Senyumnya yang penuh kehangatan yang bisa membuat siapapun merasa tenang, termasuk aku. Bisa dikatakan sekarang senyumnya adalah candu buatku. "Kenapa senyum-senyum begitu?" tegur Leo. "Kenapa? Memangnya aku tidak boleh tersenyum?" kataku. "Apa kau merindukanku?" tanya Leo lagi. Entah aku harus mengatakan yang sebenarnya atau berbohong. Tapi sungguh, aku benar-benar sangat merindukannya. "Aku..." "Katakan saja tentang apa yang sebenarnya kau rasakan padaku. Kau bisa mengatakan bahwa kau merindukanku. Tidak perlu bohong." Aku berdecak sebal, dia benar-benar suka membuatku blushing, benar-benar pria yang menyebalkan. "Aku tidak merindukanmu!" kataku dengan lantang. "Lalu mengapa kau datang menemuiku tanpa ada alasan yang jelas? Bukankah kau sendiri yang mengatakan dan menyu

