9. Angin Segar

1191 Kata
Sebelum Selena pulang, Frans mengajaknya untuk makan siang bersama. Sudah hampir jam satu dan mereka berdua bahkan tidak membeli cemilan ringan sejak tadi. “Sebaiknya kita makan di sini saja. Burgernya enak dan kamu bisa tambah gratis …,” terang Frans setelah mereka naik ke lantai tiga pusat perbelanjaan itu. “Wow … kamu tahu banyak tentang daerah ini …,” ungkap Selena. Beberapa saat kemudian, ia terdiam karena baru saja menyadari sesautu. “Eh, tunggu dulu … bagaimana bisa kamu berada di sini? Lokasinya begitu jauh dari klinik tempat istrimu di rawat, kan?” Frans menarik sebuah kursi dan mempersilakan Selena untuk duduk di sana. “Yeah … kita hanya bertemu di klinik itu, Sel. Kamu tidak tahu di mana aku tinggal.” “Apa rumahmu berada dekat dari sini?” “Ya. Kamu benar. Tidak jauh dari sini,” sahut Frans. Selena merasa kalau semua itu tidak mungkin terjadi. Ia dan Frans bertemu di klinik yang lokasinya lebih dekat dengan rumah Jane dan bandara. Lalu kenapa bisa rumah Frans sendiri ada di dekat rumahnya sekarang? “Kamu bercanda. Kamu hanya tidak ingin aku marah, kan?” tanya Selena agak ragu. “Kenapa aku bercanda? Benar … rumahku ada di dekat sini. Yang dekat dengan klinik itu adalah rumah orang tua Lily. Ia masih memiliki ayah yang sudah begitu tua. Laki-laki itu yang ingin anaknya di rawat di klinik itu. Tempatnya dulu bekerja. Katanya, perawatan di tempat itu jauh lebih baik dari pada rumah sakit besar yang ada di Amerika.” Frans menghantikan ceritanya. “Kamu tahu lah … orang tua merasa paling tahu semuanya …,” akhir Frans. “Mungkin ia mengatakan hal itu karena sudah punya banyak pengalaman dengan tempat tersebut. Aku juga cukup yakin kalau perawatan yang diberikan klinik itu akan membangunkan Lily suatu saat nanti,” terang Selena. “I hope so ….” Pembicaraan keduanya terjeda saat pelayan datang dan meminta pesanan mereka. Frans dan Selena memilih makanan dan minuman untuk siang itu. Tidak lupa juga Frans memesan makanan penutup untuk mereka berdua. Frans Louise, seorang dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Dengan penghasilan standar seorang dokter umum, Frans berusaha menghidupi anak dan istrinya dengan baik. Frans sendiri pernah mencoba untuk kembali melanjutkan study-nya untuk mengambil gelar dokter spesialis, tapi Lily tidak menyetujui hal tersebut. Ia merasa jika semuanya telah cukup dan ia tidak mau Frans menghabiskan gajinya pada hal itu. Lily ingin rumah dan kehidupan yang mapan. Sekarang, bukannya nanti. Pekerjaannya di Rumah Sakit Hope memang tidak sepadat dulu. Ia masih bertahan di sana karena pemilik rumah sakit itu adalah temannya. Kebanyakan waktu Frans ia gunakan untuk menjaga Lily di Klinik. “Aku senang saat mendengarmu masih bekerja di rumah sakit …,” terang Selena setelah makanan yang mereka pesan datang. “Pekerjaan itu tidak bisa dianggap pekerjaan lagi, Sel. Semenjak Lily kecelakaan, pikiranku tidak bisa fokus lagi. Aku selalu merasa bersalah dan mengakibatkan kemampuanku di depan pasien sedikit menurun …,” gumam Frans yang sepertinya tidak begitu suka saat ada yang membicarakan hal tersebut. Selena merasa kasihan dengan temannya itu. Ada banyak orang yang bersusah payah untuk bisa menjadi seorang dokter. Bukan rahasia umum lagi, jika seorang dokter adalah profesi yang sangat bergengsi dan bisa menghasilkan uang dengan cepat. Apalagi jika memiliki klinik atau tempat praktek sendiri. “Apa kamu tidak ingin mencoba untuk kembali mencari jati dirimu untuk menolong orang banyak, Frans? Kalau kulihat-lihat, kamu masih sangat mampu untuk merawat orang-orang yang memerlukan tangan dinginmu. Kamu harusnya kembali menolong pasien-pasien di luar sana, Frans …,” ungkap Selena seraya menangkupkan tangannya di atas tangan Frans. Selena melakukan hal itu tanpa ia sadari. Frans tersenyum. Ia merasa terharu sekali dengan apa yang baru saja Selena katakan. Bahkan, istrinya sendiri tidak setuju jika ia pergi sekolah untuk mengambil gelar dokter spesialis. “Mungkin kamu benar … entahlah, Sel. Aku sudah terlalu tua untuk ini …,” ungkap Frans pada akhirnya. “Hhmmm … aku tidak heran kenapa Finn tidak bisa kamu nasehati hanya dengan omongan saja …,” bisik Selena setelah mendengar jawaban Frans barusan. Hal itu mengundang gelak tawa Frans. Ia tidak mengira jika Selena akan menyamakan dirinya dengan sang anak. “Ha ha ha … kamu memang benar. Kami berdua memang begitu keras kepala. Tapi, kami melakukannya di jalan yang benar …,” aku Frans kepada Selena. Selena tersenyum. Tawa Frans membuatnya begitu … hangat. Tiba-tiba saja perasaan haru memenuhi hati Selena. Ia merasa jika Lily adalah wanita yang begitu beruntung dan menyedihkan di saat bersamaan. Kasihan wanita itu, keluarganya pasti sangat merindukan kehadirannya saat ini … *** Setelah satu jam bersama, Selena meminta diri untuk pulang. Ia merasa jika punggungnya mulai sakit karena teralalu lama duduk. Frans berdiri mengikuti Selena. Ia merasa bertanggung jawab dan harus mengantarnya pulang. “Sungguh, aku bisa pulang sendiri … taksi online yang kutumpangi akan mengatarkanku sampai ke depan rumah. Kamu tidak perlu khawatir …,” ungkap Selena yang merasa tidak enak dengan laki-laki itu. “Sel … setidaknya biarkan aku membalas jasamu hari ini … kamu membuatku … kembali bersemangat untuk mengahadapi hidup …,” jelas Frans. Selena tersenyum. Ia akan sangat senang jika Frans mengantarnya pulang. Tapi ia juga tidak enak dengan Lily, jika sampai menerima tawaran Frans. Ia takut perasaan yang lain akan tumbuh di antara mereka. Hal itu bisa menjadi sangat berbahaya. Akhirnya, Selena tidak bisa menolak paksaan yang terus saja Frans berikan. Wanita itu kini sudah duduk di dalam mobil Frans, yang sedang bergerak ke arah rumahnya. “Ini lingkungan yang baik untuk tinggal … kakakmu pandai sekali memilih tempat …,” kata Frans saat mereka mulai memasuki perumahan tempat Selena tinggal. “Yeah … dulu dia tinggal di sini saat masih kuliah. Bahkan Keluarga Morgan masih tinggal di rumah yang sama. Dia adalah tetanggaku di depan rumah,” terang Selena. “Nice … kalau begitu, kamu berada di lingkungan yang tepat. Dan lebih tepat lagi karena aku mengetahui tempatnya …,” kata Frans seraya menepikan mobilnya yang berwarna putih. Mereka sudah sampai di depan rumah Selena. “Hhmmm … apa itu maksudnya?” tanya Selena penasaran. “Hei … kandunganmu sudah sangat besar dan bayinya bisa lahir kapan saja. Kalau ada apa-apa, aku bisa datang dengan cepat. Bukankah itu baik?” tanya Frans kemudian. “Apalagi … aku sudah punya cukup pengalaman dengan bayi dan anak kecil. Walaupun sudah cukup lama, aku masih mengingatnya dengan baik.” Frans melepaskan sabuk pengaman miliknya dan bersiap untuk turun dari sana. Selena menahan tangan Frans. “Frans … thanks karena sudah mau repot-repot untukku … kamu … kamu tidak harus melakukannya … sungguh.” Frans berbalik dan menatap wanita itu cukup lama. Ia merasa, jika selama ini Selena sudah cukup menderita. Dengan gerakan yang cukup halus, Frans mendekat ke arah Selena hingga wajah keduanya benar-benar begitu dekat. Selena merasa jika Frans mungkin terlalu dekat. Namun ia tidak peduli dan tidak berniat untuk menghindar. Sampai akhirnya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya yang dingin. Dengan lembut dan memabukkan, Frans menguasai bibir Selena. Ciuman ringan keduanya beralih menjadi semakin dalam. Selena tidak ingin mengakhiri ciuman itu, tapi harus ada yang sadar dan menghentikan semuanya, sebelum menjadi satu masalah yang lebih besar …. [Bersambung]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN