Hari Kedua

1100 Kata
Hari ini adalah hari kedua Anna masuk kuliah. Ia jauh lebih bersemangat dari kemarin. Saat menuruni anak tangga Anna hampir terjatuh karena terlalu bersemangat. "Hati-hati," tegur ayahnya. Anna hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya itu. Ia langsung menuju kehadapan sang ayah dengan wajah sumringah. "Ada apa denganmu? Kau terlihat sangat semangat hari ini," "Tidak ada yang spesial. Mari antar aku ke kampus jika tidak aku pasti akan sangat terlambat," tutur Anna memperingatkan. "Kau sangat terburu-buru." James mengambil jaket kulit hitam yang selalu ia kenakan lalu berjalan menuju keluar disusul Anna. Mobil mereka berangkat menuju kampus. Saat lewat di depan rumah tetangganya, Anna menoleh sesaat lalu kembali fokus menatap kedepan. "Hari ini ayah tidak akan menjemputmu, apa kau bisa pulang sendiri?" tanya James. Anna terdiam sebentar, mungkin ia bisa pulang sendiri. "Tentu, aku akan pulang sendiri, ayah tidak perlu khawatir." "Baiklah kalau begitu. Ingat, kau tidak boleh pulang bersama siapapun, tidak ada yang bisa kau percayai saat ini terlebih lagi kau masih baru di kota ini," jelas James pada putrinya itu. Jujur saja, jika bukan karena pekerjaannya ini penting James tidak akan membiarkan putrinya pulang sendirian. "Siap tuan James, aku mengerti." *** Mobil James berhenti di depan gerbang kampus. Sebelum turun dari mobil James mengecup puncak kepala putrinya sekilas sebagai bentuk kasih sayangnya. "Semangat!" seru James untuk menyemangati putri semata wayangnya itu. Anna tersenyum senang. Ia kemudian berpamitan untuk masuk ke kelas. "Baiklah kalau begitu aku akan masuk, semoga hari ayah menyenangkan." Anna turun dari mobil, sebelum ayahnya pergi Anna melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ayahnya memperlakukan dirinya layaknya seorang anak kecil tapi Anna suka itu. Dari kejauhan terlihat David sudah berdiri diambang pintu gerbang menunggu dirinya. Dengan cepat Anna langsung menghampiri David. "Selamat pagi," sapa Anna. "Pagi, apa yang mengantarmu tadi itu ayahmu?" tanya David. Anna hanya mengangguk untuk mengiyakannya. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kelas mereka. Di tengah-tengah mereka yang sedang asik berbincang ternyata sedari tadi banyak mahasiswa yang melihat mereka berdua dengan tatapan aneh, entahlah Anna dan David pun tidak mengerti tentang apa yang mereka semua gunjingkan. "Ada apa dengan mereka?" bisik Anna pada David, David hanya menggeleng tanda ia juga tidak tau. "Kurasa mungkin mereka sedang membicarakan kita," jawab David setelah mencoba mendengarkan mereka yang sedang berbisik-bisik. "Tapi mengapa? Apa ada yang salah dengan kita?" tanya Anna dengan sedikit kesal. "Tidak ada yang salah denganmu, mungkin ada yang salah denganku. Kau tau kan penampilan ku berbeda dengan penampilan orang-orang di kampus ini." David berjalan sambil menunduk, ia sangat malu. Anna terdiam, ia tau saat ini temannya sangat malu. Ia mengamati para gadis yang menatap mereka berdua dengan aneh. "Memangnya apa yang salah denganmu." Anna menarik tangan David agar ia berhenti, David menatap Anna dengan bingung. "Semua orang berhak untuk memakai pakaian atau berpenampilan sesuka hati mereka, itu adalah hak asasi manusia. Dan tidak semestinya kau merasa malu, seharusnya yang malu itu mereka karena tidak bisa menghargai hak seseorang," sindir Anna. Ia sangat banyak bicara, entah ia mendapat keberanian dari mana. "Anna apa yang kau lakukan?" David menatap Anna dengan bingung. "Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar, ayo kita pergi." Anna kembali memegang tangan David dan menariknya pergi menuju kelas. Semua orang hanya terdiam menatap mereka yang perlahan menjauh. David berjalan lebih cepat menarik tangan Anna. "Anna apa yang kau lakukan barusan? Mengapa kau mengatakan hal itu?" tanya David. "Memangnya ada apa? Apa aku mengatakan hal yang salah? Kurasa tidak ada yang salah." David mengusap wajahnya dengan kasar, "Kau tidak usah membelaku seperti itu. Aku khawatir jika kau terlalu banyak bicara seperti itu mereka tidak akan menyukaimu," tutur David dengan sungguh-sungguh. "Aku adalah temanmu, dan sudah semestinya aku melakukan itu jika seseorang mengejek dirimu. Lagi pula ada apa dengan mereka, mereka bertindak sesuka hati mereka," ucap Anna dengan kesal. "Dan kau? Berhenti bertindak seakan-akan kau itu tidak memiliki keberanian. Jangan seperti itu! Jika kau seperti itu mereka akan terus melakukan itu dan akan selalu menghina dirimu!" nasehat Anna. "Aku tidak masalah dengan hal itu. Hanya saja kau terlalu banyak bicara, aku sangat khawatir. Kau tidak tau mereka semua seperti apa, Anna. Terlebih lagi Irene," "Irene?" Anna mengernyitkan dahinya, ia tidak tau siapa orang yang David maksud. "Iya, dia adalah gadis yang berdiri diantara gadis-gadis tadi, yang rambutnya pirang dan kulitnya putih itu. Apa kau tidak memperhatikannya?" Anna mengingat-ingat kembali, ia bahkan tidak ingat bahwa disana ada gadis berambut pirang. "Aku tidak peduli dengan gadis yang kau maksud itu, ayo pergi." "Tolong jangan lakukan hal itu lagi, apalagi dihadapan para gadis itu." David menatap Anna dengan serius. "Baiklah-baiklah, ayo!!" titah Anna. *** Disisi lain seorang pria tengah memperhatikan David dan Anna. Ia menatap Anna dengan mata elangnya. "Gadis itu terlalu banyak bicara," ucapnya membatin. Irene menghampiri Leo dengan senyum yang mengambang di bibirnya. "Siapa gadis itu?" tanya Irene basa-basi. "Dia terlalu cerewet, apa kau setuju denganku?" tambahnya lagi. "Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Katakan ada apa?" Leo menatap Irene dengan malas. "Tidak ada. Aku hanya penasaran dengan gadis itu," Leo berbalik berjalan menjauhi Irene. "Jangan lakukan apapun pada gadis itu atau kau akan terkena masalah," ucap Leo memperingatkan. Irene hanya terdiam menatap punggung Leo yang semakin menjauh darinya. "Mengapa? Apa dia kekasihmu?" teriak Irene dengan wajah kesal. Leo berhenti, ia menatap Irene dengan bingung. "Ada apa denganmu? Apa kau sudah gila? Dia adalah putrinya polisi sialan itu. Aku hanya memperingatimu agar tidak mengganggunya." Irene terdiam, ia salah paham lagi pada Leo. Ia harusnya ingat bahwa Leo tidak akan pernah tertarik pada gadis manapun terlebih lagi gadis itu. Irene tertawa garing, sepertinya Anna sudah menarik perhatiannya. Entah apa yang ada di otaknya saat ini. "Let's play James," Irene berjalan menyusul Leo. Irene sangat tau seperti apa Leo. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun berusaha merebut Leo darinya. Ia selalu seperti ini, terlalu khawatir untuk hal yang tidak penting sama sekali. *** Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan sudah saatnya pergantian jam, sementara yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing lain halnya dengan David dan Anna mereka berdua sibuk mempersiapkan peralatan untuk pelajaran selanjutnya. "Anna," Anna berbalik menatap David bingung, "Ada apa?" "Aku merasa tidak enak badan," tutur David. "Ada apa dengan David, ia awalnya baik-baik saja tapi mengapa sekarang ia mendadak tidak enak badan?" ucap Anna membatin. Ia bingung, sbelumnya David baik-baik saja lalu mengapa ia tiba-tiba sakit? Lalu ada apa? "Apa kau ingin ku antar ke ruang kesehatan?" tawar Anna. "Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri." David bangkit dari kursinya lalu berjalan pergi. Anna hanya diam tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mungkin David masih memikirkan tentang hal yang terjadi padanya pagi tadi. Ia akan kembali fokus pada pelajarannya dan setelah selesai nanti akan menemui David, ya sebaiknya seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN