Move on itu susah. Kalau mudah, sebelumnya pasti susah dulu.
===================================================
“Dira… Kamu di mana?” Regas melangkah dengan tergesa sambil melintasi ruang tamu.
“Di sini, Tuan. Di depan televisi,” sahut gadis itu.
Regas kemudian langsung bergegas menyusul ke ruang keluarga. Di sana ia menemukan gadis itu tengah bersandar tak bersemangat di atas sofa yang menghadap televisi. Saluran yang sedang ditayangkan di hadapannya adalah salah satu acara memasak dari mancanegara.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Regas sambil memadang wajah gadis itu dengan ekspresi sedikit khawatir. Tapi wajah Dira tampak baik-baik saja. Tidak ada lebam ataupun bekas cakaran di sana.
“Ya, saya baik-baik saja, Tuan,” jawab Dira lesu. Matanya melirik Regas dengan sendu.
“Kalau baik-baik saja, kenapa ekspresi kamu seperti itu? Seolah tidak bersemangat untuk hidup.”
“Tadinya saya sedang merenung, Tuan,” jawab Dira. Ia lalu bergeser saat Regas duduk di sebelahnya. Laki-laki itu melepas jas dan dasinya, kemudian menggulung lengan kemejanya hingga ke bawah siku.
“Merenungi apa? Tania nggak mukulin kamu kan?” tanya Regas. Sikap Dira barusan sangat berbeda dengan suaranya saat di telepon tadi.
Dira menoleh untuk menatap bosnya itu lurus-lurus. “Saya sedang merenung, apa yang akan terjadi kalau sampai mantan pacar Tuan balik lagi bawa preman dan mereka membunuh saya di sini.”
Dua detik berikutnya Regas hanya bisa tercengang, sebelum akhirnya ia memahami kekhawatiran Dira dan akhirnya terkekeh.
“Kamu ini, bisa-bisanya memikirkan hal seperti itu,” kata Regas.
“Ya, soalnya orang-orang zaman sekarang bisa bertindak cukup gila jika mereka mau kan? Buktinya orang-orang yang membuang Tuan ke sungai dalam keadaan terikat waktu itu. Mereka sama sekali tidak berperasaan.”
Meski sedikit bergidik membayangkan kejadian yang pernah dialaminya, Regas pun mengangguk setuju. “Ya, kamu benar. Tapi untuk urusan dengan Tania tadi, dia nggak akan melakukan hal gila seperti itu. Jelas dia akan jadi tersangka utama kalau nekat berbuat seperti itu di tempat yang ada CCTV seperti ini.”
“Apartemen ini ada CCTV ya?” tanya Dira. Tapi detik berikutnya ia mendadak merasa bodoh. Tentu saja ada. Tempat mewah seperti ini justru aneh jika tidak ada CCTV.
Regas mengangguk. Namun, gadis itu tiba-tiba langsung menyilangkan kedua lengan di depan d*da.
“Kamu kenapa?” tanya Regas heran.
“T-tuan nggak diam-diam ngintip saya dari CCTV kan?”
Regas mengerjap, lalu mengembuskan napas keras saat mengerti kekhawatiran gadis itu. “Yang benar aja. Untuk apa aku ngintipin kamu?”
“Lho, itu tadi katanya ada CCTV di sini,” ujar Dira sambil bergerak mundur ke sisi sofa lainnya.
“Ya ampun, Diraaaa…” Regas kemudian berdecak sambil menatap gadis itu yang kini mulai menatapnya dengan tatapan mencela. “Memangnya CCTV itu aku pasang di kamar kamu apa? Cuma di area tertentu kok. Nggak sampai ke area pribadi seperti kamar juga.”
“Lalu, di mana itu?” tanya Dira yang masih tampak curiga.
“Astaga…” Regas menatap gadis itu sambil mengembuskan napas panjang. “Ayo sini ikut aku. Biar aku kasih lihat di mana aja CCTV itu terpasang.”
Masih dengan tangan menyilang di depan d*da, Dira pun bangkit mengikuti Regas keluar dari ruang keluarga dan melangkah menuju ruang kerjanya.
Setibanya di sana, Regas langsung duduk di meja kerjanya lalu memeriksa monitor komputer yang ada di sana. Setelah beberapa saat, ia pun menggeser monitornya sekitar dua puluh lima derajat menghadap Dira yang berada di sudut mejanya.
“Nih, lihat. Perhatikan area mana saja yang dipasangi CCTV.”
Dira maju dan melihat sendiri. Di depan lift hingga mencapai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kolam renang, lorong menuju kamarnya, dan lorong menuju kamar Regas.
“Sudah lega sekarang?” tanya Regas.
Perlahan, Dira pun mengangguk.
“Nah, karena kita udah di sini, aku mau putar ulang rekaman saat Tania datang tadi. Sekitar jam berapa? Jam dua ya?”
“Iya, sekitar jam dua,” ujar Dira saat Regas mulai kembali mengotak-atik komputernya. Tak lama kemudian, rekaman yang dicarinya pun ketemu. “Nah, ini dia. Ayo kita lihat cara dia ngajakin kamu berantem tadi.
Kali ini tanpa menunggu Regas menggeser monitor komputernya, Dira langsung menggeser tubuhnya sendiri untuk menatap monitor komputer lebih jelas. Di sana ia melihat sosok Tania yang muncul dari lift dan berpapasan dengannya yang hendak melangkah menuju ruang keluarga. Dira meringis melihat penampakan dirinya dan perempuan itu di sana. Ia jadi kembali teringat kejadian tadi.
“Hahahaha... Ya ampun, dia sampai lari terbirit-b***t ketakutan sama kamu ya. Hahahaha....”
Dira menyipitkan mata memandang Regas yang tertawa terbahak-bahak sambil menatap monitor komputernya.
“Aku nggak nyangka dia bisa ketakutan gitu saat kamu gertak balik. Kamu pakai jampi-jampi apa sih?” tanya Regas sambil terkekeh. “Sakti banget kamu. Parah.” Regas geleng-geleng sambil mengacungkan jempolnya.
Dira diam. Matanya masih menyipit memandangi bosnya itu.
“Dir?” menyadari kalau reaksi Dira tidak sepertinya dirinya, Regas seketika menghentikan tawa. “Kamu ngapain sih lihat aku gitu banget. Serem tahu. Kamu nggak lagi kesambet kan?” Regas menatapnya khawatir sambil menggoyangkan tangan di depan wajah Dira.
“Ck... Tuan kenapa sih ketawanya gitu banget? Senang amat,” kata Dira tiba-tiba.
“Ya, habisnya lucu sih. Nih ya kita putar lagi,” ujar pria itu sambil memutar ulang video rekaman CCTV tersebut. “Lihat, dari gertakan kamu itu, dia langsung lari terbirit-b***t. Lucu banget. Mirip kucing yang habis diberikan auman singa. Hahahaha...”
“Aduh... Tuan, udah deh nggak usah ketawa. Saya jadi kasihan,” sela Dira tiba-tiba.
Regas seketika menghentikan tawanya. “Kasihan? Kenapa kasihan sama aku?” tanya Regas bingung.
Dira memandang bosnya itu sambil geleng-geleng. “Ya, habisnya meski ketawanya terlihat senang banget, mata Tuan masih memancarkan kerinduan sama si Mbak gila itu.”
Regas melotot karena terkejut dengan ucapan gadis itu barusan.
“Jadi udah ya, Tuan. Nggak perlu lah berpura-pura senang. Sorot kerinduan itu masih ada di mata Tuan. Saya jadi kasihan. Move on ya, Tuan. Move on.”
“Sembarangan kamu,” kata Regas berusaha mengelak. Meski sebenarnya ia memang sedang mati-matian melupakan mantan kekasihnya itu.
“Haduh, nggak usah berusaha keras mengelak, Tuan. Akui saja,” kata Dira sambil geleng-geleng.
“Bawel kamu. Kenapa sih jadi bahas soal itu,” ujar Regas jengkel. “Kita kan tadinya nggak bahas ini lho.”
“Ya habisnya reaksi Tuan gitu banget sih. Kan harusnya bisa biasa aja kali.”
“Lho, gimana aku nggak ketawa karena ini memang lucu banget.” Regas masih membela diri, ia keberatan jika dipojokkan seperti ini.
“Ya, lucu. Tapi tetap kangen kan sama mantan?” mata Dira menyipit curiga.
“Nggak!” bantah Regas.
“Ngaku aja, Tuan.”
Regas langsung membuang muka.
“Tuh kan, benar dugaan saya. Ada yang masih belum move on,” ledek Dira.
Regas seketika berdiri dari kursi kerjanya.
“Eh, Tuan mau ke mana?” tanya Dira terkejut karena reaksi spontan bosnya itu.
“Mau mandi. Pusing aku diledekin kamu terus,” ujar Regas pura-pura merajuk.
“Cieee... Ngambek,” ujar Dira menyusul langkah Regas keluar ruangan.
“Diam. Nanti aku jitak kalau kamu masih aja ngeledek,” ancam Regas dengan ekspresi pura-pura jengkel.
“Eh, nggak boleh KDRT lho, Tuan.” Dira langsung mengangkat kedua tangannya.
Regas menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Dira. Ia pun mengangkat tangan dan mengulurkannya ke kepala gadis itu, membuat Dira langsung menjerit ketakutan.
“Ampuuunn... Ampun, Tuan,” jerit Dira sambil berusaha menghindar.
“Masih mau meledek?” tanya Regas dengan ekspresi yang kini berubah jadi pura-pura galak.
“Ng... Iya—nggak,” jawabnya sambil tertawa menggoda bosnya itu.
“Kamu...” Regas melotot.
“Kabooorrrr...” Saat cengkraman tangan Regas mengendur, Dira langsung melesat pergi dari sana.
“Eh, sini, jangan kabur kamu!” panggil Regas sambil terkekeh melihat gadis itu berlari terbirit-b***t menjauhinya. Diam-diam ia benar-benar senang menyadari kalau Dira adalah gadis yang kuat. Saat baru tiba tadi, ia pikir akan menemukan gadis itu dengan mata membengkak karena menangis akibat diserang Tania. Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya, malah Tania yang ketakutan, dan Regas sendiri malah disindir habis-habisan oleh gadis itu.
Regas mengembuskan napas panjang. Entah bagaimana Dira bisa membaca matanya dengan baik. Gadis itu benar, sejujurnya Regas masih merindukan mantan kekasihnya itu. Ia masih berusaha keras untuk melupakannya. Tidak mudah melupakan mantan kekasih yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengan kita, bukan? Move on tidak semudah membalik telapak tangan. Sebenci dan sekesal apa pun, bayang-bayang mantan masih kerap menghantui.
Akan tetapi, saat Dira meledeknya tadi, kerinduan yang ia rasakan sebelumnya langsung buyar dalam seketika. Gadis itu benar-benar mahir mengalihkan pikiran.
“Dasar bocah!” gumam Regas sambil tertawa pelan.
Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Dira. Gadis itu pasti sedang menyembunyikan diri di sana.
Setibanya di depan kamar Dira, Regas langsung mengetuk pintu.
“Dira…”
Panggilan pertama tidak ada sahutan.
“Dira… Aku mau bicara,” kata Regas.
Tak lama kemudian, pintu kamar pun membuka. “Ampun, Tuan. Jangan KDRT!” ujar Dira saat muncul di balik pintu kamarnya.
“Nggak usah lebay.” Regas berdecak. “Nanti kamu nggak usah masak. Kita makan malam di luar aja.”
Gadis itu tiba-tiba mengerjap. “Kenapa kita makan di luar?”
“Aku butuh refreshing,” jawab Regas. “Kamu tahu sendiri kan cuma hari ini aku pulang sore begini.”
Dira langsung mengangguk. “Tapi ini bukan karena masakan saya nggak enak kan, Tuan?”
Regas terkekeh. “Nggak lah. Kamu juga kemarin bilangnya bosan kan di rumah?”
“Nggak.” Dira menggeleng tak mau mengaku.
“Halah, sok nggak ngaku segala. Udah ngaku aja, nanti malam aku ajak kamu jalan.”
“Jalan?” ujar Dira.
“Iya, jalan. Mau nggak?”
“Mau.” Gadis itu mengangguk antusias.
“Ya sudah. Aku mau mandi dan istirahat sebentar. Habis itu kita keluar ya.”
“Siap, Bos,” ujar Dira memberi tanda hormat.
Regas terkekeh, lalu segera berbalik. Namun, sebelum ia beranjak dari sana, Dira pun kembali memanggilnya.
“Tuan, apa ini termasuk kencan pura-pura?” tanya gadis itu. Mendadak ia jadi berpikir mengenai hal ini. Diajak jalan oleh bos tampannya ini merupakan kejadian luar biasa sekaligus membuatnya khawatir.
Regas berbalik dan kembali menatap gadis itu. “Kenapa memangnya? Kok jadi kencan pura-pura?”
Dira menggigit bibirnya. “Ya, habisnya kalau jalan sama lawan jenis itu kan kencan namanya, Tuan. Sementara saya kan sudah punya gebetan. Saya merasa seperti pengkhianat.”
“Ya ampun…” Regas tertawa kering. “Padahal baru beberapa detik lalu kamu setuju diajak jalan, sekarang sudah mikir begini lagi.”
“Ya habisnya….” Dira menautkan jemarinya.
“Ya, bisa dibilang kencan pura-pura. Kamu kan sejak kemarin memang pura-pura jadi pacarku. Jadi kalau di hadapan orang lain, kita tetap harus berpura-pura.”
Jawaban Regas membuat Dira mengangguk.
“Sudah?” tanya Regas. “Nggak merasa bersalah lagi sama gebetan kamu di kampung kan?”
Dira seketika nyengir. “Nggak, Tuan. Kalau pura-pura saya jadi lega.”
Regas geleng-geleng. “Udah ya. Aku mau ke kamar dulu,” ujarnya sambil kembali melanjutkan langkah.
“Oke, Tuan.”
Kencan pura-pura ya? Regas begumam dalm hati. Dira… Dira… Bisa-bisanya kamu kepikiran hal seperti itu.
Sambil melangkah menuju kamarnya, Regas pun tersenyum geli. Gadis itu benar-benar selalu berhasil membangkitkan sisi humor dalam dirinya dan membuat ia tertawa. Benar-benar gadis ajaib.
***
Bersambung…