Alexei menyelonong masuk ke kamar Aruna tanpa permisi. Dia tidak memperdulikan tatapan protes dari si pemilik kamar. Alexei tampak mengecek semua jendela. Memastikan jendela telah tertutup rapat.
"Jangan lupa, setiap malam kunci jendela dan pintu kamarmu, Aruna! Kalau ada apa-apa, panggil saya!" pesan Alexei datar.
"Apa harus seperti ini, di dalam rumah juga?" tanya Aruna.
Alexei menatap kesal pada Aruna. Dia tidak menyukai orang yang terlalu banyak protes. Keselamatan Aruna bukan hanya sekadar tanggung jawab demi uang. Namun, juga tentang janjinya.
"Apa kamu tidak bisa bersikap waspada, Aruna?"
Aruna memutar bola mata. "Tapi kamu berlebihan, Alex! Ini rumahku. Aku mengenal setiap jengkal rumah ini beserta isinya. Kenapa kamu berlebihan begini?" protesnya sengit.
Alexei menarik napas panjang. Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya, lalu menatap dalam manik hitam milik Aruna. Aruna mendongakkan dagu, menantang tatapan laki-laki itu.
"Tolong kerja samanya, Nona Aruna! Turuti perintah saya! Mungkin menurut Anda, apa yang saya lakukan berlebihan dan menyiksa. Ketahuilah, Nona! Keselamatan orang seperti Anda adalah tanggung jawab kami. Tapi kami tidak bisa melindungi kalian, dua puluh empat jam. Jadi, tolong kerjasamanya!" Alexei segera memalingkan wajah.
Aruna tertegun. Ucapan Alexei sarat permohonan. Aruna bisa melihat ada luka mendalam di manik kebiruan itu.
Mendadak, mata Alexei berkabut. Aruna mengingatkan Alexei pada Alenadra. Sama-sama keras kepala dan suka protes, tetapi sangat ceroboh. Alexei benci hal itu!
"Alex ..." Aruna tampak bingung.
Alexei melirik Aruna sekilas. "Selamat malam, Aruna!" ucapnya kemudian beranjak keluar kamar.
Aruna mematung menatap kepergian Alexei. Gadis itu kemudian bergerak ke pintu dan menutup pintu kayu itu. Dia juga menguncinya, sesuai arahan Alexei.
Di kamarnya....
Alexei meringis menahan perih, ketika kapas beralkohol itu menyentuh luka kecil di pahanya. Beruntung, dia mengenakan celana jeans. Jadi, lukanya tidak terlalu dalam.
Alexei melempar celana jeans yang terkena noda darah itu ke keranjang pakaian kotor. Namun, beberapa detik kemudian, Alexei kembali mengambil celana itu. Alexei mengambil sebuah benda dari saku celana.
*
Pagi ini, Alexei tetap pada sikap tegasnya. Dia melarang sopir pribadi menggunakan mobil yang biasa digunakan. Meskipun diwarnai debat dan protes, Alexei tetap bergeming.
Alexei membuka pintu mobil untuk Aruna yang masih memberengut. Di samping Aruna, Isma tidak kalah heran dengan sikap Alexei. Selama hampir satu tahun, Aruna selalu menggunakan mobil itu untuk beraktivitas. Aman-aman saja.
Namun, semenjak kedatangan Alexei, selalu saja ada larangan tidak masuk akal. Seperti biasa, Pak Sopir memilih mengalah. Dia menebak, Alexei punya alasan kuat melakukan hal itu.
"Suruh bengkel mengambil mobilmu, Aruna!" ucap Alexei dari depan tanpa menoleh.
Aruna langsung mendongak. "Mobilku baik-baik saja. Kemarin Pak Amir bawa pergi kan, Pak?" tanyanya pada Pak Amir yang fokus mengemudi.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk membenarkan. Namun, kembali Alexei meminta hal yang sama. Hal tersebut tidak lagi bisa dibantah oleh Aruna.
Tatapan Alexei tertuju ke luar jendela kaca mobil. Jalanan yang mereka lewati memang berbelok dan naik turun. Alexei menjadi paham, mengapa penyusup itu merusak rem mobil Aruna.
Alexei semakin yakin, penyusup itu tahu betul jadwal Aruna. Alexei sedikit menoleh pada Isma yang duduk di belakang kursi sopir.
"Isma, mulai sekarang, beritahu saya lebih awal semua schedule yang melibatkan Aruna!"
Isma menatap sebentar pada Aruna yang hanya mengangguk menyetujui. Selanjutnya, Alexei melirik Pak Sopir yang masih fokus mengemudi. Dalam perjalanan itu, Alexei juga bertanya beberapa hal pada Pak Sopir.
"Ya dolzhen nayti etogo cheloveka!" (Aku harus menemukan orang itu) ucap Alexei dalam hati. Dia semakin yakin dengan kecurigaannya.
*
Sebagai "bos", Aruna harus menuruti semua aturan anak buahnya. Aruna malas berdebat terus dengan Alexei. Karena dia tahu, ucapan Alexei adalah bentuk perintah yang tidak boleh dibantah.
Aruna pasrah menerima nasib yang mengharuskan bertemu dengan bodyguard kaku itu. Sekarang, dia sudah terbiasa dengan sikap Alexei yang posesif. Tidak hanya Aruna yang dibuat kesal. Para wartawan juga semakin sulit mendekati sang artis.
"I'm just doing my job to protect her!" Begitu jawaban Alexei, ketika manager Aruna menegurnya.
"Lagian kamu sih, Run. Kalau perlu bodyguard, kenapa nggak bilang ke kita saja, sih? Pakai acara ambil dari agensi luar. Kayak di Indonesia nggak ada pengawal yang bagus. Tinggal pilih!" cibir Ery, manager Aruna.
"Itu bukan kemauan aku, Mas. Papa yang mengurus semua. Kayak nggak tahu sifat Papa saja," balas Aruna kesal.
Ery mengangguk mengerti. "Ya sudah! Selama Alex bersikap profesional, nggak apa-apa. Dia hanya melindungi kamu. Ya, meskipun aku lihatnya seperti melindungi pacar!" ledeknya jahil.
"Huuf! Bisa mati konyol aku, punya pacar seperti Alexei. Kaku dan seenaknya sendiri!"
Aruna melengos, ketika bertemu pandang dengan orang yang sedang dibicarakan. Beberapa meter dari Aruna, Alexei dengan sikap tak acuhnya tersenyum satu sudut.
Menjelang sore, acara jumpa fans semakin ramai. Dengan sabar, Aruna melayani foto bersama. Selain Alexei, ada beberapa pihak keamanan yang siaga di situ.
"Mbak Runa, sekali lagi!"
"Minta tanda tangan di sini, dong!"
Aruna cukup kewalahan menghadapi permintaan ratusan fans yang mengantri. Bahkan, banyak yang berkerumun. Alexei sigap melindungi Aruna, dibantu pihak keamanan yang disediakan panitia.
Tidak semua fans mendapat tanda tangan atau foto bersama. Alexei menahan napas dengan jengkel, ketika pandangan beberapa fans laki-laki justru fokus pada tubuh molek Aruna. Saat itu, Aruna mengenakan blouse dengan kancing rendah di bagian d**a.
Alexei menyingkirkan lengan seorang fans yang melewati d**a Aruna. Rupanya, fans itu ingin memanfaatkan momen foto berdua.
Setelah acara selesai, tanpa ragu, Alexei melepas jasnya dan memakaikan ke tubuh Aruna. Hal itu jelas membuat Aruna kaget, sekaligus menatapnya protes. Seperti biasa, Alexei memilih bersikap tak acuh.
"Kamu membuatku malu, Alex! Apa kamu mengira aku anak kecil yang kedinginan?" tanya Aruna sewot, ketika sampai di rumah.
Aruna melempar tasnya begitu saja ke sofa. Aruna juga melempar jas milik Alexei. Alexei mengambil jas yang tersampir di lengan sofa. Isma segera mengambil tas milik Aruna dan membawanya ke kamar. Di ruang keluarga lantai atas itu, Aruna masih melanjutkan ocehannya.
Alexei menatap wajah cemberut itu. "Kamu terlalu sibuk menuruti keinginan mereka semua, Aruna. Tapi kamu tidak menyadari, berapa pasang mata dan tangan yang memanfaatkan momen itu?" tanyanya datar.
"Apa maksudmu? Mereka hanya fans, Alex. Mereka nggak mungkin macam-macam!" sergah Aruna membela diri.
Gadis itu menatap pada Isma yang mengisyaratkan untuk pamit. Alexei dan Aruna sama-sama mengangguk samar.
"Sudah, Mbak! Nggak capek apa, berantem terus? Daaah, Mbak, bye-bye Alex!" ucap Isma sambil nyengir, lalu menuruni anak tangga.
Aruna mendengus. Sepeninggal Isma, Alexei juga beranjak ke kamarnya. Namun, Aruna tidak tinggal diam. Gadis itu mengekor di belakang Alexei sembari mengoceh melampiaskan kekesalan.
Alexei membalikkan badan, tepat di depan Aruna dan menatap tajam gadis itu. "Apa kamu senang, tubuhmu dilihat mata-mata lapar dan disentuh tangan jahil, Aruna?" tanyanya sinis.
"Jaga bicaramu, Alexei!" sentak Aruna geram. "Jangan-jangan kamu yang cari kesempatan ingin megang-megang aku!" lanjutnya mencibir.
Alexei merasa tertantang. Dia mendorong tubuh Aruna sehingga bersandar di dinding. Alexei meluruskan kedua lengan di kedua sisi tubuh Aruna. Tatapan Alexei menghujam dalam ke manik Aruna yang ketakutan.
"Al-Alex, what are you doing?" tanya Aruna lirih.
Alexei tersenyum miring dan semakin mendekatkan wajah pada Aruna. Napas hangat dengan aroma papermint itu menyapu wajah Aruna yang seketika berubah pucat.
Tanpa sadar, Aruna memejamkan mata antara takut dan pasrah.
* * *