Dulu Aku Mencintainya

1048 Kata
Anna membuka pintu gerbangnya dengan sedikit susah payah. Mengapa hari ini Anna merasa kalau gerbangnya sangat berat? Apa karena ia merasa lemas? "Anna?" panggil Leo. Anna menoleh, rupanya Leo sudah berada tepat dihadapannya saat ini. "Ada apa?" tanya Anna langsung. Kali ini ia tidak akan membiarkan Leo berbasa-basi untuk hal yang sama sekali tidak penting. "Mengapa pergi tanpa memberitahu siapapun?" tanya Leo. Saat Leo bangun tidur tadi, ia sempat mengecek kamar tempat dimana Anna tidur semalam tapi rupanya gadis itu sudah tidak ada disana. "Aku pergi lebih awal agar tidak ada siapapun yang tahu terutama dirimu!" balas Anna dengan tegas. "Aku perlu bicara dan perlu meluruskan segalanya padamu agar tidak ada kesalahpahaman," tegas Leo. "Kurasa tidak perlu. Aku pun sama sekali tidak peduli apa maksud dan tujuan mu yang sebenarnya." "Anna," lirih Leo. "Aku harus masuk. Ayahku sebentar lagi akan pulang, dan aku tidak ingin ada masalah lagi yang muncul. Jadi kumohon, tolong pergilah dari rumahku." Leo menghela nafas pelan, mengapa segalanya berubah menjadi seperti ini dan malah rumit? Bagaimana caranya agar ia bisa mengatasinya? "Jika kau sudah siap bicara denganku maka kau cukup datang dan menemuiku. Akan kujawab segala pertanyaan yang menganggu pikiranmu itu." Anna menatap Leo, "Kurasa tak perlu." "Terserah padamu. Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya tapi baiklah jika kau menolaknya," Anna mengangguk, ia kemudian segera pergi. Anna membuka pintu secara perlahan. Ayah akan pulang sebentar lagi rasanya sangat aneh. Aku segera menuju kamar. Rasanya semalam benar-benar aneh. Antara Leo dan Vince. Anna tidak suka berada di situasi seperti ini. Jika dibandingkan dengan Leo dan Vince, mungkin Vince lebih baik. Dia juga sangat peduli pada Anna meski menutupi sesuatu. Tapi Leo, ya memang dia tidak menutupi apapun tapi rasanya sangat berbeda. Ia malah berbuat baik karena merasa kasihan, tapi sungguh Anna tidak butuh rasa kasihan dari siapapun. Suara notifikasi dari ponsel Anna terdengar. Ia langsung mengeceknya, rupanya Vincent yang mengirim pesan. [Temui aku, aku ingin menjelaskan segalanya padamu agar tidak ada kesalahpahaman lagi] tulis Vince. Baru saja ia memikirkan pria itu, tiba-tiba saja ia datang dan mengirim pesan padanya. Bagaimana ini? Akankah Anna menerimanya dan setuju untuk bertemu? Tapi ini mungkin baik, Anna harus setuju untuk bertemu. Ia tentu tidak ingin kesalahpahaman terus terjadi diantara mereka. Dan caranya agar semua masalah yang terjadi antara ia dan Vince ya dengan bertemu dan meminta jawaban dari segala pertanyaannya. Vince pun tampaknya bersedia. "Baiklah," tulis Anna. Ia membalas pesan Vince. [Temui aku di depan. Aku akan datang menjemputmu.] Anna tidak bisa membiarkan Vince datang kerumahnya karena sebentar lagi James akan pulang, Anna tidak ingin mengambil resiko. "Tidak-tidak. Kita bertemu di depan toko buku tempat ku waktu itu. Kebetulan aku akan kesana untuk membeli beberapa buku." balas Anna. *** Anna sudah bersiap. Ia memakai dress berwarna cokelat dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai, hari ini ia tampak sangat cantik. Ia juga memoles make up tipis-tipis untuk menunjang penampilannya agar terlihat sangat manis. Tak lupa juga ia membawa hand bag berwarna hitam dan memakai flat shoes berwarna hitam juga yang membuatnya terlihat sangat anggun. Anna tidak tau pasti apa yang akan Vince bicarakan, tapi yang pasti Anna yakin ini mungkin bisa membuat hubungan mereka kembali baik. Vince pria yang sangat baik dan tenang, ia tidak pernah kasar. Bagaimana bisa Anna mengalihkan pandangannya dari pria yang se-sempurna itu? Anna berangkat dengan menggunakan Taxi. Saat ia tiba di depan toko buku, Anna segera masuk lebih dulu untuk mencari buku dan juga untuk menunggu Vince. Anna tidak ingin menunggu diluar, ia takut jika sampai ketahuan bahwa sedang berada disini, masalah pasti akan jauh lebih besar. Anna membeli 4 buah buku, ia kemudian menuju ke sisi etalase kaca toko untuk menunggu Vince disana sambil menikmati secangkir moccha yang ia pesan tadi. Cukup lama ia menunggu, akhirnya Vince datang. Ia melihat Anna dari balik etalase toko, ia segera masuk untuk menemuinya. "Maaf jika aku terlambat," ujar Vince. "Iya, tak apa. Minumlah, aku sudah memesankan moccha untukmu." Anna menyodorkan segelas moccha untuk Vince. "Terimakasih." Tanpa pikir panjang, Vincent langsung meneguknya. Tubuhnya terlihat sangat berkeringat, apa telah terjadi sesuatu? "Apa semua baik-baik saja?" tanya Anna. Ia bisa langsung menyadari ada hal aneh dengan Vince. "Ya, semuanya baik. Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Hanya saja sedikit letih, lihat saja tubuhku bahkan sangat berkeringat." "Aku tau itu," sahut Anna. "Jadi... Aku..." Vince tampak sangat ngos-ngosan, nafasnya memburu. Keringat membanjiri keningnya. "Tidak usah terburu-buru, minum saja. Kita bisa membicarakan hal ini nanti ketika kau sudah merasa jauh lebih baik," tukas Anna. Ia kemudian mengeluarkan sapu tangan dari hand bag yang ia kenakan tadi lalu memberikannya pada Vince. "Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu lama bahkan sampai mereporkanmu." Anna hanya mengangguk saja, ia kembali meminum mocchanya seraya melihat kearah jalan raya yang dipenuhi lalu-lalang orang yang sedang beraktivitas. Vince melirik Anna sekilas, gadis itu terlihat sangat manis hari ini. Moodnya juga seperti baik, bagaimana bisa ia merubah mood Anna dengan memberitahu segalanya? Bagaimana jika Anna merasa terluka lagi? Tapi jika ia tidak jujur semua pasti akan semakin sulit. Lagipula, gadis itu sedang ia coba untuk lupakan. Anna merasa sedang diperhatikan, ia menoleh kearah Vince seraya tersenyum. "Ada apa?" tanya Anna. "Tidak ada." "Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Anna lagi. "Kurasa begitu, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang," ucapnya. "Syukurlah." Vince menunduk sejenak, ia kemudian kembali menatap Anna. "Aku benar-benar bingung harus memulainya darimana." Anna diam, ia tidak menjawab. Ia membiarkan Vince yang menjelaskan semuanya serinci-rincinya agar tidak ada kesalahpahaman lagi dan lagi. "Aku tidak tau harus memulai dari mana untuk menjelaskan siapa Veronica itu." Anna menoleh, ia tau. Ia sudah tau siapa Veronica. Ia tau seperti apa perasaan Vince pada gadis itu. "Jelaskan saja sebisa dan semampumu. Aku tidak akan menuntut banyak. Aku hanya ingin tau, siapa dia dari segi perspektifmu. Hanya itu saja," imbuh Anna. "Dia adalah gadis yang dulu... yang dulu sangat aku cintai." Anna menutup matanya sebentar lalu kembali membukanya. Mendengar langsung dari mulut seseorang yang kita sukai itu rasanya sangat sakit. "Dulu, aku sangat mencintainya. Segala sesuatu yang ia inginkan pasti akan aku lakukan agar bisa melihat senyum yang manis merekah diwajahnya itu. Ketika ia tersenyum, rasanya duniaku benar-benar berwarna." Vince mengeluarkan foto Veronica, ia menatap senyum kekasih yang sangat ia cintai itu. Anna sendiri bingung harus bereaksi seperti apa. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana caranya menanggapi atas apa yang Vince ucapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN