Bab-17

1052 Kata

Sudah jam satu malam, tapi netra Mori enggan terlelap. Perempuan itu telah mencoba berbagai macam posisi berbaring, berharap dengan begitu ia akan tertidur. Nyatanya nihil. Suara butir curahan air yang beradu dengan genteng mengalihkan fokus Mori. Perempuan itu berdiri, menutup jendelanya yang tak tertutup dengan sempurna, sembari merapatkan gordennya. Mori mengusap bahunya yang terbuka, lalu melangkah ke ruang dapur. Sepertinya dengan udara yang dingin tidak ada salahnya menyesap coklat panas meski jarum jam menunjuk angka satu. Harum coklat hangat memenuhi rongga hidung Mori. Perlahan, sudut bibir perempuan itu tertarik ke atas membentuk senyum kecil. Namun, alih-alih menyesap coklat itu, Mori malah mengelus sisi cangkir sambil menatapnya kosong. Mori teringat dengan percakapannya be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN