Anna POV
Hari ini aku sama sekali tidak memiliki jadwal kelas. Rasanya sangat sayang jika aku pulang dan menghabiskan waktu untuk tidur di rumah, sangat tidak produktif. Aku memilih mengajak David untuk duduk di bawah pohon rindang sembari membaca buku, kebetulan hobby kami berdua sama yaitu membaca buku.
Lingkungan kampus memang masih sangat ramai jadi kami memilih duduk di sudut saja karena tidak ingin merasa terganggu.
Tapi ada satu hal yang membuatku terusik. Kehadiran seseorang membuatku merasa tidak nyaman, entahlah kenapa aku harus bereaksi berlebihan tapi kurasa ini benar, iya 'kan?
"Hai?" sapa gadis itu. Ia terlihat membawa sebuah kotak bekal berwarna keemasan.Aku dan David hanya saling menatap.
Kami tidak menjawab sapaannya. Iya mungkin ini terlihat sangat tidak sopan, tapi cobalah untuk mengerti. Rasanya aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya yang cantik itu.
Gadis itu tersenyum kaku, mungkin ia merasa benar-benar tidak dihargai.
"Apa aku menganggu waktu kalian?" ucapnya lagi.
"Tidak, kau tidak menganggu kami. Benar begitu bukan?" David menyenggol lenganku dan aku hanya bisa membalasnya dengan anggukan seraya tersenyum simpul.
"Syukurlah. Apa aku boleh ikut bergabung?" tanyanya lagi. Aku tau mungkin kalian tau siapa dia.
"Duduklah jika kau ingin. Kami tidak akan keberatan jika kau duduk disini," imbuhku. Jujur saja aku tidak enak jika terus bersikap seperti ini pada Veronica. Harusnya aku tidak melakukan ini, ini salah dan tidak dibenarkan.
Tapi tetap saja, aku tetap tidak bisa merasa nyaman jika berada di dekat Veronica. Jika boleh jujir, ia tipe gadis yang benar-benar sangat sempurna. Tubuhnya yang jenjang, kulitnya putih, dan rambut pirangnya itu .
"Oh iya, aku membawa ini untuk kalian." Veronica memberikan kotak makan itu kepada David karena ia tau David tentu tidak akan mungkin menolak.
"Apa ini?" tanya David dengan bingung.
"Itu sandwich. Aku membuatnya tadi, dan kebetulan aku membuatnya lumayan banyak. Itulah sebabnya aku membawanya untuk kalian juga, dimakan ya?" Veronica melirikku sekilas. Aku hanya membalasnya dengan seutas senyum.
"Tentu, kami pasti akan memakannya. Benar begitu bukan?" David lagi-lagi menyenggol lenganku.
"Iya, terimakasih untuk sarapannya," jawabku.
"sama-sama. aku akan senang jika kalian mau memakannya. Tapi jika tidak ingin juga tak apa, sungguh." aku bisa melihat ketulusan dari raut wajah veronica. apa ini keterlaluan jika aku tidak memakannya? jujur saja aku bingung harus bereaksi seperti apa saat ini. sedangkan david hanya bisa tersenyum dan terus memandang veronica.
Aku benar-benar terjebak dalam situasi ini. Aku pun tidak bisa menyalahkan Veronica karena telah datang kesini dan kembali pada Vince. Kalaupun di kembali dan Vince tidak menerimanya tentu juga tidak akan ada masalah. Tapi, ini Vince menerimanya setelah apa yang Veronica lakukan padanya, apa menurut kalian ini tidak aneh? Atau mungkin ini yang dinamakan cinta?
"Anna?" David melirikku, ia sepertinya memperhatikan aku sedari tadi yang hanya bisa diam melamun. "Kau kenapa?" tanya David lagi.
"Aku? A-aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanyaku kembali. Aku melirik Veronica ia tampak memperhatikanku.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Selamat bersenang-senang dan... sampai ketemu lagi." Veronica bangkit dari kursi. Sebelum ia memutuskan untuk pergi, ia tersenyum kearahku, senyum yang benar-benar tulus.
Aku tidak tau pasti apa alasannya tiba-tiba saja pergi. Ya mungkin alasan utamanya yang menurutku penyebabnya karena sikap kami padanya, kami mengacuhkannya. Aku tau aku salah, tapi aku juga tidak bisa memaksa diriku untuk terlihat baik di hadapannya.
"Oh baiklah, terimakasih untuk sarapannya. Kami pasti akan menghabisinya, sampai jumpa kembali," jawab David. Aku tahu hanya David yang akan merespon Veronica. Tapi mengapa Veronica tetap diam? Apa dia menunggu ku untuk bicara dan meresponnya?
Veronica tersenyum kecut, "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga diri kalian." Ia menoleh membelakangi kami berniat untuk pergi. Oh ya ampun rasanya aku adalah gadis yang benar-benar jahat saat ini. Apa yang harus aku lakukan?? Haruskah aku berteriak untuk berterima kasih? Ini benar-benar sangat membingungkan.
Veronica benar-benar pergi, aku mengamati punggungnya yang perlahan semakin menjauh.
Disaat yang bersamaan, David bangkit dari kursinya dan menarik tanganku hingga aku ikut berdiri sejajar dengannya. Ia terlihat sangat kesal, ada apa dengannya?
"Kenapa?" tanyaku berusaha untuk tetap santai.
"Seharusnya aku yang bertanya 'kenapa' padamu! Ada apa denganmu Anna? Mengapa kau mendadak jadi seperti ini, huh?" David menatapku dengan tatapan serius, apakah dia marah? Tapi apa alasannya?
"Aku... aku tidak mengerti apa maksudmu," jawabku.
"Kau tidak usah berlagak seakan-akan tidak mengerti apa yang terjadi. Anna, coba buka matamu lebar-lebar. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan padamu sehingga kau sampai mengacuhkannya? Dia bahkan tidak membuat masalah denganmu sama sekali, tapi apa yang kau lakukan? Kau berbuat tidak baik padanya, apakah ini Anna yang aku kenal? Apakah ini Anna, gadis polos yang sangat baik pada semua orang?"
Aku menatap David, "A-aku... "
David menghela nafas, "Jangan lakukan ini. Veronica gadis yang sangat baik, dia benar-benar tulus ingin berteman dengan kita. Mengapa kau seakan-akan memintanya agar menjauh? Memangnya apa kesalahannya? Apa ini karena Vince, karena kau tidak terima jika Vince kembali bersama Veronica? Benar bukan?!" David terus mendesakku. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk mengelak.
"Aku tidak berpikir seperti itu."
"Kalau begitu katakan, katakan mengapa kau tidak suka dengannya? Aku tau pasti kau tidak akan bisa menjawabnya karena sebelumnya aku telah memgatakan lebih dulu apa jawabannya," ujar David.
Aku tetap diam, sungguh aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa pertanyaan David saat ini karena semua yang ia katakan itu memang benar adanya. Lantas bagaimana caranya?
"Jangan lakukan ini, Anna. Kau seharusnya tidak pernah berpikir untuk melakukan ini. Dia memang salah karena telah meninggalkan Vince tanpa sebab tapi dia telah kembali dan Vince menerimanya. Lantas mengapa kau harus ikut dengan cerita mereka?"
"Kau bahkan tidak mengerti seperti apa perasaan ku," ucapku membatin. Aku melirik David, ia balik menatapku.
"Maaf jika perkataan ku melukai perasaan mu," ujar David, ia menatapku dengan raut wajah yang menyesal.
"Tak apa, kau berhak berkata demikian." Aku diam sembari menunduk. Aku tau bahwa apa yang David katakan memang sangat benar, tapi apa lagi yang bisa ku lakukan? Bagaimana bisa aku menjelaskan pada kalian bahwa aku tidak bisa menahannya. Sungguh, ini benar-benar sangat sulit untukku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya David dan aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Aku mungkin bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan hatiku? Bagaimana bisa aku menutupi segalanya? Bagaimana bisa aku menutupi betapa sangat menyiksanya perasaan ini? Perasaan yang sama sekali tidak jelas ini.