Rombongan Pria

1284 Kata
"Dia...." Anna tak mampu berkata-kata. Pria itu adalah pria yang sama, Anna tidak mungkin salah liat lagi. David bisa melihat perubahan dari ekspresi wajah Anna. Ia berbalik kearah belakang dari sana ia melihat sekelompok pria yang sangat ia kenali, Black Catcher. "Bagaimana mungkin?" Anna benar-benar tidak menyangka. "Kau mengenal mereka?" David kembali menatap Anna. Anna menggeleng, ia tidak tau pasti siapa mereka semua namun Leo, pria itu adalah pria yang telah menerobos masuk ke rumahnya malam itu, dan Anna tidak bisa melupakan hal itu. "Sebaiknya kita pergi, ayo." David memegang tangan Anna berniat untuk membawanya pergi, tapi Anna hanya diam, ia tidak bergerak sedikit pun. David sangat tau seperti apa mereka, ia tidak akan membiarkan Anna di ganggu oleh pria-pria b******k itu. "Ayo Anna, mengapa kau hanya diam? Cepat ikut aku!" titah David. Anna bisa melihat perubahan wajah David yang terlihat sangat khawatir, mengapa ia sangat khawatir? Apakah ia sangat mengkhawatirkan Anna? Anna melirik para rombongan pria itu sekilas lalu tersenyum ke arah David ia setuju untuk pergi tapi disaat yang bersamaan seorang pria tiba-tiba muncul dan berdiri dihadapan mereka berdua membuat Anna terkejut. Pria dengan kulit hitam legam dengan rambut keriting membuat Anna bergidik ngeri, ia terlihat sangat menakutkan. "Hai payah," sapa pria itu. Entah mereka mengatakan payah pada Anna atau pada David, setelah mengatakan kata payah itu seluruh pria yang berada di sana hanya tertawa saja, mereka menertawakan Anna dan David sama halnya dengan Leo. "Mengapa saat melihatku kau sangat ketakutan? Ada apa?" Pria itu terus-menerus mengganggu, terutama David. Kemudian perhatiannya kini tertuju pada Anna, pria itu melihat Anna dengan tatapan yang aneh. "Apakah dia kekasihmu?" Pria itu tertawa diikuti oleh teman-temannya. "Ayolah David, ternyata kau sangat pandai memilih gadis. Menurutku dia gadis yang lumayan," sambungnya. Jujur saja Anna merasa sangat muak terlebih lagi David hanya diam sambil menunduk dan tidak mengatakan apa-apa. "Apakah aku boleh berkenalan dengan kekasihmu?" "Tutup mulutmu!!" Anna kini menatap pria itu dengan tatapan mengintimidasi. "Mengapa kau mengganggu kami? Tidak bisakah kau pergi dan berhenti mengatakan hal-hal yang tidak penting itu, huh?" Entah darimana Anna mendapatkan keberanian ini, ia berdiri dengan tegap memandang pria itu. "Mengapa kau sangat marah nona? Aku kesini untuk bicara dengan kekasihmu, kam—" "Jangan bicara padanya! Ayo David." Anna langsung menarik tangan David untuk segera pergi, ia tidak ingin berlama-lama ada diantara pria b******k seperti mereka. "Berhenti." ucap seorang pria dengan suara serak khas-nya, suara yang sangat Anna kenali. Anna tidak peduli, ia terus menarik tangan David untuk melangkah lebih cepat. "Ternyata kau tidak sepayah yang kupikirkan," sahutnya lagi. Ucapannya mampu membuat Anna berhenti. "Kau cukup memiliki keberanian hingga membela temanmu yang payah itu, kurasa kalian adalah sahabat yang sangat pas, sama-sama payah." Anna tidak bisa menahannya lagi, dengan emosi yang meledak-ledak Anna berbalik dan menatap Leo. "Siapa dirimu hingga kau berani mengatakan bahwa aku dan dia payah? Kurasa yang sebenarnya payah adalah dirimu dan teman-teman mu itu. Apa kau tau arti kata payah? Payah digunakan untuk orang-orang yang selalu menindas orang-orang lemah seperti kami. Kalian bahkan lebih buruk daripada itu!" Setelah mengatakan itu Anna kembali berbalik lalu memegang tangan David dan pergi meninggalkan mereka. "Wah, ini pertama kalinya aku melihat gadis setangguh dirinya. Kurasa gadis itu bukan gadis biasa, ia benar-benar mengatakan hal yang mampu membuat kita semua hanya bisa diam, bahkan tem—" "Diam!" Leo menatap punggung Anna yang mulai menjauh dari pandangannya, tangan Anna tidak berhenti menggenggam tangan David, ia terus menarik tangan David agar berjalan lebih cepat. *** Anna berhenti di dekat toilet kampus, ia terlihat sangat lelah. Ia melirik David yang masih diam sambil menunduk. "Ada apa denganmu David? Mengapa kau hanya diam ketika mereka mengatakan hal buruk padamu, bagaimana bisa kau hanya diam?" Anna tidak habis fikir, David benar-benar tidak ingin bicara ia terus diam saja. David mengangkat kepalanya lalu menatap Anna, "Aku tidak memiliki keberanian yang kau miliki Anna. Aku sangat payah dan penakut, harusnya aku yang melindungi mu tapi malah kau yang melindungi ku. Aku benar-benar payah," ucap David dengan menyesal, ia kembali menundukkan pandangannya. Anna tau David benar-benar merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri. "Tidak perlu memikirkan hal seperti itu, David. Bagiku kau sudah sangat hebat, kau harus jadi dirimu sendiri tidak perlu memikirkan apa kata mereka, anggap saja itu hanya angin lalu, mengerti?" Anna tersenyum kearah David dengan tulus. "Mengapa kau sangat baik padaku, Anna? Ku harap kelak aku yang bisa melindungi mu. Maaf jika aku terlalu penakut." "Haha, kau ada-ada saja. Kau ingin jadi pria yang tangguh bukan? Malam ini kau datanglah kerumah ku untuk bertemu dengan ayah, ayah akan mengajarimu bagaimana menjadi pria yang tangguh, okey?" "Baiklah kalau begitu, aku akan datang." "Bagus!!" seru Anna Mereka berdua berjalan beriringan menuju kearah gerbang kampus. "Apa kau akan benar-benar bergabung dengan komunitas penyiar berita itu?" tanya David. "Aku belum memikirkannya, aku akan bicara pada ayah lebih dulu. Apa kau juga berniat untuk ikut?" "Iyaa, jika ada kau aku pasti ikut," ucap David. "Benarkah? Wahh berarti aku harus ikut karena sepertinya yang sangat ingin ikut komunitas itu adalah kau, haha." ledek Anna. David tersenyum, Anna benar-benar gadis yang sangat ceria, ia membuat David tidak merasa kesepian lagi. *** Black Catcher, siapa yang tidak mengenal gang ini? Gang yang sangat ditakuti di kota Berlin dan juga merupakan musuh terbesar kepolisian, mengapa demikian? Gang Black Catcher dipimpin oleh Leonardo Smith dan sudah berdiri sejak 3 tahun terakhir. Gang ini sendiri dibentuk karena Leo ingin membuat kelompok yang disegani oleh masyarakat. Gang Black Catcher sendiri menguasai dua daerah yakni daerah utara dan selatan. Gang ini sendiri sudah memiliki sekitar 135 anggota yang tersebar diseluruh kota Berlin. *** LEO POV Malam ini, lagi dan lagi aku mendatangi club yang merupakan tempat yang sering aku datangi untuk menghilangkan rasa penat yang kurasakan. Aku merasa sangat lelah terus hidup dengan beban pikiran yang ingin meledak di kepalaku. Ketika aku menghirup aroma Wine, itu bisa membuatku merasa jauh lebih tenang. Malam ini aku datang ke tempat ini untuk itu, untuk mencari ketenangan yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan ketika berada di markas. Disana aku hanya akan mendengar u*****n dan teriakan dari bocah-bocah sialan itu, aku tidak akan mendapatkan ketenangan. Seorang gadis dengan rambut ikalnya datang menghampiriku, ia memiliki kulit exotic dengan mata bulat. Ia menuangkan wine ke gelasku yang sudah habis, aku langsung menenggaknya. Ia tersenyum padaku, lebih tepatnya tersenyum nakal tapi sayang aku sama sekali tidak tergoda. Aku berlalu meninggalkan dirinya, mencari tempat yang jauh lebih sepi dan sunyi. Semua gadis punya caranya tersendiri untuk membuat pria jatuh hati tapi sayangnya aku bukanlah pria yang mudah untuk jatuh cinta. Bagiku cinta itu tidak ada, dan jika ada cinta hanya akan membuat siapapun menjadi lemah dan tunduk dihadapan pasangannya, aku tidak mau itu terjadi pada diriku. Setelah ku rasa cukup untuk hari ini, aku segera keluar dari club dan kembali ke markas, malam ini kami akan melakukan p*********n—lagi. Menyerang gang yang telah menyerangku malam itu, aku tidak akan mengampuninya. Luka goresan masih tampak di keningku, aku hanya mensiasati luka itu dengan memakai ikat kepala. Mereka sangat membabi-buta ketika melihat diriku, sudah kepastikan bahwa jika aku tewas itu akan menjadi kemenangan yang sangat berharga untuk mereka. Saat tiba di markas ternyata anak-anak yang lain sudah tidak ada di ruangan yang selalu menjadi tempatnya untuk bermain kartu, apakah mereka tertidur? Tapi bagaimana mungkin. "Kau baru pulang?" Vincent datang menghampiriku. "Kemana yang lainnya?" tanyaku pada Vincent. "Kurasa mereka sedang tidur, mempersiapkan diri untuk melakukan p*********n, tidak mungkin mereka pergi dalam kondisi mengantuk," jelas Vincent. Leo terdiam, ia melirik Vincent, "Lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau tidak tidur?" "Aku ingin menyelesaikan semuanya malam ini dan aku tidak akan tidur jika semuanya belum selesai. Persiapkan dirimu." Vincent berlalu meninggalkanku, ku rasa malam ini Vincent jauh berbeda, ia lebih sangat antusias dari biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN