Terimakasih Lagi

911 Kata
Leo memarkirkan motornya tepat di depan pintu gerbang Anna. Anna turun dari motor Leo, dan disusul oleh Leo. "Mungkin untuk sementara kau aman. Tapi tetaplah berjaga-jaga. Jika ada apa-apa tolong hubungi aku. Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk padamu, aku hanya merasa bersalah. Itu sebabnya aku ingin membantumu," imbuh Leo. Anna mengangguk mengerti, Ia harus cepat-cepat masuk dalam rumah untuk mandi dan membersihkan diri. Tubuh Anna terasa benar-benar lengket. Entahlah, hari ini ia akan berangkat ke kampus atau tidak. Sedari tadi ponsel Anna berdering, dan yang menelpon tentu David. Pria itu sampai saat ini belum Anna kabari. Mungkin ia sudah menunggu di kampus untuk membahas tugas tapi sayangnya Anna tidak datang. Leo pamit untuk pergi. Sebenarnya pamit perginya adalah ke rumah Leo. Untuk sementara, Leo dan teman-temannya akan menetap di rumah Vincent untuk berjaga-jaga jika sampai ada anak Red Bulls yang datang lagi untuk mencari keributan. Dan dengan begitu Anna bisa merasa jauh lebih tenang. Ia tidak perlu terlalu was-was memikirkan hal-hal itu. "Masuklah ke dalam. Jangan lupa untuk selalu mengunci pintu dan jendela rumah. Kita tidak tau apa yang bisa mereka lakukan," ucap Leo memperingatkan. "Iya, aku mengerti. Terimakasih untukmu—lagi." Leo menyalakan mesin motornya dan segera berlalu meninggalkan Anna. Anna membuka pintu gerbangnya dan segera masuk ke dalam. Ia khawatir jika sampai ketahuan bahwa sedang ada dirumah, red bulls pasti akan datang dan melakukan sesuatu untuk melukainya. Rasanya sangat aneh jika terus-menerus merasa tertekan dan ketakutan. Anna benar-benar merindukan momen kemana saja tanpa harus berpikir tentang apapun itu. Tapi saat ini, untuk sekedar berangkat ke kampus saja Anna sangat takut, lantas bagaimana dengan yang lainnya? Hari ini harusnya ia berangkat ke kampus karena pasti David sudah menunggunya untuk membahas penelitian yang akan mereka berdua lakukan. Tapi sayangnya, Anna belum bisa ke kampus hari ini. Tapi akan ia usahakan untuk berangkat ke kampus besok, Anna benar-benar takut jika sampai ketinggalan mata pelajaran nantinya. Anna berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Ia benar-benar merasa tidak nyaman memakai piyama. Saat melewati cermin besar, Anna melirik pantulan tubuhnya sekilas. Ah iya, Anna lupa memberikan Leo jaketnya. Apa yang harus ia lakukan? Apa untuk saat ini Anna menyimpannya saja? Sepertinya lebih baik jika seperti itu. Anna mambuka jaket milik Leo untuk nantinya ia cuci. Wangi parfum Leo masih terasa jelas wanginya di tubuh Anna. Wangi mint menyeruak tatkala Anna menghirup jaket itu. Leo benar-benar pria yang harum ya meskipun rambutnya selalu saja acak-acakan hingga terlihat sangat berantakan. Anna segera beranjak menuju kamar mandi. Rasanya ia benar-benar ingin berendam di bathtub karena tubuhnya terasa sangat lengket dan berkeringat. *** Anna berkali-kali menghela nafas panjang. Rasanya sudah hampir satu setengah jam ia duduk di kursi menghadapi laptopnya. Anna bahkan belum menyalakan laptop miliknya, ia hanya duduk termenung memikirkan sesuatu yang sampai saat ini mengganggu pikirannya. Dering telepon Anna berbunyi. Anna melirik ponselnya sekilas, tertera nama David disana. Jujur saja, Anna bingung harus menjelaskan situasi yang ia hadapi seperti apa pada David, ia benar-benar tidak tau harus memulainya darimana. "Halo?" sapa Anna. ["Kau dimana? Mengapa hari ini tidak ke kampus? Apa kau tau, aku sudah menunggumu hampir setengah jam."] Anna diam, ia bingung harus menjawab apa. "A-aku... aku tidak enak badan. Itu sebabnya hari ini aku tidak masuk kampus, maaf jika aku sudah membuatmu khawatir dan sudah membuatmu juga menunggu ku terlalu lama," ["Seharusnya kau menghubungiku jika kau sedang seperti ini. Aku tau ayahmu sedang tidak ada dirumah, apa lebih baik aku datang untuk mengecekmu, aku benar-benar khawatir."] "Tidak, David. Kau tidak perlu datang. Aku sudah merasa jauh lebih baik. Untuk penelitian itu, aku pasti akan datang besok. Maaf jika aku membuatmu menunggu," tolak Anna cepat. Ia tidak mungkin membiarkan David datang dan mengetahui situasi yang terjadi. ["Aku mengkhawatirkan mu. Apa kau sungguh baik-baik saja? Atau aku perlu mengantarmu ke dokter? Bagaimana?"] "Tidak-tidak. Aku baik-baik saja, baiklah aku tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu nanti." Anna memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia bahkan belum mendengar ucapan David. Anna berbohong, ya menurutnya ini mungkin yang terbaik. Anna tidak ingin membuat David khawatir dengan keadaannya. Dan Anna juga tidak ingin jika David malah ikut terlibat dengan masalah yang ia hadapi itu. Anna tidak ingin membiarkan David terlibat masalah hanya karena dirinya. Anna takut dan khawatir, David bahkan tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri, lantas bagaimana dengan masalahnya? Tentu itu akan sangat sukit bagi David. Anna menutup laptopnya lalu beranjak dari kursi menuju balkonnya untuk mencari udara segar. Anna membuka pintu balkon dengan perlahan lalu berjalan keluar, rasanya angin berhembus kencang mambuat Anna merasa jauh lebih tenang. Anna memejamkan matanya secara perlahan berharap akan datang keajaiban yang mungkin bisa menyelesaikan segala masalah yang ada di kehidupannya itu. Masalah yang datang tanpa bisa Anna sadari. Saat Anna memejamkan mata dan menikmati semilir angin sore yang sangat menyejukkan itu, tiba-tiba muncul sebuah nama yang terbersit dalam benaknya. Muncul sebuah wajah yang sampai kini membuatnya merasa bingung apa tujuannya hingga berbuat baik padanya. Anna membuka matanya perlahan, dari kejauhan di ketinggian yang sama Leo berdiri di sana dan menatapnya dengan tatapan yang Anna sendiri tidak tau bagaimana cara mengartikannya. Iris mata mereka berdua bertemu, sekarang balkon adalah tempat favorit Leo untuk melihat segala kegiatan yang mungkin Anna lakukan. Rasanya Anna sangat ingin menyapa Leo. Tapi ada yang membuatnya bingung. Mengapa saat melihat Leo Anna merasa aneh? Apa ini hanya sebuah kebetulan saja? Atau hanya sebagai bentuk ucapan terimakasih saja pada Leo karena sudah banyak membantu dirinya yang awalnya tidak tau apa-apa. Ada rasa puas tatkala Anna mengingat apa saja yang telah mereka lalui bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN