Pria yang Sama

1202 Kata
Dari kejauhan Irene bersama kedua temannya tengah menganati Anna dan David yang sedang duduk berbincang. Mereka berdua terlihat sangat serius, entah apa yang mereka bicarakan. Seperti yang kalian ketahui, Anna ternyata menarik perhatian Irene dan membuatnya penasaran dengan Anna. "Apa kalian lihat gadis yang memakai baju abu-abu itu?" tanya Irene pada kedua temannya. "Tentu saja kami melihatnya," seru mereka dengan bersamaan. "Kalian tau siapa dia?" tanya Irene lagi. "Aku yakin kalian tidak tau siapa gadis itu," "Apa kau mengenal gadis itu?" tanya Catrine dengan bingung, ia adalah salah satu teman Irene. Irene menatap Catrine, ia tersenyum simpul. "Dia adalah putri James, aku mengatahuinya dari Leo dan kalian tau pasti bukan bahwa Leo tidak akan bohong?" Catrine terdiam, ia kembali menatap Anna dari kejauhan. "Itu berarti, gadis itu adalah putri orang yang telah membuat Fuko mendekam di penjara?" "Kau benar!" "Aku tidak percaya ini!" Catrine adalah kekasih Fuko. Fuko ditahan oleh kepolisian karena mencoba membunuh anggota gang Red Bulls. Emosi Catrine mendadak memuncak, ia berniat menghampiri Anna yang tengah asik berbincang dengan David tapi sayangnya Leo langsung datang dan menghentikannya. "Catrine!" Leo menarik tangan Catrine untuk menghentikan gadis itu. Catrine terdiam lalu menatap Leo dengan bingung, "Ada apa denganmu, huh? Apa yang ingin kau lakukan, katakan padaku!" desak Leo. Catrine melepas genggaman tangan Leo, "Aku akan menghabisi gadis itu! Dia adalah putri James, orang yang telah membuat Fuko mendekam di penjara! Apa kau lupaa?!" teriak Catrine dengan penuh emosi. Leo tidak tau darimana Catrine dapat informasi bahwa Anna adalah putri James, ia melirik Irene sekilas tapi Irene memalingkan wajahnya. "Kau fikir apa yang akan kau dapatkan ketika menghabisi gadis itu? Apa kau berfikir bahwa dengan menghabisi putrinya, Fuko bisa bebas, huh? Ku rasa kau telah kehilangan akal!" ucap Leo untuk berkompromi. Catrine terdiam, ia tidak bisa menjawab. "Apa yang bisa aku lakukan, Leo? Aku sangat mencintai Fuko, tapi kau tidak pernah berfikir untuk mengeluarkannya!!" teriak Catrine dengan penuh amarah. "Ini bukan perkara mudah, Catrine. Berfikirlah lebih dewasa, aku tidak akan membiarkan Fuko mendekam disana, ku mohon bersabarlah. Dengan menyakiti putrinya kau tidak akan mendapat apapun, percaya padaku." Leo mencoba meyakinkan Catrine bahwa hal ini tidak akan menyelesaikan apapun. "Kau terus saja berbohong padaku! Kau mengatakan itu secara terus-menerus, tapi lihat kau tidak melakukan apapun!" "Tenanglah Catrine. Leo sedang berusaha, emosi tidak akan menyelesaikan apapun. Mari ku antar kau ke toilet." Irene menarik tangan Catrine dan membawanya menjauh dari Leo. Dari kejauhan, Anna samar-samar melihat Leo tengah berdiri menatap kearahnya, pria yang telah menyelinap masuk ke rumahnya waktu itu. "Ada apa?" tanya David yang mulai menyadari kalau perhatian Anna tidak lagi mengarah padanya. "Siapa pria itu?" "Pria yang mana?" David mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat tapi tidak menemukan siapa-siapa. "Ah sudahlah, dia telah pergi. Aku harus ke toilet sekarang, tunggu aku disini dan aku akan segera kembali, hm?" Anna pamit pada David untuk ke toilet. Ia melihat dengan jelas keberadaan Leo tadi, itu tampak sangat nyata. Tidak mungkin ia berhalusinasi. *** Anna membuka masuk ke dalam toilet dengan buru-buru. Samar-samar ia mendengar percakapan dua orang yang membuatnya berhenti melangkah masuk. "Apa kau sudah kehilangan akal? Bagaimana bisa kau meragukan kemampuan Leo bahkan menghina dirinya? Apa kau ingin ku habisi?!" ucap seseorang dengan suara tegas khas. "Apa yang bisa aku lakukan, katakan padaku!! Aku benar-benar frustasi memikirkan Fuko! Tapi mengapa Leo menghentikan aku? Ini membuatku gila!" balas gadis itu. Anna mengintip, ia mendapati dua orang gadis dengan rambut pirang dan rambut berwarna merah, penampilan mereka tampak sangat mencolok. Anna tidak mengenal siapa gadis itu. Ia merasa sangat penasaran dengan sosok Leo yang mereka sebutkan barusan. Tanpa ia sadari Anna menendang tong sampah yang berada di dekat kakinya hingga membuat Irene dan Catrine menyadari akan kehadiran seseorang. Dengan cepat Irene dan Catrine menghampiri ke sumber suara. Disana sudah ada Anna yang sibuk memunguti sampah yabg terjatuh karena ulahnya barusan. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Irene. Mendengar ucapan Irene barusan Anna langsung bangkit dan menatap mereka berdua yang sudah berdiri tepat di hadapannya. "Aku datang kesini untuk cuci tangan," jawab Anna berusaha untuk tetap tenang. "Apa kau baru saja menguping pembicaraan kami?" kini Catrine yang bersuara. "Tidak-tidak! Aku baru saja tiba dan tidak sengaja menjatuhkan tempat sampah ini, maaf jika aku telah mengganggu waktu kalian." Anna berniat untuk pergi tapi Irene menghadangnya. "Kau jelas-jelas telah mendengar percakapan kami, kau fikir aku bodoh?" Irene terus mendesak Anna. "Mengapa kalian tidak percaya padaku?" Anna menatap mereka berdua dengan tatapan serius. "Memangnya siapa dirimu hingga kami harus percaya?" sahut Catrine menimpali. "Bolehkah aku pergi? Kumohon!" mohon Anna. Ia tidak ingin mencari masalah dengan seniornya terlebih lagi ia baru saja masuk ke kampus ini, Anna tidak ingin terlibat masalah. Irene dan Catrine saling bertatapan, baiklah cukup untuk hari ini. Irene membiarkan Anna pergi. "Baiklah, kau bisa pergi. Tapi lain kali, jangan pernah menguping pembicaraan orang!" ucap Irene dengan tegas. Anna hanya mengangguk mengiyakan setelah itu ia bergegas keluar dari ruangan toilet dan menghampiri David yang telah menunggunya. Anna berjalan terburu-buru untuk menemui David. "Apa kau sudah selesai? Mengapa cepat sekali?" David berdiri ketika melihat Anna sudah berada dihadapannya. "Ada berapa banyak pria yang bernama Leo di kampus ini?" Anna mengabaikan pertanyaan David, ia memilih menanyakan perihal Leo. "Leo?.... Sebenarnya aku tidak ingat. Apa kau tau siapa nama selanjutnya? Itu bisa membantumu menemukan orang kau cari," usul David. Anna menghirup nafas pelan, "Aku tidak tau." "Banyak yang bernama Leo disini, kau harus memastikan lebih dulu siapa nama belakangnya biar kita bisa dengan cepat menemukannya." "Sebenarnya aku tidak mencari atau ingin menemukan siapapun, aku hanya penasaran dengan nama Leo. Namanya sangat keren bagiku, makanya aku hanya sekedar ingin tau," ucap Anna beralasan. "Emm baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita kembali, kelas selanjutnya akan segera di mulai." David mengajak Anna untuk kembali ke kelas. "Baiklah," ucap Anna. Ia menurut, jujur saja ia masih penasaran dengan orang yang bernama Leo itu. *** Tak terasa hari mulai semakin sore, jam menunjukkan pukul 4 dan Anna berniat untuk pulang karena seluruh kelasnya telah selesai tapi David menghentikannya. Entah ada apa lagi. "Anna berhenti!" David berdiri dibelakang Anna dengan nafas memburu. Mungkin sedari tadi ia mengejar Anna. "Ada apa? Mengapa kau terlihat sangat lelah?" tanya Anna dengan sedikit meledek. "Ini untukmu." David memberi selembaran kertas pada Anna yang berisi perekrutan mahasiswa yang ingin menjadi reporter untuk kampus. Kegiatan penyiaran berita memang ada di kampus untuk menyiarkan berita terkait keadaan kampus atau berita-berita yang lagi hangat. "Ku dengar kau sangat ingin menjadi pembawa berita," ucap David masih dengan nafas yang ngos-ngosan. "Kurasa kau salah. Aku ingin menjadi pengacara itulah mengapa aku kuliah dan mengambil jurusan hukum." "Benarkah??? Lalu bagaimana dengan ini?" David terlihat sangat kecewa. "Tapi aku juga ingin, baiklah aku akan mendaftar besok. Terimakasih David, kau sangat baik." Anna tersenyum ramah pada David. Saat mereka tengah asik berbincang Anna melihat sekelompok pria yang menuju kearah mereka. Mereka berpakaian dengan nuansa hitam, ada satu pria yang menarik perhatian Anna dan pria itu adalah pria yang sama dengan yang ia temui malam itu. Pria yang telah menyelinap paksa masuk kedalam rumahnya, dia adalah Leo. "Dia...." Anna tak mampu berkata-kata. Pria itu adalah pria yang sama, Anna tidak mungkin salah liat lagi. Takdir memang tidak ada yang tau, mengapa mereka tiba-tiba bisa dipertemukan kembali? Apakah ini yang disebut dengan takdir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN