Selain membawakan Selena makan, Jean juga membawakan wanita itu acetaminophen atau paracetamol yang bisa diminum oleh ibu hamil. Selena sangat berterima kasih karena Jean tidak membawakannya aspirin pada umumnya. Karena, ibu hamil memang tidak boleh meminum aspirin atau ibuprofen.
Aspirin termasuk ke dalam risiko kehamilan kategori D menurut FDA (Food and Drug Administration). Artinya terdapat bukti positif dari risiko untuk ibu hamil. Oleh sebab itu, ibu hamil tidak disarankan menggunakan aspirin untuk meredakan rasa sakit demi menghindari dampak negatif yang mungkin terjadi.
Selain aspirin, ada ibuprofen yang termasuk ke dalam kategori C. Kategori tersebut menunjukkan bahwa ibuprofen mungkin berisiko pada ibu hamil dan janin sehingga lebih baik dihindari. Apalagi jika menggunakan obat itu sebelum memasuki usia kehamilan 30 minggu. Obat itu berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk keguguran.
“Aku tidak menyangka kamu membawakan obat yang benar … thanks, Sist!” ungkap Selena yang langsung saja meminum satu pil untuk meredakan sakit kepalanya.
“Tentu saja aku tahu. Aku langsung menanyakannya kepada petugas apotik. Aku tidak akan lupa kalau kamu sedang hamil …,” terang Jean.
Selena merileks-kan dirinya sendiri. Ia kembali berbaring di atas tempat tidurnya sambil memejamkan mata.
“Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malam dulu, oke? Biar kupanasi dulu semuanya …,” kata Jean yang sudah keluar dari kamar Selena.
Selena mengangguk tanda setuju. Akan tetapi, baru saja ia ingin memejamkan mata, ponselnya kembali bergetar. Dengan malas Selena mengambil benda itu dan melihat pesan yang masuk.
Ternyata pesan itu berasal dari Frans. Tanpa ragu, Selena membuka pesan tersebut. Ia penasaran berita apa yang diberikan Frans padanya sekarang.
“Aku tahu kalau penumpang yang dibawa anakku tadi adalah kamu. Kenapa kamu tidak naik dan mampir? Apakah aku telah menyinggungmu, Sel?” tanya Frans melalui pesan yang ia kirimkan.
Selena tersenyum. Ia tidak tahu, apakah harus membalas pesan itu atau bagaimana. Padahal, ia ingin tahu bagaimana keadaan Lily. Kenapa orang itu tidak memberitahukannya kali ini?
Jari jemari Selena mulai mengetik pesan. Ya, ia membalas pesan dari Frans yang baru saja ia terima.
“Sorry. Tapi aku harus memeriksakan kandunganku dan meminta vitamin. Lalu, alasan aku tidak bisa naik ke atas dan menemui kalian karena aku tidak ingin mengganggu kebersamaan itu. Kamu tahu sendiri kalau aku dan anakmu belum pernah bertemu. Bagaiamana jika ia bertanya banyak hal padamu? Apa kamu punya jawaban yang cocok untuknya?” Selena mengirimkan pesan itu tanpa ragu.
Setelah pesan terkirim, ia meninggalkan HP-nya dan memilih untuk pergi ke dapur. Sakit kepalnya sudah tidak begitu parah seperti tadi. Ia memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri untuk melupakan oborlan singkat yang baru saja terjadi.
“Apakah makanannya sudah siap?” tanya Selena saat mendapati Jean sedang bermain dengan HP-nya.
Jean mengalihkan pandangan dan tersenyum singkat kepada sepupunya. “Sebentar lagi … sorry, ini dari teman lamaku. Katanya dia ingin main ke rumah. Bagaimana menurutmu?” tanya Jean.
Selena mengerutkan kening. “Laki-laki? Sebaiknya kamu pikirkan lagi. Kamu sudah punya tunangan, ingat?” terang Selena.
“Dia bilang dia akan mampir dengan kekasihnya. Apa harus kutolak?” Jean benar-benar bingung.
Yang Selena inginkan saat ini adalah makanan. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Selena mengambil selembar roti tawar dan mulai memakannya. Melihat hal itu, Jean langsung meletakkan HP-nya.
“Astaga … sorry, Sel! Ini … sebaiknya kita makan sekarang … aku cukup yakin kalau ayamnya sudah cukup panas …,” terang Jean yang merasa tersindir dengan apa yang Selena lakukan.
Selena hanya tersenyum dan menerima piring ayam dari sepupunya. “Thank you ….”
Keduanya memulai makan malam sedikit lebih awal, karena Selena sudah begitu lapar. Walaupun sedang makan malam bersama, Selena tidak bisa untuk tidak memikirkan Frans dan keadaan istrinya. Apa yang terjadi dengan Lily? Kenapa Frans menyuruh anaknya pulang dengan cepat? Apa ada hal yang terjadi? Ia begitu penasaran.
***
Hari ini, Selena terbangun dengan kram di kakinya. Untung saja masih ada Jean yang semalam memutuskan untuk menginap karena salju yang turun cukup lebat.
“Bagaimana sekarang?” tanya Jean yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan sepupunya itu.
“Lumayan … sudah jauh lebih baik, Jean. Thanks, ya. Kalau kamu tidak ada, mungkin aku hanya bisa menangis dan tidak bisa kemana-mana selain di atas sini,” terang Selena.
“Kamu tidak perlu sungkan. Dengar, ya … aku masih ingat saat kamu menyuntikkan Intidrol Medixon kepadaku. Aku pingsan karena disengat lebah. Kamu ingat tidak, saat itu kamu masih di semester awal perkuliahan. Aku tidak akan melupakan hari itu, Sel. Kalau kamu tidak ada, mungkin aku sudah tidak ada saat ini …,” ungkap Jean mengingat masa lalu.
Selena mengingat hari itu. Saat Jean disengat oleh lebah, dan tidak ada siapa-siapa di rumah. Selena yang kebetulan baru saja pulang dari kampusnya, langsung memberikan pertolongan kepada Jean.
Kedua orang tua Jean memang memiliki persediaan Intidrol Medixon 10 miligram yang tersedia di dalam kotak P3K mereka. Hal itu memudahkan Selena untuk menolong sepeupunya tersebut.
Saat Selena pulang, ia menemukan Jean sudah terbaring tidak sadarkan diri di bawah anak tangga. Rupanya ia sedang berusaha untuk sampai ke kamarnya dan mengambil anti alergi yang ada di kamar. Mereka kehabisan ampul benda itu di kotak P3K yang ada di bawah.
Selena langsung naik ke atas, masuk ke kamar Jean dan mengambil kotak obat itu. Ia segera menyuntikkan 10 miligram Intidrol Medixon yang memang biasa mereka gunakan untuk alergi Jean.
Untungnya ada Selena. Wanita itu sudah hampir berhenti bernapas karena jalan udara yang tertutup oleh pembengkakan. Setelah dicari tahu, ternyata Jean disengat oleh beberapa lebah sekaligus. Entah apa yang dilakukan remaja itu dulunya. Mungkin ia sedang berusaha mengambil madu dari sarangnya. Selena tidak mengingat alasannya dengan jelas.
“Yeah … aku mengingatnya. Asal kamu tahu, saat itu aku juga panik. Untungnya aku mengingat obat yang kamu ceritakan padaku. Aku baru pindah ke rumahmu, kan? Berapa minggu? Dua? Tiga?” Selena benar-benar lupa bagian itu.
“Lupa …,” sahut Jean singkat. Mereka berdua tertawa geli. Untungnya rasa sakit di kaki Selena sudah berangsur hilang. Jean mengambil air panas dari dalam dispenser dan memasukannya ke dalam botol. Ia menggunakan botol itu untuk mengompres kaki Jean. Lalu memijatnya dengan sangat hati-hati.
“Thanks lagi, Jean …,” kata Selena serius.
“Sepertinya kamu memang perlu seorang pembantu, Sel. Tidak bisa melakukannya sendirian lagi sekarang. Usia kandunganmu sudah begitu tua. Kita tidak tahu apa yang aka terjadi nanti.” Jean mengingatkan.
Selena merenung. Apa yang Jean katakan benar. Ia tidak mungkin melakukan semuanya sendirian hingga satu atau dua bulan lagi. Secepatnya harus ada seorang pembantu di rumah itu.
Bersambung.