Fafa bersandar di lemari pendingin dengan secangkir s**u hangat di genggaman. Pandangannya lurus ke depan, menatap sang Abang yang fokus ke laptopnya. Tapi Fafa tahu, jika abangnya memikirkan sesuatu, sedang laptop hanya sebuah pengalihan. "Sudah tengah malam, Bang. Mending istirahat." Fafa menepuk punggung Anca, lalu duduk di salah satu bangku bagian samping lelaki itu. Anca mengusap wajahnya secara kasar. Kemudian mengacak rambutnya asal. Dua kancing teratas kemeja lelaki itu telah dibuka dengan dasi yang tergeletak di meja. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Anca. Tak menghiraukan ucapan Fafa. Fafa kembali menyesap isi cangkir di genggamannya, lalu mengedikkan bahu. "Baik. Omzetnya semakin menjanjikan. Rencananya Minggu depan aku mau merekrut karyawan lagi, karyawanku yang sekara

