Kehadiran Vince

1301 Kata
Tok tok tok!! Terdengar suara ketukan, Anna membuka selimutnya ia bangkit dari kasur dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tok tok tok Suara ketukan itu berasal dari balkon, Anna turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu balkon. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Jujur saja Anna merasa takut untuk membuka pintu itu, tapi ia juga merasa penasaran akan suara ketukan itu. Anna membuka pintu balkon, terlihat Vincent yang berdiri di hadapannya. Tubuh Anna terpaku, nafasnya memburu, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Vincent ada disini? "Apa aku bisa bicara denganmu?" tanya Vincent. Anna melihat ke kanan dan ke kiri, ia benar-benar tidak menduga bahwa Vincent ada di sini, ia berada tepat di hadapan Anna, tapi bagaimana mungkin? "Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Anna dengan bingung. "Memanjat, aku memanjat." Anna berjalan melihat kearah bawah, bagaimana bisa ia memanjat balkon tinggi tanpa memakai tangga? Anna menoleh, "Apa yang membawamu kesini?" tanya Anna langsung pada intinya. Ia tidak ingin lama-lama berbicara dengan Vincent. "Apa aku telah menyakiti perasaanmu, Anna? Maaf jika aku melakukannya, maaf jika aku telah menyakitimu," ucap Vincent. "Kau datang kesini hanya untuk membahas hal ini? Demi Tuhan, aku tidak ingin membahas hal ini lagi Vince, aku tidak peduli apapun yang menyangkut dirimu, tolong mengertilah." Vincent terdiam cukup lama, entah ia sedang memikirkan apa. "Aku tidak bisa menjelaskan siapa gadis itu," ucap Vincent lagi. "Mengapa? Mengapa kau tidak ingin menjelaskan siapa gadis itu padaku? Bukankah kau percaya padaku, Vince? Lalu mengapa?" "Aku tidak menjelaskan padamu karena menurutku hal itu tidak penting, tidak penting untuk membahas dirinya," ucap Vincent lagi. "Kalau begitu kembalilah, kembalilah ke rumahmu dan segera pergi dari sini," putus Anna cepat. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya berniat untuk menutup pintu tapi Vinceny malah masuk ke dalam kamar Anna. "Aku tidak aka keluar dari sini jika kau belum memaafkan aku, aku tidak akan pernah keluar dari sini, sungguh." "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan padaku? Apa yang kau inginkan sebenarnya dariku?" tanya Anna, ia benar-benar merasa muak dengan sikap Vincent yang tidak jelas ini. "Tidak ada yang ku inginkan darimu, Anna. Sungguh,aku sama sekali tidak ada niatan untuk memanfaatkan dirimu, cobalah untuk mengerti tentang keadaan ku saat ini. Aku mempunyai banyak hal mengapa tidak mau menjelaskan segalanya padamu." Vincent menatap Anna dengan tatapan serius. "Sekarang katakan padaku apa tujuanmu ingin aku memaafkanmu? Bukankah sudah jelas jika kita bukan siapa-siapa? Kau sendiri yang mengatakan hal ini waktu itu!!" "Anna..." Anna melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, "Tolong pergi dari sini, aku tidak ingin bicara denganmu. Cukup ini saja, jangan pernah datang kesini lagi, tolong." Anna menatap Vincent dengan tatapan memelas. "Jika aku mengatakan aku datang kesini untuk memberi tahumu bahwa aku menyukaimu, apa kau akan percaya?" tanya Vincent lagi. "Tidak!!" Vincent terdiam, ia yakin saat ini Anna benar-benar merasa sangat kesal. Ia memilih untuk keluar dari kamar Anna. "Baiklah aku akan pergi," ujar Vincent. Anna tidak merespon, ia langsung menutup pintu ketika Vincent sudah keluar dari kamarnya. Anna tidak benar-benar menutupnya atau tidak peduli, ia mengintip Vincent dari balik jendela, ia terus memperhatikan Vincent, ia takut jika Vincent sampai terjatuh atau semacamnya. "Terkadang kau membingungkan, Vince." Anna mengamati Vincent dari balik jendela, jujur saja ia merasa kasihan karena telah berbuat seperti ini pada Vincent. Tapi Anna tidak ingin terus-menerus bersikap baik pada Vincent, ia kecewa dengan apa yang telah ia katakan waktu itu tapi kini ia datang dan meminta maaf, Anna tidak bisa berbohong bahwa ini belum bisa Anna maafkan. Sekali pun ia mencoba untuk melupakannya tetap tidak bisa, Anna tetap merasa terluka. *** Sedari tadi Leo memperhatikan Anna dari kejauhan. Ia melihat Anna akhir-akhir ini banyak diam, tidak seperti biasanya. Leo tau ini ada sangkut pautnya dengan Vincent karena ia juga melihat perubahan sikap dari Vincent setelah Anna dan dirinya bertengkar. Leo dan Anna jalan berpapasan, Leo bisa melihat cara Anna menatap jalan. Lebih tepatnya ia menatap ke depan dengan tatapan kosong, ia bahkan tidak menyadari bahwa di depannya ada dinding dan untung saja Leo dengan sigap menarik Anna, itu nyaris saja. Anna nyaris menabrak dinding koridor. "Gadis payah! Matamu dimana? Mengapa tidak bisa melihat dinding yang sangat besar ini? Kau hampir saja menabraknya!" ucap Leo dengan kesal. Anna hanya menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku... aku tidak fokus. Maaf sampai mereporkanmu," ujar Anna. Ia tersenyum simpul lalu berniat pergi tapi Leo langsung menghalanginya lagi. "Ini tentang Vincent? Jika kau ingin tau segal hal tentangnya kau bisa bertanya padaku." Ucapan Leo sontak membuat kedua bola mata Anna membulat sempurna, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Leo saat ini. Ia benar-benar berbeda. "T-tapi... mengapa kau ingin menjelaskan segala hal tentang Vince padaku?" tanya Anna. "Karena kau payah! Temui aku nanti di tempat ini saat kelasmu sudah selesai," ujar Leo. Ia melangkah pergi meninggalkan Anna yang masih bingung mencerna kata-kata Leo. Ada apa dengannya? Dia sangat aneh. Biasanya dia hanya akan mencari masalah terus pada Anna, tapi sekarang dia justru ingin membantunya. David yang sedari tadi hanya memperhatikan Anna langsung datang mendekat. Ia melihat setiap peristiwa yang baru saja terjadi antara Anna dan Leo. "Anna," panggil David. Anna menoleh, ia terkejut dengan kehadiran David secara tiba-tiba. "Kau? Sedang apa disini?" tanya Anna. "Aku yang harusnya bertanya, kau sedang apa disini dan sedang membicarakan apa dengan Leo? Ini pertama kalinya aku melihat kalian bicara secara dekat," tutur David. Anna juga setuju, Leo kini mendadak menjadi baik. Anna tidak yakin dengan ini, ia takut malah kecewa nantinya. "Ah, itu... tadi aku tidak fokus dan hampir saja menabrak dinding untung saja dia mau membantuku sehingga keningku tidak jadi terluka," jelas Anna. "Benarkah?" Anna mengangguk. "Baiklah kalau begitu, sekarang kita ke kelas ya?" "Okay!" *** Anna bolak-balik di sekitar koridor. Ia sudah menunggu hampir setengah jam tapi Leo belum juga datang menunjukkan batang hidungnya itu. "Aku sudah menunggu cukup lama disini, apa mungkin dia tidak datang? Tapi dia sendiri yang memintaku untuk menemuinya di sini. Atau jangan-jangan dia sedang mempermainkan aku?" batin Anna. Ia memilih untuk menunggu dahulu. Mungkin saja kelas Leo masih ada jadi dia sedikit terlambat. Cukup lama Anna menunggu, ia mulai merasa bosan. Jujur saja jika bukan karena rasa ingin tahunya yang tinggi Anna tidak akan mau menunggu Leo. "Kupikir kau tidak akan datang." Suara Leo terdengar, Anna langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata Leo sudah datang. "Mengapa lama sekali?" tanya Anna dengan kesal. "Kau yang datang terlalu cepat." Leo berjalan mendekat kearah Anna. "Terserah!" Leo duduk di kursi sambil menyalakan rokok lalu menyesapnya. "Ini masih area kampus, kau tidak boleh merokok sembarangan. Lagipula merokok itu tidak baik untuk kesehatan," tegur Anna. "Kau terlalu banyak bicara. Lantas, apa yang ingin kau ketahui dariku?" Anna terdiam, haruskah ia menanyakan perihal foto itu pada Leo? Leo pasti tau akan hal itu secara mereka adalah sahabat sejak kecil dan tentu apapun yang menyangkut tentang kehidupan Vincent ia pasti akan menceritakannya pada Leo. "Aku... Aku ingin tau kenapa kalian bisa menjadi sahabat? Katakan padaku." Pertanyaan Anna sukses membuat Leo bingung. Pertanyaan yang Anna katakan itu sebenarnya bukan hal yang penting untuk ia ketahui. "Kau ingin menanyakan hal itu? Hal sekecil itu???" "Iya, memangnya kenapa?" Leo membuang puntung rokok yang ia hisap lalu bangkit dan mendekat kearah Anna. "Kau tau, kau adalah gadis yang paling payah yang pernah aku temui," bisik Leo. Anna hanya diam, bahkan saat Leo pergi Anna tetap diam. Anna memilih untuk tidak mencari tahu hal itu. Ia ingat dengan apa yang Vince katakan waktu itu bahwa hal ini adalah privasinya dan tidak pantas bagi Anna untuk tau privasi seseorang tanpa seizin dari orang tersebut. Anna ikut berjalan menyusuri lorong koridor kampus, di depannya masih ada Leo tapi ia sama sekali tidak menoleh. Leo tetap jalan tanpa menoleh sekali pun pada Anna. Mungkin dia kesal. "Lagipula mengapa Leo tiba-tiba begitu baik padaku?" batin Anna Anna bingung, Leo mendadak baik padanya padahal sebelumnya ketika mereka bertemu pasti yang ada hanya makian saja. Dasar aneh!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN