Kamera Pengawas

946 Kata
"Lindungi Aruna meskipun nyawamu taruhannya!" Alexei memejamkan mata rapat. Ingatan tentang beberapa kali permintaan untuk melindungi Aruna berdengung di kepala. Tanpa sadar, Alexei mendengus kasar. "Apa kamu nggak suka dengan masakan Indonesia?" tanya Aruna melunak. Alexei langsung mendongak dan menjawab dengan gelengan kepala samar. Laki-laki itu kembali menunduk. Fokus pada makanan di piringnya. Di depannya, Aruna sesekali melirik Alexei. Selain dingin dan kaku, Alexei juga misterius. Aruna heran. Apa begitu sikap sebenarnya orang-orang bule? Aruna juga memiliki beberapa teman dari luar Indonesia. Mereka bersikap ramah, tidak seperti Alexei. Entahlah. Sepertinya hanya Alexei yang berbeda. Pandangan Aruna beralih pada handphonenya yang bergetar. Alexei mengikuti arah pandangan Aruna. Aruna segera menyambar benda itu, kemudian beranjak dari meja makan. Tentu saja masih diikuti oleh tatapan Alexei. Aruna benar-benar kehilangan kebebasan. Alexei selalu mengikuti dan mengawasinya. Parahnya, Aruna tidak bisa menolak. Laki-laki itu memang dibayar untuk menjaganya. Namun, menurut Aruna, sikap Alexei sangat berlebihan. Beberapa saat berselang, Aruna melampiaskan kesal di kolam renang. Alexei duduk di bangku panjang yang berada di teras samping. Beberapa meter di depannya, Aruna masih asyik berenang. Sesekali dia melirik pada Alexei yang tertangkap basah sedang menatapnya. "Kenapa kamu nggak di kamarmu saja?" tanya Aruna setengah berteriak. Alexei tidak menjawab. Laki-laki itu justru fokus dengan handphone. Entah mengetik apa. Merasa diabaikan oleh bodyguard dingin itu, Aruna berdecak sebal. Gadis itu meloncat dari dalam kolam dan menyambar handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Alexei langsung memalingkan wajah dari tubuh seksi terbalut one piece bikini itu. Aruna berdiri tepat di depan Alexei. "Hei, Alexei! Kenapa kamu masih di sini? Kamu kembalilah ke kamarmu!" perintahnya. Alexei bangkit dari tempat duduk. Dia menatap tajam manik hitam gadis di depannya itu. Aruna mengerutkan bibirnya geram melihat sikap arogan Alexei. "Mulai sekarang kita buat peraturan baru. Kamu hanya boleh menemaniku ke luar rumah. Di dalam rumah, aku bebas. Karena ini rumahku. Paham?" ucap Aruna sengit. Alexei tetap bergeming. Kembali diabaikan, Aruna mengepalkan kedua telapak tangan di sisi tubuh. Rasanya, ingin sekali Aruna mencakar wajah tanpa rasa berdosa itu. "Kenapa kamu diam, Alex? Apa kamu nggak dengarkan aku?" tanya Aruna semakin kesal. "Aku terima kamu sebagai pengawalku, tapi bukan berarti kamu beb--" "Shut up!" sentak Alexei, lalu membekap mulut Aruna dengan telapak tangannya. Aruna mendelik dan berusaha menyingkirkan lengan pria itu. Namun, tenaga Alexei jauh lebih kuat. Aruna menatap wajah Alexei dengan takut. Sementara tatapan mata Alexei tertuju ke arah pagar rumah. "Kamu masuklah!" titah Alexei lirih sembari melepas tangannya dari Aruna. "Masuk!" Alexei kembali memerintah. Tanpa banyak tanya, Aruna memasuki rumah. Akan tetapi, gadis itu memilih mengintip dari balik kaca. Alexei berjalan cepat ke arah pagar rumah. Tatapan matanya tajam masih ke satu titik. Pagar tembok menjulang tinggi dan dipasang kawat berduri di atasnya. Alexei berdiri waspada di dekat pagar. Tatapan mata laki-laki itu tetap fokus pada sebuah benda yang terselip di antara rerimbunan daun yang merambati tembok. Laki-laki itu memanggil salah seorang ART untuk mengambilkan tangga. Aruna kembali mendekati Alexei yang sudah bersiap naik ke tangga besi itu. "Alex, ada apa?" tanya Aruna lirih. Alexei tidak menjawab. Laki-laki jangkung itu melirik sekitar yang tampak sepi. Tangannya meraih benda kecil berwarna hitam. Sebuah kamera pengintai berukuran sangat kecil. Alexei mengamati kamera tersebut. Kamera yang sengaja dipasang menghadap kolam renang. Pandangan Aruna tertuju pada benda kecil di tangan Alexei. "s**t!" Terdengar u*****n dari mulut Alexei. Dia menatap penuh arti pada Aruna yang masih mematung. Alexei langsung mengajak Aruna ke lantai atas. Sesampai di atas, laki-laki itu menatap sekeliling ruangan. "Ganti bajumu, saya tunggu di sini!" titah Alexei tidak ingin dibantah. Aruna menurut. Dia membiarkan Alexei menunggunya di depan pintu kamar. Beberapa menit kemudian, Aruna keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos terusan sebatas lutut. Alexei langsung membuang pandangan. Aruna mengajak Alexei duduk di ruang keluarga lantai atas. Laki-laki itu meletakkan kamera kecil tadi di atas meja. Tepat di hadapan Aruna. Kening Aruna berkerut. Dia benar-benar tidak habis pikir, dengan ulah iseng orang-orang itu. Alexei menatap dalam gadis cantik itu beberapa saat. Lantas keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Sekali lagi, Alexei menatap Aruna. "Apa kamu sering berenang?" tanyanya memecah keheningan. Aruna mengangguk. "Iya, kalau lagi kesal!" jawabnya jujur. Alexei memutar bola mata malas. "Jadi, kamu lebih kesal saya jaga daripada harga dirimu dilecehkan orang, Aruna?" tanyanya sinis. Mendengar pertanyaan bernada mengejek itu, Aruna menajamkan pandangan pada Alexei. Namun, sekali lagi, Alexei masih dengan sikap tidak pedulinya. "Dilecehkan? Aku nggak pernah dilecehkan orang, asal kamu tahu!" sahut Aruna dengan ketus. Alexei menggeleng samar menghadapi sikap tidak ramah gadis itu. Laki-laki itu menarik napas panjang berusaha tetap bersabar. Alexei ingat, tugasnya baru dimulai. Di sekitar Aruna masih banyak orang-orang yang memiliki kepentingan sendiri pada gadis itu, tanpa Aruna sadari. "Baiklah, mungkin saya salah. Tapi waspada apa salahnya?" tanya Alexei dingin. "Kan sudah ada kamu yang jauh-jauh didatangkan Papa untuk menjagaku!" Kembali Aruna menyahut ketus. "Besok sebaiknya jangan renang dulu, Aruna! Saya akan minta ART membersihkan tanaman tidak penting di tembok itu!" Lagi dan lagi, Alexei memerintah seenaknya sendiri. Aruna tidak menjawab. Otak dan hatinya terlalu lelah untuk mendebat manusia kayu itu. "Up to you," jawab Aruna pasrah. "Jangan biarkan orang-orang memanfaatkan dirimu, Aruna! Apa kamu pikir, kamera pengawas itu hanya kebetulan berada di sana? Bagaimana kalau setelah ini ada pemberitaan media dengan mengekspose tubuhmu di kolam renang?" Setelah berkata begitu, Alexei kembali mengambil benda kecil itu dan menggenggamnya. Aruna masih diam. Gadis itu menunduk dalam, berusaha mengerti setiap ucapan Alexei. "Dan hanya orang-orang yang paham dengan kebiasaan kamu yang bisa melakukan itu," ucap Alexei lagi. "Maksudmu, kamu curiga dengan salah satu penghuni rumah ini?" tanya Aruna tidak terima. Alexei tidak menjawab. Laki-laki itu justru bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di tepi jendela. Tatapan mata Alexei kembali fokus ke arah kolam renang. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN