Bab. 4. Pergi Ke Surabaya.

1411 Kata
"Coba cek dulu perlengkapan yang sudah aku siapkan. Siapa tahu ada yang terlupakan!" titah Anandini kepada suaminya. "Oke, terima kasih," jawab Risang sambil memakai dasi. Seulas senyum terbit di bibir wanita yang memakai setelan blouse warna hitam itu. Jika diingat, sudah berapa lama, dia tak mendengar kata terima kasih dari suaminya dari pekerjaan kecil yang ia selesaikan. Setelah Risang selesai berpakaian dan penampilannya sudah rapi, lelaki itu mengecek koper kecil yang berisi baju juga perlengkapan yang ia butuhkan saat ke Surabaya. "Sudah semua. Jaga anak kita dengan baik, paling lama dua hari aku di sana!" Risang menatap manik hitam istrinya. Dia memberikan pelukan agar tak terkesan monoton di hubungan pernikahan yang baru menginjak satu tahun lebih ini. Jika pasangan lain akan merasa sangat bahagia, nyatanya, Risang malah merasakan sebaliknya. Lelaki tampan itu melepas pelukannya, dia mendekat ke arah putranya dan menggendongnya sebentar. Bibirnya membentuk lengkungan senyum yang anehnya terlihat semakin tampan saja wajah Risang. Hingga Anandini tertular tersenyum tipis dan mendekati dua lelaki yang sangat ia sayangi. "Jangan nakal ya, papa ada urusan kerjaan dulu. Baik-baik sama Mama," ucap Risang kemudian mencium gemas pipi gembul bayi tampan Narendra. Tatapan Risang ke arah istrinya, dia memberikan putranya lalu menyeret koper menuju lantai bawah. Langkah pelan Anandini pun mengikuti suaminya hingga ke halaman, sambil menggendong Narendra. Perlahan, kendaraan milik Risang pun menjauh, helaan nafas Anandini terdengar berat. Baru juga melahirkan, dia harus ditinggal suaminya untuk perjalanan bisnis. "Ingin mencegah, namun apa daya, semua hal yang aku inginkan seolah tak pernah di dengar oleh siapa pun di rumah ini," gumam Anandini pelan dengan senyum paksaan dan tatapan tertuju pada putranya yang memejamkan mata. Sebelum akhirnya dia beranjak masuk ke dalam rumah, Anandini bertemu dengan papa mertuanya yang akan berangkat ke kantor. Lelaki paruh baya itu menyapa sebentar sang cucu, mengajak bicara selayaknya bayi yang seolah paham dengan semua ucapannya. Setelah puas menyapa cucunya, Abiyasa pamit ke Anandini. "Masuk ke rumah, dan istirahatlah!" "Baik, Pa!" Sampai di ruang tengah, Anandini ikut duduk di sofa single. Di mana mama mertuanya juga sedang menikmati teh, sambil membaca surat kabar. Wanita itu melirik ke arah sang menantu. "Jangan biasain di gendong terus, Anandini, nanti dia enggak bisa di sambi karena sudah bau tangan!" Laksmi bicara tanpa menatap namun nada bicaranya terdengat ketus dan tak ramah. "Iya, Ma!" Anandini hanya menjawab sekenanya saja. Dia selalu enggan meladeni ucapan ibu mertuanya yang suka frontal dan kadang membuat panas telinganya. Anandini langsung beranjak ke kamarnya, dia mencoba menidurkan putranya agar tak terbiasa tidur dalam gendongannya saja. ___ Mobil Risang terparkir di halaman sebuah apartemen menunggu sekertarisnya yang merangkap menjadi selingkuhannya. Sesekali lelaki tampan itu melihat ke jam tangan mahalnya. Hingga beberapa saat berlalu, sosok yang dia tunggu pun datang. Elvantri langsung masuk ke mobil, tatapan manja dengan senyum lebar tertuju pada lelaki yang menjadi kekasih juga bosnya itu. "Kenapa kau lama sekali, El?" tanya Risang setelah sekertarisnya masuk ke dalam kendaraannya. "Biasa, namanya juga cewek," jawab Elvantri dengan tatapan menggoda. Kendaraan kembali melaju meninggalkan apartemen menuju Bandara. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Cuaca hari ini pun terlihat begitu cerah dengan sinar mentari yang sangat terang menyinari bumi. Setelah melakukan perjalanan selama hampir satu jam, karena kemacetan, keduanya sampai di Bandara, dan langsung melakukan bording karena waktu keberangkatan pesawat menuju Surabaya pun akan segera tiba. Perjalanan hampir dua jam ditempuh lewat udara akhirnya pun sampai. Mereka berdua langsung menuju perusahaan. Sepanjang perjalanan, Risang menghembuskan nafas panjang karena merasa tegang. Elvantri yang duduk bersebalahan dengan bosnya itu menoleh. Memegang tangan lelaki itu yang juga menjadi kekasihnya. "Jangan tegang. Kau pasti bisa melewati semua ini dengan lancar." Risang membalas memegang tangan sekertarisnya. Tak dipungkiri, kalau dia memang terpikirkan mengenai proyek besar ini karena akan menetukan kelangsungan masa depan perusahaannya. Ribuan orang bergantung pada kinerjanya. "Semoga semua dilancarkan," gumam Risang dengan senyum tipis menatap Elvantri. Setelah meluapkan semua keluh kesahnya kepada sekertarisnya, Risang merasa lebih rileks. Lelaki itu merasa lega karena tak terlalu ketakutan dengan rapat penting ini. Awal mula kedekatan Risang dengan Elvantri terjadi karena lelaki tampan ini menyukai kinerjanya yang cekatan dan profesiaonal. Elvantri juga melayani semua hal yang dia inginkan dengan begitu cekatan. Hingga akhirnya, Risang merasakan kenyamanan yang berbeda antara bos dan bawahannya. Jik saja Elvantri datang sedikit cepat dari Anandini, mungkin saja, lelaki itu tak menikahi kekasihnya dulu. Yang pada akhirnya hanya membuat hubungan terlarang tumbuh subur di antara keduanya. Elvantri tak pernah protes meski hubungan itu disembunyikan dari khalayak umum. "Aku akan mengecek semua dokumen untuk pertemuan nanti," ucap Elvantri agar saat bertemu klien nanti tak ada kesalahan. "Lakukanlah!" Hal ini lah yang disukai Risang dengan semua kesigapan Elvantri. Selama menunggu perjalanan sampai, keduanya juga membahas mengenai strategi yang harus mereka gunakan agar perusahaan menerima semua ide dari perusahaan Risang. Beberapa menit berlalu, akhirnya kendaraan sampai di tempat pertemuan. Risang kembali menghela nafas panjang. Namun tatapan Elvantri selalu meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Lalu Risang turun dari kendaraan yang mereka sewa dari hotel saat penjemputan itu dengan penuh keyakinan. Setelah menunggu semua pihak yang ikut dalam rapat lebgkap, maka rapat itu dimulai. Menit berlalu menjadi jam, hingga kesepakatan menguntungkan untuk perusahaan Risang pun terjadi. Lelaki itu tersenyum lebar karena semua hal yang ia takutkan tidak terjadi. Kesepakatan yang sangat besar untuk perusahannya, membuat tatapan Risang tertuju pada Elvantri dengan binar bahagia. Setelah pertemuan berakhir, Risang dan Elvantri menuju ke kamar hotel. Lelaki itu sengaja menyewa satu hotel karena berniat menghabiskan malam bersama sekertarisnya. Elvantri langsung memeluk dari belakang tubuh tinggi tegap milik bosnya. "Kau memang bosku yang hebat." "Tanpa bantuamu, aku juga tak sehebat ini." Kedua tangan Risang bertumpu pada punggung tangan Elvantri yang melingkar di perutnya. Hanya untuk beberapa detik saja, Risang berbalik dan memeluk erat sekertarisnya itu. "Kebahagiaan yang lengkap," guman Risang. Hal itu membuat Elvantri merasa bahagia, dan memeluk erat lelaki yang delapan bulan ini menjadi kekasihnya. "Aku akan mengirim pesan ke Anandini dulu. Setidaknya, kesenangan kita nanti tidak terganggu dengan dering telpon darinya. Elvantri hanya mengagguk sambil melepas genggaman tangan Risang. Setelah beberapa menit berlalu, Risang sudah kembali mendekat ke Elvantri yang sedang melepas blazer hitam yang ia kenakan. Saat badan El berbalik terpampang pemandangan yang sungguh mempesona. Di mana tang top dengan tali spageti itu terlihat nyata. Sehingga menampilkan keseksian dua buah gunung kembar milik El sangat jelas terlihat. "Kau sengaja menggodaku?" tanya Risang sambil terus mendekat ke arah Elvantri. Wanita itu menggeleng dengan senyum tipis sambil berjalan mundur seolah ingin menghindari bosnya yang menatap m***m ke arahnya. "Kenapa kau menghindar?" "Aku takut kau menjadi buas!" Risang tertawa, dengan sekali tarik, tubuh Elvantri sudah berada di dekapannya. Wanita itu tertawa kemudian Risang mulai mengendus bagian leher yang wangi aroma bunga mawar segar. "Apa yang kau lakukan?" tanya Elvantri sambil berubaya menghalau kepala Risang agar tidak di area lehernya. "Kau wangi, El." "Kau meledekku. Bagaimana bisa wangi karena seharian ini kita sedang berkerja." Risang tak menjawab melainkan memberi gigitan kecil di leher Elvantri sehingga secara spontan wanita itu mendesah. "Ah ...." "Kau menyukainya, El." "Aku akan mandi dulu baru kita melakukannya," ucap Elvantri sambil membingkai wajah tampan bosnya. "Kenapa tidak mandi saja berdua akan lebih asik?" Tanpa menunggu persetujuan Elvantri, Risang membopong tubuh seksi menuju kamar mandi, sambil membungkam bibir kekasihnya dengan ciuman maut yang menuntut. Elvantri tak henti mendesah saat tubuhnya mulai diraba pelan oleh bosnya. Keduanya saling membantu melapas kain yang menempel hingga tubuh mereka polos. Risang mulai bergrilya menjelajah kulit mulus nan seksi. Jika dibayangkan secara nyata, Elvantri dan Anandini adalah wanita yang menarik dengan keindahan tubuh yang susah di jelaskan. Namun entah mengapa, lelaki itu bisa begitu kejam melupakan istrinya. Dan memilih mencari kesenangan bersama sekertarisnya. Rancauan tak jelas semakin terdengar berisik dan kacau. Namun semakin membuat andrenalin Risang untuk membuat kekasih gelapnya ini merasa puas dan semakin terpuncak semakin menggebu. Risang melakukan kegiatan panas di area lembah lembab Elvantri menggunakan bibir dan lidahnya. Sesekali juga dengan jarinya. Hingga lolongan frustasi di sertai gelombang cinta milik seketarisnya datang menerjang. Nafas keduanya memburu, Elvantri juga tak mau hanya diam dan menerima. Dia juga melakukan tugasnya dengan baik sehingga membuat bosnya menerima servisnya dengan mata terpejam memendam nikmat. Risang sudah benar mengabaikan keberadaan Anandini di dalam hidupnya. Entah mau sampai kapan hubungan itu bertahan, Risang semakin enggan memikirkan. "El, kaulah kebahagiaanku, Sayang. Bulan depan aku akan menikahimu meski dengan sembunyi-sembunyi." "Kau tidak hanya bercanda kan?" "Tentu saja tidak, Sayang." Risang mulai menyatu dengan Elvantri. Keduanya mulai berolahraga panas dengan berbagai gaya. Entah sudah berapa kali wanita itu melolong bahagia. Keduanya menikmati waktu yang tersisa dengan bersantai dan melakukan kegiatan panas menguras tenaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN