*Anna POV
Rasanya hari ini aku sangat malas untuk berangkat ke kampus. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut untuk berjalan keluar rumah.
Aku membuka pintu rumah dengan perlahan dan juga untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ternyata Roger mengirim anggota gangnya untuk mengawasi rumahku. Bisa saja Roger mengirim teman-temannya untuk melukaiku, itu sebabnya aku harus lebih hati-hati jika ingin berbuat sesuatu.
Aku mengedarkan pandanganku, tampaknya tidak ada siapapun disana. Ini waktu yang tepat untuk segera bergegas ke kampus. Aku berharap tidak akan terjadi sesuatu.
Dengan langkah pasti, aku segera keluar dari pintu gerbang dan menutupnya kembali. Jalanan setapak yang berada di depan rumahku terlihat sepi, tidak ada lalu-lalang satu orang pun disana.
Dengan langkah terburu-buru, aku menyusuri jalan setapak sesekali melihat kanan dan kiri untuk berjaga-jaga. Rasanya, benar-benar aneh. Seperti ada saja orang yang mengintai dan mengikutiku. Entah kenapa aku harus menghadapi situasi seperti ini. Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi padaku hingfa harus terus waspada, rasanya benar-benar tidak nyaman
Saat aku melewati rumah Vincent, aku melihat Leo tengah memasang helm, mungkin ia ingin berangkat ke kampus. Aku hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dan tetap jalan.
Mungkin aku akan menunggu cukup lama di depan, menunggu Taxi atau angkutan umum lainnya. Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, aku berangkat lebih awal. Aku pun tidak ada niat untuk membuat David lagi dan lagi harus menunggu. Sejak kemarin aku sudah membuatnya menunggu terlalu lama, hari ini tidak akan kulakukan lagi.
Samar-samar terdengar suara motor dari arah belakang. Aku ingin sekali menoleh tapi rupanya ia lebih dulu berhenti tepat di disampingku. Aku menoleh menatapnya, ia tampak tersenyum simpul lalu segera turun dari motor dan berdiri sejajar denganku.
"Apa?" tanyaku pada Leo.
"Kau berangkat sendiri? Bukannya di rumahmu ada mobil?"
Aku menghela nafas pelan, "Aku tidak bisa menyetir. Seandainya bisa mungkin aku sudah memakainya sejak dulu."
Leo hanya ber-oh ria saja. Ia memberiku helm, aku tidak menerimanya dan hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Untuk apa?" kataku.
"Untuk kau jual." Leo memaksaku untuk mengambilnya dan kembali naik ke motornya dan memintaku untuk segera naik.
"Cepat naik, aku tidak suka menunggu!"
"Aku bahkan belum mengatakan setuju atau tidak," sewotku padanya. Ia meminta tanpa mendengar persetujuanku terlebih dahulu, memang pria yang aneh.
"Ayo cepat naik, tidak ada yang sulit dari hal ini. kau hanya perlu memakai helm itu dan naik keatas motorku," ucap Leo lagi. Aku benar-benar merasa tidak nyaman karena sering menyusahkan Leo. Lantas bagaimana bisa aku setuju untuk naik lagi? Lagipula aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kami. Aku khawatir jika teman-teman yang lain justru berpikir yang bukan-bukan.
"Kau sudah melakukan banyak hal. Maaf jika belum bisa membalasnya," ucapku jujur. Aku sudah merasa sangat merepotkan Leo, sang keras kepala.
"Aku tidak peduli apapun, cepat naik. Kau sudah membuatku menunggu terlalu lama," ketus Leo padaku. Wajahnya terlihat kesal. Tentu saja dia kesal, aku selalu mengulur waktunya.
Setelah berpikir cukup lama aku akhirnya setuju, "Baiklah, aku akan naik," ucapku.
Setelah naik, Leo langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian kota di pagi hari.
Selama perjalanan, tidak ada satupun yang berbicara. Aku dan Leo larut dalam pikiran masing-masing. Aku khawatir saat tiba di kampus nanti ini akan menjadi berita besar lagi untuk seisi kampus. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku terpaksa harus diam dan sabar saja. Lagipula jika bersama Leo, aku mungkin bisa merasa jauh lebih tenang dan tentunya aman. Leo mampu membuatku merasa jauh lebih baik.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Leo untuk tiba di kampus, kami berhenti tepat di parkiran kampus. Aku segera turun dan membuka helm serta merapikan rambutku yang berantakan karena diterpa angin. Rambutku kusut karena kubiarkan terurai tadi, dan Leo? Pria itu membawa motor dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Terimakasih," ucapku dengan tulus. Aku memberikan helm itu pada Leo.
Setelah selesai menerima helm yang ku berikan barusan, aku segera pergi untuk ke kelas.
"Jangan pulang sendiri, aku akan pulang bersamamu!" teriak Leo. Aku menoleh dan menatapnya dengan tatapan bingung. Mengapa?
"Tidak usah banyak berpikir! Jika kau keras kepala dan pulang sendiri kita tidak akan tau apa saja yang bisa anak-anak itu lakukan padamu," sambungnya lagi.
Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu kembali menoleh dan berjalan menjauh.
***
David terlihat sangat bersemangat menjelaskan segala hal padaku tapi sayangnya tidak satupun kata yang David ucap menempel dibenakku. Entah apa yang kupikirkan hingga tidak fokus seperti ini.
Aku mengusap wajahku lalu menghela nafas pelan. David kelihatannya mengerti bahwa aku sedang tidak fokus saat ini. Ia menurunkan bukunya lalu duduk tepat di hadapanku.
"Ada apa? Kau terlihat banyak pikiran. Apa semua baik-baik saja?" tanya David.
Aku mengangguk, "Semua baik-baik saja. Tapi sepertinya, hari ini kita undur lagi, ya? Aku merasa tidak enak badan."
David menyentuh dahiku untuk mengecek suhu tubuhku, "Ada apa denganmu? Tubuhmu hangat. Apa karena kurang tidur, atau apa?"
"Aku sendiri tidak tau. Apa kita bisa menundanya lagi, kumohon?"
David tersenyum, "Baiklah, tak apa. Lagipula kita tidak membahas apapun saat kau tidak fokus, lagipula tugas penelitian ini masih lama, dan kita masih punya banyak waktu."
David memang selalu bisa mengerti. Aku tersenyum simpul, "Terimakasih lagi, Vid."
"Baiklah, kau harus pulang sekarang. Apa aku perlu mengantarmu?"
"Tidak-tidak. Kau pulanglah lebih dulu, aku akan pulang nanti. Aku masih ingin duduk disini sebentar."
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Tidak, David. Kau pulanglah, aku bisa mengatasinya sendiri. Aku akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir." Aku tersenyum. Aku tidak mungkin membiarkan David melihatku—lagi pulang bersama Leo, ia pasti akan bertanya-tanya ada hubungan apa antara kami berdua.
"Baiklah-baiklah. Aku akan pulang lebih dulu, jaga dirimu." David merapikan buku-bukunya kembali dan memasukkan beberapa buku kedalam tasnya.
"Aku akan pulang sekarang," ucapnya lagi.
"Baik."
Saat hendak pergi, tangan David terulur mengusap puncak kepalaku. Dari sorot matanya aku bisa tau bahwa dia sangat menyayangiku. Ia selalu bisa mengerti perasaanku, ia selalu bisa mengerti tentang apa yang kupikirkan.
Setelah berpamitan David pun pergi. Aku bida melihat punggung kekarnya yang selalu ia tutupi dengan pakaian kuno perlahan menjauh dari pandangannya.
Aku menghela nafas pelan lalu ikut mengumpulkan buku-buku yang ku bawa tadi dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kalian terlihat sangat serasi!" Leo tiba-tiba saja muncul dan duduk tepat disebelah ku.
Aku memukul bahunya pelan, "Kau mengagetkan ku!"
"Kalian punya hubungan apa?"
Aku menatap Leo dengan tatapan heran, "Hubungan apa?" tanyaku balik.
"Ya kalian punya hubungan apa? Apa hubungan yang sangat spesial?"
"HAHAHAHA, tutup mulutmu. Kami hanya sahabat saja, tidak lebih dari itu."
"Sahabat??? Semua orang berpikir bahwa kalian adalah sepasang kekasih."
Aku menoleh menatap Leo dengan shock, "Apa???"
"Lagipula tidak ada hubungan pertemanan antara wanita dan pria yang tidak melibatkan perasaan, dari yang aku dengar seperti itu. Jadi, antara kalian pasti ada yang menyimpan perasaan, apa aku benar?"
"Kau salah. Kami memiliki perasaan tapi perasaan sayang hanya sebagai teman saja." Aku melirik Leo sekilas, "Ah susah jika harus menjelaskan pada orang yang tidak mengerti apa makna cinta, kasih sayang, dan juga persahabatan."
Leo menatapku, "Kau mengerti apa makna cinta?"
Aku terdiam, cinta? Mendengarnya saja sudah sungguh menggelikan. Aku bahkan belum tau apa arti cinta, berani sekali aku mengkritik orang lain. Bagaimana aku harus menjawabnya? Dengan kalimat seperti apa agar aku bisa menjelaskan makna kata itu?