Bab 7 - Kencan Pura-Pura Part 1

1204 Kata
Regas memandangi gadis di hadapannya yang tengah menikmati ayam goreng dengan lahap. Saat memasuki restoran cepat saji ini tadi, ia sempat menyesal karena sudah memberi pilihan pada Dira untuk makan di mana, dan berakhir dengan gadis itu yang memilih untuk makan di sini. Dari sekian banyak pilihan, Dira malah memilih untuk makan makanan cepat saji, yang sebenarnya tidak terlalu Regas sukai. Tapi kini, setelah melihat betapa lahapnya gadis itu saat makan, penyesalan yang ia rasakan sebelumnya seketika menguap. “Itu kulitnya kenapa dikumpulin di pinggir? Nggak suka ya?” tanya Regas. Tangannya mencocol kentang goreng ke dalam saus dan membawanya ke mulut, tapi matanya masih memperhatikan Dira yang melahap ayam goreng dengan memisahkan kulitnya terlebih dahulu. Dengan mulut yang penuh, Dira buru-buru mengunyah makanannya untuk menjawab Regas. “Buat dimakan di akhir, Tu-Yang,” koreksinya. Sesuai perjanjian, jika berada di tempat umum ia tidak boleh memanggil Regas dengan sebutan tuan, melainkan Yang. “Kulitnya ini enak sekali, jadi cocok untuk dimakan paling akhir.” “Save the best for the last ya,” kata Regas. “Apa itu?” tanya Dira yang kemampuan bahasa inggrisnya hanya sebatas yes, no, mother, father, I, you, they, we. “Yang enak dinikmati di akhir,” jelas Regas. Gadis itu menggigit ayam gorengnya sambil mengangguk cepat. “Hu’um… Ya, begitu,” ujarnya sambil mengunyah. Regas geleng-geleng sambil menatap Dira takjub. Gadis itu kini sudah makan potongan ayamnya yang ke empat, tapi masih tampak lahap. “Pelan-pelan, nanti kamu tersedak.” Regas berusaha mengingatkan. “Iya,” sahut Dira dan mulai makan dengan agak pelan. “Say-aku sudah lama sekali tidak makan ini, Tu-Yang. Tahu sendiri kan rumah kami ada di pelosok. Jadi makan ayam ini merupakan kemewahan yang selalu diidam-idamkan sejak kecil.” Regas mengangguk. Tentu saja ia tahu. Melihat rumah Dira yang masih berada jauh dari pusat kota, tentu saja untuk sekedar makan ayam goreng cepat saji ini dianggap merupakan sebuah kemewahan. “Iya, makan yang banyak ya. Nanti kalau kurang boleh tambah lagi,” ujar Regas. “Yang benar, Tu-Yang?” tanya Dira yang kini melahap potongan ayam yang ke lima. “Iya,” jawab Regas. “Silakan pilih, kamu mau makan apa aja nanti aku bayarin.” “Yeay, makasih… Yang,” kata Dira sambil tersenyum senang. Regas hanya tersenyum tipis melihat gadis di hadapannya ini melanjutkan makan dengan lahap. Namun, beberapa saat kemudian ia pun teringat sesuatu. “Oh ya, kamu mau sekolah lagi nggak?” tanya Regas. “Sekolah lagi? Aku kan sudah tamat SMA,” jawab Dira dengan polos. “Bukan SMA. Maksudku kuliah,” ujar Regas. “Kerjaan kamu kan nggak banyak, kamu bisa sambil kuliah.” “Ah, itu… Aku nggak punya cukup uang untuk biayanya,” bisik Dira. “Tenang aja, aku yang bayarin semua biayanya. Mau ya?” tanya Regas. Baginya Dira adalah gadis yang pintar. Rasanya sayang sekali jika gadis itu tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dira butuh menambah ilmu, pengalaman, serta mengasah kemampuannya lebih jauh karena Regas melihat potensi besar dalam diri gadis itu. Dira diam. Gadis itu tampak berpikir dengan ayam goreng yang menggantung di tangannya, belum dibawa sampai ke mulut. “Ibumu waktu itu pernah berpesan agar aku membujuk kamu untuk kuliah,” kata Regas. “Oh, jadi ini kerjasama dengan Ibu ya.” Dira geleng-geleng, lalu melanjutkan makan. “Nggak juga, ibu kamu cuma pesan doang,” jelas Regas lagi. “Ini murni penawaran dariku karena aku meihat kamu punya potensi besar untuk berkembang lebih jauh dari dirimu yang sekarang.” Regas ingat, saat ia masih menumpang di rumah Dira beberapa bulan lalu, ibu gadis itu pernah bercerita kalau Dira sempat ingin melanjutkan pendidikan di bangku universitas, tapi ia malah mengubur cita-citanya tersebut karena melihat kondisi keuangan keluarga. Ayah Dira sudah wafat sejak gadis itu duduk di bangku SMP. Meninggal karena tersetrum alat setrum ikannya sendiri saat mencari ikan di sungai. Hal tersebut mengguncang mereka sekeluarga hingga Kakak perempuan Dira yang saat itu duduk di kelas dua SMA memutuskan berhenti sekolah untuk membantu ibunya memotong pohon karet atau Para. Karena ia hanya dua bersaudara, melihat kakaknya yang putus sekolah membuat Dira juga sempat ingin berhenti sekolah dan membantu ibunya. Tapi kakaknya marah dan meminta Dira meneruskan sekolah agar pengorbanannya tidak sia-sia. Kini, Kakak Dira sudah menikah. Suaminya juga ikut membantu mereka mengurus kebun pohon karet keluarga istrinya. Keuangan keluarga mereka sudah membaik, meski tidak berlebih, tapi lumayan cukup. Saat Dira ikut dengan Regas kemarin, Anita, kakak perempuan Dira sedang hamil dua bulan. Ibunya yakin Anita tidak akan mau melanjutkan pendidikannya lagi meski Regas menyarankan untuk ikut program penyetaraan dan setelah itu ia juga bisa mendaftar kuliah. Jadi kini,karena Anita jelas menolak, hanya Dira yang menjadi harapan satu-satunya. Bagi ibu Dira, meski ia tidak pernah duduk di bangku sekolah, anak-anaknya tidak boleh bernasib sama seperti dirinya. Regas kagum dengan wanita itu. Ia berpikiran luas untuk masa depan anak-anaknya dan tidak beranggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi karena hanya akan diam di rumah untuk melayani suami dan anak. Karena itulah Regas dengan senang hati akan membantunya membujuk Dira untuk melanjutkan pendidikannya, meski gadis itu sudah dua tahun lulus dari SMA. “Sa-aku kan sudah lulus SMA sejak dua tahun lalu. Sudah ketinggalan jauh sekali,” kata Dira lirih. Regas menemukan keraguan dalam ekspresi gadis itu saat ini. Dira tampak tertarik, tapi sekaligus takut untuk maju. “Nggak masalah,” kata Regas. Sepertinya Dira hanya butuh diberikan sedikit motivasi agar kepercayaan dirinya naik. “Salah satu kelebihan menjadi mahasiswa adalah kamu akan punya teman sekelas dengan berbagai macam usia. Tidak semuanya harus seumuran seperti saat di sekolah dulu.” “Benarkah?” “Ya, memangnya siapa yang peduli soal umur?” tanya Regas balik. “Fokusmu saat menjadi mahasiswa sudah berbeda dengan saat masih jadi siswa sekolahan. Di sekolah kebanyakan dari kita merasa bahwa belajar itu adalah tuntutan. Tapi, saat kamu menjadi mahasiswa nanti, kamu akan sadar bahwa belajar dan hal lainnya adalah kebutuhan.” “Tapi, di media sosial banyak yang bilang malas mengerjakan tugas kuliah,” kata Dira. Regas menghela napas. “Mungkin yang kamu lihat saat itu adalah salah satu contoh dari manusia pemalas. Dunia ini luas, meski ada satu orang pemalas, masih banyak ratusan dan ribuan orang lainnya yang lebih rajin. Jadi jangan tertipu.” Dira diam. Masih tampak bimbang. “Coba aja dulu ya?” bujuk Regas lagi. “Nanti aku bantu pilih kampus dan jurusan yang cocok untuk kamu. Jadi tahun ajaran baru nanti kamu bisa mulai ikut perkuliahan.” “Menurut Tu-Yang, apa sa-aku mampu untuk jadi mahasiswa?” Regas langsung mengangguk. “Tentu saja. Kamu itu cepat belajar. Jadi aku yakin kamu nggak akan mengalami kesulitan.” Dira hendak membuka mulut kembali, saat tiba-tiba seorang bocah laki-laki menginterupsi obrolan mereka. “Om Regas. Wah, Nenek, ada Om Regas di sini.” Fokus Dira dan Regas seketika beralih ke bocah itu. Tak lama kemudian, perempuan dengan dandanan luar biasa mendekati meja mereka. “Wah, ada Regas rupanya. Tumben kamu makan di tempat seperti ini,” ujar wanita itu sambil menatap Regas dan Dira bergantian. Regas langsung mengumpat di dalam hati melihat siapa yang ada di samping meja mereka saat ini. Dari banyaknya waktu di dunia ini, kenapa mereka harus bertemu sekarang sih? *** Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN