Di sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Anna hanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri, begitu pun juga dengan Vincent. Vincent melirik wajah Anna dari balik spion motornya, Anna terlihat sedang memikirkan sesuatu, tapi Vincent bingung harus bertanya apa.
Motor Vincent memasuki area hutan-hutan yang di sekelilingnya terdapat pohon pinus. Anna heran dengan Vincent, mengapa ia membawanya ke tempat seperti ini. Apa yang membuatnya merasa bahwa Anna harus ikut dengannya ke tempat ini.
Dari kejauhan Anna melihat sebuah rumah yang cukup besar dan motor Vincent berhenti di depan rumah itu, Anna segera turun disusul oleh Vincent.
Vincent bahkan belum mengatakan apa-apa. Suasana rumah tempat mereka berhenti cukup nyaman dan tenang.
"Rumah siapa ini? Dan mengapa kau mengajakku kesini?" tanya Anna, ia mencoba memberanikan diri bertanya pada Vincent.
"Rumah ini... rumah ini milik Leo. Ayo masuk," ajak Vincent. Sontak mata Anna membulat, mengapa Vincent mengajaknya datang ke rumah Leo? Untuk apa?
"Tunggu, tapi untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Anna lagi.
"Tidak ada, apa salah jika aku ingin berbagi banyak hal denganmu? Kau tidak usah takut, Leo tidak menyakitimu, dia bukan orang jahat," timpal Vincent, ia tersenyum lalu memegang tangan Anna dan membawanya masuk.
Rumah Leo lumayan besar dengan nuansa abu-abu. Banyak foto-foto yang dipajang di dinding setiap ruangan yang ada di rumah itu. Foto-foto yang berisi anak-anak gang black catcher.
Anna mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang ada, ia seperti mencari seseorang.
"Kau mencari Leo?" tanya Vincent.
"Hm, tidak. Rumah ini sangat sepi, apa tidak ada orang?"
"Ada, Leo ada di dalam ruangannya. Apa kau ingin aku memanggilnya?" tanya Vincent lagi.
Anna menatap Vincent dengan tatapan bingung, "Untuk apa? Lagipula mengapa kau mengajakku kesini? Bagaimana jika dia tidak suka bila aku berada disini?"
"Siapa yang datang?" Leo tiba-tiba muncul, ia terkejut dengan kehadiran Anna tiba-tiba.
"Kau?? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Leo, ia langsung datang mendekat ke arah Anna.
"Vince yang membawa ku kesini!" ketus Anna.
Leo langsung menatap Vincent, "Mengapa kau membawa gadis ini ke tempat rahasia kita? Bagaimana jika dia membocorkannya? Kita bisa celaka lagi!" ucap Leo dengan kesal.
"Kau terlalu khawatir! Anna bukanlah musuh kita jadi apa salahnya jika aku membawanya kesini?"
"Dia memang bukan musuh kita tapi dia adalah orang lain. Dan kau tau siapa ayahnya bukan? Anak-anak tidak akan suka jika dia ada disini, Vince." Leo benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
Anna merasa jika kehadirannya tidak di harapkan di tempat ini, "Ku mohon antar aku pulang, Vince." Anna menatap Vincent dengan tatapan memohon.
"Kita baru saja sampai, mengapa sangat terburu-buru?" ujar Vincent.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu membawaku ke tempat ini, tapi ini bukanlah tempat yang seharusnya aku ada. Aku tidak ingin sampai teman-teman kalian tau bahwa ada orang lain yang datang ke tempat berkumpulnya mereka, mereka pasti akan sangat marah."
"Tidak ada yang akan marah! Siapa yang bisa marah padaku? Aku bahkan tidak peduli dengan emosi mereka," jawab Vincent dengan santai, ia melirik Leo sekilas yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Ayo Vince, antar aku pulang. Jika kau tidak ingin mengantarku... aku akan coba untuk pulang sendiri," putus Anna.
"Jangan, diluar sana berbahaya, kau mungkin tidak akan selamat jika berani keluar sendirian dari rumah ini. Rumah ini di kelilingi hutan dan tidak menutup kemungkinan bahwa daerah ini aman dari berbagai hewan buas," sahut Leo. Anna langsung berbalik dan menatap Leo. Apakah Leo baru saja menakut-nakutinya?
"Bukannya kau ingin menanyakan sesuatu padaku? Katakan disini saja." Kini Vincent yang bersuara, ia menatap Anna dengan tatapan yang serius. Ia tidak mungkin lupa dengan pesan yang Anna kirimkan padanya semalam.
"Eh itu... aku sepertinya lupa. Aku tidak ingat,"
"Katakan saja jika kau tidak berani bicara jika aku ada disini. Baiklah, aku akan masuk. Aku tidak akan menjadi orang ketiga dianatara kalian," sahut Leo. Ia berbalik menuju ke ruangannya kembali.
"Ish, dasar menyebalkan!"
"Jangan terlalu membencinya, perasaan benci itu bisa berubah, loh. Bisa saja tiba-tiba kau menyukainya." Vincent berjalan menuju sofa lalu duduk.
"Ah, kurasa itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menyukainya? Melihatnya saja membuatku sangat muak!"
"Hati-hati dengan ucapanmu. Oh iya, sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku? Ada masalah apa yang mengganggu pikiranmu, huh?"
"Mengapa kau sangat ingin tahu? Apakah... apakah kau membawa ku kesini hanya untuk menanyakan apa yang ingin aku katakan padamu?" tanya Anna. Ia masih berdiri di tempatnya semula sementara Vincent sudah duduk di sofa.
Vincent diam, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Katakan."
"Itu alasan salah satunya. Tapi, alasan utamaku membawamu kesini karena aku ingin memperlihatkan tempatku ketika aku sedang tidak berada di rumah. Aku berani mengajakmu kesini karena aku percaya padamu, apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa kau adalah satu-satunya gadis yang ku percayai saat ini?"
Degg!!
Anna tidak tau harus menjawab apa, jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya memburu.
"Aku... aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan barusan," ucap Anna, ia menghela nafas pelan, lalu tersenyum ke arah Vincent. Senyuman yang sangat manis, itu menurut Vincent.
"Kau tidak percaya? Baiklah, tak apa. Tapi apa yang aku katakan itu benar, aku mempercayai mu. Aku tau kau tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti perasaan orang lain."
Anna ingat soal foto itu, harusnya jika Vincent percaya padanya, ia tidak mungkin menutupi soal gadis itu. Apa spesialnya gadis itu sampai Vincent tidak ingin memberi tahu apa hubungan mereka?
"Katakan, apa aku satu-satunya gadis yang bisa kau percaya? Jika iya, coba jelaskan padaku mengapa semuanya jadi seperti ini? Maksudku apa tujuan dirimu mendekatiku? Untuk apa?" Mata Anna tiba-tiba berkaca-kaca, ia menjadi sangat emosional.
"Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Jika aku mengatakan bahwa aku percaya padamu, itu benar. Urusan kau percaya soal ini atau tidak, tak masalah."
"Lantas coba jelaskan, siapa gadis itu? Gadis yang fotonya kau pajang di rumahmu. Gadis yang kau tutupi dariku. Aku tidak tau mengapa aku harus menanyakan hal ini padamu, dan mungkin bagimu ini bukanlah hal penting tapi bagiku ini sangat penting. Aku harus tau apa hubungan yang kalian miliki, katakan padaku, tolong!!" mohon Anna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Anna ada apa denganmu? Apa pentingnya foto itu? Mengapa kau sangat ingin tau soal itu, huh? Memangnya apa hakmu untuk mengetahui segala hal tentang kehidupanku? Kau tidak punya hak menanyakan hal yang menyangkut privasiku!!" sarkas Vincent.
Deg!!
Jatung Anna berdebar cepat, nafasnya memburu, manik matanya melebar dan sudah berkaca-kaca
"Aku..." Anna terdiam, ia menghela nafas pelan mencoba untuk tetap bersikap tenang, sama seperti biasanya.
"Aku hanya ingin menanyakan soal itu padamu. Jika tidak ingin menjawab tak apa, aku tidak akan memaksamu. Semua sudah selesai, apakah aku bisa pulang?"
Entah kenapa Anna merasa sangat kecewa, ia sungguh mengira jika ia yang menanyakannya sendiri Vincent akan menjawab tapi ternyata dugaannya salah. Ia salah mengartikan kedekatan mereka, Anna benar-benar sangat bodoh.
"Pulang? Tunggu.. aku akan mengantarmu." Vincent bangkit dari kursi lalu memasang kembali jaketnya dan mengambil kunci motornya berniat untuk mengantar Anna. Ia kemudian masuk sebentar ke dalam ruangan yang Anna sendiri tidak tau ruangan apa itu. Anna merasa sangat canggung, ia tidak tau mengapa ia harus ada di tempat ini. Ia memilih untuk pergi tanpa memberi tahu Vincent, ia keluar dari rumah dan berjalan diantara pepohonan pinus yang berjejeran.
Anna tidak tau mengapa ia menjadi sangat emosional, mungkin karena ia meras kecewa?? Ya!! Ia benar-benar meras kecewa tapi ia kecewa karena ulahnya sendiri. Ia telah berharap lebih untuk hal yang sebenarnya tiidak bisa ia tempati untuk berharap, ini adalah kesalahan yang ia lakukan sendiri. Kesalahannya sendirilah yang membuatnya merasakan ini, dan sekarang waktunya dia menikmati hasil pengharapannya.