Membuat Sarapan

1113 Kata
Matahari pagi ini cukup terang dan membuat tidur siapapun pasti terusik. Pagi-pagi sekali, Veronica sudah bangun untuk membersihkan rumah Vince. Ia mulai dengan menyapu, mengepel, dan juga membersihkan meja, vas, guci, foto-foto yang tampak sangat berdebu. Rasanya, kita akan merasa saangat nyaman jika lingkungan disekitar kita tampak bersih, benar bukan? Itulah yang coba Veronica realisasikan saat ini. Ia sangat tau, rumah ini dihuni oleh para pria yang sama sekali tidak peduli akan kebersihan rumahnya. Itulah sebabnya Veronica melakukan ini, ia juga sangat menyukai kegiatan bersih-bersih. Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Veronica kini beralih menuju dapur. Ia membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak. Veronica hanya menemukan daging kaleng saja di dalam kulkas bersama cabai dan bawang bombai. Lalu ia juga menemukan spaghetti di lemari, mungkin ini bisa jadi menu sarapan untuk mereka bertiga nantinya. Veronica mulai mengeksekusi bahan-bahan itu. Mula-mula ia merebus spaghettinya terlebih dahulu agar teksturnya lebih lembut. Kemudian, ia mulai memotong-motong bawang bombainya. Setelah dirasa cukup, Veronica memasukkan bawang bombai cincang kedalam pan yang telah diberi minyak sayur dan menumisnya hingga layu dan berwarna agak kecoklatan, ia kemudian memasukkan daging kaleng ke dalam pan dan ditumis bersama. Setelah ia rasa cukup, ia kemudian memasukkan spaghetti yang tadinya ia rebus ke dalam pan. Tak lupa pula ia memberi kecap asin, lada, garam, dan penyedap rasa. Veronica mencicipi masakannya lebih dulu sebelum menyajikannya. Ia cukup puas dengan hasil masakannya hari ini. Walaupun ini terbilang menu biasa tapi rasanya lumayan. Setelah semuanya selesai, Veronica kembali ke kamarnya untuk beristirahat sekaligus mandi. Ia akan keluar nanti ketika Vince juga sudah keluar dari kamarnya. Ia akan menunggu Vince disini. Jujur saja, Veronica merasa agak malu jika bertemu Leo. Leo tampak tidak suka dengan kehadirannya dan itulah yang menjadi sebab utama mengapa ia takut jika Leo keluar lebih dulu nantinya. Ia juga tidak bisa menyalahkan Leo karena marah padanya, tapi dulu mereka sangat dekat. Tapi kenapa tiba-tiba Leo berubah? Bahkan untuk menatapnya saja rasanya Leo enggan. "Apa mungkin ini karena Leo mendukung Vince dengan gadis yang bernama Anna itu? Itulah sebabnya ia tidak suka dengan kehadiranku?" gumam Veronica. Jika hal itu memang benar, lantas apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia tetap diam saja? Tapi menurut Veronica, Anna tipe gadis baik. Ya walaupun pertemuan pertama kesannya tidak begitu baik, tapi ia gadis yang baik dan lumayan cantik. Kulitnya yang putih, senyumnya yang manis, matanya yang bulat, pipinya yang mulus, dan rambut lurus panjangnya yang berwarna hitam pekat itu. Jika dipikir-pikir Anna gadis yang cukup lumayan. Tapi tetap saja. Veronica mencintai Vince dan ia rasa Vince pun sebaliknya. Lantas bagaimana bisa Anna hadir diantara mereka? Disisi lain, Anna tampak masih berkutat dengan alat-alat masak yang berada di dapur. Sejak tadi ia sibuk membuat sarapan untuknya dan untuk James hingga lupa waktu. Hari ini ia tampak sangat bersemangat membuat sarapan hingga menghabiskan waktu cukup lama di dapur. James datang menghampiri Anna, ia duduk di kursi meja makan. "Ayah perhatikan, akhir-akhir ini kau sangat suka memasak," ujar James. "Iya, aku ingin belajar memasak ayah. Ini semua kulakukan agar ayah bisa menikmati masakan yang aku buat," seru Anna. "Masakan sudah sangat enak, nak. Ayah suka." Anna menoleh, "Tetap saja, aku harus tetap belajar memasak. Oh iya, hari ini aku akan membawa beberapa makanan untuk nantinya aku berikan pada David, ia tentu juga harus mencoba masakanku ini." "Bawa saja untuknya, dia pasti akan menyukainya. Jika semuanya sudah selesai, cepat ke kamar dan siap-siap, kau harus berangkat ke kampus, iya kan?" Ah iya, Anna ingat. Ia harus ke kampus hari ini. Rasanya Anna sangat malas untuk datang ke kampus, ia malas jika harus melihat wajah Vince disana bersama gadis yang ia cintai itu. "Ayo, Anna. Mengapa hanya diam mematung seperti itu?" ujar James. Anna tampak tersenyum kaku, ia ingin sekali mengatakan bahwa malas masuk kampus hari ini. "Kenapa?" tanya James. "A-aku... Aku akan mandi. Tunggu sebentar." Anna melepaskan celemek yang ia gunakan untuk memasak lalu menuju segera ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya, perhatian Anna mengarah pada balkon kamarnya. Apa perlu ia keluar dan melihat kearah rumah Vince, mungkin saja Veronica ada disana. Haruskah? Anna melangkahkan kakinya menuju kearah balkon. Saat hendak membuka pintu, Anna berhenti. Tidak, ia tidak perlu melakukan ini. Mengapa ia harus mencari tau apakah Veronica ada disana atau tidak? Jika ia melakukan ini, lukanya pasti akan terus terasa bukan? Anna melepaskan tangannya dari gagang pintu. Ia mundur perlahan lalu segera masuk ke dalam kamar mandi *** Anna sudah tiba di kampus, saat melewati koridor Anna melihat se kelompok teman-teman Leo tengah berkumpul disana tapi ia tidak melihat ada Leo dan bahkan Vince pun tidak ada. Saat ia hendak pergi ia dikejutkan dengan kemunculan Leo secara tiba-tiba, Anna benar-benar sangat terkejut. "Kau? Tidak bisakah kau muncul tanpa mengagetkan orang?" ujar Anna dengan kesal. Leo hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Anna. "Dasar pria menyebalkan!" Anna hendak pergi tapi Leo mencekal tangannya. "Ada apa?" tanya Anna dengan ketus. Ia masih tidak mengerti mengapa Leo menghentikannya. "Aku perlu bicara denganmu, apakah bisa?" "Katakan saja, biasanya kau akan bicara tanpa izin dulu." Leo menarik tangan Anna agar ikut dengannya, kali ini Anna tidak memberontak. Ia setuju dan diam saja. Leo membawa Anna menuju koridor sepi, dimana tidak ada siapapun yang akan datang kesana. Saat tiba disana Anna langsung meminta Leo untuk melepaskan genggaman tangannya. "Katakan ada apa, aku tidak punya banyak waktu," ujar Anna. "Kau seperti seorang aktor saja sampai tidak punya waktu," balas Leo dengan santai. Ia berusaha mencairkan suasana yang ada diantara mereka berdua, tapi Anna tampaknya masih acuh saja. Anna mendecih, "Cepat katakan, Leo. Ada apa? Apa hal penting yang ingin kau bicarakan denganku sampai mengajakku kesini?" desak Anna. Leo benar-benar membuang waktunya, apakah dia tidak ada pekerjaan lain selain menganggu orang lain, huh? "Vin..." "Cukup!!" potong Anna dengan cepat, ia menatap Leo dengan tatapan yang serius, "Tolong jangan bahas apapun yang berhubungan dengannya. Aku tidak mendengar apapun tentang dia. Aku bukan membencinya, tapi rasanya hal semacam itu tidak pwnting lagi untuk aku ketahui!" "Aku bisa mengerti seperti apa perasaan mu saat ini, maaf." Anna diam, mengapa Leo harus meminta maaf padanya? Ada yang berbeda dengan pria ini. Tidak seperti biasanya ia seperti ini, ataukah dia sedang kesurupan? Leo yang merupakan pria keras kepala dan kasar kini meminta maaf pada Anna? Oh ya ampun, Anna benar-benar tidak percaya ini. "Maaf?" Leo tidak menjawab ia malah pergi meninggalkan Anna yang hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Benar-benar aneh! Leo mengajaknya kesini hanya untuk ini? Bahkan perjalanan menuju lorong koridor ini cukup panjang tapi dia malah pergi begitu saja. Tapi yang pasti Anna tau, yang sebenarnya Leo ingin bahas adalah tentang Vince. Tapi sungguh, apapun yang terkait Vince Anna sudah tidak peduli lagi. Ia tidak ingin tau apapun saat ini, benar-benar tidak ingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN