Diculik

1223 Kata
Kedua mata Anna membulat, ia tidak mengerti dengan apa yang Leo katakan barusan. "Ada apa? Mengapa kau terlihat sangat shock? Jangan-jangan kau belum pernah diculik, ya? Ah sepertinya iya, begini saja bagaimana jika aku yang menculikmu untuk yang pertama kalinya agar kau bisa merasakannya, setuju?" Anna mengernyitkan dahinya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang coba Leo katakan. "Apa yang sebenarnya kau coba untuk katakan?" tanya Anna. "Ck, ck, ck, selain menyusahkan kau juga bodoh ternyata. Apa kau tuli? Kau tidak dengar bahwa aku ingin menculikmu?" Leo turun dari motornya lalu mengambil helm yang sempat ia bawa tadi, tanpa pikir panjang ia memakaikan Anna helm tanpa persetujuan dari Anna, ia juga melepas jaketnya dan memasangkannya pada Anna tanpa seizin Anna juga, ia melakukannya tanpa berpikir dahulu. Anna mengatupkan mulutnya, ia tidak mampu berkata-kata. "Mengapa kau melihat ku seperti itu? Apa kau belum pernah melihat pria yang setampan diriku?" tanya Leo dengan penuh percaya diri. Anna memalingkan wajahnya, jika ia terus meladeni Leo mereka tidak akan pernah berhenti untuk bertengkar. "Katakan apa maksud dari ini semua?" desak Anna. "Ayo naik," perintah Leo. Anna menoleh lalu menatap Leo dengan bingung. "Apa katamu?" "AYO NAIK!!" ulang Leo tapi kali ini dengan penuh penekanan. "Tidak mau," balas Anna, ia hendak berjalan pergi tapi Leo langsung memegang tangannya untuk menghentikannya. "Lepas!!" "Ayo naik!" "LEPASKAN!!" "AYO CEPAT NAIK!!" Anna menatap Leo dengan penuh pernyataan yang ada dibenaknya, Leo benar-benar pria yang sangat aneh. Anna benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Ia tidak mengerti dengan sikap Leo. "Sebenarnya apa yang coba ingin kau lakukan, huh?" tanya Anna. "Sudah ku katakan bukan bahwa aku ingin menculikmu? Iya ini bentuk penculikanku," jawab Leo dengan santai. "Tapi kenapa? Kenapa kau ingin menculik diriku?" "Karena kau adalah gadis yang sangat menyebalkan!!" Leo langsung menarik tangan Anna agar ia lebih dekat dengannya dan mengangkat tubuh Anna naik ke atas motor disusul dirinya. Mereka berdua tiba di rumah Anna dalam keadaan basah kuyup. Leo terlihat sangat kedinginan, wajahnya memerah. Bagaimana tidak? Ia awalnya memakai jaket tapi ia berikan pada Anna jadi ia hanya memakai kaos saja. Anna merasa tidak enak, setelah perdebatan yang cukup lama tadi ternyata Anna tidak bisa menyembunyikan sikap tidak teganya ia sebagai seorang manusia. Tanpa pikir panjang Anna meminta agar Leo masuk ke dalam rumahnya untuk mengeringkan pakaian dan menghangatkan tubuh. "Ayo masuk, ayahku sedang tidak ada dirumah. Kau bisa tetap disini sampai hujan reda," ujar Anna yang langsung mendapat anggukan dari Leo, kali ini ia tidak ingin berdebat dengan Anna. Ia menurut dan masuk ke dalam rumah Anna dan benar saja ternyata James tidak ada dirumah. "Kau masuklah ke dalam kamar itu, aku akan kembali dengan membawakanmu pakaian baru dan minuman hangat." Setelah mengatakan itu Anna pamit dan langsung segera menuju kamarnya. Jujur saja ia bingung akan memberikan Leo baju siapa dan yang mana? Ia tidak mungkin memberikan Leo baju milik ayahnya, lantas baju siapa yang akan Leo kenakan? Tidak membutuhkan waktu yang lama, Anna sudah datang dengan membawa pakaian dan teh hangat, ia juga sudah ganti baju. "Pakailah baju ini, aku tidak baju lain lagi. Kau tidak usah khawatir, baju itu belum pernah ku pakai, ayahku baru saja membelikan ini untukku dan sizenya juga mungkin cocok untukmu," ucap Anna. Leo menerima baju itu lalu ia kembali menatap Anna. "Ada apa? Mengapa kau menatapku seperti itu? Cepat masuk dan ganti bajumu, setelah itu minum teh hangat ini!" Leo lagi dan lagi menurut, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju sementara Anna sedang membersihkan lantai yang basah. Leo keluar dengan memakai baju Anna, bajunya terlihat cukup sempit ditubuh Leo sehingga bentuk tubuh dan dadanya yang bidang bisa terlihat jelas. "Apa kau tidak punya baju yang lebih besar dari ini? Baju ini terlalu kecil untukku," keluh Leo. "Aku hanya punya itu saja. Atau kau ingin memakai baju milik ayahku?" "Tentu tidak!!" balas Leo cepat. "Cepat minum teh ini, setelah minum teh kau pasti akan merasa jauh lebih baik, ayo." Anna memberi segelas teh pada Leo tapi Leo terlihat ragu untuk mengambilnya. "Kenapa? Kau takut jika teh ini telah ku beri racun? Tidak ada racun di dalamnya! Cukup minum saja dan semua akan selesai, jangan hanya menatapku seperti itu!" ketus Anna. "Kau sangat cerewet!" balas Leo, ia mengambil gelas itu dari Anna lalu menenggaknya hingga habis, Anna sedikit tercengang dengan itu. "Sudah," jawab Leo dengan santai. Ia memberikan Anna kembali gelas itu. "Bagus, tetaplah disini dan jangan coba-coba untuk keluar dari kamar ini. Kau bisa pergi ketika hujan sudah reda," ujar Anna. "Bagaimana jika James pulang? Apa yang akan kau katakan padanya?" "Dia tidak akan tau kau ada disini jika kau tetap diam, okey? Lagipula ayahku pulang larut malam, tidak perlu cemas." Anna keluar dari ruangan itu dan membiarkan Leo untuk beristirahat. Ia berhenti dan duduk di sofa, banyak hal yang sudah terjadi hari ini dan Anna merasa sangat lelah. Malasah yang terjadi antara Vincent telah membuat Anna menjadi seperti ini. *** Jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi, hari ini Anna sangat malas berangkat ke kampus. Ia bahkan mengabaikan pesan yang dikirim David padanya. Anna hanya berbaring dibawah selimut tebal padahal hari sudah sangat siang. Tok tok tok!! James membuka pintu, ia terkejut ketika melihat putrinya sama sekali masih berada di kasur dan jendela kamarnya sama sekali belum dibuka. "Anna? Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya James, ia mendekati putrinya lalu mengusap dahi putrinya itu. "Aku merasa tidak enak badan ayah, hari ini aku tidak akan ke kampus dulu, tubuhku terasa sangat lemas sekali," ujar Anna. "Baiklah, tak apa. Ayah akan membuatkanmu smoothies agar kau bisa merasa jauh lebih baik, dengan meminum smoothies kau akan merasa lebih segar, tunggu ya?" Anna hanya mengangguk mengiyakan. Bagaimana ia tidak merasa lemas, kemarin ia diguyur hujan yang sangat deras tapi James sama sekali tidak mengetahuinya. Mungkin saat ini Anna sedang demam. "Mengapa rasanya sangat menyakitkan Tuhan?" batin Anna. Ia mengingat kejadian kemarin, kejadian dimana ia sudah berharap lebih dengan apa yang akan Vincent katakan, tapi ternyata ia tidak mendapatkan hasil apa-apa, bahkan ia hanya mendapat bentakan saja. Ini benar-benar diluar dugaan. Anna langsung teringat soal Leo, ia bangkit dari kasurnya dan berlari keluar kamarnya. Ia lupa dengan apa yang terjadi semalam, entah Leo sudah pergi apa belum. Anna langsung menuju ke ruangan dimana Leo semalam berada, dan saat ia membuka pintu ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di dalam sana, akhirnya Anna bisa menghela nafas dengan lega. Ia kembali menutup pintu dan langsung kembali ke kamarny, ia khawatir tanpa sebab. Anna bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa ada di kamarnya dibawah selimut tebal ini. Apa mungkin ayahnya yang telah memindahkannya semalam? Anna benar-benar lupa akan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah Leo sama sekali tidak ketahuan itu saja sudah membuat Anna merasa lega. "Untung saja semalam ayah tidak tau bahwa Leo datang lagi ke rumah ini, jika ayah tau aku pasti bisa kena marah," batin Anna. Sekarang ia meras lebih segar akibat berlari tadi. *** James sudah pamit pergi kerja tadi, Anna memutuskan untuk tidak ke kampus, ia ingin menghabiskan waktu di rumah. Lagi pula ia belum merasa tenang, ia takut jika harus bertemu dengan Vincent di kampus Anna belum siap untuk hal itu. Akan lebih baik jika ia tinggal di rumah saja, itu akan membuatnya lebih tenang. Anna mengirimi David pesan, semalam Anna tidak sempat membuka ponselnya karena basah dan sekarang ia baru sempat mengabari David, mungkin David sudah sangat cemas disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN