Bab. 8. Mulai bangun dari Kesedihan.

1361 Kata
"Hentikan semua ini!" Suara barithon Abiyasa membuat Laksmi langsung diam. "Mama kenapa bisa bertindak urakan seperti ini? Harusnya, Mama memberikan suport kepada Anandini karena masa kesedihan juga kepulihan pasca melahirkan," ucap Abiyasa menatap ke arah istrinya. "Pa, biarkan saja. Jangan ribut, nanti di dengar orang malah kita yang malu," jawab Anandini mencoba mendinginkan situasi. "Dia ini sudah sering buat kamu kesel bahkan capek, Anandini. Hari ini tidak bisa dibiarkan!" "Belain terus dia, Pa. Biar dia makin besar kepala," ucap Laksmi dengan nada marah. Anandini hanya menghembuskan nafas sebelum dia meninggalkan area dapur. Dia benar-benar ingin segera mengakhiri drama pernikahan yang membuatnya sesak. Tak ada lagi hal yang membuatnya ingin bertahan. 'Ya Allah kuatkan aku!' Anandini berdoa dalam hati dengan menghapus air mata yang kembali mengalir di pipinya. Sedangkan di dapur, Abiyasa masih mencoba bicara dengan istrinya. Dia sangat kesal karena tak mengira Laksmi masih mencari kesalahan demi kesalahan yang bahkan tidak pernah dilakukan Anandini. "Mau sampai kapan kamu merasa tidak adil dalam pernikahan putra kita, Laksmi?" Laksmi tak menjawab, dia langsung putar badan meninggalkan suaminya. Sebenarnya, tidak ada yang salah dalam pernikahan putranya. Toh, Anandini adalah gadis yang baik dan sederhana. Meski terlahir dalam keluarga yang berada, namun dia tidak pernah melakukan hal-hal aneh, atau melakukan banyak gaya seperti kebanyakan orang mampu lainnya. Namun entah mengapa, Laksmi begitu benci dengan keputusan sang suami mengenai pernikahan putranya demi menyelamatkan perusahaan Kalingga. Bukan Abiyasa namanya, kalau dia tidak mengejar Laksmi. "Aku enggak mau bertengkar, Pa?" "Siapa yang akan mengajakmu bertengkar? Aku hanya ingin bertanya mengenai kenapa kamu membenci Anandini?" "Masih saja mengungkit itu." "Ini mulai serius, sejak aku pikirkan beberapa bulan terakhir, Ma. Aku menjodohkan mereka karena ingin menolong Kalingga dari masa kebangkrutan." "Apa Mama lupa, beberapa tahun lalu saat Risang masih kecil, perusahaan papa juga mengalami hal yang sama?" Abisaya menatap dalam ke wajah istrinya. Hanya helaan nafas panjang terdengar dari bibir Laksmi. Detik berganti, wanita itu menjawab ucapan suaminya. "Iya, aku mengingatnya. Namun entah mengapa, aku tidak suka dengan Anandini." "Kalau dikatakan impas, kita sudah selesai dengan saling membantu di saat kesusahan. Namun, papa mulai menjodohkan mereka, karena papa yakin, Anandini dibesarkan dengan baik oleh keluarganya." "Dia sangat rendah hati, dan cocok untuk putra kita. Perjodohan yang awalnya ditolak pun, akhirnya mulai diterima oleh keduanya." "Harusnya, kamu memberikan dukungan setiap hal yang dilakukan menantumu. Apalagi, dia sedang berkabung. Jangan terus mencari kesalahan dan menyudutkannya." "Iya, aku akan berubah sikap. Aku juga merasa kehilangan atas meninggalnya Narendra." "Benarkah? Lalu kenapa Anandini begitu marah saat di rumah sakit, karena kau tidak memperbolehkan membawa mobil?" Pertanyaan Abiyasa membuat wanita paruh baya itu langsung menunduk. Tangannya dia tautkan dan terus bergerak. Seolah dia mengalihkan rasa gugup dan takutnya. "Kau sudah kelewat batas, Ma! Bagaimana kalau Risang sampai tahu kebenarannya?" "A-aku tidak bermaksud untuk melakukan semua itu, Pa. Aku hanya berpikir Narendra panas biasa. Aku juga akan pergi, dan aku tidak suka dengan keterlambatan." Laksmi mencoba mencari kata untuk membela diri. Abisaya mendesah panjang, rasanya dia tak menduga dengan semua tingkah aneh istrinya semenjak punya menantu. Semakin liar dan susah diatur dan ingin menang sendiri. "Anandini sudah terlalu sedih kehilangan anak, Ma. Coba sedikit kamu rubah pikiranmu itu agar dia merasa nyaman di rumah." "Jangan membuat dia banyak tekanan, kasihanilah dia!" pinta Abiyasa kepada istrinya. "Iya, Pa. Aku akan mencoba bersikap baik padanya. Sudah malam juga, aku pengen istirahat, jangan ngoceh aja!" Laksmi menanggapi dengan nada datar dan langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Abiyasa hanya bisa menggeleng pelan saja tanpa berkata-kata. ___ Hari berlalu begitu saja, sudah enam hari kepergian Narendra membuat Anandini masih mengumpulkan ASI di frezer. Bahkan sampai hampir penuh. Hari ini dia pamit ke Darmi kalau akan pergi sebentar untuk mencari angin segar. Menikmati kesedirian pasca melahirkan dan ditinggal putranya untuk selamanya, membuat wanita cantik berambut panjang itu merasa jenuh. "Bi, kalau Mama tanya aku ke mana, aku ada acara bersama Binar," pamit Anandini ke Darmi. Wanita paruh baya itu tersenyum, karena merasa bahagia melihat nonanya yang mulai mau keluar rumah. "Hati-hati ya, Non!" Anandini hanya mengangguk dengan senyum tipis. Wanita itu berjalan pelan menuju pintu gerbang untuk naik taksi yang sudah ia pesan secara online. Dia juga menyapa satpam yang bertugas dan bahkan membukakan pintu untuknya. "Terima kasih, Pak!" Anandini menunduk sopan ke arah satpam. "Hati-hati, Non." Mobil bergerak pelan meninggalkan area rumah megah milik orang tua Risang. Tujuan pertama yang akan dituju Anandini adalah rumah orang tuanya. Dia tidak bisa terus-terusan mengandalkan taksi jika harus pergi secara mendadak. Hanya kendaraan miliknya yang ia tinggalkan itu sebagai penyelamat. Semoga saja orang tuanya tidak mempermasalahkan kalau dia mengambil kendaraannya. Perjalanan di tempuh sekitar dua puluh menit saja, hingga akhirnya ia sampai di rumah kedua orang tuanya. Rumah dua lantai bercat putih itu adalah sebuah tempat di mana dia dilahirkan dua puluh lima tahun yang lalu. Setelah ia membayar taksi, Anandini mulai melangkah menuju rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Semua masih tampak sama seperti terakhir kali saat dirinya menikah. Dia pencet bel pintu rumahnya, menunggu beberapa saat, hingga wanita paruh baya yang masih terlihat cantik membuka pintu. "Anandini!" "Siang, Ma." "Ayo masuk!" Tangan Anandini langsung digandeng oleh mamanya menuju ruang tamu. Keduanya duduk berhadapan di sofa panjang. Terlihat jelas wajah tegang dari Dara saat menatap putrinya. "Aku tidak kabur, Ma. Aku hanya ingin mencari udara segar sebentar." Anandini berucap dengan tenang. "Ah, lega sekali mama mendengarnya," ucap Dara menghela nafas panjang. "Aku juga mau bicara ke mama, mengenai rencanaku. Aku harap mama mendukungku," ucap Anandini. "Apa, Nak? Katakan!" "Ma, aku akan mendonorkan ASI ku ke sebuah rumah sakit. Daripada mubazir, karena produksi ASI ku sangat bagus, aku berpikir agar berguna untuk orang lain yang membutuhkan." "Dan aku juga ingin mengambil mobil bututku, aku membutuhkan kendaraan di saat darurat, Ma!" Dara mengangguk paham, dia sangat senang mendengar rencana anaknya untuk mendonorkan ASI nya. Dia berharap ada orang tua yang baik dan menerima itikad baik dari Anandini. 'Semoga dengan mendonorkan ASI, dia bisa melipur hatinya yang sedih karena meninggalnya Narendra,' ucap Dara dalam hati. "Mama akan mendukung apa keputusanmu selagi benar, Anandini." "Terima kasih, Ma!" Dara mengangguk, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan jus jeruk untuk putrinya. "Kau mau lihat mobilmu sekarang? Atau kamu mau beli lagi aja?" Anandini menatap mamanya lekat, "Apa mobilku rusak?" "Enggak sih, kadang mama pakai ke pasar buat belanja. Hanya saja mobil kamu kan bisa dikatakan mobil butut," jelas Dara. "Biarkan saja, Ma. Asal masih bisa jalan," ucap Anandini. "Mending beli aja, deh. Perusahaan papa kan udah enggak kaya tahun lalu. Mama ada sedikit tabungan, kamu tambahin aja biar dapat mobil yang layak." "Sekalian aja bikin silau mama mertua kamu. Biar dia makin panas dikira anaknya yang beliin mobilnya." Dara mengatakan itu sambil memasang wajah kesal. Dia sudah tidak bisa sabar kalau sudah ingat besannya itu. Bagaimana bisa anaknya sampai punya niat cerai, kalau tidak ada satu masalah yang genting? Memikirkannya saja membuat hati wanita yang melahirkan Anandini itu begitu kesal. "Sementara aku pakai itu dulu, lagian Mama sama papa punya kendaraan sendiri-sendiri." Anandini akhirnya mengambil keputusan. Dara meninggalkan sejenak putrinya yang sedang menikmati jus jeruknya. Tak lama ia kembali menyodorkan kunci mobil miliknya. "Sementara, pakai punya mama saja. Lagian aku juga jarang bepergian." Anandini masih menatap kunci yang tergelatak di meja itu. Hingga suara mamanya kembali mengintrupsi. "Pergilah dan hati-hati!" Anandini tersenyum tipis, hal yang membuat Dara merasa bahagia karena melihat senyum anaknya lagi. Anandini pun memeluk sebentar Dara sebelum akhirnya dia berlalu. Mobil sedan dengan merk ternama berlogo biru di bagian depan itu melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah orang tuanya. Anandini melaju ke sebuah tempat yang sejak dua hari lalu ingin ia kunjungi. Suasana siang itu sangat terik, membuat penglihatannya sedikit silau karena pantulan sinar matahari yang begitu menyengat. Dia mengirim pesan kepada suaminya sejak satu jam lalu. Namun sampai detik ini pun tak ada jawaban dari suaminya. "Sesibuk itukah dirimu, Mas? Sejak kita menikah, kau hanya beberapa kali saja meluangkan waktu untukku." "Bahkan, setelah anak kita meninggalpun, kau tetap bekerja tak ada rasa berkabung sedikit pun." Perjalanan pun sampai ke tempat yang dituju. Anandini memarkirkan kendaraannya. Dia lalu melangkah menuju ke sebuah ruangan dengan perasaan berdebar tak karuan. "Kenapa tiba-tiba aku deg deg gan seperti ini? Semoga saja tidak ada hal buruk lagi ya Allah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN