“Nenek, kita makannya di sini aja ya. Sama Om Regas.” Bocah itu menoleh pada neneknya yang masih memberengut menatap Regas.
“Kita di meja lain aja ya, Gio,” ujar wanita paruh baya itu.
“Maunya di sini aja, Nek,” rengek bocah bernama Gio itu. “Kan aku udah lama nggak ketemu Om Regas.”
“Di sini aja, Gio. Nggak apa-apa,” ujar Regas tersenyum. Ia hanya punya masalah dengan neneknya, bukan dengan bocah ini.
“Horee… Makasih, Om.” Gio tersenyum senang lalu langsung duduk di samping Regas. Sementara neneknya memberengut ingin marah.
“Nah, biar Nenek bisa duduk di samping Gio, Om Regas pindah duduknya ya,” ujar Regas, lalu berpindah duduk di samping Dira yang ada di hadapannya.
Kebetulan tadi Regas dan Dira duduk di meja untuk empat orang dan saling berhadapan. Kini, karena ada yang ingin bergabung bersama mereka, maka Regas pun membuat pengaturan ulang untuk tempat duduknya.
Sementara di sisi lainnya, sejak tadi Dira hanya bisa memandang bingung pada apa yang kini terjadi di hadapannya.
“Oke, Om,” ujar Gio. “Om ke mana sih? Kok nggak pernah ke rumah Nenek lagi?” Celoteh Gio.
Neneknya tampak tidak nyaman dan langsung menyela. “Nenek pesan makanannya dulu ya, Gio bisa main dulu di sana,” ujar wanita itu sambil menunjuk area bermain anak-anak, lalu langsung beranjak dari sana tanpa permisi.
Gio menoleh sekilas pada tempat bermain yang disediakan restoran cepat saji tersebut, lalu wajahnya kembali fokus ke Regas.
“Tante Tania punya pacar baru. Aku nggak suka,” kata Gio sambil cemberut.
“Kenapa Gio nggak suka?” tanya Regas.
“Nggak asyik kayak Om,” jawab Gio.
Dira yang tadi merasa sangat lapar, mendadak jadi menahan diri saat mendengar nama mantan pacar Regas itu disebutkan. Kalau dalam situasi seperti ini, sepertinya ia harus berhati-hati dalam bersikap agar tidak membuat Regas malu.
Maka, gadis itu kemudian makan dengan perlahan dan sedikit-sedikit, tidak lagi lahap seperti sebelumnya.
“Masa sih nggak asyik?” tanya Regas sambil menatap bocah kelas satu SD di hadapannya itu.
“Iya, dia nggak bisa main game. Terus maunya dekat sama Tante Tania terus,” ujar Gio mencebik.
“Gio, main di sana dulu gih. Makananya lagi disiapkan, nanti diantar ke sini,” ujar neneknya yang sudah kembali ke meja mereka. Wanita paruh baya itu meletakkan nomor di atas meja, lalu duduk di samping cucunya.
Gio memandang neneknya ragu.
“Tadi kan kayanya mau main di sana,” ujar wanita itu lagi.
“Iya, Nek,” ujar Gio yang akhirnya turun dari kursi. “Gio ke sana dulu ya, Om,” ujar bocah itu lalu segera melangkah menuju arena bermain.
Setelah Geo menjauh, wanita paruh baya itu kembali menatap Regas dan Dira bergantian. Tatapan matanya jelas menyorot tidak suka.
“Sudah dapat yang baru ya,” ujar wanita itu sambil memandang sinis ke arah Dira.
“Tania saja bisa langsung dapat yang baru kan?” tanya Regas balik.
“Itu karena kamu pergi meninggalkannya. Kamu bilang ingin menikahi Tania, tapi setelah itu kamu pergi. Anak saya hampir gila karena kamu,” ujar wanita itu kesal. Akan tetapi, ia tetap menjaga nada bicaranya.
Sudut mata Regas melirik Dira yang tampaknya ingin bicara. Gadis itu tampaknya sudah paham situasi dan tidak terima kalau bosnya disalahkan.
Namun, cepat-cepat Regas menekan lutut gadis itu dari bawah meja. Ia lalu menepuknya dua kali tanda menenangkan.
“Sepertinya Tania tidak menceritakan secara detail kenapa saya menghilang,” ujar Regas.
Wanita itu seketika terdiam.
“Saya tidak akan menjelaskan apa pun lagi. Seharusnya Tania sendiri sudah tahu itu.” Regas menatap sekilas pada wanita itu, lalu menoleh pada Dira. “Kamu sudah selesai makannya, Sayang?”
Ditanya tiba-tiba dengan pertanyaan seperti itu membuat punggung Dira seketika kaku. “Iya… Sudah,” jawabnya pelan. Meski sebenarnya hatinya belum rela berpisah dengan ayam goreng yang masih tersisa setengah di piringnya, dan kulit ayam yang tadi ia sisihkan dan belum sempat ia makan.
“Kalau sudah, ayo kita menyingkir dari sini. Pengunjung makin ramai, mereka pasti butuh meja.”
Dira seketika mengangguk. “Aku cuci tangan dulu ya,” ujarnya lalu berdiri. Ia mencoba menatap wanita di hadapannya, tapi nenek tua itu membuang muka darinya.
Mendadak Dira jadi kesal. Ia hanya mencoba bersikap agak sopan pada yang lebih tua, meski pun wanita itu sudah bersikap sangat menjengkelkan. Tapi wanita itu sendiri yang membuang muka.
Regas memandang punggung Dira yang bergerak menjauh, lalu kembali menatap wanita di hadapannya.
“Saya permisi dulu,” ujar Regas sambil membereskan nampan makanan mereka.
Wanita itu mendengus saat Regas beranjak dari hadapannya. Tapi Regas tidak peduli, berkat kehadiran wanita itu, suasana hatinya yang semula membaik, seketika jadi memburuk.
Setelah membereskan nampan makanan mereka, Regas menyusul Dira yang masih mencuci tangan. Ia pun juga mencuci tangannya sementara gadis itu menatapnya penuh tanda tanya.
“Nanti aku jelasin ya,” ujar Regas menatap tatapan bertanya-tanya gadis itu.”
Dira akhirnya mengangguk. Setelah Regas mencuci tangan, ia mengajak Dira menghampiri tempat bermain anak-anak. Tapi Gio sudah tidak ada di sana. Saat Regas kembali menoleh ke arah kursi yang tadi ia tempati bersama Dira, ternyata bocah itu sudah duduk bersama neneknya.
Awalnya Regas ingin berpamitan, tapi melihat Gio sudah bersama neneknya, ia jadi malas untuk melanjutkan niatnya. Maka, ia pun mengajak Dira keluar dari restoran tersebut.
“Habis ini kamu mau ke mana lagi?” tanya Regas.
“Kayaknya kita pulang aja deh, Tu-Yang. Soalnya kamu sepertinya butuh berada di rumah,” jawab Dira.
Regas seketika terkekeh mendengar jawaban Dira. “Kenapa kamu mikirnya gitu?” tanya Regas.
“Habisnya ibu-ibu menyebalkan tadi merusak waktu bersantai kamu. Jadinya kayak jadi bad mood deh.”
Regas lagi-lagi terkekeh. “Kamu sendiri nggak pingin tahu apa yang terjadi? Kenapa tadi tiba-tiba kita diganggu ibu-ibu judes yang langsung ngomel tanpa tahu situasi?”
“Pingin tahu lah. Tapi kan tadi kamu sendiri bilang akan jelasin,” jawab Dira.
“Oh, iya, benar,” ujar Regas.
“Tapi boleh nggak beliin aku seember ayam goreng lagi. Aku masih lapar. Mana tadi kulit ayamnya belum sempat dimakan lagi,” ujar Dira dengan mata memohon.
Melihat ekspresi gadis itu yang tampak tersiksa, Regas pun seketika tertawa. “Lho, tadi kamu pas aku tanya sudah selesai langsung bilang iya. Kan harusnya bisa bilang kalau belum selesai makannya.”
“Memangnya siapa yang tahan makan sambil dengerin omelan orang yang tak dikenal,” kata Dira. “Tadi pun aku mau jawabin dia kamunya nggak boleh.”
“Ibu-ibu cerewet begitu nggak usah ditanggapin sih,” kata Regas. “Ya sudah, kita pesan satu ember ayam lagi untuk kamu di rumah.”
“Balik ke sana lagi kita?” tanya Dira.
“Nggak, pesan via drive thru aja,” jawab Regas.
“Apaan tuh?” tanya Dira.
Regas menatapnya sambil tersenyum. “Kamu belum tahu kan, nanti lihat sendiri aja ya.”
“Regas…”
Lagi-lagi, kali ini ada yang memanggil nama laki-laki itu.
Regas dan Dira menoleh ke arah sumber suara, kali ini ada dua perempuan berdiri tidak jauh dari mereka.
Salah satu dari wanita itu Dira kenali sebagai mantan kekasih Regas yang siang tadi datang untuk mengajaknya bertengkar.
***
Bersambung…