Bukan Dia

1160 Kata

"Ini rumah kita, Sayang," ucap Baskara sambil tersenyum bangga. Baskara segera keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Aluna, dan menggenggam tangannya erat untuk menuntunnya masuk ke dalam rumah yang kini menjadi saksi babak baru kehidupan mereka. Aluna melangkah masuk ke kamarnya. Udara di sana terasa harum dan bersih. Ia tersenyum, bisa melihat lagi—sebuah perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Matanya menyapu sekeliling, melihat lemari baju, dan seperangkat alat rias yang dibelikan Baskara. Aluna tersenyum tanpa henti, merasa dicintai dan diperhatikan. Ia pun keluar kamar lagi. Namun, ada yang aneh di rumah besar itu. Tidak ada satu pun foto pernikahan mereka yang terpajang. "Mas," panggil Aluna. "Apa, Sayang?" sahut Baskara yang sedang asyik memberi makan ikan d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN