Brakk!!!
Leo menggebrak meja dengan keras. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang Vince katakan.
"Apa maksudmu?" tanya Leo pada Vince dengan kesal.
"Kami sudah memutuskan hal ini," jawab Vince.
"Secepat itu? Dia baru saja tiba disini setelah bertahun-tahun berpisah lalu tiba-tiba kalian akan tunangan?"
"Iya, kami sudah memutuskannya. Jika aku dan Veronica terikat suatu hubungan maka ini akan lebih mudah, ia tentu tidak mungkin melakukan hal yang sama lagi. Kami akan hidup bersama."
Leo mengusap wajahnya, bagaimana bisa sekarang semuanya menjadi seperti ini?
"Secepat itu kau memutuskannya."
Vince mendekati Leo, "hanya ini jalan satu-satunya agar aku tetap bisa berada di sampingnya. Kau jelas tau betapa aku sangat mencintai gadis itu, dan Veronica juga setuju, jadi apalagi yang perlu kita tunggu?"
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal."
"Aku akan ke Amerika bersama Veronica untuk bicara mengenai keputusan kami pada keluarganya."
Leo mengambil sebotol anggur yang berada di meja lalu meneguknya.
"Aku tidak melarangmu untuk menikah dengannya. Tapi apakah kau sudah memikirkan hal ini baik-baik?"
"Aku sudah memikirkan semuanya. Dan inilah keputusanku. Kami akan menghabiskan waktu bersama dan hidup menua bersama," ujar Vince. Dia tampak sangat sungguh-sungguh dengan keputusan yang ia ambil.
Vince dan Veronica berniat untuk tunangan. Mereka telah memutuskan ini semua, dan menurut mereka inilah yang seharusnya sudah terjadi sejak lama.
Mereka saling mencintai, tapi bagi Leo ini terlalu cepat. Leo tidak mengerti mengapa Vince sangat ingin menjalin komitmen yang lebih serius dengan Veronica karena baginya ini terlalu cepat terlebih lagi mereka baru saja bertemu setelah bertahun-tahun terpisah.
***
Leo berjalan menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru. Ia baru saja mendapat telepon dari Vince bahwa ia dan Veronica sudah dekat dari rumah dan bermaksud untuk membicarakan masalah pertunangan mereka.
"Leo?"
Rupanya mereka sudah tiba di rumah dan sedang berada di ruang tamu.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Leo langsung keintinya.
"Aku sudah membahasnya denganmu sebelum pergi bukan? Kenapa kau lagi-lagi bertanya soal ini?" sahut Vince.
"Aku hanya ingin tau saja. Komitmen bukanlah hal yang mudah, dan apa kalian sudah siap?"
"Kami sudah memikirkan ini. Dan kami setuju tanpa merasa terbebani dengan komitmen itu. Jadi minggu depan aku dan Vince akan kembali ke Amerika," ujar Veronica.
Leo tau sepertinya keputusan mereka sudah sangat bulat dan Vince tidak mungkin menghentikannya. Ia hanya bisa mendukung saja karena Vince dan Veronica tidak akan mungkin mengubah keputusan mereka.
***
Hari ini adalah hari weekend, hari dimana Anna akan menghabiskan waktunya dengan membersihkan area rumahnya.
Pagi-pagi sekali James sudah berangkat ke kantornya jadi Anna sarapan sendiri dan juga membersihkan rumah sendirian tentunya.
Hari ini Anna akan memulainya dengan beberapa tanaman yang ada di halaman rumah. Anna akan memindahkan dan merapikan bunga-bunga yang ada disana dan juga ia memotong rumput yang sudah terlihat lumayan tinggi. Anna tampak menikmati kegiatannya pagi ini.
Jika melihat rumah Vince, Anna kembali teringat dengan apa yang Vince katakan kemarin di kampus. Jika ingat-ingat hal itu rasa sesaknya masih bersarang di hati Anna.
"Anna?"
Anna mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja memanggil namanya, dan rupanya orang itu adalah Veronica dan Vince.
Anna berdiri lalu menepuk-nepuk tangannya yang penuh tanah. Sesekali ia mengusap pipinya hingga menempel tanah disana.
"Kau sedang bersih-bersih?" tanya Veronica dan Anna hanya mengangguk mengiyakan. Anna melirik Vince sekilas lalu kembali menatap Veronica.
Veronica tampaknya mengerti dengan situasi yang terjadi diantara mereka berdua. Ia memilih pamit untuk menunggu di mobil.
"Katakan padanya," bisik Veronica sebelum ia pergi menuju mobil. Vince mengangguk mengerti.
"Bagaimana harimu?" tanya Vince basa-basi.
"Biasa saja." Anna berusaha bersikap acuh tak acuh pada Vince.
Vince berkali-kali menghela nafas, Anna tau pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Katakan, ada apa?"
Vince menatap Anna dengan tatapan sayu, "kami akan ke Amerika minggu depan."
"Ada perlu apa?"
"Kami akan tunangan disana."
Degg!!
Degg!!
Anna benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Apa katamu?"
"Kami akan bertunangan!" seru Vince.
Entah seperti apa Anna harus bereaksi sekarang. Apakah ia harus senang karena Vince dan Veronica akan melangkah ke tahap yang lebih serius, ataukah ia harus sedih karena orang yang ia sukai kini akan bertunangan dengan gadis lain?
Anna tersenyum, " w-wah. Itu benar-benar berita yang sangat bagus. Ku ucapkan selamat untuk kalian, semoga semuanya lancar."
"Iya, terimakasih. Maaf ji—"
"Sebaiknya kau bergegas, Veronica sudah menunggu mu, aku juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan." Anna berbalik badan lalu berjalan menuju pintu rumahnya.
Menghindar, hanya itu yang bisa Anna lakukan saat ini. Rasa perih disekitar d**a Anna terasa sangat menyakitkan. Anna berusaha menahan tangisnya tapi ia tidak bisa.
Anna terduduk lemas di balik pintu sembari berusaha mengontrol dirinya. Kenapa rasanya teramat sangat menyiksa?
Dadanya terasa sesak, nafasnya memburu. Butir-butir bening berjatuhan membasahi pipi mulus Anna.
"Harusnya sejak awal aku harus belajar mengikhlaskan mu. Perihnya masih menyiksa, rasanya benar-benar sangat menyakitkan," ucap Anna membatin.
Haruskah ia menangisi hal yang sebenarnya sudah menjadi resiko sejak awal untuknya? Pada dasarnya, Vince memang bukan siapa-siapa bagi Anna, dan akan selamanya begitu.
Sudah dari awal David dan juga Leo berusaha menjelaskannya pada Anna, tapi Anna rasanya batu, ia tidak peduli dengan apapun yang orang lain katakan. Dan kali ini ia merasakan efek dari keras kepalanya itu, yakni terluka untuk yang kesekian kalinya.
"Lagi dan lagi aku menyiksa batinku sendiri."
Anna bangkit, dengan oangkah gontai ia menuju dapur untuk mwncuci tangan, hari ini ia hanya akan berdiam diri di kamar.
Setelah selesai bersih-bersih, Anna masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju dan merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Samar-samar masih teringat tatkala Anna dan Vince menghabiskan waktu bersama. Duduk berdua di cafe, berboncengan bersama, bercanda, dan masih banyak lagi. Anna ingat ketika Vince memasak makanan untuknya agar ia bisa mencicipi makanan buatannya, kini hal itu selamanya hanya akan menjadi kenangan saja.
Anna ingat ketika ia mengembalikan PIN milik Vince yang ia temukan saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Takdir akhirnya mempertemukan mereka tapi bukan untuk bersama melainkan untuk berpisah. Sakit ya? Tentu saja. Setelah apa yang telah mereka lalui bersama tidak mungkin rasanya tidak membekas.
Setiap pertemuan tentu ada perpisahan, entah itu cepat ataupun lambat. Takdir dudah diatur sedemikian rupa, kita hanya perlu menjalani saja dan menerima setiap ketentuan yang telah di tunjukkan oleh Tuhan. Kita tentu tidak bisa memaksakan kehendak.
Dan pada case kali ini, ternyata Tuhan mempertemukan mereka bukan untuk bersama melainkan untuk berpisah.
Dunia memang terkadang sebercanda itu. Sesuatu yang belum pernah kita gapai harus kita lepaskan.
Perasaan yang Anna sendiri bingung harus menyebutnya sebagai apa kini benar-benar harus ia relakan.