#LAMARAN TAK TERDUGA
~Aleeya~
Hujan baru saja reda ketika aku pulang dari mengajar anak-anak di balai desa. Langit masih kelabu, tanah becek, dan bau basah khas kampungku memenuhi udara. Aku menyandarkan sepeda tua ke dinding rumah, lalu membuka pintu perlahan.
“Assalamualaikum…” ucapku pelan.
Tak lama, suara Mama terdengar dari ruang tamu, tapi… ada suara lelaki juga?
Aku mengerutkan dahi. Langkahku pelan-pelan menuju ke ruang tamu—dan saat itu juga, jantungku serasa berhenti.
Di hadapan Mama duduk seorang lelaki berpakaian rapi. Jas hitamnya terletak kemas, jam tangan mahal melingkar di pergelangan. Wajahnya tajam, serius… seperti bukan dari dunia yang sama denganku.
Tatapan matanya mendarat tepat padaku. Dingin. Tidak ramah. Tapi menekan.
“Ini Aleeya, anak saya,” Mama memperkenalkan dengan senyum gugup.
Aku hanya mengangguk. “Ya… saya Aleeya. Maaf, kalau boleh tahu…”
Lelaki itu berdiri. “Saya Danel Rayyan.”
Nama itu… tidak kukenali. Tapi kenapa wajahnya seolah menyimpan sesuatu?
“Langsung saja,” katanya. Suaranya dalam, tegas. “Saya datang untuk melamar kamu, Aleeya.”
Jantungku hampir terlepas.
“Apa?”
“Saya ingin menikah dengan kamu. Minggu depan.”
Aku memandang Mama, berharap ini hanya mimpi aneh. Tapi Mama menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah.
“Kenapa… saya?” Aku bertanya perlahan, suaraku nyaris bergetar.
Danel mengangkat bahu sedikit. “Saya punya alasan sendiri. Dan… kamu tidak perlu tahu semua sekarang. Yang perlu kamu tahu, keluarga kamu akan baik-baik saja setelah ini.”
Kalimat itu… seperti ancaman terselubung. Atau janji manis dengan racun.
“Mama…” aku berbisik. “Kenapa Mama setuju?”
Mama menggenggam tanganku. “Leeya… tolong. Ini demi keluarga kita. Demi Abangmu…”
Aizat.
Satu-satunya abang yang kini entah di mana. Sejak skandal yang melibatkan dia dalam perusahaan besar dua tahun lalu, hidup kami berubah. Papa sakit. Mama hampir kehilangan rumah ini. Aku… terpaksa berhenti kuliah.
Aku menatap lelaki itu lagi. Danel Rayyan.
Dia tidak senyum. Tidak menjelaskan apa-apa. Hanya berdiri di sana seperti seorang penguasa yang tahu dia bisa membeli siapa saja.
“Kalau aku menolak?” tanyaku pelan.
“Jangan menolak, Aleeya,” suaranya rendah tapi tajam. “Ini bukan hanya soal kamu. Ini soal seluruh keluargamu. Aku bisa buat hidup kalian lebih mudah… atau sebaliknya.”
Tanganku mengepal.
Dendam. Aku tak tahu kenapa, tapi aku bisa rasa… lelaki ini menyimpan dendam. Tapi kenapa harus aku?
Dan kenapa… hatiku takut, tapi juga ingin tahu.
---