Anna terus-menerus menghela nafas. Sedari tadi ia mengatami ponselnya, tapi tidak ada tanda-tanda pesan atau apapun yang masuk. Sejak tadi pagi, Anna tidak melihta Vincent sama sekali. Bahkan rumahnya juga tidak ada tanda-tanda orang yang ada didalam sana.
Anna sangat ingin menghubungi Vincent tapi ia takut jika hal yang ia lakukan bisa mengganggu waktu Vincent nantinya.
Anna memijat pelipisnya, ia benar-benar sangat bingung harus melakukan apa sekarang ini.
"Apa aku menghubunginya saja? Ah, bagaimana jika dia tidak mengangkat telepon dariku?" batin Anna.
Anna memberanikan diri untuk mengirimi Vincent pesan. Ia tidak yakin jika Vincent akan membalas pesannya tapi apa salahnya jika ia mencoba?
[Apakah kita bisa bicara nanti?] tulis Anna. Ia mengirimi Vincent pesan berharap Vincent bersedia untuk membalas pesan darinya.
Sudah lebih dari 20 menit setelah Anna mengirimi Vincent pesan tapi ia tak kunjung mendapat balasan. Anna merasa sangat kecewa.
"Apa mungkin dia sedang sibuk? Ini tidak baik. Seharusnya aku tidak melakukan ini, bagaimana jika di merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan?" Anna mematikan ponselnya. Ia kemudian berjalan menuju jendela kamarnya, ia mengintip ke arah rumah Vincent, ia tidak menemukan tanda-tanda akan kehadiran seseorang didalam sana. Lampunya bahkan tidak menyala sama sekali, apa mungkin dia ada masalah? Anna merasa gelisah.
Anna menutup tirai jendela kamarnya lalu menuju ke kasur king size miliknya. Ia mengambil ponselnya untuk mengecek apakah sudah ada balasan dari Vincent, namun ia tidak menemukan apa-apa. Anna memutuskan untuk tidur saja, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mungkin ada hal yang membuat Vincent tidak bisa mengecek ponselnya. Lagipula sebenarnya ada apa dengan Anna? Mengapa ia merasa seperti ini? Ia bahkan bingung dengan dirinya sendiri. Ia terlalu memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu untuk ia pikirkan. Anna benar-benar sangat aneh.
Anna terlelap dengan tubuh yang berbalut selimut tebal berwarna putih. Anna ingin agar hari cepat berlalu dan besok ia bisa bertemu dengan Vincent.
***
Mentari pagi mulai masuk menyeruak dalam kamar Anna hingga menyilaukan mata. Anna masih bergumul di bawah selimut tebalnya sambil terus mengamati ponselnya. Ia bahkan belum menerima pesan apapun hingga saat ini.
Anna melempar ponselnya, ia bangun lalu segera menuju ke jendela kamarnya untuk membuka tirai dan menbiarkan sinar matahari masuk menyinari kamarnya.
Dari kejauhan Anna masih belum mendapati tanda-tanda akan kehadiran Vincent. Anna yakin semalam Vincent tidak menginap dirumahnya.
Anna mencoba untuk mengabaikan segalanya lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai bersih-bersih Anna segera turun dari kamarnya untuk menemui James. Saat ia tiba di ruangan keluarga, Anna bisa melihat pemandangan yang setiap hari ia lihat. James tengah asik membaca koran dengan secangkir kopi di meja di temani waffle caramel.
"Pagi, ayah." Anna mengambil segelas s**u lalu membawanya dan duduk bersama ayahnya.
"Pagi untukmu, honey. Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?"
"Iya, sangat nyenyak. Aku bahkan sampai enggan bangun ayah. Sangat nyaman sehingga membuatku ingin terus terlelap."
"Baguslah. Sarapan dahulu lalu ayah akan mengantarmu ke kampus. Oh iya, ayah juga mungkin akan pulang dini hari nanti malam karena ada beberapa hal yang memang harus segera ayah kerjakan," jelas James pada putri semata wayangnya itu.
"Baiklah ayah. Tak apa."
Anna menuju meja makan untuk membuat sarapan roti seperti yang biasa ia makan. Hari ini ia tidak akan banyak melakukan hal ini. Ia hanya harus segera tiba di kampus, itu saja.
Anna membuat roti dengan selai cokelat sambil meminum segelas s**u yang telah James buatkan untuknya.
Setelah selesai dengan kegiatan sarapannya, Anna kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus. Ia menyiapkan mulai dari outfit, beberapa buku dan peralatan yang mungkin akan ia butuhkan di kampus, tak lupa pula ia memasukkan ponselnya ke dalam tas yang akan ia kenakan.
Hari ini Anna tidak menguraikan rambutnya yang panjang itu. Hari ini Anna memilih untuk mengikat rambutnya dengan membiarkan beberapa helai rambut jatuh disamping telinganya. Anna melirik tampilan dirinya dari pantulan cermin sekilas, ia tersenyum. Hari ini Anna merasa penampilannya jauh lebih dewasa.
Anna menuruni anak tangga dengan santai sambil terus mengecek terus ponselnya. Anna bahkan tidak yakin jika Vincent sudah membaca pesannya.
"Jika jalan jangan biasakan memainkan ponsel! Kau bisa terajutuh nantinya," tegur James pada putrinya itu.
Anna menuruni anak tangga dengan santai sambil terus mengecek terus ponselnya. Anna bahkan tidak yakin jika Vincent sudah membaca pesannya.
"Jika jalan jangan biasakan memainkan ponsel! Kau bisa terajutuh nantinya," tegur James pada putrinya itu.
Mendengar teguran sang ayah, Anna langsung mematikan ponselnya lalu menyimpannya di saku celana yang ia pakai hari ini.
James memperhatikan penampilan Anna, Anna jauh lebih berbeda. Penampilannya jauh lebih santai dari biasanya. Biasanya Anna juga menguraikan rambutnya tapi kini ia mengikat rambunta, Anna terlihat jauh lebih dewasa sekarang.
Anna berdiri depan ayahnya yang sedari tadi terus menatap dirinya itu.
"Ada apa ayah? Mengapa ayah menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan ku hari ini?" tanya Anna pada ayahnya karena ia merasa bingung James sedari tadi terus memperhatikan dirinya.
"Tidak ada yang salah dengan penampilanmu, Anna. Hanya saja ayah merasa sedikit terkejut but you looks so beautiful, honey. Kau terlihat lebih santai," jelas James.
Anna tersenyum, "Terimakasih ayah."
"Sama-sama. Ayah hanya perlu mengatakan untuk tetap fokus pada apa yang menjadi tujuanmu datang ke kota ini. Ayah harap kau tidak lupa akan tujuanmu itu. Ingat, kau adalah anak ayah satu-satunya dan hanya kau yang menjadi harapan terbesar ayah. Ayah harap kau tidak akan mengecewakan ayah." James mengelus puncak kepala Anna dengan penuh kasih sayang, Anna hanya bisa tersenyum dan mengangguk saja.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Oh iya ayah ingin mengatakan padamu untuk tidak menunggu ayah nanti malam, ayah akan pulang dini hari dan sudah di pastikan ayah akan pulang sangat terlambat. Jaga dirimu dan jangan biarkan siapapun masuk ke rumah kita, mengerti?"
"Baiklah Tuan James, aku mengerti!" seru Anna yang langsung mendapat cubitan gemas di kedua pipinya itu.
Anna dan James berjalan beriringan menuju mobil. Sebelum memasuki mobil, Anna menyempatkan diri melirik kearah rumah Vincent tapi benar saja ia tidak melihat tanda-tanda akan kehadirannya.
"Ada apa Anna? Apa yang kau lihat?"
"Ah tidak ada ayah. Ayo kita pergi," ajak Anna. Ia segera masuk ke dalam mobil disusul sang ayah yang ikut masuk ke kursi kemudi.
***
Anna berjalan menelusuri tiap lorong koridor yang ada. Ia seperti mencari seseorang dan tentu seseorang yang ia cari adalah Vincent. Pria itu kini tidak terlihat lagi batang hidungnya sejak kemarin. Anna merasa cemas tapi juga bingung, mengapa ia harus terus memikirkan Vincent seakan-akan tidak ada hal lain yang bisa ia fikirkan.
David selalu menemani Anna, ia hanya bisa diam saja melihat Anna yang seperti orang bodoh terus melihat ke kanan dan ke kiri.
David menarik tangan Anna agar ia berhenti, "Cukup. Jangan lakukan ini, Anna. Sebaiknya kita kembali ke kelas, pria itu tidak akan ada!" ujar David membuat Anna langsung merasa terkejut. Ia menatap David dengan tatap heran.
"Aku akan mencarinya lagi. Bagaimana bisa kita menemukannya jika kita tidak mencarinya, ayo Davidd!!" seru Anna, ia balik menarik tangan David agar ikut berjalan dengannya.
"Sudahlah, lupakan. Aku tidak ingin ikut denganmu. Aku akan kembali ke kelas." David berbalik lalu berjalan menjauhi Anna. Anna hanya bisa menghela nafas, mau tidak mau ia akan mengikuti David untuk kembali ke kelas walaupun ia sama sekali tidak ingin.
Tujuan utamanya berangkat ke kampus dengan cepat adalah untuk menemui Vincent, tapi David menghentikan Anna dan Anna tidak mungkin menentang apa yang David katakan, ia terpaksa setuju untuk kembali ke kelas mereka berdua.