Vincent kembali, saat ia sampai ke ruang dimana ia dan Anna tadi berada ternyata Anna sudah tidak ada disana. Ia langsung menuju jendela besar lalu melihat kearah keluar, dan dari kejauhan ia melihat Anna tengah berjalan menjauh dari rumah. Vincent tidak akan membiarkan Anna pulang sendiri karena yang telah membawanya ke tempat ini adalah dirinya, dan ia memiliki tanggung jawab pada Anna.
Anna benar-benar meras aneh sekarang. Harusnya ia tidak memikirkan hal itu, harusnya tidak berpikir bahwa dia itu spesial bagi Vincent, itu tidak akan mungkin. Saat ini Anna yakin gadis yang ada di foto itu adalah gadis yang memiliki hubungan yang erat dengan Vincent, dugaannya tidak mungkin salah.
Vincent berhenti tepat di depan Anna. Ia turun dari motornya dan menatap Anna dengan kesal.
"Apa kau kehilangan akal? Darimana kau dapat pikiran untuk pulang sendiri? Au tadi memintamu untuk menungguku, bukan? Tapi mengapa kau keras kepala?" ujar Vincent dengan kesal. Anna hanya diam sambil menatap mata Vincent, ia tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya hanya fokus pada mata Vincent, mata biru Vincent yang menggoda.
"Kau siapa? Mengapa aku harus meminta izin dulu padamu sebelum aku pulang? Bisakah kau pergi? Aku ingin pulang sendiri, aku tidak butuh dirimu Vincent, tolong!!" mohon Anna. Ada yang beda dari cara Anna berbicara, ini bukan Anna. Biasanya ia memanggil Vincent dengan sebutan Vince tapi sekarang ia memanggil dengan sebutan Vincent.
"Ada apa denganmu? Apa aku mengatakan hal yang salah padamu? Ayo katakan!"
"Biarkan aku pergi!" Anna berjalan meninggalkan Vincent. Vincent terus memanggil dirinya tapi Anna tidak peduli, ia bahkan berjalan lebih cepat.
Ini mungkin hanya hal sepele, tapi jika ada di posisi seperti ini tentu perasaan kecewa tidak bisa di hindari, dan itulah yang coba Anna jelaskan sekarang. Ia merasa sangat kecewa karena awalnya ia merasa bahwa kehadirannya itu merupakan hal spesial untuk Vincent, tapi ternyata ia salah. Ini adalah kesalahannya yang terlalu gampang percaya dengan apa yang Vincent katakan dan bagaimana perlakuan Vincent padanya, harusnya ia tidak sebodoh itu.
Jujur saja, Anna merasa sangat takut pulang sendiri. Ia bahkan tidak yakin akan sampai rumah, ia tidak tau jalan pulang. Tapi Anna juga tidak ingin Vincent sampai berpikir bahwa Anna membutuhkan dirinya. Ia tidak mau Vincent berpikir bahwa Anna tidak bisa apa-apa tanpa ada kehadirannya.
"Aku sangat bodoh!!" caci Anna pada dirinya sendiri. Hal ini benar-benar telah menyakiti hati Anna, Anna benar-benar merasa sangat terluka, terluka karena kesalahan yang ia buat sendiri.
Vincent hanya diam menatap punggung Anna yang mungil yang semakin menjauh dari pandangannya. Langit mendadak gelap, entah apa yang bisa Vincent lakukan sekarang.
"Anna berhenti disana! Jangan coba-coba untuk melangkah!" teriak Vincent. Ia tidak mungkin membiarkan Anna pulang seorang diri secara Anna baru datang ke daerah ini untuk yang pertama kalinya lalu bagaimana caranya dia bisa pulang sendiri?
Anna tidak menggubris, menoleh saja ia enggan. Anna akan tetap pada keputusannya, ia tidak akan mengubahnya sekalipun Vincent memohon padanya.
"Ada apa dengannya? Apa ia marah padaku? Tapi kenapa?" batin Vincent, ia bahkan tidak merasa telah membuat kesalahan pada Anna. Tapi sebenarnya apa yang membuat Anna mendadak jadi seperti ini? Vincent benar-benar sangat bingung.
"Jalan satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah dengan memaksanya untuk pulang denganku! Itu adalah satu-satunya jalan keluarnya, jika ia tetap menolak maka aku akan memaksanya," batin Vincent. Ia kembali naik ke motornya untuk menyusul Anna lagi.
Vincent menghentikan motornya tepat di depan Anna, ia segera turun lalu menarik tangan Anna agar ia mau naik ke atas motornya, ia tidak peduli jika Anna akan menjerit.
"Ayo!! Kau harus ikut denganku, aku akan mengantarmu pulang jika tidak kau pasti akan di guyur hujan dan kau bisa sakit." Vincent terus berusaha memaksa Anna agar ia mau naik ke atas motornya.
"Lepaskan aku Vince!! Kau tidak punya hak untuk memaksaku untuk ikut denganmu! Memangnya kau pikir kau itu siapa, huh?!" teriak Anna dengan penuh emosi.
Vincent tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Anna. Sebelumnya Anna tidak pernah bertindak seperti ini, Vincent yakin ada sesuatu yang telah membuatnya seperti ini tapi Vincent tidak tau itu apa.
"Jangan menguji kesabaran ku Anna, ayo naik!!" perintah Vincent, sedari tadi ia mencoba untuk tetap bersikap tenang menghadapi Anna.
"Dan kau tolong jangan menguji kesabaran ku! Jika ku katakan tidak, itu berarti tidak. Tolong!!" balas Anna.
"Mengapa kau sangat keras kepala Anna?! Apa kau tidak memikirkan bahaya yang bisa menimpamu jika kau nekad melakukan hal ini, huh? Apa kau telah kehilangan akal?" teriak Vincent dengan penuh emosi, ia menatap Anna dengan tatapan tajam, tatapan yang belum pernah Anna lihat ada dimata Vincent.
Anna terdiam cukup lama, ia hanya bisa menatap kedua bola mata Vincent yang sedang menatap tajam kearahnya. Anna menghela nafas pelan, ia memalingkan wajahnya sesaat lalu kembali menatap Vincent.
"Mengapa kau harus menempatkan ku pada situasi seperti ini Vince? Apa maksud dirimu? Kau telah menyakiti perasaanku, kau benar-benar telah meyakiti perasaanku!" Anna tidak bisa menahannya lagi. Satu persatu air matanya jatuh membasahi kedua pipinya itu. "Kau bahkan tidak tau apa yang telah kau perbuat padaku, kau bahkan tidak menyadari bahwa telah menyakiti perasan diriku."
"Anna, berhentilah menangis. Aku minta maaf," ujar Vincent, ia terlihat sangat panik.
"Kau datang padaku, dan membuatku merasa bahwa aku adalah gadis yang beruntung bisa dekat denganmu. Kau membawaku terbang keatas langit lalu melemparku kembali ke bumi. Aku benar-benar merasa sangat terluka, Vince." Anna menatap kedua bola mata Vincent dengan air mata yang membasahi kedua pipi tirusnya itu.
"A-aku... aku tidak mengerti," ujar Vincent.
Anna menarik nafas pelan, "Tentu kau tidak mengerti. Lupakan saja, dan tolong jangan mengikuti diriku, itu akan jauh lebih menyakiti hatiku, ku mohon!!" Anna menatao Vincent dengan tatapan memelas, ia kemudian kembali melanjutkan perjalanannya tanpa mendengar respon dari Vincent.
Vincent mengusap wajahnya dengan kasar, "Shhh, apa yang telah aku perbuat padanya? Mengapa aku menyakiti dirinya?"
Vincent tidak mungkin bisa mengantar Anna pulang, jalan satu-satunya saat ini adalah Leo. Vincent harus segera menemui Leo dan memaksanya agar mau mengantar Anna pulang tidak peduli jika Leo menolak.
Vincent kembali ke tempatnya semula, ia kemudian langsung menuju ke kamar Leo, terlihat Leo sedang asik menonton tv sambil menyesap rokok.
"Kau? Kau sudah kembali? Bagaimana dengan gadis itu? Apa--"
"Kau harus mengantarnya pulang!" sahut Vincent dengan cepat.
"Aku? Mengantarnya?" Leo bangkit dari kursinya lalu menatap Vincent dengan bingung. "Mengapa harus aku? Bukankah dia adalah kekasihmu yang baru? Atau jangan-jangan kalian se--"
"Cukup Leo, ini bukan waktunya untuk bercanda. Dia marah padaku dan mengatakan bahwa aku telah menyakiti perasaannya dan sekarang ia ingin pulang sendiri padahal kondisinya hujan akan turun sebentar lagi," jelas Vincent pada Leo.
"Sudah ku katakan bahwa gadis itu hanya bisa merepotkan saja tapi kau tidak mau mendengarku, dan lihat sekarang? Dia menyusahkan dirimu!" balas Leo dengan santai.
"Leo tolong, ini bukan waktunya untuk bercanda. Kau harus mengantarnya pulang, jika tidak dia bisa di guyur hujan, kau tidak lihat langit sudah gelap. Tolong lakukan sekali saja untukku."
"Tidak!" tolak Leo.
"Cepatlahh. Aku tidak sedang main-main sekarang, kita tidak tau bagaimana keadaan yang sebenarnya di luar, jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu, James akan membunuh kita berdua,"
"Ah, kalian sama-sama saja suka merepotkan! Lagipula ada apa denganmu? Mengapa kau harus memilih putri James diantara banyaknya gadis? Baiklah, aku akan mengantarnya, tunggu disini!" putus Leo, ia terpaksa setuju padahal sebenarnya ia sangat tidak ingin. Ini terpaksa ia lakukan.
***
Motor Leo berhenti tepat di samping Anna, Anna langsung menoleh ia pikir yang datang lagi adalah Vincent tapi ternyata ia salah.
"Mengapa kau kemari?" tanya Anna dengan raut wajah yang terlihat pucat.
"Untuk menculik dirimu!!" jawab Leo sekenanya.
"APAAA?"