Aluna membuka matanya malam itu. Suasana hening di kamar VVIP rumah sakit. Ia meraba-raba kasur, mencari pegangan. Ia ingin duduk. Aluna memegang selang infus di tangannya—ia tahu betul dia berada di rumah sakit saat ini. "Ibu sudah bangun?" ucap Santi, langsung sigap. Aluna mengangguk. "Aku lapar," katanya pelan. "Iya, ini makanan sudah siap dari tadi. Saya suapin, ya," ucap Santi dengan lembut. "Tuan telepon terus dari tadi, Bu. Mau ngobrol," lapor Santi. "Nggak," jawab Aluna tegas. Dia masih marah. "Baik, nanti saya bilang," ucap Santi. Aluna masih memikirkan wanita yang tadi menghajarnya. Siapa dia? Apa aku pelakor? tanya Aluna dalam hati. Apa aku merebut Baskara darinya? Kenapa aku jahat? Ia ingin mencari jawaban dari semua pertanyaan yang membelenggunya, tetapi ia h

