Anna membuka pintu rumah dengan hati-hati. Mobil ayahnya sudah terparkir di garasi depan, dan Anna sangat yakin dan pasti bahwa James sudah pulang sekarang. Ini bukan awal yang baik. Ayahnya pasti akan bertanya banyak hal dan tidak akan membiarkan Anna masuk kamar sebelum menjawab seluruh pertanyaan yang ia ajukan, benar-benar aneh.
"A-ayah? Kau pulang lebih cepat," ujar Anna.
"Iya, ayah dari tadi menunggumu. Kau dari mana saja?"
"Eh, itu..."
"Tadi kau mengatakan pulang naik Taxi, tapi ayah pikir kau sudah tiba sejak tadi tapi ternyata ayah datang 1 jam lebih cepat darimu."
Anna benar-benar bingung harus memberikan alasan seperti apa pada ayahnya itu.
"Kau darimana?"
"Iya, tadi aku mampir ke toko buku terlebih dahulu sebelum pulang. Tapi ternyata buku yang aku cari itu tidak ada, jadi aku terpaksa pulang dengan tangan kosong," ucap Anna beralibi.
"Baiklah, ayah mengerti. Kau bisa masuk ke kamarmu untuk istirahat dan bersih-bersih." Anna mengangguk. Ia buru-buru bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Salah satu hal yang membuat Anna benar-benar merasa kagum pada James adalah sikapnya barusan. Jika Anna sudah menjawab pertanyaan-pertanyaanya itu, dia tidak akan bertanya hal yang lebih lagi dan ia sangat percaya pada putrinya bahwa putrinya tidak akan pernah berbohong.
Ia sangat percaya pada putri semata wayangnya itu. Ia bahkan tidak pernah bertanya siapa saja orang yang bergaul dengannya dan mengapa Anna tidak pernah membawa temannya ke rumah karena bagi James, semua orang punya privasi. Dan jika Anna tidak menceritakan sesuatu itu berarti hal itu benar-benar sangat penting dan ia tidak perlu membaginya pada siapapun itu.
***
Pagi ini Anna tampak sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Oh iya, James sudah berangkat lebih dulu ke kantor karena ada urusan mendadak. Jadi mau tidak mau hari ini Anna akan berangkat dengan menggunakan Taxi lagi. Tak apa, Anna tidak merasa keberatan. Baginya jika James tiap hari mengantar dan menjemput dirinya di kampus itu adalah hal yang sedikit aneh untuk Anna seusianya. Anna merasa bahwa ia sudah cukup dewas untuk menjaga diri. Tapi kembali lagi, Anna juga bisa merasa jauh lebih aman jika yang mengantarnya adalah James.
Sebelum Anna berangkat ke kampus, ia harus memastikan apakah seluruh penjuru rumahnya sudah di kunci dengan benar apa belum, itulah pesan yang setiap hari James katakan untuk terus memperhatikan pintu dan jendela agar terkunci dengan sempurna.
Setelah dirasa semuanya aman, Anna akhirnya berangkat ke kampus. Tidak banyak hal yang terjadi, dan tidak ada drama taxi sedikit pun.
Anna tiba di kampus. Ia tampak sibuk membawa beberapa buku yang ada di tote bag yang ia bawa hari ini.
Saat melewati koridor Anna dikejutkan dengan tangan kekar yang tiba-tiba saja menariknya masuk ke dalam ruangan kosong. Saat Anna lihat siapa orang itu, ternyata dia adalah Vince. Ia diam-diam menarik Anna tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya, aneh bukan?
"Vince?"
Vince menoleh dan menatap Anna seraya tersenyum.
"Aku sudah menunggu mu sejak tadi," ucap Vince.
"Mengapa kau menunggu ku?"
"Aku ingin bicara padamu."
Anna terdiam, mengapa Vince tiba-tiba ingin bicara? Dan mengapa ia harus mencari tempat sepi seperti ini? Apa karena Vince tidak ingin Veronica tau ia diam-diam bicara dengan Anna?
"Kau ingin bicara soal apa? Katakan saja."
"Apa kau marah padaku?" tanya Vince.
Anna menghela nafas pelan, "untuk apa aku marah? Aku sama sekali tidak marah padamu. Aku sudah melupakan segalanya, sekalipun kalian akan menikah atau bagaimana, itu terserah pada kalian," ucap Anna.
"Anna.."
"Cepat katakan ada apa?" desak Anna.
"Kau tidak sabaran."
Anna menghela nafas pelan, "aku tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin coba kau katakan. Tapi aku tidak ingin terlibat masalah antara kau dan kekasihmu itu, jadi tolong katakan saja apa yang ingin coba kau jelaskan, secepatnya!"
Vince menatap Anna dengan tatapan bingung, apa ada yang salah? Mengapa Anna berubah menjadi gadis yang aneh sekarang? Dia seperti ingin menjauh dari Vince, apa ini karena Veronica. Ini karena Vince dan Veronica kembali, padahal Vince telah berjanji.
"Ada apa denganmu?" Vince menatap Anna.
"Ada apa denganku? Seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu. Awalnya kau menganggap ku tidak ada, tapi sekarang kenapa kau mendadak peduli padaku?"
"Anna apa yang coba kau katakan? Mengapa kau seperti ini?"
"Sudahlah Vince. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara hal yang sama sekali tidak penting ini. Sebaiknya kau pergi dan temui Veronica, jangan sampai ia menunggumu!"
Anna hendak pergi tapi Vince mencekal tangannya. Entah apa yang ada di pikiran Vince saat ini.
"Kau membuang-buang waktuku!" ketus Anna.
"Baiklah aku akan bicara." Vince menarik Anna dan memaksanya untuk duduk di kursi yang ada di ruangan kosong itu.
"Katakan saja!" Anna menghempaskan tangan Vince lalu berjalan sendiri menuju kursi tersebut.
"Aku ingin minta maaf padamu. Aku tau ini bukan yang kedua kalinya aku seperti ini, aku telah berbohong padamu dan melanggar janjiku padamu. Tapi kau harus tau satu hal Anna, aku memang peduli padamu dan akan selamanya seperti itu. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk mempermainkan hatimu. Kau tau apa alasan aku sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaan ku padamu?" Vince menatap Anna dan Anna hanya diam membisu.
"Itu karena aku masih mencintai Veronica, Veronica Caroline yang merupakan sahabat masa kecilku. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu karena aku masih stuck dengan masa laluku. Lalu tiba-tiba dia datang, apakah menurutmu aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini? Tidak Anna, aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Karena aku tau bahwa sampai kapanpun aku akan terus mencintai Veronica, dan itu yang sebenarnya."
Tak terasa satu cairan bening jatuh membasahi pipi mulus Anna. Kenyataan yang saat ini ia dengar dari mulut Vince benar-benar membuat hatinya terasa sakit. Rasa yang ia coba untuk kubur kini timbul hanya karena Vince mencoba menjelaskan segalanya.
Anna tau jika hal ini diperlukan agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka, tapi sungguh ini sangat menyakitinya.
Anna mengusap pelipisnya, lalu bangkit dari kursi tersebut.
"Aku telah mendengar semua yang ingin kau katakan padaku. Kalau begitu aku pamit pergi," ujar Anna.
Tanpa mendengar respon Vince Anna langsung pergi keluar dari ruangan tersebut, ini mungkin pilihan yang terbaik untuknya.
Anna keluar dari ruangan itu dengan sesenggukan. Bahkan ia juga sampai lupa membawa tas tote bag yang ia bawa tadi. Ia tidak peduli apapun saat ini. Rasanya Anna ingin berlari dan memeluk David, hanya pria itu yang bisa menenangkan Anna.
Tapi yang ia temui justru Leo. Mereka berdua bertemu saat Anna hendak pergi ke kelasnya.
Leo melihat Anna berusaha menghapus air matanya itu, tapi hal itu tidak dapat ia tutupi.
"Tunggu!" Leo mencekal tangan Anna ketika Anna berusaha menjauh.
"Kau ingin apa dariku?" Anna menatap Leo dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Mengapa kau menangis?" tanya Leo.
Anna mengusap wajahnya, "tidak ada yang menangis!"
"Kau menangis. Kau pikir aku buta sampai tidak bisa melihat matamy itu?" ucap Leo lagi.
"Lalu urusan denganmu apa? Kau tidak usah berlagak seakan-akan kau peduli padaku!"
"Ada apa denganmu? Jika kau marah pada Vince tidak perlu melampiaskan segalanya padaku! Memangnya aku yang memintamu untuk menyukai pria yang memiliki kekasih itu, huh?"
"K-kau?"
"Kenapa? Memang benar bukan apa yang aku katakan barusan? Lagi pula untuk apa menangisi hal ini? Benar-benar seperti anak kecil saja."
"Tidak usah banyak berkomentar! Kau tidak bisa merasakan hal ini karena kau sama sekali tidak punya hati nurani, itu sebabnya kau merasa bahwa aku itu lemah. Tapi kelak kau pasti akan merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa kau miliki seutuhnya!! Kau akan merasakan bagaimana pedihnya!" ketus Anna. Ia pergi setelah mengatakan hal itu pada Leo. Sedangkan Leo? Pria itu hanya bisa diam mematung. Apakah rasanya se-sakit itu?