"A-apa ini?" Arumi membulatkan matanya. Ia sangat terkejut melihat noda merah itu. Hatinya merasa takut jika darah itu berasal dari perutnya. Gegas ia pun menuju kamar mandi untuk memastikan, dan ternyata benar noda itu berasal darinya. Arumi mulai panik. Ia mencoba menelpon suaminya, tapi tak kunjung ada jawaban. Ia kebingungan untuk melakukan sesuatu. Berjalan ke sana ke mari tak tentu arah, hingga tiba-tiba … bruk! Arumi terpeleset. Tubuhnya terbentur ke lantai. Darah yang keluar semakin banyak. Saat ini rasa mulas mulai dirasakan semakin melilit perutnya, Arumi sudah tak tahan. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba bersandar pada dinding kemudian menghubungi ibunya. "Ada apa, Arum?" ucap wanita di seberang telepon masih terdengar santai. "Bu, Arum … Arum jatuh, Bu," ucapnya dengan rin

