Tote bag

1234 Kata
Anna berangkat ke kampus seperti biasanya, ia diantar oleh James. Hari ini ia sama sekali tidak bersemangat masuk kampus seperti hari-hari sebelumnya. Anna melihat kearah jendela mobil dengan tatapan yang kosong. Anna merasa sangat malas sekarang, ia malas masuk kampus. Seandainya bukan ayahnya yang meminta Anna masuk kampus Anna mungkin tidak ingin masuk lagi hari ini. "Kenapa kau begitu lemas? Apa kau merasa baik-baik saja?" tanya James yang mulai memperhatikan tingkah putrinya. Anna menoleh lalu tersenyum, "Tidak ayah, aku baik-baik saja." "Baiklah kalau begitu, jaga dirimu ya?" "Iya, ayah." Anna kembali tersenyum setelahnya ia berbalik lagi menatap ke arah jendela mobil, melihat lalu-lalang kendaraan. James sejak kemarin memperhatikan Anna bahwa ada yang berbeda dari putrinya. Putrinya sekarang lebih suka murung dengan tatapan yang kosong. James khawatir jika putrinya sampau terlibat masalah di kampus dengan teman-temannya. "Jika ada apa-apa jangan ragu untuk katakan pada ayah, ayah tidak akan memarahi, ayah justru akan mendukung dirimu, jadi cobalah untuk lebih terbuka pada ayah, hem?" ujar James yang langsung mendapat anggukan dari Anna. "Jangan menyimpan masalahmu sendiri, nak. Ayah ada disini untukmu, untuk menemanimu, untuk membagi lukamu, jadi jangan pernah berpikir untuk menyimpan masalahmu sendiri, itu tidak akan baik untukmu, kau mengerti 'kan apa maksud ayah?" "Iya ayah, Anna sangat mengerti dengan apa yang ayah katakan." Mobil James berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus. Anna merasa berat untuk masuk ke dalam, dari kejauhan ia melihat David tengah berdiri di samping pagar kampus, mungkin ia sedang menunggu Anna? Anna tidak ingin membuat David menunggu terlalu lama, ia segera berpamitan sebelum masuk pada James. "Kalau begitu Anna akan masuk, ayah hati-hati di jalan," pesan Anna pada ayahnya sebelum keluar dari mobil. "Iya, honey. Kau jaga dirimu ya, semoga harimu menyenangkan." James mengecup puncak kepala Anna sekilas lalu membiarkan putrinya keluar dari mobil. Saat Anna keluar dari mobil, Anna langsung menemui David. David terlihat kesal karena semalam Anna tidak membalas pesannya. "Bagaimana harimu kemarin? Apa menyenangkan?" tanya Anna untuk basa-basi. David berbalik lalu menatap Anna dengan kesal, "Mengapa kau tidak menjawab pesanku semalam? Aku mengirimimu pesan hingga puluhan tapi kau tidak membalasnya, apa kau tau bahwa aku mencemaskanmu?" Anna tersenyum, "Aku tau bahwa kau sangat mencemaskanku, Vid. Maaf untuk semalam, aku tidak sempat membalas pesanmu karena tubuhku terasa sangat lemas, maaf untuk itu." David memperhatikan mata Anna, ia terlihat seperti orang yang kurang tidur. "Oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, apakah kau dan Vince sedang bertengkar?" tanya David. Anna sontak langsung terkejut, bagaimana bisa David mengetahui akan hal ini?? "Tidakk!" jawab Anna. "Bohong!! Kau berbohong padaku, jika kalian baik-baik saja lalu kenapa Vince datang mencari dirimu padaku? Bukankah seharusnya ia sudah tau jika kau sakit, waktu itu kalian bersama 'kan?" pertanyaan David sukses membungkam mulut Anna. Ia merasa tidak nyaman jika harus berbohong pada David seperti ini. "Jangan membohongiku Anna. Aku tau bahwa telah terjadi sesuatu diantara kalian, benar 'kan?" desak David. Anna tau ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu pada David, David pasti akan langsung mengetahuinya. "Sampai kapan kau akan menyembunyikan hal ini dariku? Baiklah, jika kau belum bisa mengatakannya sekarang, aku bisa mengerti. Sebaiknya kita masuk ke kelas sekarang, ayo?" ajak David. Ia tau ia tidak bisa memaksa Anna untuk bicara jika ia tidak ingin bicara, David akan memberikan Anna waktu sendiri, biarkan dia sendiri yang datang dan menjelaskan semuanya pada David, ia merasa lebih baik jika Anna sendiri yang datang dan menceritakan segalanya tanpa harus David minta. Saat tengah melewati koridor, Anna melihat Vincent dan Leo yang juga berjalan berlawanan arah dari mereka. Ia berjalan semakin mendekat kearah Anna dan David, ia merasa sangat malu untuk bertemu Vincent, dengan cepat Anna menarik tangan David agar memutar arah, ia benar-benar ingin menghindar Vincent sekarang, Anna tidak ingin bicara dengannya. Jangankan bertemu, bicara saja Anna enggan. "Anna tunggu!!" panggil Leo. Anna berhenti, kali ini yang memanggilnya bukan Vincent melainkan Leo, orang yang menyebalkan. Anna berbalik, "Ada apa?" balas Anna. Leo terlihat berjalan lebih cepat kearah Anna, ia membawa sebuah tote bag entah berisi apa. "Ini baju kecilmu, aku mengembalikkannya," ujar Leo dengan santai. Ia mengulurkan tangannya yang memegang tote bag dan Anna langsung menerimanya. "Aku tidak ingat kapan kau pulang," balas Anna setelah ia menerima tote bag itu. "Tentu saja kau tidak ingat, tidurmu sangat lelap di sofa, itu sebabnya aku tidak pamit pulang." "Iya, aku bahkan tidak ingat kapan ayahku memindahkan aku ke kamar, aku benar-benar lupa," timpal Anna. Perubahan wajah Leo terlihat jelas ketika Anna mengatakan hal itu, seperti ada yang ia tutupi. "Ada apa?" tanya Anna. "Tidak ada." Setelah mengatakan hal itu Leo melenggang pergi meninggalkan Anna. Vincent lewat dan langsung berpapasan dengan Anna tapi tidak ada satupun diantara mereka yang menyapa, Anna bahkan memalingkan wajahnya ketika Vincent lewat. Setelah Anna rasa Vincent cukup jauh, Anna langsung menarik tangan David agar bergegas. "Bagaimana bisa pakaianmu ada padanya?" tanya David heran. "Dia meminjam pakaianku," jawaba Anna dengan santai. "T-tapi bagaimana bisa?" David benar-benar tidak percaya, Ia tidak menyangka seorang Leo bisa memakai pakaian Anna yang kecil itu. "Ayo kita ke kelas, aku khawatir jika kita sampau terlambat masuk ke dalam, ini bisa menjadi masalah untuk kita, kau tahu?" "Apa kalian tinggal bersama? Oh, Ya Tuhan bagaimana bisa ini terjadi diantara kalian?" teriak David. Anna langsung menutup mulut David dengan tangannya, "Diamlah!!! Nanti orang-orang mendengarnya!!" bisik Anna. "Cepat jelaskan padaku!! Bagaimana bisa kalian bersama dan bahkan ia sampai meminjam pakaianmu? Ayo cerita dengan jelas Anna," desak David. Ia tidak akan berhenti jika Anna tidak menjelaskannya secara rinci, karena ia tahu Anna dan )39 itu tidak bisa akur, mereka akan selalu bertengkar untuk setiap masalah yang ada. Anna tampak memikirkan sesuatu, ia berhenti lalu menatap Vincent dengan tatapan yang serius, "Kami kehujanan, lalu dia menggigil. Jelas aku tidak mungkin membiarkannya sampai mati dalam keadaan menggigil di rumahku, itulah sebabnya mengapa aku meminjamkannya pakaianku padanya," jelas Anna. Ia menghela nafas pelan kemudian melanjutkan jalannya menuju kelas. Ada banyak pertanyaan yang menari-nari diotak David, ia meras bingung bagaimana hal ini bisa terjadi. Mengapa Anna sampai mengizinkan Leo masuk ke rumahnya? David tidak habis pikir dengan pola pikir Anna yang sebenarnya. *** Anna sampai dirumah dengan di jemput oleh ayahnya setelah pulang mengantar Anna James kembali ke kantornya, itulah rutinitas yang kadang di lakukan oleh James. Ia akan menyempatkan waktu untuk menjemput putrinya. Anna masuk dalam kamarnya, ia meletakkan barang-barang yang ia bawa ke meja lalu merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Anna teringat baju yang Leo kembalikan, Anna kemudian bangkit dari kasur lalu berjalan menuju meja untuk membuka tote bag yang diberikan Leo padanya tadi saat di kampus. Anna terkejut ketika mendapati baju yang dimasukkan oleh Leo. Satu baju miliknya dan satu lagi baju yang entah siapa pemiliknya, apa mungkin ini baju milik Leo? Tapi bagaimana mungkin Leo menyimpan baju berwarna pastel seperti ini? Anna tidak peduli soal baju itu. Ia kembali memasukkannya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia tidur. Anna memilih untuk tidur saja ketika ia merasa sangat lelah, dan banyak pikiran itu akan membuatnya merasa jauh lebih baik. Entah apa yang mendorongnya untuk pergi ke balkon kamarnya. Melihat kondisi rumah Vincent merupakan hal yang candu bagi Anna. Apakah dia harus melakukan hal ini lagi? Tapi untuk apa? Anna melangkah menuju balkon, ia melihat seorang pria tengah berdiri di balkon yang langsung berhadapan langsung dengan Anna, dia adalah Vincent. Anna sangat enggan melihat Vincent sekarang, ia segera menutup pintu balkonnya dan menutup jendela kamarnya. Ia langsung melompat keatas kasurnya dan menutup tubuhnya dengan kasur tebalnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN