Aluna duduk sendirian di pinggir kolam renang. Ia meneteskan air matanya, sebuah tindakan refleks saat sepotong memori yang hilang tiba-tiba muncul. “Ternyata benar kata suamiku,” gumamnya sambil mengusap air mata. “Jangan ingat masa laluku. Terlalu pahit...” Santi, asistennya, datang menghampiri dengan senyum ramah. “Ibu sudah ingat?” tanyanya hati-hati. “Hmm, sedikit,” jawab Aluna, tatapannya kosong, terpaku pada gelombang air kolam yang tenang. “Baju Anda sudah siap, Nyonya. Malam ini Anda berangkat ke Bali,” kata Santi. “Hmm, iya,” balas Aluna singkat. Aluna tahu, samar-samar, bahwa masa lalunya adalah saat SMP. Wajah Mahesa dan Baskara masih kabur dalam ingatannya—ia hanya tahu bahwa keduanya adalah sahabat dari kakaknya. Malam harinya, Baskara sudah siap. Ia menunggu Aluna yan

