sudah membuat Wening gagal menyantap mie yang sudah di masaknya. Memang, tak ada kata maaf yang meluncur dari bibir pria itu, tapi dengan segala tindakan dan perlakuannya, itu sudah lebih dari cukup untuk Wening.
***
Bastian nyaris mengumpat saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka kasar, membuatnya yang sedari tadi fokus dengan dokumen yang tengah dipelajari sebelum membubuhkan tanda tangannya, seketika mendongak. Dan mendapati sosok tak diharapkan sudah merusuh di kantornya sepagi ini, membuatnya ingin sekali melemparkan kursi yang tengah ia duduki ke wajah itu.
"Lo ngapain pagi-pagi ngerusuhin kantor orang? Urusin kantor lo sendiri sana! CEO macam apa coba, bukannya kerja malah keluyuran?" omel Bastian kesal.
Sosok itu justru terkekeh menyebalkan, mendudukkan diri di sofa yang berada di ruangan Bastian. Bahkan mengangkat kedua kakinya ke atas meja.
"Lo udah kaya istri yang lagi ngomelin suaminya yang pulang pagi, Bas," Arya, pria itu menatap langit-langit ruangan.
"Balik sana! Setidaknya mandi, aroma tubuh lo sama wanita yang entah siapa bikin ruangan gue tercemar."
"s****n, ciuman lo tajam juga," kekeh Arya, tak menyangka sahabatnya itu tau dia baru saja pulang dari apartemen wanita yang namanya saja sudah ia lupa.
"Sok-sokan ngasih perhatian ke Laras, pake drama aku-yang-antar-kamu, ujung-ujungnya lo sibuk sama yang lain. Pantesan si Laras alergi banget sama lo."
"Astaga ... Lo kok pagi-pagi nyinyir banget, Bas?"
"Kemampuan nyinyir gue semakin terasah sejak temenan sama lo," ucap Bastian, sembari menutup dokumen yang baru saja ia tanda tangani, "pulang sana, nggak konsen gue kalo satu ruangan sama makhluk kaya lo," ungkapnya s***s.
Bangkit dari duduk, alih-alih menuju pintu keluar, Arya justru menuju pintu yang di peruntukan sebagai ruang istirahat Bastian, "nanti bangunin gue, pas jam makan siang. Masih ngantuk gue habis kerja rodi semalam, baru tidur satu jam." Ucapnya sembari melenggang santai, mengabaikan u*****n yang Bastian lontarkan padanya.
"Susah memang, kalo punya teman kampret." Tak ingin ambil pusing dengan kelakuan Arya yang memang sesukanya, Bastian memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Masih ada banyak hal yang harus ia lakukan, daripada memikirkan sahabatnya yang selalu saja bertingkah seperti bocah.
Sementara itu, di dalam kamar yang tersedia untuk tempat peristirahatan Bastian, Arya sudah melemparkan diri ke atas tempat tidur. Meski hanya sebagai ruang istirahat sementara, tapi fasilitas yang tersedia sudah seperti layanan kamar di hotel berbintang. Tempat tidur ukuran king size, kamar mandi dalam, lemari pakaian, tv, kulkas, rak, sofa tunggal, mungkin tinggal kolam renang yang perlu di tambahkan, pikir Arya. Jadi jika Bastian tengah penat atau kegerahan, sahabatnya itu tinggal menceburkan diri ke kolam renang yang berada di ruang peristirahatannya.
Kekehan Arya redup, binar jenaka yang sering kali terpasang di wajahnya pun meluruh. Berganti raut serius dengan tatapan nyalang pada langit-langit kamar. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Tapi, seperti sudah menjadi kebiasaannya, ia tak suka berbagi beban pada siapa pun.
Tubuhnya sudah meneriakkan kata lelah, matanya yang memerah pun sudah merengek ingin terpejam, denyutan di kepala seolah ikut merongrongnya. Namun, sebelum terseret mimpi, Arya ingin memastikan sesuatu. Merogoh saku celananya untuk meraih ponsel. Ibu jarinya menggulir layar. Sebelum memasuki kontak untuk mencari nama seseorang.
Menekan nomor tersebut hingga kemudian layar ponselnya berubah menjadi mode panggilan. Untuk sesaat, hanya nada sambung yang bisa tertangkap pendengaran.
Arya mengela napas, mungkin ia bisa menghubunginya setelah bangun tidur nanti. Sepertinya, seseorang di sana sedang sibuk. Atau ... Sekali pun tak sibuk, jika ia yang menghubunginya maka tak akan pernah sudi mengangkatnya.
Arya tersenyum muram, lucu sekali, apa ia lupa? Jika 'Dia' mau menerima panggilannya adalah empat tahun silam?
Ya, selama itu. Dan sesekali, ketika keberaniannya tak lagi berserakan. Maka akan ia kumpulkan, untuk menjadi modal nekat menghubungi seseorang yang tak bisa ia enyahkan dari hatinya sedari dulu.
Hati?
Arya tak pernah menggunakannya ketika berkencan dengan para wanita. Ya, ia adalah perwujudan nyata dari seorang b******k. Tapi setidaknya, ia tak pernah memaksa. Semua atas dasar kesenangan bersama. Saling menguntungkan, jadi, seharusnya tak ada pihak yang merasa di rugikan bukan? Kecuali, jika ada di antara para wanita itu yang mulai bermain hati. Maka tak segan Arya akan menutup akses padanya.
Mata yang sebelumnya menatap nyalang langit-langit itu terpejam. Dengan ponsel yang berada di atas perut, masih dalam keadaan menyala dan menunggu sambungan.
"Ha--halo?" Suara dari seseorang di seberang sana terdengar, ketika ponsel berhasil tersambung. Sayang, Arya sudah menyerah pada rasa lelah. Hingga melewatkan peristiwa langka yang bisa saja membuatnya kegirangan. Karena setelah empat tahun, untuk pertama kalinya, panggilannya di terima.
Tak mendengar sahutan apa pun, seseorang di sana mematikan kembali telponnya. Meninggalkan Arya yang tengah terlelap dengan suara dengkuran halus yang terdengar dari bibirnya.
***
"Maaf Mbak, jika belum membuat janji sebelumnya, maka tidak bisa bertemu dengan Pak Bastian," ucap wanita cantik yang tersenyum namun terasa dipaksakan di mata Wening.
Mengela napas, Wening berusaha membalas dengan senyuman, meski justru ringisan yang tersungging di wajahnya, "baiklah, tapi ... Apa saya bisa menitipkan ini?" Tanyanya, sembari memperlihatkan kotak bekal yang sedari tadi di tentengnya.
Hening persekian detik, ketika bibir terpoles lipstik merah itu nyaris mengeluarkan suara, Wening sudah lebih dulu menyela, "ehm, Mbak, maaf, tidak jadi. Kalau begitu, saya permisi, terima kasih." Ucap Wening buru-buru meninggalkan perkantoran mewah yang kini di datanginya.
Sesampainya di luar, Wening kebingungan, sekali lagi di lihatnya kotak bekal yang ia tenteng di tangan kanannya. Gadis itu merutuki diri sendiri. Untuk apa dia harus bersusah-payah mendatangi kantor Bastian? Terlebih, membawakannya bekal yang ia masak sendiri.
"Wening?"
Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Wening yang hendak memesan taksi online urung. Mengedarkan pandangan, ia mendapati Om Halim yang berjalan mendekat ke arahnya. Membuat Wening kian di hinggapi perasaan gugup. Bak pencuri yang tertangkap basah.
"Wening?" Panggil Halim sekali lagi, seolah kembali memastikan jika dirinya tak salah lihat, dan yang kini berdiri di depannya bukanlah sosok yang sekadar mirip, "kamu ngapain di sini? Maksud Om, kamu ada keperluan di kantor Om?"
Wening kebingungan, apa yang harus ia katakan? Berbohong? Dia tak pandai melakukannya. Lalu jujur? Apa dia sanggup? Rasanya memalukan sekali jika mengatakan sengaja datang ke kantornya Om Halim untuk bertemu dengan Bastian dan memberikannya bekal yang sudah ia masak sendiri.
"Wening?" Halim tampak cemas melihat gadis di depannya tampak pucat dan gelisah.
"Bukan, apa-apa Om," Wening merutuki diri, ucapan macam apa itu?
"Itu, kamu bawa bekal?" Tanya Halim, saat pandangannya tercuri pada kotak bekal yang ditenteng Wening, "buat siapa?"
"Buat ... Buat, Bas--Bastian, Om," ucap Wening tersendat-sendat. Merasa wajahnya yang terasa begitu panas karena malu.
Halim mengulum senyum, ketika sebuah pemahaman tiba-tiba hadir di kepalanya, "ayo masuk, Om antar ke ruangannya Bastian," ajak Halim pada Wening yang justru menampilkan raut terkejut.
"Nggak perlu, Om, sepertinya Bastian sedang sibuk." Tolak gadis itu sesopan mungkin. Bagaimana bisa dia kembali ke dalam setelah sebelumnya tak bisa masuk untuk menemui Bastian. Rasanya, benar-benar memalukan. Tindakan nekatnya datang ke sini pun harusnya ia pikirkan lagi. Hanya karena sikap baik Bastian padanya semalam. Entah kenapa membuat Wening begitu tersentuh. Ia bahkan berinsiatif membuatkan Bastian bekal makan siang dan datang ke kantornya, bermodalkan secarik kertas berisi alamat kantor yang di dapat dari Mbok Sri.
"Tidak apa-apa, lagipula sebentar lagi makan siang. Ayo, tidak perlu sungkan, Om antar," ajak Halim yang tak bisa Wening bantah. Bak anak bebek yang tak ingin terpisah dari induknya, Wening hanya diam sembari mengekor di belakang pria paruh baya itu yang sesekali membalas salam hormat para pegawainya.
Termasuk salah seorang wanita yang bertugas di bagian resepsionis dan sempat berbicara dengan Wening. Wanita itu tak bisa menutupi rasa terkejut, bingung, dan penasaran yang tercetak di wajah cantiknya, saat melihat kembali kedatangan Wening, namun kali ini bersama bos besar.
"Om, aku pulang saja kayaknya," ucap Wening pelan saat ia memasuki lift bersama Om Halim, sekertaris dan asisten pria itu di dalam lift khusus petinggi perusahaan.
“Loh, jangan, sudah sampai sini, tanggung. Kamu tenang saja, Bastian juga pasti sudah bersiap untuk makan siang.” Ucap Halim mencoba menenangkan.
Wening merasa sangat canggung, rasanya ia ingin pulang. Sepertinya membantu Mbok Sri di dapur lebih baik daripada harus terjebak di sini.
Lagipula, apa yang akan ia katakan nanti di depan Bastian? Belum lagi, ia juga tak menyiapkan alasan kedatangannya ke kantor pria itu sembari membawa bekal. Astaga ... Jika di pikirkan lagi, tindakannya ini benar-benar tak berdasar. Semua yang tengah berkecamuk di kepala membuat Wening kian ingin pulang.
Bisa saja, kebaikan Bastian semalam hanya karena rasa bersalah atau kasihan padanya yang kelaparan di tengah malam, tapi tak bisa makan karena mie yang sudah ia masak berakhir jatuh dan berserakan di lantai.
"Wening, ayo," Halim memanggil Wening yang masih tertinggal di dalam lift yang sudah berhenti di lantai yang mereka tuju. Sedari tadi gadis itu hanya diam sembari menekuri lantai.
Wening tersentak, gadis itu segera mendongak dan meringis saat semua orang sudah keluar dari dalam lift, hanya menyisakan dirinya dan seorang asisten Om Halim yang tengah menahan tombol lift agar tak menutup kembali. Dengan gerakan tergesa, gadis itu keluar. Sudah terlanjur basah, jadi lebih baik menceburkan diri sekalian.
Mengela napas, Wening kembali mengekori Om Halim menuju ruang kerja Bastian.
Baiklah, ayo siapkan hati, berjaga-jaga jika pria itu kembali berubah wujud menjadi makhluk menyebalkan. Konsekuensi yang harus Wening tanggung.
"Astaga! Bastian, apa yang kamu lakukan?!"
Gelegar suara Om Halim menghancurkan lamunan Wening. Gadis itu tergesa-gesa ikut menerobos masuk ke ruangan Bastian. Dan ... Apa yang tertangkap oleh kedua matanya, nyaris membuat jantung Wening meluruh ke dasar perut.
Di sana, di sebuah sofa panjang, Wening mendapati Bastian yang tak mengenakan atasan. Ya, pria itu setengah t*******g, menampilkan otot perutnya yang membentuk satu, dua, tiga ... Delapan kotak, d**a bidang dan punggung lebarnya pun terekspos dengan jelas. Seharusnya Wening menutup mata karena melihat pria dalam keadaan setengah t*******g, tapi mata gadis itu justru terbelalak lebar. Terlebih, posisi Bastian yang ... Membuatnya kehilangan kata-kata, karena pria itu tengah menindih seorang pria yang hanya mengenakan boxer, penampilannya jauh lebih parah dari Bastian.
Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?
Dan, kenapa dua orang pria itu saling bertindihan di sofa dalam keadaan tanpa pakaian lengkap yang melekat di tubuh?
Baiklah, Wening benci pemikiran yang lewat di kepalanya sekarang.