Ucapan Selamat Tinggal

1110 Kata
Titik tertinggi dari mencintai adalah merelakan, sudah pernah dengar kutipan ini? Itulah yang saat ini coba Anna lakukan yakni mengikhlaskan Vince. Anna tau, mereka tidak akan pernah bisa bersama dan itulah kenyataan yang harus Anna pahami. Saat ini ia hanya bisa memberikan dukungan saja pada Vince, Anna tidak munafik, walaupun sebenarnya ia sangat membenci gadis pirang itu, tapi inilah kenyataannya. Vince mencintai gadis pirang yang merupakan masa lalunya itu.  Hari ini Anna berangkat ke kampus dengan diantar oleh James. Selama diperjalanan Anna tidak banyak bicara, ia hanya diam sambil menatap keluar kearah jalanan kota yang terlihat ramai dengan lalu-lalang kendaraan yang sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing. James hanya diam, ia tidak ingin mengganggu putrinya, ia membiarkan Anna tetap diam karena ia tau Anna punya privasi jika Anna tidak cerita berarti ia tidak berhak untuk tau.  "Oke baiklah, kita sudah sampai!" seru James.  Anna membuka pintu mobil dan pergi tanpa berpamitan pada James. James merasa ada yang salah dengan putrinya itu. Tidak seperti biasanya Anna seperti ini sampai mengabaikan ayahnya sendiri. James jadi khawatir, ia takut jika putri kesayangannya itu sampai terlibat masalah di kampus tapi ia tidak tau.  "Haruskah aku bicara dengan David?" ucap James membatin.  Sementara itu, Anna sudah memasuki area kampus. Ia jalan sambil menunduk, hari ini ia tidak memiliki tenaga seperti hari-hari sebelumnya. Keputusan Vince untuk tunangan dengan Veronica Caroline si gadis pirang itu masih membekas di benak Anna.  Tujuan utama Anna saat ini bukan kelas, melainkan tempat sunyi dimana hanya ada dia seorang diri. Anna bahkan belum menemui David, ia juga rasanya sangat malas untuk menceritakan hal ini pada David karena ia tau David pasti hanya akan menceramahinya saja, jadi lebih baik ia duduk diam dibawah pohon rindang sambil menikmati udara di siang hari.  Sudah hampir satu jam Anna berada di bawah pohon ini sambil duduk termenung menatap langit seperti orang bodoh saja. Sejak tadi ponselnya berdering, Anna tau siapa yang meneleponnya tapi Anna malas untuk bicara dengan siapapun bahkan Vince sekalipun.  "Ternyata kau ada disini?" suara serak khas terdengar merdu di telinga Anna. Anna menoleh, ia mendapati Leo tengah berada tepat di sampingnya.  "Sejak kapan kau disini?" tanya Anna.  "Baru saja, kenapa?"  Anna menggeleng lemah, ia kembali menatap langit sambil sesekali menarik nafas lalu membuangnya.  "Kau banyak pikiran, memangnya sedang memikirkan siapa?" celetuk Leo.  "Bukan urusanmu!" ketus Anna.  Leo tersenyum kaku, ia menyesap rokoknya laku membuangnya ke tanah. "Hari ini cuaca sepertinya sangat panas, ya?" Anna tidak menjawab, ia bahkan muak mendengar celotehan Leo yang sebenarnya tidak bermutu itu. "Kau sudah mendengar bahwa Vince akan tunangan?" "Aku sudah tau!" "Ah, itulah sebabnya mengapa kau hanya diam disini seperti orang bodoh sementara David mencarimu? Oh jadi ini alasan seorang Anna sampai dilanda keresahan," ujar Leo.  Anna berbalik menatap Leo, "kenapa kau terus mengusik ku?" ketus Anna.  "Tidak-tidak, siapa yang mengusik dirimu nona? Aku hanya mengatakan apa yang benar terjadi. Dan kebenarannya adalah kau galau karena Vince akan menikah, benar bukan?"  Anna berdecak sebal, "memangnya urusan denganmu apa? Kau selalu saja ikut campur masalahku! Dasar pria aneh!"  "Hati-hati, jangan terlalu membenciku, bisa saja rasa bencimu itu berubah jadi cinta," ucap Leo bermaksud untuk bercanda.  "Cinta?" Anna tertawa renyah, "kau bahkan tidak tau makna cinta tapi berani mengatakan cinta."  "Sepertinya kau tau banyak."  Anna menghela nafas pelan, "lupakan. Kau selalu bicara tidak jelas!"  Anna berniat untuk pergi, ia bangkit lalu merapikan tasnya.  "Pergi dan temuilah Vince, sepertinya masih ada hal yang ingin ia katakan."  Anna menoleh, ia menatap Leo dengan tatapan bingung.  "Apa maksudmu?"  "Temui dia."  "Tidak mau!" seru Anna.  "Kalau begitu kau akan menyesalinya. Mungkin ini yang terakhir kali kau melihatnya," ujar Leo dengan santai.  "Apa? Terakhir kali? Memangnya dia ingin pergi?"  "Maka dari itu temui dia agar kau tau sebenarnya Vince mau kemana, simple bukan?" Anna diam, mengapa Leo pergi secepat itu? Ia bahkan belum berpamitan dengan Anna. Apa mungkin ini cuma akal-akalan Leo saja? Oh ya Tuhan bagaimana Anna bisa mempercayainya?  "Kau terlalu banyak berpikir," timpal Leo. "Apa dia akan pergi ke Amerika?" Anna menatap Leo dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Leo melihat perubahan jelas tampak di wajah Anna. Leo sepertinya mengerti mengapa Anna sangat emosional seperti ini, ya hal ini karena Anna sangat menyukai Vince. "I-ya." Anna menghela nafas, "kenapa kau mengizinkannya pergi? Apa kau tidak sedih Vince akan pergi meninggalkan mu di kota ini sendirian? Bukankah kalian adalah sahabat?" Leo tersenyum kaku, "aku pun tidak mungkin memaksa Vince tetap disini jika itu sudah menjadi keputusannya. Aku hanya perlu memberikan dia dukungan saja dan berharap yang terbaik untuknya. Begitupun denganmu, jika kau mencintai Vince cobalah untuk menerima keadaan dengan membiarkan dia bahagia. Itulah makna cinta yang sesungguhnya." Anna melongo, dari mana Leo belajar kata-kata itu? "Takdir yang mengatur segalanya, dan jika ternyata kau dan dirinya tidak bisa bersama itu artinya kau dan dia memang ditakdirkan tidak untuk saling memiliki." *** Anna menelusuri tiap koridor dan juga ruang kelas untuk mencari dimana keberadaan Vince. Ia sudah mencari kemana-mana tapi pria itu tak kunjung terlihat. "Dimana dia?!" teriak Anna pada Leo. "Entahlah," jawab Leo dengan santai. Ia masih bisa santai sementara Anna hampir frustasi mencari dimana keberadaan Vince. "Aku harus menemukannya!" gumam Anna. Dari kejauhan terlihat Vince tengah berjalan kearah mereka sambil membawa beberapa berkas ditangannya, ia tampak sibuk membaca isi kertas itu sampai ia tidak sadar bahwa Anna dan Leo sudah berada di hadapannya saat ini. "Kau darimana?" tanya Anna. Vince mengangkat kepalanya lalu menatap Anna dengan tatapan bingung, "ah iya, aku baru saja mengurus beberapa hal, ada apa?" "Aku mencari sejak tadi." Vince tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Anna. "Maaf, aku tidak mengabarimu." "Kau mau kemana?" tanya Anna, ia mengabaikan perlakuan Vince padanya. "Mengapa kau terlihat sangat sibuk? Apa kau akan pergi?" Vince tampak bingung, ia melirik Leo sekilas lalu kembali menatap Anna. "Kenapa menanyakan hal itu?" "Katakan Vince, tidak perlu menutupinya. Kau mau pergi ke Amerika bukan? Kau akan meninggalkan kami semua, benar bukan?" "Anna," lirih Vince. Tak terasa satu bulir jatuh membasahi pipi Anna, "kenapa kau terburu-buru? Kau baru saja mengatakan bahwa kau akan pergi minggu depan, lalu mengapa tiba-tiba pergi? Ada apa, ayo katakan padaku!" desak Anna. "Iya, awalnya kami memang merencanakan untuk pergi minggu depan, tapi ayahnya Veronica meminta kami untuk segera datang, itulah mengapa aku lebih cepat mengurus kepindahan ku," ujar Vince. Anna menghela nafas pelan, ia mengusap wajahnya. "Kau benar-benar akan pergi?" tanya Anna lagi. "Apa kau tidak percaya?" Vince menatap Anna. "Kau pergi sangat cepat." Anna menunduk lesu, rasanya ia tidak percaya bahwa Vince akan benar-benar pergi. Vince tersenyum, ia menyentuh kepala Anna lalu mengusapnya lembut, "jaga dirimu, ya? Tetap jadi gadis kuat dan pemberani." Anna tidak menjawab, ia hanya bisa diam saja. Kenapa rasanya sangat sulit melepaskan orang yang belum pernah kita genggam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN