Bab 5 - Me vs Mantan Si Bos

1225 Kata
“Hai,” sapa Dira canggung. “Ada yang bisa dibantu?” Dengan ekspresi tak terbaca, Tania—mantan pacar Regas—melangkah mendekati Dira. “Kamu tinggal di sini?” tanyanya. “Iya. Kenapa ya?” tanya Dira. Mata Tania langsung mengamati Dira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Orang ini nggak sopan banget, batin Dira dalam hati. “Benar kamu pacarnya Regas?” tanya Tania lagi. Dira tersenyum tipis. “Kenapa nggak tanya sendiri aja sama Regas,” jawabnya santai. Tania mulai tampak kesal mendengar jawaban Dira. “Regas nggak pernah bawa perempuan ke sini selain aku.” “Oh ya?” tanya Dira balik. “Terus ngapain dong aku di sini?” Mata Tania melotot. “Nggak sopan banget kamu ya,” ujarnya sambil mengepalkan tangan. “Lho, Anda itu yang nggak sopan. Sadar nggak sih? Datang-datang ke rumah orang kok malah ngajak ribut,” jawab Dira santai. “Ini bukan rumah kamu. Ini rumah Regas,” ujar Tania kesal. “Jangan berlagak seperti nyonya rumah.” “Aduh...” Dira geleng-geleng melihat sikap Tania yang tak masuk akal. “Kekanakan banget sih. Yang berlagak seperti nyonya rumah itu bukannya Anda? Datang ke rumah orang tanpa permisi, langsung marah-marah lagi. Nggak ada etika dan sopan santun banget. Cantik-cantik kelakuan kayak nenek sihir.” “Apa kamu bilang?!” Tania maju hendak menampar Dira. “Hey... Mau mukul aku nih? Yakin?” tanya Dira dengan ekspresi tidak takut. “Nih, aku punya ember eskrim yang kalau dipukul ke muka kamu, lumayan lah sakitnya.” Dira menggoyang-goyangkan cup es krim ukuran sedang yang ada di tangannya. Rasa dingin wadah es krim tersebut sebenarnya mulai mengganggu di tangannya, tapi Dira tidak mau terlihat konyol. Jadi ia menahannya dengan tetap memasang ekpresi santai. “Kalau kurang meyakinkan, aku juga punya sendok nih,” ujar Dira sambil menyentuh ujung sendok yang tertancap di dalam wadah es krim tersebut. “Sendok ini sepertinya lumayan kuat untuk mencongkel mata kamu. Jadi pilih yang mana?” “Dasar psikopat!” umpat Tania. Akan tetapi, perempuan itu tampaknya takut juga dengan acaman Dira, terbukti dengan langkahnya yang mulai mundur. “Lho, kamu sendiri kan tadi yang mulai? Aku hanya membela diri,” jawab Dira santai. “Kamu lho yang datang ke sini ngajakin ribut. Aku tadi sudah bertanya baik-baik lho.” “Awas kamu ya!” Tania menghentakkan kakinya, nyaris menjerit kesal, lalu tiba-tiba segera berbalik dan melangkah gegas menuju lift. “Dasar wanita gila!” umpat Dira jengkel. Setelah sosok Tania menghilang di dalam lift, Dira buru-buru kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia harus segera memberitahu Regas soal ini. *** "Kamu yakin nggak mau ngasih tahu yang sebenarnya ke kakekmu?" Regas menggeleng. "Aku belum punya cukup bukti, Om," jawabnya pelan. Saat ini mereka sedang berada di sebuah private room sebuah restoran untuk menikmati makan siang bersama. "Tapi tadi bukannya kamu bilang kalau kamu dengar sendiri pelaku yang mencelakai kamu waktu itu menyebutkan nama Ramon?" tanya pria itu lagi. Regas mengangguk. "Ya, tapi itu saja nggak cukup buat dijadikan bukti, Om. Jadi aku nggak bisa menuduh begitu saja." "Tapi bagaimana kalau mereka akan melakukan hal yang sama lagi? Kemarin mungkin kamu selamat, tapi di lain waktu Om khawatir mereka melakukan hal yang lebih mengerikan lagi." Regas memandang pria di hadapannya sambil tersenyum menenangkan. Om Farhat sudah seperti pamannya sendiri, meski mereka bukan keluarga kandung. Pria ini merupakan anak angkat kakeknya, tapi jauh lebih peduli pada Regas daripada Om Surya, kakak dari ayah Regas sendiri. Sejak dulu hanya Om Farhat yang selalu perhatian pada Regas dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Aneh memang, orang lain jauh lebih peduli padanya daripada orang yang punya hubungan darah secara langsung dengannya. "Om tenang aja, aku nggak mungkin diam aja setelah apa yang terjadi. Saat ini aku masih mengawasi Om Surya dan Ramon untuk mencari bukti. Nanti, setelah seluruh bukti terkumpul, aku akan laporkan mereka berdua." Om Farhat mengembuskan napas panjang. "Om benar-benar nggak ngerti, kenapa mereka bisa melakukan hal setega ini ke kamu." Regas perlahan tersenyum miris. "Memangnya apa lagi kalau bukan warisan yang kakek berikan untukku," ujar Regas sambil mencoba terkekeh. Sejak orangtuanya meninggal, warisan yang akan Regas terima cukup besar. Jelas saja membuat Surya yang sudah dicoret dari daftar penerima warisan merasa iri. Padahal, jika dihitung dengan harta yang sudah Surya ambil sebelum warisan dibagikan, jumlahnya sama saja dengan apa yang Regas terima. Hanya saja pria itu tidak pandai mengelola hartanya hingga selalu saja merasa kekurangan. Karena itulah, jika Regas mati, seluruh bagian Regas akan jadi miliknya. Regas sadar Surya dan putranya, Ramon, memang ingin dirinya mati. Tapi, bukti untuk menunjukkan perilaku busuk yang telah mereka perbuat masih belum cukup untuk membongkar seluruh rencana jahatnya. Jadi saat ini Regas masih harus bersabar dan tetap waspada. "Kamu harus hati-hati, Re. Om benar-benar khawatir soal ini." Om Farhat kembali mengingatkan. "Tenang aja, Om, aku akan menjaga diri dengan baik," Regas mengangguk. Lalu, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di meja berbunyi. Panggilan masuk itu datang dari Dira. "Sebentar ya, Om. Saya angkat telepon ini dulu," ujar Regas, lalu meraih ponselnya. Tidak biasanya Dira meneleponnya seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi kan? "Halo, Dir?" sapa Regas. "Tuaaannn... Mantan Tuan tadi datang ke sini. Astaganaga mau mati aja saya rasanya. Serem banget, lebih-lebih dari nenek sihir. Mana tadi dia mau mukul saya lagi. Tuan pacaran sama perempuan titisan kaum apa sih? Barbar banget tahu nggak. Sumpah ya saya rasa—" "Kamu di mana sekarang? Kamu nggak apa-apa kan? Dia di mana sekarang?" potong Regas dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Tuan nanyanya satu-satu dong. Otak saja lagi bekerja agak lambat nih karena masih shock," protes Dira. Regas menarik napas dalam-dalam. Dasar gadis ini. Bukannya tadi dia sendiri juga bicara tanpa henti? "Oke, kamu di mana sekarang?" ulang Regas. "Di penthouse," jawab Dira. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Regas lagi. "Iya, nggak apa-apa." "Dia di mana sekarang?" "Udah pulang, udah saya usir." "Bagus. Kalau begitu semua masih aman terkendali kan?" "Iyaa... Tapi bisa nggak sih Tuan jangan biarin tamu-tamu Tuan masuk ke rumah gitu aja? Nyeremin banget tahu nggak, tiba-tiba ada yang keluar dari lift dan langsung ngajakin berantem." Regas seketika terkekeh. "Iya, nanti aku kasih tahu ke sekuriti untuk nggak terima tamu sembarangan lagi." "Sekarang dong, Tuan. Jangan nanti." "Iya, sekarang," jawab Regas. "Makasih, Tuan." "Sama-sama," jawab Regas. "Kamu sudah makan sian—" Akan tetapi, panggilan tersebut langsung diputus Dira secara sepihak. Regas menatap ponselnya sesaat, sebelum berdecak jengkel. "Dasar, seenaknya aja," gumamnya kemudian terkekeh. "Siapa?" tanya Om Farhat. Regas menoleh pada pria itu sambil tersenyum. "Mmm... Ini..." "Pacar kamu ya?" tebak Om Farhat sambil tersenyum. Regas tadinya masih menimbang untuk jujur atau tetap menjaga rahasianya. Namun, sepertinya pilihan terakhir memang yang paling tepat. "Iya, Om," jawab Regas pada akhirnya. "Om sangat lega melihat kamu punya pengganti Tania. Soalnya Om cukup khawatir saat melihat dia malah bertunangan dengan Ramon di saat kamu menghilang beberapa waktu lalu." Regas terkekeh pelan. "Biarkan saja mereka, Om," ujarnya santai, berusaha menutupi rasa sakit hatinya akan pengkhianatan yang dilakukan perempuan itu padanya. "Aku nggak peduli pada mereka." “Ya, kamu benar. Biarkan saja mereka,” ujar Om Farhat sambil mengangguk setuju. Regas tersenyum tipis dan berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain. Membayangkan akan mengomel seperti apa Dira saat ia pulang nanti terasa jauh lebih menyenangkan daripada memikirkan mantan pacarnya yang berkhianat itu. Yang dengan teganya malah bertunangan dengan sepupunya sendiri. Benar-benar parasit. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN