Hari ini Selena memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang menjual beberapa jenis perlengkapan bayi. Ia ingin membeli pakaian dan keperluan untuk bayinya nanti.
Sedih. Mungkin hal itulah yang Selena rasakan saat ini. Betapa tidak, ia akan melahirkan seorang bayi dan tidak ada suami yang mendampinginya.
Namun, Selena tidak ingin terpaku dengan hal itu. Ia mencoba hidup dengan baik demi dirinya sendiri dan calon bayinya. Ia tidak mau ada penyesalan yang akan merusak hidupnya pada masa yang akan datang.
“Ada yang bisa saya bantu, Mam?” tanya seorang karyawan pusat perbelanjaan dengan seragam khas mereka.
Selena menggeleng karena ia memang belum memerlukan bantuan apa-apa dari orang itu.
“Terima kasih. Sejauh ini saya masih bisa melakukannya sendiri …,” sahut Selena dengan senyumnya yang ramah.
Orang itu balas tersenyum dan meninggalkan Selena sendirian. Ini adalah kali pertama Selena belanja keperluan bayi. Untungnya, ia sudah mencatat apa saja yang ingin ia beli. Selena tidak bisa berjalan terlalu lama atau kakinya akan kembali bengkak. Jadi, ia harus melakukannya dengan cukup cepat.
“Andai saja ada yang membantu …,” batin Selena yang merasa miris. Pikirannya kembali mengenang William, tapi ia sendiri segera menepis bayangan itu jauh-jauh. Percuma. Menghayal juga tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik.
Kaki Selena terus melangkah menuju tempat mereka menjual pakaian bayi yang baru lahir. Di sana sudah terlihat beberapa ibu hamil yang juga melakukan hal yang serupa seperti Selena. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka datang untuk belanja bersama dengan pasangan. Kalaupun tidak ada pasangan, mereka akan datang dengan keluarga mereka yang lain. Sanagat menyedihkan ….
Saat sedang melamun seperti itu, tiba-tiba saja Selena merasa jika HP yang ada di dalam tasnya bergetar. Ia membuka tas itu dan mengambil sebuah benda pipih yang masih terus bergetar. Ternyata ada sebuah panggilan masuk dari Frans.
Sebanarnya, Selena agak malas menjawab panggilan itu. Namun, ia tidak enak. Mana tahu saja laki-laki itu sedang mencoba untuk memberitahukan keadaan istrinya saat ini. Ia jugalah yang dulu bilang, jika Frans bisa cerita padanya kapan saja.
“Ya, hallo?” sapa Selena. Ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana.
“Hallo, Sel. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Frans to the point.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Selena bingung. Memangnya ada apa Frans bertanya begitu? Apakah ada yang salah?
“Ya, aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Oh, tidak. Kukira ada yang salah … aku akan membawakan minum untukmu,” kata Frans lagi. Setelah itu, panggilan keduanya berakhir.
Hal itu membuat Selena bingung setengah mati. Apa maksud orang itu ingin membawakannya minum? Atau jangan-jangan Frans ada di sekitarnya saat ini?
Selena berpaling dan mencoba mencari keberadaan laki-laki itu. Pandangannya mengitari seluruh penjuru, tapi sayangnya ia tidak bisa menemukan sosok yang ia cari.
“Kamu ada-ada saja, Frans. Mana mungkin sudah berada di sini, sedangkan istrinya sedang kritis beberapa hari yang lalu. Apakah aku terlalu berharap?” tanya Selena kepada dirinya sendiri.
Selena menyimpan kembali HP yang sejak tadi ada di atas pangkuannya. Ia memilih untuk lanjut mencari keperluan sang calon bayi.
Saat Selena sedang melihat-lihat tempat tidur bayi yang lucu, seseorang menepuk pundaknya sekali. Selena berpaling dengan perlahan, karena perutnya memang sudah sangat besar. Tujuh bulan dan ia bisa melahirkan kapan saja.
“Frans?” tanya Selena murni terkejut. Entah kenapa, secara naluriah ia memeluk laki-laki itu.
“Hai, Sel … apa kamu begitu merindukanku?” tanya Frans yang juga agak kaget dengan apa yang Selena lakukan barusan.
Tidak hanya Frans, Selena sendiri kaget dengan apa yang ia lakukan. Dengan cepat ia menjauh dari sosok itu dan meminta maaf.
“Sorry, pikiranku sedang tidak baik-baik saja …,” terang Selena dengan wajah yang memerah. Siapa yang tidak malu jika memeluk orang dengan asal? Apalagi orang itu masih memiliki istri.
“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan,” ungkap Frans dengan senyumnya yang menawan.
Selena berpaling. Ia tidak ingin terpesona lagi dengan orang itu. Wajah Frans yang identik dengan bule, membuat Selena memikirkan artis-artis hollywood seperti Chris Hemsworth, Ryan Revnolds, dan beberapa nama lainya.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Ini adalah tempat yang paling tidak mungkin kamu kunjungi dalam waktu senggangmu, bukan?” tanya Selena yang merasa mungkin Frans sengaja mengikutinya entah sejak kapan.
“Aku melihatmu masuk ke tempat ini. Tadinya aku hanya ingin menyapamu dan menanyakan kabar. Tapi, saat melihatmu yang kelelahan, aku jadi terpikir untuk membawakanmu minum sekalian,” jelasnya. “Kamu tidak keberatan dengan hal itu, kan?”
Selena menggelengkan kepala. Tentu saja ia tidak keberatan dengan hal itu. Malahan, ia merasa lega saat melihat Frans di depannya saat ini. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Lily. Bagaimana keadaannya saat ini. Karena, ia telah menunggu informasi itu datang dari Frans.
“Tentu saja tidak. Aku senang kamu menyapaku. Sebenarnya, aku penasaran dengan kondisi Lily. Apa ia baik-baik saja? Aku menunggu kamu mengabarkan tentangnya seperti biasa, tapi kamu tidak melakukannya …,” terang Selena sedikit kecewa.
“Itu … kemarin dokter yang merawat Lily menyatakan jika keadaan istriku semakin drop. Aku juga baru saja bertengkar dengan Finn karena anak itu telah membahayakanmu. Mungkin ia seharusnya tidak punya SIM saja sekalian …,” terang Frans.
Selena mengangkat tangannya untuk menepuk bahu Frans. “Anak itu anak yang baik. Dia masih sekolah, kan?” tanya Selena penasaran.
“Usianya masih tujuh belas tahun. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan SIM. Setelah Lily koma, perhatianku agak kurang padanya …,” terang Frans jujur.
Selena merasa iba. Anak itu tidak jauh berbeda dengan Bruno yang merupakan anak dari kakaknya, Evelyn. Mereka dalam fase penasaran yang sangat tinggi. Jika bisa, mereka ingin mengelilingi dunia dan melihat semua yang terjadi di sana.
“Kamu harus menjadi jauh lebih sabar. Anak itu hanya ingin membantumu, bukan?” tanya Selena. Sebenarnya ia sendiri ragu, apakah anak itu melakukan pekerjaan paruh waktu untuk membantu ayahnya atau hanya untuk kesenangan saja.
“Dia tidak ingin menyusahkanku saat lulus sekolah menengah atas nanti. Dia bilang mau melanjutkan kuliah di MIT. Katanya ia ingin menjadi sarjana ekonomi yang bergengsi …,” terang Frans terhadap cita-cita anaknya.
“Tujuan yang luar biasa. Sayang sekali jalan yang ia ambil kurang baik. Kasihan dia jika suatu saat nanti … berurusan dengan polisi. Hal itu akan mempersulitnya,” jelas Selena.
“Aku sudah bilang, Sel. Sayang sekali ia hanya terus berjanji jika akan melakukannya dengan hati-hati. Mungkin kamu mau mencoba untuk bicara dengannya? Kalian sudah pernah bertemu, kan? Kurasa tidak akan ada rasa canggung jika kamu menasehatinya …,” usul Frans yang terpikir begitu saja.
Selena ingin sekali membantu Finn. Apalagi anak itu memang terlihat sebagai anak yang baik sejak ia bertemu di taksinya tempo hari.
“Apa tidak apa-apa jika aku yang menasehatinya? Aku bukan siapa-siapa kalian, Frans ….”Selena mengingatkan sebelum menyetujui permintaan teman lamanya.
“Mungkin kamu bisa bicara dengannya sebagai temanku. Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya, Sel. Tolonglah dia …,” pinta Frans memohon. Sepetinya Frans memang sudah sangat putus asa dengan anaknya. Finn memberontak dengan cara yang halus, berkedok tidak ingin merepotkan ayahnya di masa mendatang.
Selena juga tidak pandai menolak. Ia juga merasa jika Finn memang harus segera dihentikan. Jadi, ia berjanji untuk melakukannya untuk Frans dan Finn.
“Ya, mungkin aku bisa bicara dengannya sebagai seorang mantan pelanggan ….”
"Really? Aku sangat menghargai itu, Sel!"
[Bersambung]