Tok tok tok!!
Tok tok tok!!
Leo mengetuk pintu kamar Anna. Ia akan mengecek apa Anna sudah tidur apa belum. Rasanya Leo selalu ingin tau apa yang gadis itu lakukan.
Tok tok tok!!
Tok tok tok!!
Belum ada jawaban dari Anna, apa gadis itu sudah tertidur?
"Leo," panggil Vincent. Leo berbalik dan ternyata Vincent sudah berada tepat di belakangnya. Apa yang pria itu lakukan? Ada apa?
"Kenapa?" tanya Leo.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Mengambil baju, badanku sudah terasa sangat lengket."
Vincent perlahan mendekat, "Kau bisa memakai pakaianku."
Leo diam, ada apa dengan sahabatnya ini? Mengapa tiba-tiba seperti ini.
"Aku belum mendapatkan jawaban yang aku inginkan, Leo."
"Jawaban apa yang sangat ingin kau ketahui?" Leo menatap Vincent dengan tatapan yang serius.
Vincent melirik sekilas kearah pintu kamar Leo setelah itu ia kembali menatap Leo.
"Apa alasanmu sampai melakukan ini semua? Tidak mungkin ini hanya karena kau merasa bersalah padanya," ujar Vincent.
Leo tampak berpikir, "Mengapa kau sangat ingin tahu? Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Apa aku salah?"
"Aku hanya ingin tau alasannya. Mengapa tiba-tiba kau seolah-olah sangat peduli pada gadis itu. Katakan padaku tentang apa alasanmu melakukan hal itu!" desak Vincent.
"Bukan urusanmu! Lagipula ini hanya karena aku merasa bersalah padanya."
"K-kau??"
Leo menoleh, ia melihat Anna berada di ambang pintu dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Kasihan?? Kau kasihan padaku?" Anna menatap Leo dengan tatapan sayu. Apa ini? Kenapa ia merasa terluka dan kecewa? Ada apa dengannya?
"Aku bisa menjelaskan semuanya. Dengarkan aku," timpal Leo.
Anna menggeleng, ia tersenyum simpul. "Kupikir kau melakukan ini karena kau... karena peduli padaku, tapi ternyata aku salah."
"Anna," lirih Leo.
"Harusnya aku tidak berpikir terlalu jauh. Harusnya aku bisa langsung mengerti dengan apa maksudmu. Harusnya dari awal aku harus tau kalau kau melakukan ini semua karena merasa bersalah dan kasihan. Rasanya sedikit aneh," sambung Anna.
Vincent berjalan mendekati Anna, "Masuklah, kau perlu beristirahat."
Anna melirik Vincent sekilas, "Aku mau pulang."
Leo menatap Anna, "Tidak, kau tidak akan kemana-mana. Masuk ke dalam dan tidurlah, cepat!" ucap Leo dengan tegas.
"Kenapa aku harus mendengarmu?"
"Kau mulai keras kepala lagi, cepat masuk!" bentak Leo.
Anna terkejut dengan suara lantang Leo, ini pertama kali Anna dengar Leo membentaknya. Kenapa rasanya sangat menyakitkan?
Anna mundur perlahan, ia masuk dan menutup pintu dengan cepat. Ia tidak akan keluar, ia akan tetap disini untuk sementara.
Rasanya sangat aneh, mengapa Anna merasa terluka? Ada apa dengannya?
Dering ponsel Anna membuatnya kembali sadar, ia segera mengambil ponselnya yang berada diatas meja nakas. Rupanya yang menelepon adalah James, ayahnya. Sudah beberapa hari sejak kepergiannya, James sama sekali jarang menghubungi Anna. Mungkin karena sinyal atau memang benar-benar sibuk, siapa yang tau.
"Hai, ayah."
["Hai honey, bagaimana kabarmu? Do you miss me?"]
"I miss you so much, dad. Aku baik-baik saja disini, ku harap ayah juga baik-baik saja."
["Tentu saja ayah baik-baik saja. Bagaimana dengan kuliahmu dan apa saja yang kau lakukan ketika pulang? Ayah yakin kau pasti sangat suntuk, bukan?"]
"Ah tidak juga. Tapi lebih baik lagi jika ayah cepat pulang, I miss you so much, dad."
["Ah iya, ayah ada kabar baik untukmu. Besok ayah akan pulang, dan bagian terbaiknya adalah setelah ayah pulang, ayah diberi cuti selama seminggu dan waktu itu akan ayah gunakan untuk pergi berlibur bersamamu."]
Anna terkejut, rupanya James sudah menyiapkan segalanya. Ayahnya memang sangat ahli untuk hal seperti ini.
"OMG, that so cool dad. Aku benar-benar sudah tidak sabar, cepatlah pulang! Aku menunggumu," seru Anna.
["Yeah, tunggu saja."]
Anna dan ayahnya asik berbincang bersama sampai tak ingat waktu.
Disisi lain, ternyata masih ada Leo dan Vincent yang masih berdiri mematung di depan kamar, tempat dimana Anna akan tidur yakni kamar milik Leo.
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Vincent sebelum melangkah pergi. Leo menoleh kearah Vincent, ia lalu segera ikut dan membuntuti kemana Vincent akan membawanya dan hal apa lagi yang ingin pria itu bicarakan.
Mereka berhenti tepat di depan ruangan rahasia Vincent dirumahnya. Ia masuk dan juga disusul oleh Leo.
Saat masuk, rupanya ruangan ini masih dipenuhi foto-foto kebersamaan mereka bersama Veronica.
Vincent berbalik seraya menatap Leo. "Aku dari awal sudah mengatakan untuk tidak mengganggunya atau sampai melukai perasaan gadis itu, Leo. Tapi mengapa kau sangat bersikeras? Coba katakan!"
Leo malah ikut menatap Vincent dengan mata elangnya itu, "Kau melarangku menyakitinya tapi yang lebih awal menyakiti perasaannya adalah dirimu, benar-benar aneh."
"Kau bertindak seolah-olah kau tidak pernah menyakitinya. Padahal sampai saat ini kau belum bisa menjelaskan pada Anna tentang siapa Veronica yang sebenarnya," sambung Leo.
"Aku punya alasan untuk itu!" sahut Vincent.
"Sama denganmu, aku pun punya alasan tersendiri. Berhenti menasehatiku, aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, jadi jangan mengatur diriku!"
Vincent terdiam, untuk urusan hal ini tidak ada yang bisa mengubah pikiran yang sudah menjadi ketetapannya dari awal, itulah Leo.