Penyusup

1116 Kata
Aruna menatap punggung tegap Alexei. Gadis itu kembali mendengus kasar. Aruna tidak menyangka, mata Alexei teramat jeli. Kamera sebesar kelereng berwarna hitam itu bisa dilihat Alexei dari jarak lebih dari 10 meter. Sedangkan ART dan tukang kebun yang setiap hari membersihkan taman tidak melihatnya. Ayah Aruna benar. Insting laki-laki lebih peka daripada perempuan mengenai hal keselamatan. Aruna semakin penasaran dengan latar belakang Alexei Yevgeny. Apakah seseorang yang ditempa mental dan fisiknya menjadi bodyguard harus memiliki insting setajam itu? Aruna memang sering berinteraksi dengan beberapa pengawal profesional. Pembawaan mereka kebanyakan selalu tenang, dingin, dan fokus. Seolah mata dan telinga mereka dilengkapi sensor yang bisa menjangkau gerak-gerik mencurigakan dari jarak puluhan meter. Aruna bergerak mendekat. Dia berdiri di samping Alexei. Aruna mendongak menatap sekilas wajah Alexei, kemudian mengikuti arah pandangan laki-laki kayu itu. "Apa yang kamu lihat?" tanya Aruna datar. Alexei meliriknya setengah detik, kemudian kembali asyik dengan pemandangan di luar sana. Tidak ada jawaban, Aruna kembali menarik napas kasar. "Apa orang Russia itu semuanya kaku sepertimu? Aku punya teman dari Russia. Dia bilang, orang Russia nggak semua seperti itu. Orang Russia bisa ramah kalau sudah kenal. Tapi kenapa kamu tetap kaku?" tanya Aruna setengah mengejek. Namun, Alexei masih tidak menanggapi. "Em, kamu tahu? Miss Russia, Sandria Belnaya, itu teman aku!" lanjut Aruna bangga. "Saya tidak kenal!" jawab Alexei datar. Mata Aruna mendelik sembari berdecak kesal. Manusia kayu berhati batu ini memang tidak tahu informasi. Atau memang, rumahnya di tengah hutan dan hanya tinggal dengan sekumpulan beruang? Tanpa sadar, Aruna tertawa geli. Membayangkan kehidupan Alexei yang tinggal di tengah hutan ujung utara Russia. Ya, seperti itulah dalam benak Aruna mengenai laki-laki angkuh ini. "Hm, berarti benar. Kamu itu paling tinggalnya di tengah hutan. Berarti, tetangganya Masha and The Bear? Masa Miss Russia secantik itu, kamu nggak ken--" "Apa orang Indonesia semua cerewet dan sok tahu sepertimu?" sergah Alexei tanpa menatap Aruna. "Kamu itu selain ceroboh ternyata sangat cerewet, Nona Aruna!'' Nada suara Alexei berubah tinggi. Terdengar Alexei mendengus lirih. Aruna langsung melengos. Dia menoleh sekilas pada Alexei yang saat itu juga sedang meliriknya. Tatapan Alexei datar tanpa ekspresi. "Masuklah, waktunya tidur!" ucap Alexei melunak. Aruna mengangguk pelan. "Okay, good night. Besok jam delapan pagi, kita siap-siap pergi!" beritahunya. "I know! Good night!" sahut Alexei tanpa menoleh. Aruna kembali mengangguk samar. Mulai hari ini, selama 24 jam dia akan terus bersama Alexei. Benar-benar situasi yang sangat menyiksa. * Alexei berdiri di tepi jendela kamarnya yang sudah gelap. Pandangan laki-laki itu tertuju pada pos security di bawah sana. Dua orang security asyik bermain catur. Selanjutnya, Alexei mengalihkan pandangan ke sisi lain halaman rumah. Dari kamar, Alexei cukup leluasa menatap luasnya pekarangan rumah megah Bagaskara. Alexei mengernyit, ketika melihat siluet tubuh yang mengendap menuju car port. Waktu menunjukkan pukul 01.15 menit. Sangat aneh, malam-malam begini ada orang memasuki car port tanpa diketahui pihak keamanan. "Cepat, waktunya rikone, Jo!" perintah salah satu security setelah memindahkan bidak catur yang tersisa satu biji. Sementara itu, temannya masih sibuk berpikir. Beberapa saat kemudian, dia tertawa lirih. "Skak!" serunya bangga. "Sialan, kalah maning inyonge, Jo," gerutu security itu kemudian bangkit. Security itu bersiul sembari memasuki kamar kecil yang berada di belakang pos. Sedangkan satu temannya membereskan catur-catur yang berantakan di sekitar papan. "Nah, beres! Besok berita infotainment ramai membahas kematianmu, Nona Aruna. Dan aku akan mendapat duit banyak. Maaf, Nona!" ucap seorang laki-laki, lalu tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Laki-laki itu mengambil handphone dan memfoto mobil Aruna. Dia tidak sabar menunggu sampai besok pagi. Aruna, Isma, Alexei, dan Pak Sopir akan berada di dalam mobil itu. Empat orang dipastikan tidak akan lolos dari maut, saat mobil itu membawa mereka ke Puncak Bogor. Masih dengan senyum puas, laki-laki itu memasukkan handphone ke saku celana. Gleg! "Uhuk, uhuk! Tiba-tiba dia meringis merasakan pitingan kuat di lehernya. Dia terbatuk-batuk. Hidungnya mengendus. Aroma tubuh itu.... Aroma maskulin milik bodyguard baru. Alexei Yevgeny. "What are you doing here, huh?" desis Alexei tanpa melepaskan lengannya dari leher laki-laki itu. Tidak ada jawaban. Entah tidak mengerti atau memang tidak ingin bicara. Laki-laki penyusup itu memegangi lengan Alexei. Dia bersusah payah menahan supaya Alexei tidak membuka penutup wajahnya. "Arrgh, arrgh!" Penyusup itu hanya bisa mengerang lirih. Tenaga Alexei sangat kuat. Kedua mata penyusup itu bergerak, menatap Alexei. Sementara Alexei melirik ke arah mobil Porsche Macan berwarna abu-abu itu. Alexei tahu, laki-laki itu telah melakukan sesuatu pada mobil tersebut. Tiba-tiba.... Crak! Alexei meringis, ketika pahanya ditusuk gunting. Alexei menghentakkan kaki yang terasa perih. Saat itu, pitingan Alexei sedikit mengendor. Laki-laki berhoodie hitam itu menggigit lengan Alexei sebelum berusaha melarikan diri. "s**t!" Alexei tidak tinggal diam. Dengan cepat, dia meluruskan sebelah kaki, menghadang orang itu sehingga jatuh tersungkur. Alexei meraih bahu penyusup itu. Tidak ingin aksinya diketahui seisi penghuni rumah, dia melempar tepung ke wajah Alexei. Alexei kembali mengumpat. Rupanya, laki-laki penyusup itu telah mengantisipasi segala kemungkinan. Dia tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang berusaha menggagalkan aksinya. Dia hanya punya satu tujuan, yaitu menyingkirkan Aruna secara halus. Dari gerak-geriknya, Alexei bisa menduga orang itu sudah hafal seluk beluk rumah. Dia memasuki pekarangan rumah lewat pintu belakang yang terhubung dengan dapur. Hal itu terlihat dari ketenangannya, ketika memasuki garasi dan saat kabur dari Alexei. Bahkan penyusup itu tidak melakukan perlawanan pada Alexei. Karena dia tahu, bodyguard muda itu jago beladiri. Alexei mengusap wajah dan rambutnya yang penuh tepung. Alexei sengaja tidak mengejar penyusup tadi. Alexei mengepalkan kedua telapak tangan dengan geram. Namun, sudut bibirnya tersenyum miring sekilas. "Mas Sinyo? Malam-malam begini, aya naon di sini?" Seorang security memperhatikan penampilan Alexei. "Lha, kok putih semua, Mas?" lanjutnya heran. Alexei mengernyitkan dahi tidak mengerti. Dia hanya menggeleng sekilas, tanpa menjawab apa pun. Bergegas, Alexei memasuki rumah. "Sombong pisan euy, ditanya diem saja, Mas Sinyo!" "Heh, dia itu bule! Nggak bisa bahasa Indonesia! Seharusnya riko yang belajar bahasa Inggris!" sahut temannya sembari terkekeh. Alexei menghentikan langkah tepat di anak tangga paling atas. Dia menatap tanpa ekspresi pada Aruna yang berdiri di depannya. Alexei hendak melewati Aruna, tetapi gadis itu menahan lengannya. Alexei menyingkirkan pelan lengan Aruna dan kembali menatap gadis itu. "Why?" tanyanya datar. "What happen?" tanya Aruna sembari memindai penampilan Alexei. Alexei menggeleng. Dia bergegas hendak ke kamar meninggalkan Aruna yang masih bingung. Namun, Aruna menahan langkah Alexei. Aruna merentangkan sebelah tangan di depan pintu kamar Alexei. "Tidurlah Aruna! Bukankah besok kita pergi?" Aruna justru mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Alex? Kakimu berdarah dan wajahmu putih-putih? Kamu dari mana?" tanyanya beruntun. "Kita bicarakan besok pagi. Sekarang tidurlah!" Alexei kembali memerintah. Aruna mengangguk. Bagaimanapun, Alexei adalah type orang yang tidak bisa didebat. Membantah Alexei sama saja mencari keributan. Aruna melangkah ke kamarnya sendiri. "Wait, Aruna! Wait!" Kening Aruna kembali mengernyit. Dia menatap heran pada Alexei yang langsung memasuki kamarnya tanpa persetujuan lebih dahulu. Lagi-lagi, sikap Alexei seenaknya sendiri. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN