Anna duduk sambil menikmati sandwich dan segelas s**u untuk sarapannya. James datang dengan menenteng koper dan beberapa tas yang Anna sendiri bingung apa isinya.
"Ayah akan berangkat sekarang," ucap James. Anna berdiri lalu beranjak untuk memeluk ayahnya.
"I will miss you, dad." Anna memeluk ayahnya dengan erat.
"Me too, honey. Ayah akan berangkat sekarang, teman-teman ayah sudah menunggu. Jaga dirimu baik-baik, beberapa hari lagi ayah akan kembali."
Anna mengangguk seraya tersenyum, "Aku akan baik-baik saja disini. Ayah juga jangan lupa untuk jaga diri baik-baik disana. Jangan sampai kelelahan, I love you, dad."
"I love you more. Baiklah, ayah berangkat." James mengecup puncak kepala Anna sekilas sebelum pergi. Rasanya sangat berat bagi James untuk meninggalkan putrinya sendirian tapi ini adalah tuntutan pekerjaannya. Ada masalah yang terjadi dan seluruh staf kepolisian diminta untuk hadir dan James adalah kepala kepolisian tentu ia juga harus hadir.
Anna kembali melanjutkan sarapannya. Ia tidak mau sampai datang terlambat ke kampus nantinya. Hari ini ayahnya pergi dan dalam beberapa hari kedepan Anna tentu akan merasa sangat kesepian. Anna tidak akan melihat ayahnya duduk di sofa sambil menikmati kopi, waffle, dan membaca koran.
Jika bukan karena kuliahnya, Anna mungkin akan ikut dan tinggal bersama James di camp camp kepolisian. Tapi Anna tidak bisa, belajar adalah hal yang paling utama baginya. Anna tidak ingin melewatkan kesempatan yang telah ia berusaha untuk dapatkan. Lagipula ayahnya hanya pergi beberapa hari saja.
***
Anna berjalan menyusuri lorong koridor kampus. Hari ini ia naik Taxi untuk berangkat ke kampus. James meninggalkan mobilnya di rumah tapi sayangnya Anna tidak pandai menyetir jadi dia harus pulang-pergi naik taxi atau kendaraan umum lainnya.
Dari kejauhan tampaknya David sudah menunggu, Anna bergegas jalan untuk menghampiri David.
"Selamat pagi," sapa Anna.
David menoleh seraya tersenyum, "Kau terlambat masuk kelas. Aku pikir hari ini kau tidak akan datang."
"Em, iya. Semalam aku sulit tidur alhasil bangunnya kesiangan. Oh iya? Aku boleh meminta salinan catatanmu 'kan?"
"Tentu saja, ayo ke kelas. Aku akan memberikannya sekarang," ajak David. Anna menurut, mereka berdua jalan beriringan sesekali bercanda.
Saat tiba di kelas, ternyata Irene sudah lebih dulu duduk di tempat Anna bersama kedua temannya. Anna dan David hanya saling menatap.
David segera menggenggam tangan Anna untuk membawanya pergi dari ruangan ini.
"Sebaiknya kita pergi," bisik David pada Anna.
Irene beranjak dari kursi lalu mendekati Anna. Ia menatap Anna dengan tatapan tajam.
"Kau beruntung. Jika saja tidak ada Leo kau mungkin sudah aku habisi," ujar Irene dengan penuh penekanan.
Anna tetap tenang, ia hanya diam sambil memperhatikan Irene, sedangkan David tengah berusaha menarik Anna agar pergi dari tempat itu. David khawatir jika Irene akan melakukan hal lebih lagi.
"Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah tidak menyukaimu. Aku tidak suka melihat caramu tersenyum dan aku tidak suka melihatmu bercanda dengan sahabat payahmu itu!" papar Irene.
Anna menghela nafas pelan, jika ia diam terus-menerus Irene akan semakin semena-mena padanya.
"Aku bahkan tidak tau apa masalahmu denganku hingga kau begitu membenciku. Aku sama sekali tidak pernah mengusik hidupmu, aku bahkan berusaha untuk tidak melakukan apapun hingga membuat orang tidak suka padaku. Lantas apa yang membuatmu membenciku? Apa karena Leo? Apa karena kau tidak terima karena Leo tidak bisa membalas cintamu?"
Plak//
Irene melayangkan satu tamparan keras pada pipi mulus Anna.
Anna mengusap pipinya, terasa perih. David langsung menarik Anna untuk mengecek pipinya, dan benar saja rasa perih itu akibat goresan dari cincin Irene yang melukai pipinya.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Katakan apa yang ingin kau katakan. Dengan melukaiku kau tetap tidak akan bisa menarik simpati Leo, itu malah akan membuatnya merasa bahwa kau adalah gadis yang tidak bisa mengontrol diri. Itu akan membuatmu semakin jauh dari Leo."
"Tutup mulutmu!!! Kau bahkan tidak berhak menasehati ku.
"Aku diam bukan berarti aku lemah, aku hanya ingin membuktikan bahwa kekerasa tidak harus dibalas dengan kekerasan. Jika kau tetap tidak menyukaiku tak apa, aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku, itu adalah hak mu. Tapi satu hal yang perlu kau tau, aku sama sekali tidak ada maksud untuk mendekati Leo. Bahkan untuk mengenalnya lebih jauh saja aku tidak berminat, jadi tolong jangan pikirkan hal-hal yang belum tentu benar," ujar Anna. Irene terdiam, ia tidak bisa menjawab. Anna mendadak membuatnya bungkam.
"Apa aku bisa mempercayai mu?"
Anna tersenyum, "Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Leo. Bahkan berpikir untuk merebutnya darimu saja tidak pernah. Tapi jika kau tidak percaya padaku, tak apa. Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku."
Irene tau, sekeras apapun ia mencoba untuk mendekati Leo ia tetap tidak akan bisa. Leo tidak memiliki hati, dia tidak tau makna cinta. Irene tidak akan bisa mendapat simpati apapun dari Leo. Tapi rasanya sangat sakit bila orang yang kita sukai lebih dengan dengan orang lain, rasanya pasti menyakitkan.
"Aku... aku tidak tau apakah aku harus mempercayai mu. Hari ini aku akan kembali ke LA," ucap Irene.
Anna menatap Irene dengan tatapan bingung, mengapa tiba-tiba ia akan kembali ke LA?
"Kau pasti berpikir mengapa aku datang kesini lalu menamparmu, benar bukan?"
Anna mengangguk, setelah apa yang Irene lakukan padanya tiba-tiba saja ia ingin pergi.
"Sekeras apapun aku mencoba untuk mendekati Leo, hatinya tetap bukan untukku. Bukan karena dia mencintai seseorang, tapi dia sama sekali tidak mempunyai hati, hatinya sekeras batu. Lalu tiba-tiba kau muncul dan kau dekat dengannya seperti dia telah tertarik padamu. Aku tidak yakin, apakah ini sebuah kebenaran atau tidak. Maaf untuk tamparan itu, anggap saja itu balasan dari tamparan yang sudah kau berikan padaku kemarin, itu berarti kita impas," jelas Irene.
"Kau... kau akan pergi?" tanya Anna untuk memastikan.
"Iya, aku juga sudah keluar dari gang black catcher. Mungkin rasanya aneh, aku yang kemarin menghinamu tiba-tiba saja bicara lembut padamu, ya aku sendiri tak tau mengapa sampai melakukan ini tapi sepertinya ini tulus dari hatiku." Irene menghela nafas pelan, "Selamat untukmu, ini awal yang baik bagimu. Ku harap kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan," sambung Irene.
"Apakah ini ucapan selamat perpisahan darimu?" Anna kini menatap Irene dengan tatapan teduh seraya tersenyum.
"Anggap saja begitu."
Irene dan teman-temannya hendak pergi, tapi Anna menghentikannya.
"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Anna. Mata Irene sukses membulat, apa ini? Anna meminta agar ia bisa memeluknya?
"A-aku... tidak-tidak. Jangan lakuk—"
Anna berhambur ke pelukan Irene. Ia mengusap punggung Irene dengan lembut.
"Kau jaga dirimu, terimakasih karena mau datang kesini untuk mengucap salam perpisahan, aku menghargainya. Semoga kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan," ucap Anna dengan tulus.
Irene diam, rasanya sangat freak bukan? Tiba-tiba saja Anna memeluknya padahal ia telah melakukan hal buruk padanya.
Irene mendorong tubuh Anna perlahan, teman-temannya hanya tertawa saja menyaksikan peristiwa itu.
"Kau terlalu memeluk dengan sangat erat," tukas Irene.
Anna tersenyum, ia mengulurkan tangannya berniat untuk berjabat tangan..
"Sekarang kita teman?"
Irene hanya menatap tangan Anna, ia sepertinya enggan untuk menerima uluran tangan Anna.
"Baiklah jika kau tidak ingin." Anna mengembalikan tanganya, ia masih tersenyum.
"Aku pergi," ujar Irene. Kalo ini ia benar-benar pergi. Anna hanya melihat punggung Irene yang mulai menghilang dari balik pintu kelas mereka.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, ayo kemari kita harus ke ruangan kesehatan, pipimu tergores," ujar David.
Ah iya, Anna sampai lupa. Ia mengekori David dari belakang sembari bersenandung lirih.