Hari ini Leo mendapat telepon beruntun dari nomor yang tidak dikenal. Nomor itu terus berganti dan selalu menelepon Leo, tapi ketika ia mengangkat telepon itu hanya ada suara angin, tidak ada suara apapun atau semacamnya.
Karena merasa lelah ia memilih untuk mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam laci kamarnya, ia tidak peduli jika orang itu menelepon lagi tapi, sebagai gantinya Leo melacak nomor itu. Dan yang ahli dalam tugas ini adalah Joshua.
"Cepat lacak keberadaan orang yang menghubungi ku itu. Aku yakin mereka adalah satu orang yang sama, tapi sengaja untuk menggangguku!" ucap Leo pada Joshua.
Joshua mengangguk, ia fokus pada komputer dan mulai mengotak-atiknya. Tapi ada yang membuat mereka bingung, nomor yang baru saja menelepon sudah tidak bisa dilacak lagi, dan sama sekali tidak terdaftar.
"Aneh, nomornya tidak bisa dilacak karena nomornya tidak terdaftar," ujar Joshua.
"Bagaimana mungkin? Atau mereka itu ahli IT sehingga bisa paham hal semacam ini?" timpal Leo.
"Bisa saja, mungkin saja mereka sudah mempersiapkan ini sebelum menghubungi dirimu, kita tidak bisa tau dimana keberadaan mereka karena mereka sangat pintar. Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Joshua.
Leo terdiam, ini benar-benar aneh. Siapa yang mungkin menghubungi Leo tapi dengan nomor yang terus berganti seperti ini? Dan darimana ia bisa mendapatkan nomer telepon Leo? Hanya beberapa orang saja yang tau nomor telepon Leo, tapi tiba-tiba saja ponselnya di hubungi dengan nomor yang tidak dikenali.
"Pasti ada yang bisa di lakukan agar kita tau siapa yang telah melakukan ini," ujar Leo, ia tidak ingin menyerah hanya kerena Joshua bilang nomornya tidak bisa dilacak.
"Aku tau siapa pelakunya." Irene datang tiba-tiba dan masuk ke ruangan Leo tanpa mengetuk pintu, dan itu membuat Leo dan Joshua terkejut akan kehadirannya secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Joshua.
"Sudah jelas yang melakukan ini tentu anak-anak Red Bulls. Mengapa kalian harus pusing untuk mencari tau siapa pelakunya kalau yang sudah jelas pelakunya adalah anak-anak Red Bulls," papar Irene.
Leo menatap Irene dengan tatapan serius, ia mendekat lalu memegang kedua bahu Irene.
"Kau mungkin tau red bulls adalah musuk kita, tapi dengan mengklaim mereka adalah pelakunya tanpa bukti itu salah, biar ku perjelas bahwa jika kau ingin menuduh seseorang maka kau harus mempunyai bukti," jelas Leo.
Irene bungkam, ia tidak bisa menjawab apa-apa.
"Kita harus punya bukti untuk mengatakan bahwa pelakunya adalah anak-anak red bulls jika tidak ada bukti, itu sama saja kita memfitnah mereka, dan itu bukanlah hal yang baik," timpal Joshua.
Irene melirik Joshua dengan tatapan sinis.
"Tapi apa mereka melakukan itu lagi? Mereka tidak meneror dirimu lagi 'kan?" Irene kini berusaha menarik simpati Leo padanya.
"Aku tidak tau, aku telah mematikan ponselku dan entahlah siapa yang tau mereka berbuat apa lagi." Leo melangkah keluar tapi sebelum ia pergi ia menoleh kearah Joshua.
"Aku mengandalkan mu. Ku harap kau bisa menemukan siapa pemilik dari nomor-nomor itu. Tidak mungkinn dari sekian banyak nomor yang masuk tapi tidak ada satupun yang bisa dilacak, lakukan yang terbaik," ujar Leo yang langsung mendapat anggukan dari Joshu.
Setelah Leo pergi, Joshua kembali fokus menatap layar komputer dengan serius, ia harus segera mencari siapa yang telah membuat Leo merasa gelisah, ia harus tau siapa dalang dibalik ini semua. Joshua tidak ingin membuat Leo kecewa dengan keahlian yang ia miliki.
Irene mendekat kearah Joshua, ia duduk tepat di samping Joshua. Ia mulai menyentuh pundak Joshua sambil tersenyum ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Joshua menoleh ke arah Irene.
"Memberikanmu semangat. Cepat cari siapa pelakunya, tapi jika kau tidak bisa mencari tau siapa pelakunya kau bisa mengatakan bahwa dalang di balik ini semua adalah anak-anak red bulls, kau mengerti?"
"Kenapa aku harus berbohong?" tanya Joshua.
"Kau tidak ingin bukan jika Leo merasa kecewa padamu? Leo telah mempercayai dirimu, dan kau tidak mungkin membuatnya merasa kecewa. Benar bukan?" Irene tersenyum, ia masih mengusap-usap pundak Joshua dengan lembut.
"Pikirkan baik-baik, aku akan pergi." Irene bangkit dari kursi lalu keluar dari ruangan Joshua.
Joshua kembali menatap layar komputernya, ini semua tidak mungkin. Ia tidak akan bisa melacak siapa pemilik nomor itu, akankah dia setuju dengan cara yang Irene katakan dan berbohong agar Leo bisa mempercayai dirinya?
Joshua menimbang-nimbang, haruskah ia melakukan hal ini? Jika ia berbohong ini akan menimbulkan emosi lagi pada Leo dan tentu Leo akan semakin membenci red bulls, tapi jika ia tidak melakukan hal ini tentu Leo akan merasa kecewa dan mulai meragukan kemampuannya itu. Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
Anna tiba dirumah dengan keadaan yang benar-benar letih. Ayahnya hari ini tidak bisa menjemputnya karena ada beberapa hal mengenai urusannya di kantor.
Saat sampai dirumah, Anna langsung bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat dan tentu membersihkan diri, tubuhnya sudah terasa sangat lengket karena seharian berkeringat.
Setelah selesai membersihkan diri, Anna menuju meja belajarnya lalu membuka ponselnya, hari ini ia akan menghubungi ibunya, Anna sangat merindukan Nesha.
"Hai bu?" sapa Anna.
["Hai sayang, apa kabar?"]
"Kabarku baik, bu. Bagaimana dengan ibu dan ayah? Apa kalian baik-baik saja?"
["Kami baik-baik saja. Adikmu juga baik-baik saja."]
"Kapan ibu akan melahirkan adik? Aku sudah sangat menanti-nantikannya," seru Anna.
["Bersabarlah sayang, adikmu akan sebentar lagi lahir. Doakan yang terbaik, ya?"]
"Pastinya!"
["Bagaimana dengan kuliahmu disana? Semua baik-baik saja 'kan?"]
"Semua baik-baik saja, aku sangat menikmati bisa berada disini. Banyak hal yang benar-benar menarik disini, aku suka."
Mereka berdua asik berbincang, banyak hal yang Anna ceritakan tentang segala hal yang ada di Berlin. Anna juga bercerita bagaimana kesehariannya selama disini dan juga banyak menceritakan tentang David, sahabat Anna. Orang pertama kali yang menyapanya saat Anna melangkahkan kaki di kampus, hanya David saja.
Nesha tampak bahagia mendengar cerita Anna. Dulu selama Anna masih di Indonesia, Anna tipe gadis yang tertutup. Segala hal ia tutupi dari ibunya, tapi kini Anna menjadi gadis yang lebih terbuka dan ceria.
["Ibu yakin James merawatmu dengan sangat baik,"]
"Tentu bu. Ayah benar-benar hebat. Ia selalu melakukan segala hal untuk membuatku tersenyum," papar Anna.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Anna meminta izin untuk mematikan teleponnya karena sudah merasa sangat mengantuk.
Ia menuju wastafel untuk mencuci muka dan menyikat gigi sebelum beranjak ke tempat tidur. Setelah ia bicara dengan ibunya, Anna merasa jauh lebih baik. Nesha bisa membuatnya merasa tenang.
Sebelum ia tidur, Anna terlebih dahulu menyalakan alarm. Kali ini ia ingin bangun lebih pagi besok, jadi Anna menyalakan alarm agar tidak terlambat bangun besok pagi.
Anna berjalan menuju saklar lampu tapi ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ini mengenai Vincent, sudah tiga hari mereka tidak bertegur sapa sama sekali. Anna merasa aneh, biasanya ada Vincent yang mengantar Anna pulang tapi kini tidak lagi. Ia harus pulang sendiri seperti biasanya.
Anna berjalan menuju jendela kamarnya. Ia melihat motor dan mobil yang terparkir di halaman rumah Vincent, ia tau mungkin saat ini Vincent dan Leo sedang berada di rumah. Setidaknya Anna bisa merasa lega bahwa Vincent pulang.
Ia kembali ke tempat tidurnya lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal miliknya lalu menyalakan lampu tidur. Ini adalh self healing yang paling bisa membuat Anna merasa jauh lebih tenang.
***
James pulang, ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia bawa. Hari ini ia sungguh merasa sangat letih. Banyak hal yang terjadi di kantor hari ini, dan James sampai tidak sempat menjemput putrinya itu.
Walaupun ia merasa lelah, James tidak pernah lupa untuk mengecek putrinya. Ia menuju kamar Anna, ia membuka ointu kamar Anna ternyata Anna sudah terlelap. Ia menyalakan lampu lalu menyempatkan diri untuk mengecup luncak kepala putrinya.
"Good night honey, semoga kau minpi indah. Ayah menyayangimu," ujar James.
Ia mematikan lampu sebelum keluar dari kamar Anna.