Anna mengamati setiap sudut ruangan tempat Leo membawanya. Sesekali ia melirik Leo yang tampak sibuk melepas helmnya itu. Anna tidak tau bagaimana bisa ia setuju untuk ikut dengan Leo, tapi sepertinya ia bisa lebih aman di tempat ini. Hari benar-benar sudah sangat larut, Anna meninggalkan rumah dengan cara memanjat, ia sendiri juga tidak yakin telah melakukan hal itu.
"Berhenti mencuri pandang dariku," ucap Leo tanpa mengalihkan perhatiannya dari helm yang masih ia pegang.
"A-aku..."
"Tidak perlu khawatir, tempat ini aman. Tempat yang hanya di ketahui oleh diriku saja," sahut Leo cepat.
"Terimakasih. Kau membantu diriku lagi, terimakasih untuk itu. Jika tidak ada kau mungkin aku hanya bisa meringkuk ketakutan di kamar." Anna menoleh menatap Leo lalu tersenyum kearahnya.
"Ini bukanlah apa-apa. Harusnya, aku meminta maaf padamu atas apa yang terjadi hari ini, ini karena aku dan Vincent hingga kau sampai terlibat masalah yang kau sendiri tidak tau."
Leo melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya itu, jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari dan mereka berdua masih terjaga. Leo tau Anna pasti sangat lelah.
"Tidurlah, kau perlu istirahat," ucapnya lagi. Anna kemudian melirik Leo dengan tatapan bingung dan cemas.
"Bagaimana bisa aku tidur? Aku tidak akan bisa merasa tenang,"
"Tidak usah khawatir, aku akan menjagamu. Kau cukup tidur dan semuanya akan selesai, silakan. Kamar ada disana." Leo menunjuk kearah pintu kamar.
Anna menoleh sesaat, lalu kembali menatap Leo.
"Terimakasih lagi," ucapnya.
Leo tidak merespon apapun, ia hanya diam saja. Anna beranjak, ia menuju ke dalam kamar yang Leo tunjuk tadi. Ia bahkan masih memakai piyama tidur dan tidak sempat menggantinya tadi.
Ceklek!
Saat Anna membuka pintu, ia terkesima dengan desain kamar ini. Dinding yang berwarna putih dengan perabotan dari kayu menambah kesan damai. Perhatian langsung tertuju dengan sebuah kaca besar dengan pemandangan yang sangat indah. Terlihat pohon-pohon besar dengan lampu-lampu yang menyala disana, sangat indah. Benar-benar rumah yang hebat.
Anna tertarik dengan pemandangan langit malam dan pohon-pohon besar itu. Ia berjalan mendekat, ia ingin melihatnya lebih dekat lagi. Ingin sekali Anna berlama-lama untuk menikmati langit malam dan pohon-pohon besar yang ada dari balik kaca itu tapi tubuh Anna benar-benar terasa sangat lemas. Ia ingin istirahat sesaat.
Sebelum ia beranjak ke tempat tidur, Anna menuju wastafel untuk mencuci muka terlebih dahulu dan agar ia bisa merasa lebih nyaman ketika akan tidur nantinya.
***
Anna membuka matanya secara perlahan. Pemandangan yang pertama kali yang ia lihat adalah pohon-pohon besar dan matahari yang bersinar terik. Anna melenguh, rasanya ia baru tidur sebentar tapi sudah pagi saja. Anna bahkan masih enggan bergerak dari tempat tidurnya, ia masih bergumul di bawah selimut tebal yang ia pakai. Udara pagi ini benar-benar terasa sangat sejuk.
Ah iya, Anna sampai lupa bahwa ia menginap di tempat Leo. Ia buru-buru bangun untuk mengecek kondisi tubuhnya, apakah masih sama dengan yang sebelumnya? Setelah itu Anna turun dari kasur lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci muka dan berkumur-kumur.
Anna membuka kunci kamarnya, lalu membuka pintu secara perlahan dan hati-hati. Ia takut jika pintu itu akan mengeluarkan bunyi dan mengganggu Leo, yang Anna sendiri tidak tau dimana ia tidur.
Pintu sudah sukses terbuka semua. Anna berdiri di depan pintu, rupanya Leo masih tidur di sofa. Pria itu benar-benar terlihat sangat letih. benar-benar kasihan. Ini karena Anna, Anna telah menyusahkan Leo.
Perut Anna terasa sangat lapar. Apa yang harus ia makan untuk mengganjal perut? Anna berjalan menuju dapur, walaupun rumah Leo terbilang kecil tapi suasana dan penempatan perabot rumah tangganya tersusun rapi. Leo ternyata lumayan juga.
Dapur Leo terlihat benar-benar bersih. Anna membuka kulkas berharap ada sesuatu yang bisa ia makan disana. Rupanya hanya ada roti dan selai cokelat dan beberapa buah yang ada di dalam kulkas.
Anna mengambil beberapa potong roti untuk ia gunakan sebagai sarapan nantinya. Tak lupa pula ia membuat smoothies pisang, agar bisa lebih berenergi.
Kruk kruk kruk!
Sejak tadi perut Anna terus berbunyi. Ia tidak mungkin makan sebelum Leo bangun, Ia harus menunggu Leo sampai bangun baru bisa makan. Rasanya sangat tidak sopan jika sarapan lebih dulu padahal yang punya rumah belum bangun.
"Kapan pria itu akan bangun?" ucap Anna membatin. Daripada ia harus memandangi roti-roti itu, Anna memilih kembali ke ruang tengah untuk membuka jendela dan tentu membuka pintu, agar udara segar di pagi hari bisa masuk ke dalam seisi rumah.
Saat membuka pintu benar saja, udara sejuk terasa sangat segar. Anna masih bisa melihat embun-embun pagi yang menempel di dedaunan. Suara kicau burung-burung benar-benar hal terhebat yang didengar ketika pagi hari. Untuk sesaat, Anna bisa melupakan masalah yang terjadi padanya.
Anna sempat ingin melangkah keluar tapi tiba-tiba suara lenguhan Leo terdengar. Anna segera bergegas menuju Leo untuk mengecek apa pria itu baik-baik saja?
"Mengapa bangun pagi-pagi sekali?" tanya Leo. Anna menoleh sekilas lalu kembali fokus merapikan barang-barang yang ada.
"Sepertinya kau juga sudah membuat sarapan," timpalnya lagi.
"Ya, aku sudah membuat sarapan. Ya sarapannya hanya seperti itu karena di kulkasmu tidak ada apa-apa," imbuh Anna.
Lwo beranjak menuju meja makan, ia duduk disana lalu meneguk smoothies yang Anna buat tadi.
"Rasanya lumayan," puji Leo. Mendengar hal itu, ada rasa puas tersendiri yang Anna rasakan ketika Leo memujinya.
"Apa... apa aku bisa ikut sarapan denganmu? Aku sangat lapar," ucap Anna dengan polosnya.
Leo mengangkat alisnya dengan tatapan bingung, mengapa ia harus meminta izin?
"Kenapa harus izin? Makanlah. Lagipula aku tidak mungkin bisa menghabisi semua roti roti ini. Paling tidak ini bisa mengganjal perut kita," tukas Leo.
Anna tersenyum, ia duduk di kursi tepat di depan Leo, ia lalu segera melahap roti yang dibuat tadi.
***
Sedari tadi Anna hanya diam. Ia tidak bicara sedikitpun. Usai makan tadi, Anna dan Leo duduk di sofa ruang tengah dan larut dalam pikiran masing-masing. Anna takut mengajak Leo bicara, dan ia pun bingung harus membicarakan hal apa pada Leo, begitupun sebaliknya.
"Aku akan menelpon teman-teman ku dan menanyakan apakah anak-anak red bulls masih ada di depan rumahmu atau tidak," ucap Leo. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan beranjak keluar untuk menelepon.
Saat Anna tengah mengamati setiap sudut ruangan, ada satu foto yang Anna sendiri tidak tau kapan foto itu ada disana. Difoto itu terdapat 3 orang yang berfoto bersama. Ada Leo, Vincent, dan ada seorang gadis yang berada ditengah.
Anna mendekati foto itu untuk melihatnya lebih detail. Wajah gadis yang berada di foto itu benar-benar tidak asing. Iya, Anna ingat. Foto gadis itu adalah foto yang sama yang Anna temukan di rumah Vincent. Tapi bagaimana bisa mereka berfoto bersama? Atau jangan-jangan, Leo, Vincent dan wanita itu memiliki hubungan yang benar-benar spesial?
Saat Leo kembali, Anna bergegas menuju kursi sofa untuk duduk kembali. Ia tidak ingin membuat Leo curiga atau semacamnya.
"Apa kata mereka?" tanya Anna untuk basa-basi.
"Mereka sudah pergi. Kurasa mereka hanya muncul ketika di malam hari."
"Oh, begitu."