Vincent terdiam duduk di sofa yang ada di kamarnya. Sedari tadi ia memandangi foto gadis yang sangat ia cintai di hadapannya. Gadis yang membuatnya merasa tidak berguna sekarang.
Vincent ingat ketika Anna datang ke rumahnya, ia terlihat sangat ingin tahu siapa foto gadis yang ada di tangannya waktu itu tapi Vincent menolak untuk menceritakan segala hal yang menyangkut gadis itu.
Dia adalah Veronica, gadis teman masa kecil Leo dan Vincent. Veronica adalah gadis keturunan Amerika, ia sangat cantik dan anggun itulah yang membuat Vincent bisa jatuh hati pada sahabat masa kecilnya itu.
Semenjak Vincent menginjak usia remaja, ia dan Veronica jauh lebih dekat sampai-sampai mereka berdua sama-sama menyimpan perasaan yang sama. Dimana ada Vero disitu pasti ada Vincent. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama sampai lupa untuk kumpul dengan Leo.
Suatu hari mereka berdua akhirnya resmi menjalin hubungan. Hubungan mereka awalnya baik-baik saja bahkan sangat harmonis hingga pada akhirnya Veronica memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan mengatakan akan kembali ke Amerika. Vincent yang sangat mencintai Veronica benar-benar merasa kecewa dan sejak saat itulah mereka tidak pernah lagi bertegur sapa hingga saat ini. Walaupun demikian, Vincent masih mencintai Veronica. Ia adalah cinta pertama Vincent, ia yang telah mengajarkan bahwa cinta itu tidak dapat dipaksakan.
***
Sedari tadi Vincent hanya duduk diam dan melamun. Ia bahkan tidak menghiraukan teman-temannya.
Christ yang memperhatikan gerak-gerik Vincent langsung tau ada sesuatu yang mengganggu pikirin Vincent sampai ia melamun seperti itu.
Christ mendekati Vincent, ia kemudian memberikan Vincent segelas wine untuknya.
"Minumlah, setelah meminum ini aku yakin kau akan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya percayalah." Christ mengulurkan tangannya yang memegang gelang yang berisi wine kepada Vincent.
"Aku sedang tidak ingin minum. Kau saja yang meminumnya," tolak Vincent. Ia menjauhkan tangan Christ darinya.
Christ tersenyum, ia meletakkan gelas tersebut ke meja.
"Aku tidak mengerti dan sama sekali tidak tau apa yang saat mengganggu pikiranmu. Tapi, cobalah untuk melupakannya sejenak dan mulailah untuk bersenang-senang agar beban yang ada dipikiran mu itu bisa hilang."
"Kau mendadak jadi sangat puitis, Christ. Tapi percayalah aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan apa langkah yang harus kita ambil untuk membenahi gang Red Bulls yang semakin lama semakin bertingkah." Vincent mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraannya.
Tap tap tap!!
Irene bersama kedua temannya masuk dalam markas dengan langkah yang terburu-buru. Mereka bertiga terlihat seperti orang yang sangat ketakutan, entah apa yang terjadi.
"Dimana Leo?" Irene berdiri tepat di hadapan Vincent, dari wajahnya saja sudah tampak jelas bahwa Irene saat ini membawa kabar yang buruk.
"Dia belum datang, ada apa?" sahut Christ.
"Gawat, ini benar-benar gawat. Aku baru saja mendapat kabar bahwa Anak-anak Red Bulls sudah tau lokasi markas kita yang baru, entah siapa yang telah membocorkannya. Tapi yang pasti mereka tengah mengarah ke markas kita dengan membawa pasukan yang sangat banyak," jelas Irene pada Vincent dan Christ.
"Apa yang harus kita lakukan, Vince?" Christ menoleh menatap Vincent dengan wajah yang khawatir.
"Apa kau sudah menghubungi Leo?" tanya Vincent pada Irene.
"Ya, kami bertiga sudah menghubungi Leo tadi tapi sayangnya ponselnya sama sekali tidak aktif. Itulah mengapa kami langsung datang kesini untuk memberikan informasi ini pada kalian."
"Kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan. Seluruh anggota gang sedang tidak ada di markas dan jika kita mengumpulkan mereka, itu pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama." Vincent kini tengah berusaha mencari jalan keluar untuk menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Christ lagi dan lagi meminta pendapat Vincent karena Vincent adalah wakil leader dan tentu perintahnya akan dilaksanakan ketika sang leader sedang tidak ada.
"Segera kosongkan markas ini secepatnya. Kita hanya membutuhkan waktu.." Vincent melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Setengah jam dari sekarang. Dan untuk para gadis, kalian segera pergi dari sini dengan ditemani Christ." Vincent menoleh lalu menantap Christ, "Sekarang kau ku beri tugas untuk mengantar gadis-gadis ini ketempat yang lebih aman. Dan jika kau sudah menemukan tempat yang aman tetaplah dan coba untuk terus mengubungi Leo," perintah Vincent yang langsung diangguki oleh Christ.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Irene.
"Aku yang akan mengurus semuanya, kalian tidak perlu khawatir. Segera pergi tinggalkan markas kita sembari terus menghubungi Leo,"
"Baik, kamu mengerti," seru mereka bersamaan. Christ segera pergi dengan disusul oleh Irene dan kedua temannya.
"Mengapa situasi ini harus terjadi sekarang?" batin Vincent.
Vincent mulai mengerahkan beberapa anggota gang untuk segera meninggalkan markas. Setelah semuanya meninggalkan markas, Vincent dengan cepat juga meninggalkan markas. Markas gang black catcher di kosongkan, jika mereka tetap berada di markas mereka tentu akan celaka dikarenakan anggota gang yang tidak lengkap dan tidak adanya persiapan.
Dalam kondisi darurat seperti ini, Vincent mengarahkan seluruh anggota gang untuk sementara bersembunyi di tempat yang memang lumayan terpencil atau bisa disebut markas rahasia black catcher. Markas rahasia ini hanya diketahui oleh Vincent dan tentu Leo, dan hanya markas ini satu-satunya tempat yang aman untuk mereka saat ini.
Sedari tadi Irene mencoba untuk terus menghubungi Leo, tapi sampai saat ini Leo belum juga bisa dihubungi.
"Bagaimana?" tanya Vincent padaa Irene.
Irene menggeleng pelan, "Sampai sekarang ponsel milik Leo belum juga aktif, lalu apa yang harus kita lakukan Vince? Bagaimana jika Leo datang ke markas itu dan..." Irene menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar sangat khawatir.
"Tidak perlu cemas, aku sudah mengutus Joshua untuk mencari keberadaan Leo. Dia pasti akan baik-baik saja. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah diam dan jangan cemas," jelas Vincent yang langsung diangguki oleh seluruh teman-temannya.
Irena menghela nafas pelan, jika Vincent yang mengatakan hal itu sudah pasti Leo akan baik-baik saja. Ia akhirnya bisa bernafas dengan lega sekarang.
Leo masuk kedalam markas dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia datang dengan ditemani Joshua yang menjadi suruhan Vincent tadi.
Ketika Irene melihat Leo sudah datang, ia langsung bangkit dari kursi dan berlari memeluk Leo.
"Leo, aku benar-benar sangat mencemaskanmu. Bagaimana bisa kau mengabaikan telepon dariku, aku benar-benar sangat cemas," ujar Irene. Ia sedang mencari perhatian dari Leo.
Leo hanya diam, ia kemudian memaksa agar Irene berhenti memeluknya, ia harus segera bicara dengan Vincent.
"Lepas!" titah Leo yang langsung Irene tanggapi. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh kekar Leo dan mundur beberapa langkah.
Sekarang perhatian Leo mengarah pada Vincent. "Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi lagi, Vince?" Leo menuntut informasi dari Vincent.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi lagi. Yang tidak aku mengerti saat ini adalah, markas tempat kita itu baru dan yang mengetahui letak markas itu hanya ada beberapa orang saja tapi mengapa bisa bocor hingga ke red bulls? Jangan-jangan..."
"Ada mata-mata! Aku yakin mata-mata yang di utus Red Bulls bukanlah orang luar, aky yakin orang itu ada diantara kita saat ini," potong Leo dengan cepat. Ia merasa bahwa ada seseorang yang diutus oleh red bulls untuk memata-matai mereka semua.
"Kita harus segera menemukannya, Leo. Jika hal ini terus terjadi sudah dipastikan bahwa kita pasti akan dibuat tunduk oleh mereka," timpal Vincent yang langsung mendapat anggukan dari Leo.
"Untuk sementara kita akan menetap disini. Dan aku ingin yang mengetahui letak markas ini hanya orang-orang yang hadir disini, kalian tidak diperbolehkan membawa anggota yang lain. Mengerti?"
"Mengerti!!" sahut mereka semua dengan bersamaan. Leo meminta Vincent untuk ikut dengannya. Ia ingin membahas beberapa hal yang perlu mereka bahas.
"Ikut denganku, ada yang perlu aku bahas denganmu!" perintah Leo yang langsung diangguki oleh Vincent. Ia berjalan mengekori Leo dari belakang.
Mereka berdua masuk keruangan rahasia yang hanya bisa diakses Leo dan Vincent.
"Kita harus menemukan siapa pelaku mata-mata yang anak-anak Red Bulls kirim, jika tidak kita semua akan hancur," ujar Leo.
"Kau benar. Entah siapa yang saat ini bisa kita percayai, aku sendiri bingung. Bagaimana bisa kita mendapatkan kebocoran markas untuk kedua kalinya, aku yakin orang yang menjadi mata-mata mereka adalah orang terdekat kita, itu sudah pasti," timpal Vincent.
Leo mengangguk, "Kita harus menemukannya secepa mungkin. Aku tidak bisa menunggu lagi, jika sampai terbukti ada diantara kita yang menjadi mata-matanya, aku tidak segan-segan akan mengabisinya dengan tanganku sendiri!!" Leo terlihat begitu sangat kesal. Bagaimana tidak, kebocoran markas terus-menerus terjadi, ini benar-benar membuat Leo dan Vincent frustasi.