Vincent berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Ia mencari dimana keberadaan Leo, sahabatnya.
"Christ, apa kau melihat Leo?" tanya Vincent pada Christ yang sedang asik bermain vidio game.
"Tidak. Coba cek di ruangannya, mungkin saja dia pulang tapi aku tidak melihatnya," jawab Christ tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Vincent mengangguk, ia segara menuju ke ruangan Leo. Rupanya Leo tidak ada disana, lantas kemana perginya pria itu?
Vincent keluar lalu kembali ke tempat Christ, pria itu masih bermain vidio game.
"Apa kau tau Irene akan kembali ke LA?" tanya Vincent pada Christ. Christ tampaknya tidak shock, ia bahkan tidak terlihat tertarik untuk mendengarnya.
"Aku tidak tau," jawabnya. "Bukannya dia juga telah keluar dari gang kita? Lantas apa gunanya memikirkan kemana dia pergi," sambungnya lagi.
"Ck, kau tidak mengerti. Jika Leo pulang beritahu dia tentang hal ini. Aku akan ke airport sekarang."
"Baiklah."
Vincent bergegas keluar dari markas. Kali ini ia mengendarai mobil. Vincent hanya ingin menunjukkan bahwa masih ada orang yang mempedulikan Irene, walaupun kebanyakan orang tampaknya juga tidak peduli akan ada Irene atau tidak.
Vincent hanya tidak ingin ini menjadi boomerang nantinya untuk black catcher. Musuh yang paling mematikan adalah orang yang paling dekat dengan kita. Bisa saja Irene menjelma menjadi musuh black catcher. Yah walaupun dia mengatakan akan menetap di LA, tapi siapa yang tau?
***
Leo menghentikan mobilnya tepat di depan markas black catcher. Ia turun dengan langkah gontai. Hari ini ia ke club dan baru pulang saat dini hari.
Joshua dan Christ langsung datang dan membopong Leo menuju kamarnya. Leo terlihat benar-benar mabuk. Matanya memerah, dan nafasnya berbau alkohol. Ia mungkin minum terlalu banyak.
Joshua dn Christ selalu sigap ketika Leo datang. Mereka bahkan kadang menunggu didepan pintu untuk menyambut Leo.
Leo memuntahkan seluruh isi yang ada diperutnya dan dengan sigap Joshua memberi Leo air agar kesadarannya bisa cepat kembali.
"Dimana Vince?" tanya Leo lirih. Ia bahkan belum bisa bicara dengan jelas.
"Setahuku Vince belum kembali. Tadi sore dia mengatakan akan pergi mengantar Irene menuju airport tapi sampai sekarang ia belum juga muncul," sahut Christ.
Leo bangkit, ia mengucek matanya lalu menatap Christ dengan tatapn serius.
"Irene mau kemana?"
"Katanya dia akan kembali ke LA. Itu sebabnya Vince pergi mengantarnya, Vince juga menitip pesan padaku agar memberitahu hal ini padamu," jawab Christ.
Leo terdiam sesaat lalu terjatuh ke kasurnya dan tidak sadarkan diri. Joshua dan Christ membiarkan Leo untuk istirahat.
Mereka keluar dari ruangan Leo dan kembali berjaga diluar.
Besok Leo pasti akan merasa jauh lebih baik. Ia terlelap dengan sangat nyenyak karena minum terlalu banyak.
Keesokan harinya, Leo bangun dengan tubuh yang benar-benar terasa pegal. Ia lalu berjalan menuju meja nakas untuk meminum air terlebih dahulu setelahnya, ia beranjak menuju wastafel untuk mencuci muka.
Aroma alkohol pun masih tercium jelas dari tubuh Leo. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu bersiap-siap untuk masuk kampus. Saat ia keluar dari ruangan ganti ternyata Vincent sudah berada dan duduk di kursi sofa untuk menunggunya.
"Kau darimana saja semalam?" tanya Vincent.
"Club." Leo menatap pantulan tubuhnya ke kaca, ia terlihat sudah sangat rapi.
"Apa kau tau bahwa Irene kembali ke LA?"
Leo menoleh, "Christ telah memberitahu ku. Dan ku dengar kau juga sempat mengantarnya ke airport."
"Benar."
"Lantas? Ada apa kau mencariku?" tanya Leo.
***
Anna terbangun dari tidur lelapnya. Ia melenguh, rasanya badannya hari ini benar-benar segar.
Anna beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju wastafel untuk mencuci muka dan menyikat gigi setelah itu ia menuju jendela dan pintu kaca balkonnya dan membiarkan udara segar masuk kedalam kamarnya.
Ini baru hari pertama James pergi, rasanya benar-benar sepi ya walaupun ayahnya juga setiap hari kerja dan hanya mempunyai waktu ketika sudah larut malam. Tapi tetap saja akan terasa aneh ketika Anna turun dari kamarnya, ia tidak melihat sosok kehadiran ayahnya disana yang selalu minum secangkir kopi dan membaca koran.
Anna keluar dari kamarnya lalu turun menuju dapur untuk membuat sarapan. Pemandangan yang setiap pagi ia lihat kini tak ada, rasanya benar-benar sepi. Tapi ini hanya untuk beberapa hari saja, lagipula yang menolak untuk ikut adalah Anna sendiri.
Anna beranjak menuju dapur untuk membuat smoothies pisang dan juga membuat sandwich seperti biasanya. Anna makan sendiri sembari membaca koran yang ia temukan di kotak surat depan rumah tadi.
Setiap pagi tukang koran akan mengantarkan koran atau majalah kerumah karena ia tau bahwa James sangat suka membaca koran.
"Red bulls kini berulah, mereka menghancurkan infrastruktur kota." Anna terkejut ketika membaca potongan kalimat yang ada pada koran. Ia mengingat pakaian yang dipakai gang itu, sepertinya ia pernah lihat sekelompok gang itu, tapi entah dimana.
"Ada apa dengan mereka? Mengapa malah merusak infrastruktur kota? Dasar pembuat onar!" ucap Anna membatin.
Rasanya akhir-akhir ini kota Berlin banyak terlibat kasus-kasus yang sangat merugikan. Terbukti saja dari laporan yang ada di koran, rata-rata melaporkan kasus kekerasan dan lain sebagainya.
Anna melirik jam besar yang berada di depannya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Anna harus bergegas dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Hari ini ia harus melakukan segalanya sendiri, ia harus berangkat ke kampus sendiri dan pulang pun demikian. Hidup sendiri ternyata sangat sulit, Anna teringat akan Leo dan Vincent, pria itu pasti merasa sangat kesepian. Mereka tidak memiliki orang untuk menyemangatinya ketika akan berangkat ke kampus, tidak ada tempat untuk membagi keluh kesah, rasanya pasti sangat menyakitkan dan Anna tau itu.
Bertahun-tahun hidup tanpa ayah kandung saja rasanya sudah sangat aneh untuk Anna. Ya walaupun ia punya ayah sambung tapi rasanya sangat beda. Beda jika ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya, walaupun ayahnya sibuk kerja tapi Anna selalu bisa merasa nyaman. Bertahun-tahun mereka terpisah tapi kini bisa hidup bersama lagi jadi apa lagi yang Anna cari? Meskipun dia tidak hidup bersama ibunya.
***
Anna berjalan menelusuri lorong koridor kampus bersama David. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membahas materi pembelajarannya. Ia diberi tugas untuk meneliti tentang kasus yang terjadi di kota Berlin, dan kebetulan Anna dan David pada satu TIM, itu sebabnya mereka pergi mencari buku untuk menunjang penelitian mereka.
Anna menelusuri beberapa tumpukan buku yang ada disebelah kanan dan David menelusuri bagian yang ada di sebelah kiri. Pencarian buku ini ditujukan untuk mencari tau sejarah atau kasus apa saja yang dulu sempat terjadi di Berlin lalu dibandingkan dengan kasus yang terjadi pada zaman sekarang.
"Apa kau menemukannya?" tanya David pada Anna.
Anna menoleh seraya menggeleng, "Aku tidak menemukan buku yang kita cari. Sepertinya ini akan sulit, Vid. Dari tadi aku sudah mencoba tapi tetap tidak menemukan buku yang pas." keluh Anna. "Apa yang harus kita lakukan?" sambung Anna.
David tampak berfikir sejenak, "Bagaimana jika kita mencari di toko buku saja, aku yakin pilihan buku disana akan lebih banyak. Bagaimana menurutmu?"
"Kau benar. Kita akan mencarinya di toko buku setelah kelas selesai, apa kita akan pergi bersama?" tanya Anna.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku akan mencari bukunya saat malam hari ketika kerja paruh waktu ku sudah selesai, jadi apa kau bersedia mencarinya dulu sendirian?"
Anna tersenyum, David seperti orang lain saja sampai meminta maaf seperti itu.
"Tak apa, tidak masalah. Aku akam pergi mencarinya nanti saat kelas sudah selesai. Tak apa jika kau akan mencari buku juga, jadi referensi kita makin banyak," ucap Anna yang langsung mendapat persetujuan dari David.
Mereka akhirnya keluar dari perpustakaan untuk kembali ke ruangan kelasnya. Anna sudah memutuskan untuk mencari bahan penelitiannya di toko buku saja.