"Ami, tolong buka pintunya." Hening, tak ada jawaban. Reza kembali mencobanya. Hingga untuk yang kesekian kali barulah Arumi membukakan pintu untuknya. Ah, tidak. Reza salah duga. Arumi membuka pintu karena ia hendak mengambil minum. Bukan karena ketukan pintunya. Namun, Reza tetap masuk ke dalam. Tak lama dari itu, Arumi kembali dengan segelas teh panas di tangannya. Ia duduk di tepi ranjang tanpa bicara. Sesekali tehnya ia sesap tanpa memperdulikan keberadaan suaminya. "Apa kamu masih sulit memaafkanku?" Reza mencoba mencairkan suasana, memecah keheningan yang melanda. "Apa? Kamu tidak salah menanyakan hal itu? Kamu sadar seberapa besar kesalahanmu?!" gertak Arumi dengan ucapan sedikit meninggi. "Tolong, tenanglah! Ibu dan bapak bisa-bisa mendengar," ujar Reza kemudian. "Cepat s

